PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

*Wushh!


Sebuah Tali melesat kearah Janie dan melingkar di lehernya. Dengan cepat tali itu melilit lehernya dan menariknya.


*Bruugghhh!!


Janie pun terjatuh dan diseret keluar.


"Arrgghhh!!"


Janie mengerang saat ia diseret menuruni tangga. Kini tubuhnya berguling-guling dan terkapar di lobby penginapan.


*Buughhh!!


Melihat Janie yang sudah tak sadarkan diri, seorang receptionist penginapan menarik tubuh gadis itu dan membawanya ke sebuah gudang.


Radit yang belum bisa tidur mencoba mencari udara segar diluar kamar.


*Srek, srek, srek!!


Radit menghentikan langkahnya saat mendengar suara orang menyeret sesuatu. Ia kemudian segera bersembunyi di sebuah kamar kosong. Karena penasaran Radit pun mengintip dari balik pintu.


Ia begitu terkejut saat melihat receptionist hotel menyeret sesuatu.


Matanya membelalak saat melihat lelaki itu menyeret Janie.


"Janie?"


Ia kemudian segera keluar dari kamar itu dan kembali ke kamarnya. Radit mengguncang tubuh Anas untuk membangunkannya.


"Anas bangun!" serunya sambil mengguncang tubuh Anas yang masih mendengkur.


"Ada apa sih, berisik banget!" Anas berusaha membuka matanya meskipun terasa lengket.


"Janie ... Janie!" ucap Radit membuat Anas kesal


"Iya Janie kenapa?" tanya Anas


"Lelaki itu menyeretnya dan membawanya ke ruang basement,"


"Jangan ngaco kamu,"


"Aku tidak bohong Anas, aku melihatnya sendiri!" sahur Radit


Anas segera melompat dari ranjangnya, dan menarik Radit untuk mencari sang kakak Janie.


Radit kemudian mengajak Anas menuju lobby dan turun ke basement. Anas menemukan sebuah anting Janie yang lepas kemudian mengikuti bekas jejak sang receptionist.


*Tak, tak, tak!


Seorang wanita berjalan mendekati receptionist hotel yang baru saja tiba membawa Janie ke ruang rahasia.

__ADS_1


"Jadi ini penerus dukun sakti yang digadang-gadang akan menjadi wanita terkuat di dunia paranormal?" ucap wanita itu Sinis


"Maaf Mbak Sari, bagaimana dengan kedua lelaki di kamar 321?" tanya sang receptionist


"Biarkan saja dia Jalu, toh mereka hanya orang awam yang tak punya kemampuan apa-apa, setelah kita selesai menyingkirkan si pengabdi setan dan dukun ilmu hitam ini, maka kita akan bereskan kedua manusia itu," jawab Sari


"Baik Mbak," Lelaki yang dipanggil Jalu itu kemudian memberikan semangkuk darah ayam cemani kepada Sari.


Wanita itu kemudian menyiramkan darah itu ke sebuah batu besar dan menaburkan kembang tujuh rupa di atasnya.


Sari menyalakan sebuah korek api dan mulai menyalakan dupa. Wanita yang berpakaian seperti pengantin jawa itu kemudian duduk bersimpuh sambil membaca mantera.


*Srek, srek, srek!!


Sementara itu Jalu tampak sedang mengasah sebuah golok hingga tampak mengkilat.


Mendengar suara mantera Janie pun mulai membuka matanya. Samar-samar ia melihat seorang lelaki dengan golok tajam berdiri di sampingnya.


Bak seorang jagal, Jalu memang dipersiapkan untuk menggorok leher para manusia yang dianggap sebagai tokoh ilmu hitam yang membahayakan menurut Sari.


Janie berusaha bangun dan duduk meskipun badannya terasa remuk. Jalu buru-buru mengalungkan goloknya di leher Janie membuat gadis itu langsung melotot kearahnya.


"Rupanya tamu kita sudah sadar toh," ucap Sari kemudian menyalakan rokoknya


Ia mengepulkan asap rokoknya tepat dan depan wajah Janie hingga perempuan itu terbatuk-batuk.


"Hahahaha, katanya dukun sakti tapi kena asap rokok aja bengek!" cibir Sari


Kembali Dari terkekeh mendengar jawaban Janie.


