PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 32


__ADS_3

Aroma dupa yang menyengat, ditambah aneka sesaji lengkap dengan kembang tujuh rupa membuat ku penasaran bercampur kesal.


Bagaimana tidak, kok ada orang yang tega melakukan hal seperti ini di saat kami sedang berduka.


Siapa orang itu, siapa yang berusaha membangkitkan Parewangan milik ibu, di saat aku masih berduka.


Pertanyaan itu begitu mengganggu. Aku tak punya pilihan lain selain menghancurkan sesaji itu apapun resikonya.


Ku ambil sesaji itu dan ku buang di tempat sampah. Ku tatap lesung yang tertutup kain hitam,


Aku yakin semua itu karena lesung itu,


Benar saja, saat melewati lesung itu, tercium aroma wangi bunga yang begitu khas.


Aku yang penasaran kemudian menghampirinya. Di samping lesung tergeletak satu baki kembang tujuh rupa yang masih segar.


Aku benar-benar marah melihat semua itu. Ku seret lesung itu menuju ke tempat sampah. Tidak lupa ku turunkan alu yang tergantung di dinding rumah.


Ku ambil satu jerigen solar dan ku tuangkan isinya keatas Lesung laknat itu.


Saat ku nyalakan korek api entah kenapa selalu saja padam.


"Ah sial, kenapa mati mulu sih, padahal gak ada angin!"


Terdengar suara seorang pria cekikikan menertawakan ku. Saat ku melirik ke samping ku lihat Om Barra memonyongkan bibirnya bersiap untuk meniup korek api yang ku nyalakan.


"Haish, pantas saja apinya selalu mati ternyata ada yang usil meniupnya," gerutuku membuat Om Barra menertawakan aku.


"Makane ojo kesusu Le, Slow aja. Kalau orang Jerman bilang itu alon-alon asal kelakon,"


Ku lihat Om Gilang menaikkan alisnya tersenyum menatapku.


"Tapi aku sudah gak sabar Om, aku mau buru-buru membakar Lesung itu supaya para demit dan pengikutnya itu segera pergi dari rumah ini,"


"Tak segampang itu cah bagus, semua itu ada tahapannya. Kamu bisa celaka jika menghancurkan lesung itu tanpa perhitungan, apalagi sendirian," sahut Om Gilang


"Ikan Teri naik kapal pesiar,"


"Cakep,"


"Ikan Nila naik motor matic aja,"


"Cakep,"


"Kalau dek fikri pengin semuanya kelar, jangan panik cukup bantu doa saja,"

__ADS_1


"Bener tuh kata Gilang Fik, yang penting fokus dulu mengurus ibumu dulu, biar yang lain-lain serahkan sama kita-kita aja," ucap Om Barra


"Ingat lawanmu itu bukan dukun abal-abal. Santai saja, sekarang lebih baik kamu sholati dulu jenazah ibu kamu, biar aku aja yang nungguin di sini sama Barra," imbuh Gilang


"Baik Om, yaudah kalau begitu aku ke dalam dulu om,"


"Silakan,"


Ku tinggalkan Om Barra dan Gilang di halaman belakang. Setidaknya aku merasa lega jika mereka ada di sini. Kini aku tidak perlu memikirkan masalah teror klenik yang mulai mengusik ku.


Semua orang tampak menoleh kearahku, saat aku memasuki ruang tamu.


"Dari mana saja kamu Fik?" tanya Abu menghampiriku


"Ambil wudhu di belakang Abu,"


"Yaudah ayo siap-siap, semuanya sudah menunggu kamu dari tadi,"


Abu mengajakku untuk berdiri di sampingnya tepat depan jenazah Ibu.


Kyai Mansur tampak menjadi imam sholat. Suasana tampak hening, hanya terdengar suara detak jarum jam yang memenuhi ruangan itu.


Entah kenapa hanya aku yang merasakan kedatangan sesosok makhluk gaib di tempat itu.


Makhluk bertubuh besar berwarna hijau kehitam-hitaman, dengan mata besar dan kuku-kukunya yang tajam seperti pisau. Ia berdiri tepat di depanku hingga wajah kami saling berhadapan.


Makhluk itu seketika menghilang saat sholat jenazah selesai.


Aku hanya bisa menatap jenazah ibu. Merenungi bagaimana nasibnya kelak. Apa dia juga akan bernasib sama dengan Mbah Kung yang akan di tumpuk menjadi singgasana sang Raja Buto ijo. Atau ia akan bernasib sama seperti Bapak dan azam yang menjadi budak iblis itu.


"Doakan saja yang terbaik, jangan berpikir macam-macam," ucap Abu Musa membuyarkan lamunanku.


Kini saatnya jenazah diberangkatkan ke pemakaman. Namun tak seorangpun bersedia untuk mengusung Kereta Jenazah. Hanya aku sendirian. Mungkin mereka takut karena semua orang tahu jika ibu memiliki Parewangan untuk mendapatkan pesugihan, jadi aku maklumi saja.


