
"Ken??"
Aku terkesiap saat wanita itu memanggil ku dengan sebutan Ken. Siapa Ken entahlah, bahkan aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba berdiri untuk menyelamatkan gadis itu.
Sepertinya ada seseorang yang sengaja menggerakkan diriku untuk menolongnya.
"Maaf aku Fikri, bukan Ken,"
Wanita itu sepertinya kecewa saat mengetahui aku bukan pria yang dimaksud.
"Wah-wah, tidak ku duga seorang pengabdi setan akan bangun saat melihat seorang dukun ilmu hitam terancam mati,"
Tiba-tiba seorang wanita dengan cosplay wanita Jawa datang menghampiri kami.
Entah kenapa darahku seketika mendidih saat mendengar celotehnya.
Apalagi saat ia menyebut gadis itu sebagai dukun ilmu hitam. Ada rasa tak terima dan rahangku tiba-tiba mengeras begitu saja.
Jari jemariku bahkan reflek mengepal seolah hendak meninju wanita itu.
"Kenapa menatapku seperti itu?. Apa kau tidak terima jika aku menyakiti kekasih mu?"
*Deg!!
Kata-kata itu seolah membuatku mengingat sesuatu. Sesuatu yang hilang dan ingin aku kenang lagi.
Seorang pria paruh baya tiba-tiba datang menghampiri kami.
"Apa aku harus menyingkirkannya mbak?"
"Lakukan saja seperti biasa," jawab Sari
Lelaki itu kemudian mengeluarkan sebuah senapan laras panjang dan menodongkannya kearahku.
"Aku berbaik hati untuk membunuhmu dengan cara yang halus. Hanya sekali dor maka sukmamu akan melayang dan menyusul ibumu. Kau tak perlu lagi menahan sakit berbulan-bulan dan merepotkan banyak orang," tandas wanita itu menyeringai
Ia kemudian duduk di kursi goyang dan menyalakan rokoknya.
*Krek, krek!!
Ku lihat pria itu langsung mengokang senapannya saat wanita itu mengepulkan asap rokoknya ke udara.
Manungso kuwi ono loro jenise, siji wong sing becik tindak tanduke, keloro wong sing olo koyo Durno.
Manusia itu ada dua macam, yang pertama dia yang baik semua tingkah lakunya, yang kedua adalah dia yang jahat seperti Durno.
*Dor!!
Tiba-tiba manik mataku langsung membulat saat sebuah peluru melesat kearah gadis itu.
Seketika tubuhku melesat menarik gadis itu dan membawanya terbang.
Wanita itu tampak marah, ia melemparkan rokok ditangannya dan segera beranjak dari duduknya.
"Asu, dikasih hati malah minta jantung!" seru wanita itu
Bola matanya kini berubah menjadi hitam, urat-urat di wajahnya mulai menghitam dan terlihat jelas.
Angin berhembus kencang membuat jendela ruangan itu tiba-tiba terbuka.
Ku lihat Lelaki itu tampak ketakutan, saat lampu di ruangan itu mendadak padam.
*Pranngg!!
__ADS_1
Danyang wetan Danyang kulon, Danyang kidul, Danyang lor, metuo kabeh, kumpulo dadi siji, anakmu wedo njaluk tulung, metuo, metuo!!!!
*Tak, tak, tak!!
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah kaki dan suara tawa khas seorang wanita.
*Braakkk!!
Tiba-tiba kursi goyang melesat kearahku, membuat ku melesat menghindarinya.
Kini benda-benda lain mulai berterbangan dan melesat kearah ku.
Bukan hanya benda-benda berat yang mulai menyerang kami, bahkan Lelaki itu diam-diam menarik pelatuk senapannya.
*Dor, dor, dor!!
Ku ambil serpihan kursi goyang dan ku lemparkan kearah pria itu .
"Arrgghhh!!"
Ku lihat pria itu mengerang kesakitan saat balok kayu yang ku lempar tempat mengenai kepalanya.
"Tunggu di sini," aku melepaskan wanita itu dan menghampiri Pria yang sedang meringis kesakitan.
Ku lepaskan tinjuku saat ia berusaha mengambil kembali senapannya yang jatuh.
Melihat ia terkapar membuat ku mengambil senapannya dan menodongkan kearahnya.