"Sejak kapan seorang dukun butuh sekolah, kamu ini ada-ada saja Janie,"


"Sudah ku bilang aku bukan dukun jadi stop mengatakan aku ini dukun!" kali ini Janie benar-benar marah dengan Sari yang terus mengira jika dia adalah seorang dukun.


Sari langsung terdiam dan menetap lekat perempuan di depannya itu.


"Dasar dukun keparat, kau pikir aku takut denganmu hah!" seru Sari kemudian menjambak rambut Janie


Janie pun tak mau kalah, ia langsung menghajar wajah Sari hingga darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Jalu tak tinggal diam saat melihat sang majikan terluka oleh Janie.


Saat lelaki itu hendak menghajarnya Janie lebih dulu mengambil sebuah tongkat kayu dan membebaskannya ke wajah Jalu.


*Brakk!!


"Aarrggh!" Jalu mengerang kesakitan sambil menutupi wajahnya


"Ternyata benar, jika manusia lebih menakutkan dari makhluk gaib," ucap Janie segera mundur saat Sari mulai mencabut tusuk kondenya.


"Tidak ku sangka kali ini aku akan bertemu dengan lawan yang sebanding, ucap Sari!"


Wanita itu kemudian melemparkan tusuk kondenya kearah Janie, beruntung ia segera menghindar hingga besi tajam itu tak mengenai tubuhnya.

__ADS_1


Janie mengepalkan tangannya untuk meninju wanita itu, namun Sari tiba-tiba menghilang membuat Janie langsung berputar mencarinya.


Dimana dia, tidak mungkin ia bisa menghilang??


*Bugghh!!


"Aww!" Janie mengerang kesakitan saat Sari berhasil memukulnya dengan balok kayu.


Darah segar mengalir dari pelipisnya membuat Janie kali ini harus lebih berhati-hati dalam menghadapi Sari.


Saat Janie hendak menyerangnya lagi kembali Sari menghilang membuat Janie semakin kesal dengannya.


"Sial, lagi-lagi dia menghilang seperti seorang pengecut!" keluh Janie


*Buughhh!!


Kali ini Janie tersungkur saat Sari berhasil menghantamkan sebuah balok kayu ke punggungnya.


"Anj*ng, kalau kau benar-benar manusia bukan iblis maka bertarung lah dengan cara fair bukan dengan cara licik seperti Iblis!" seru Janie kemudian berusaha bangkit dan berdiri


"Kenapa kau juga tidak menggunakan ilmu hitam mu untuk melawan ku bocah!" sahut Sari


"Aku pikir aku akan tertipu dengan tipu muslihat mu bocah bau kencur!" imbuh Sari kemudian meludah kearahnya


Kali ini aku tidak bisa tinggal diam, aku tidak bisa diinjak-injak seperti ini oleh perempuan iblis sepertinya.


Janie berusaha bangun meskipun badannya remuk.


"Kau tidak akan bisa melawanku bocah, meksipun kau punya tiga makhluk gaib yang melindungi mu tapi mereka tidak akan bisa melindungi mu di tempat ini, termasuk ayahmu si dukun Lingga itu,"


Sari kemudian menarik Janie dan mengikat wanita itu di sebuah altar yang sudah ia persiapkan.


"Hari ini tamatlah riwayatmu Lingga, karena sebentar lagi aku akan membakar hidup-hidup satu-satunya keturunan mu yang memiliki kemampuan supranatural seperti dirimu!"


Tiba-tiba angin kencang berhembus melibas kain putih yang menutupi tubuh Fikri.


Pemuda itu tiba-tiba membuka matanya saat angin kencang menerpa wajahnya seolah membangunkannya.


"Bangunlah Fikri, seseorang membutuhkan bantuan mu,"


#Pov Fikri


Aku merasakan seseorang menarikku untuk membuka matanya dan menyuruhku duduk. Entah siapapun dia yang jelas aku seperti sangat mengenalnya, dia berwajah tampan dan ketampanannya tak bisa digambarkan. Wajahnya bersinar sehingga aku tak bisa melihat jelas paras wajahnya.


Ia kemudian menuntunku ke sebuah ruangan rahasia dan membukakan pintu untukku.


*Krieettt!!!


Seorang wanita dengan dandanan khas pengantin Jawa terkesiap melihat kedatangan ku.


Sementara itu, di depannya ku lihat sosok perempuan muda yang sering aku lihat dalam mimpiku.

__ADS_1


"Ken??"


__ADS_2