Namun aku bersyukur karena Abu dan Kyai Mansur begitu peduli kepada ku. Ia bahkan memberikan tausiah singkat yang mampu menggerakkan hati warga untuk membantu mengangkat keranda mayat ke pemakaman.


"Alhamdulillah, akhirnya pemakaman selesai juga," Abu Musa kemudian berpamitan dan pulang, begitupun dengan yang lainnya.


Hanya aku yang masih duduk termangu di depan pusara ibu.


Ku lihat Anas dan Pak De Lingga masih menungguku di bawah pohon rindang.


Selesai mendoakan Ibu, Bapak, dan Azam aku kemudian menghampiri Anas dan Pak De Lingga.


Lagipula tak baik lama-lama meratapi kepergian Ibu. Aku hanya bisa mengikhlaskan dan mendoakannya saja. Semuanya aku serahkan kepadaMu ya Robb.

__ADS_1


Setibanya di rumah, kurasakan begitu sepi, sekarang aku sendirian di rumah ini.


Ku naik keatas dan menuju kamar ibu. Ku lihat photo-photo ibu yang masih terpajang di dinding kamar. Entah kenapa rasa rindu mulai menderaku. Ingin rasanya berbaring di atas pangkuanmu Ibu, merasakan lembut belaian kasihmu. Tapi sekarang semua itu tak akan pernah ku rasakan lagi, karena ibu telah pergi.


Ku baringkan tubuhku diatas ranjang ibu sambil menciumi wangi aroma rambut ibu yang tertinggal di bantal.


Embusan angin sepoi-sepoi dari kipas angin membuat mataku langsung mengantuk, ku peluk guling di sampingku hingga aku terlelap.


Dalam tidurku aku melihat ibuku berteriak kesakitan, di saat yang smaa ku dengar sayup-sayup suara seseorang menyenandungkan kidung kejawen.


Jika ku perhatikan lirik kidung itu seperti mengundang seseorang. Ibu menatap telinganya rapat dan berteriak kesakitan saat mendengar suara kidung itu.


Ibu bahkan melemparkan semua benda-benda yang ada di dekatnya kearah suara itu.


"Hentikan, tolong, hentikan!" seru Ibu dengan wajah ketakutan


Bukan hanya ibu yang ketakutan mendengar kidung itu, bahkan aku saja langsung merinding saat mendengar alunan kidung tersebut.


Tiba-tiba sesosok Buto Ijo perempuan penghuni cermin keramat datang menghampiri Ibu. Ibu berusaha kabur menghindari makhluk mengerikan itu. Ibu berusaha mendorong makhluk itu saat ia hendak mencekiknya.


Kembali ibu berlari berusaha menyelamatkan diri, namun usahanya sia-sia, karena makhluk itu berhasil menarik kakinya hingga Ibu tersungkur ke lantai.


Makhluk itu menyeringai dan mencabik-cabik tubuh Ibu dengan kuku-kukunya yang tajam hingga berdarah-darah.


Ibu menjerit-jerit meminta tolong, namun tak seorangpun datang menolongnya.


Begitupun dengan diriku yang tak bisa bergerak sama sekali. Aku tak ubahnya seperti patung yang hanya bisa menyaksikan ibu yang mulai sekarat karena makhluk mengerikan itu.


Seorang wanita berpakaian serba hitam menghampiri ibu, ia menyayat leher ibu berkali-kali meski ibu sudah memohon ampun padanya.


Entah kenapa ibu tak kunjung mati meskipun sudah terluka begitu parah. Bahkan lehernya nyaris putus karena sayatan pisau wanita itu.


Mungkin itu hukuman bagi pengabdi setan, yang mengalami susah meninggal.


"Tolong, bunuh aku!" Ibu merangkak mengejar wanita itu.


"Kau pantas mendapatkannya Sri," ucap wanita itu kemudian meninggalkannya.


Saat wanita itu pergi ku dengar suara Lesung berbunyi. Di saat itulah ku lihat segerombolan makhluk mengerikan lain datang menghampiri Ibu. Mereka menyeret ibuku dan melemparnya dari atas balkon hingga ibuku terkapar di halaman depan.


Ku lihat Ibu masih bergerak meskipun kepalanya sudah pecah. Ia berusaha bangun untuk berlari menghindari makhluk mengerikan itu yang kembali mendekat kearahnya.


Tapi sayangnya dua buah bola api langsung menghantam tubuhnya hingga ia terbakar.


Ibu kembali meraung-raung kesakitan. Memanggil namaku meminta tolong.

__ADS_1


"Fikri, Fikri, tolong ibu nak, Fikri!!" Saat itulah aku melihat wajah ibu yang begitu menyedihkan.


__ADS_2