"Arghhh!!" tiba-tiba ku rasakan seseorang mencekik leherku
Ku gerakkan tanganku untuk melepaskan lengan Makhluk itu. Namun sialnya tangan itu lepas dan malah meninju ku.
*Buughhh!!!
Pandanganku mulai kabur saat lengan buntung itu berkali-kali menghajar ku.
Sepertinya wanita itu telah memabaca mantra pemanggil roh.
Semua jenis makhluk gaib kini berkumpul di depanku dan bersiap menyerangku.
Ku lihat mereka mulai memegangi kakiku.
"Sial, kalau begini bagaimana aku bisa melawan mereka,"
Ku lihat Gadis itu tampak santai saat makhluk-makhluk gaib itu mengepungnya. Tak ada sedikitpun rasa takut diwajahnya. Ia justru menghampiri baki sesaji dan meneguk segelas kopi hitam sampai habis.
Ia juga memungut puntung rokok yang tergeletak di lantai dan menyalakan kembali menggunakan dupa yang masih menyala.
"Ah, nikmat mana lagi yang kau dustakan," ucapnya kemudian tersenyum tipis
"Sari," ucapnya begitu lembut.
Wanita itu seketika melotot saat mendengar gadis itu memanggilnya.
"Kemari lah cah ayu," imbuhnya
Wanita itupun melangkahkan kakinya memenuhi panggilannya.
"Kalau kau benar-benar anakku, maka usir demit-demit itu dan suruh pulang ke dunianya masing-masing," tukas gadis itu
"Hihihi, kau pikir siapa dirimu sampai berani menyuruhku," jawab wanita itu
*Tuk!!
__ADS_1
Seketika gadis itu menyentil kening Sari hingga membuatnya marah.
"Dasar anak durhaka, tadi kau bilang anakku, dan menyuruhku datang kemari, sekarang kamu malah gak mengenaliku, dasar sue!" hardik gadis cantik itu
"Ternyata si Dukun sudah mendatangkan peliharaannya. Sepertinya kau datang hanya untuk mati,"
"Masa udah mati mau mati lagi, gimana ceritanya,"
Sekarang aku tahu sepertinya Gadis itu kerasukan.
Wanita itu kembali mulai merapalkan manteranya, dan kini makhluk-makhluk gaib itu mulai menyerang Janie.
Entah kenapa aku tiba-tiba mengingat nama itu.
Ingin rasanya membantu Janie, namun dua lelembut yang menarik kakiku tak bisa ku singkirkan. Mereka terlalu kuat.
"Kalian mau aku bumi hanguskan menjadi debu atau mundur alon-alon?"
Beberapa makhluk gaib langsung melesat menyerang Janie, namun dengan cepat gadis itu berusaha menghindar bahkan menghajar mereka satu persatu.
*Bugh!!
Satu persatu makhluk itu menghilang menjadi kepulan asap.
Namun bukannya berkurang satu mati maka sepuluh demit lain bermunculan.
"Ah sial, rupanya si Sari ini punya ternak demit rupanya,"
"Oi Fikri, bantu dong jangan diem aja,"
Tiba-tiba aku terkesiap saat mendengar ucapan Janie.
"Bagaimana aku bisa membantumu sedangkan kakiku di pegangi oleh dua lelembut,"
"Ya elah gitu aja repot, ludahin aja dijamin kabur tuh demit,"
"Iya kah??"
"Coba aja dulu, gratis kok Fik, kalau berhasil jangan lupa sukuran,"
Ku ikuti saran Janie untuk meludahi kedua demit itu.
"Cuih!!"
Seperti sebuah peluru, demit itu langsung menghilang saat terkena ludahku. Entahlah aku tidak tahu kenapa, apa mereka jijik atau ludahku mengandung kekuatan supranatural.
"Yang jelas Mereka itu kapok Fik, soalnya kan harus mandi 7 kali kalau kena ludah kamu makanya gak muncul lagi dia," jawab Janie sambil tertawa
"Kok bisa emangnya ludahku itu najis ya?"
"Sepertinya begitu, tapi boong!"
"Sial,"
*Brakkkk!!
Tiba-tiba dua orang pemuda masuk dan menghampiri Janie.
"Janie, kamu gak papa sayang?" tanya salah seorang pemuda menghampirinya
"Stop, jangan dekat-dekat!" ucap Janie
"Emangnya ada apa sayang,"
__ADS_1
*Buughhh!!!
Tiba-tiba semuanya gelap.