
"Tapi Nyai....aku takut ...." Radit tiba-tiba ketakutan hingga ia berusaha bersembunyi di belakang Janie
Raut wajah pria itu mulai terlihat memucat, bola matanya tampak bergerak ke kanan dan kiri seolah memperhatikan seseorang.
Radit terus bersembunyi di belakang Janie, saat gadis itu berusaha membujuknya untuk memberitahu dimana keberadaan Fikri.
"Jangan takut, ada aku yang akan melindungi mu. Bahkan bukan aku saja tapi ada titisan raja Singosari juga yang akan membantumu. Kau tahu kan dia bahkan sudah mengacak-acak istana Raja Buto Ijo saat menyelamatkan Fikri,"
Perlahan Radit mulai keluar dan mendongakkan kepalanya menatap wajah Janie.
"Dia di sembunyikan di sebuah penginapan yang juga merupakan istana lelembut di sebuah desa mati," ucap Radit
Tidak lama Radit pun tak sadarkan diri setelah memberitahukan keberadaan Fikri kepada Janie.
"Ambilkan air!" seru Janie
Mila buru-buru memberikan sebotol air mineral kepada Janie. Radit pun siuman setelah Janie memberikan air putih kepadanya.
"Sepertinya kau berbakat menjadi dukun Jan," tukas Anas
"Aku bukan dukun," jawab Janie kemudian mengajak mereka menuju ke mobil.
"Kalau kau masih lemas, biar Anas saja yang bawa mobil," tukas Janie
"Ok," Anas segera duduk dibelakang kemudi diikuti Mila yang duduk di sampingnya.
Sementara Janie duduk di dibelakang bersama Radit.
"Kenapa tubuhku terasa pegal, sebenarnya apa yang terjadi padaku?" keluh Radit
"Tidak ada, kau hanya kelelahan saja. Sebaiknya kau tidur saja, nanti kalau sudah tiba aku akan membangunkan mu." jawab Janie
Radit pun bersandar di bahu Janie kemudian memejamkan matanya
Sepanjang perjalanan Radit tampak tertidur pulas, sedangkan Janie berusaha menjaganya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam mereka akhirnya tiba di sebuah desa yang hanya di huni oleh beberapa kepala keluarga saja.
Anas menghentikan mobilnya didepan sebuah penginapan tua yang ada di tengah desa.
"Kau yakin akan menginap di sini Jan?" tanya Mila
"Hanya ini satu-satunya penginapan di desa ini," jawab Janie
"Tapi penginapan ini sangat seram," jawab Mila kemudian bersembunyi dibelakangnya
"Di dunia ini tidak ada yang lebih menyeramkan dari manusia, jadi aku rasa penginapan ini baik-baik saja," jawab Janie
Ia kemudian melangkah menuju pintu masuk.
*Krieettt!!
__ADS_1
Keempatnya langsung terkejut saat melihat pintu itu terbuka sendiri.
"Sugeng ndalu Mas....
Mbak Yu, Monggo mlebet," sambut seorang pria mempersilakan mereka masuk
Ketiganya tampak ragu saat akan memasuki penginapan itu. Namun tidak dengan Janie, perempuan itu dengan penuh percaya diri melangkah maju memasuki ruangan itu.
"Mau pesan kamar untuk berapa orang?" tanya pria itu
"Empat orang, tapi aku pilih dua kamar double saja. Aku dan Mila, adikku dengan Radit," jawab Janie
"Ok, dua double ya, untuk berapa malam?"
"Semalam saja," jawab Janie
"Baik," lelaki itu kemudian mengambil kunci ruangan dan memberikannya kepada Janie
"Terimakasih,"
Sementara itu Mila tampak memperhatikan dengan detail penginapan itu.
Ia tampak terkesiap saat melihat ada sesaji lengkap dengan dupa yang masih menyala di lobby penginapan.
Ia kemudian membisikkan sesuatu kepada Anas.
"Sepertinya ada yang gak beres dengan penginapan ini," bisik Mila
"Kalau masalah sesaji sih itu hal biasa khususnya bagi warga pedesaaan yang selalu membuat sesaji saat malam jumat," jawab Anas
Belum sempat Anas menjawab Janie kemudian mengajak mereka untuk masuk ke kamarnya masing-masing.
"Kamarmu disebelah jadi kalau ada apa-apa ketuk saja," ucap Janie kemudian melemparkan kunci kamarnya kepada Anas
"Ok,"
Lagi-lagi Mila dibuat terkejut saat melihat sepiring kembang telon di sudut kamar.
"Gila, creepy banget nih Penginapan. Tadi di lobby ada sesaji , sekarang di kamar ada kembang telon .Wah sepertinya ada yang gak beres," ucap Mila
Ia buru-buru keluar untuk memastikan apa di kamar Anas ada kembang telon atau tidak.
*Tok, tok, tok!
*Krieeett!!
Mila segera masuk saat pintu terbuka.
*Bruugghh!!
Ia menoleh kebelakang saat pintu tiba-tiba tertutup dengan sendirinya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja apa kalau nutup pintu, nanti rusak kena charge loh!" gerutunya
Ia melihat di kamar itu juga terdapat kembang telon, bahkan masih segar.
"Beneran kita harus keluar dari penginapan ini," Mila buru-buru membalikkan badannya, namun betapa terkejutnya ia saat melihat sosok wanita tua didepannya.
*Deg!
Mila mulai merasa ketakutan saat melihat seorang nenek renra dengan dandanan khas wanita Jawa. Nafasnya memburu dengan detak jantung yang tak beraturan. Keringat dingin bahkan membasahi pelipis.
"Nek mlebu omahe wong iku kudu permisi Nduk. Dadi wong enom iku kudu ngerti unggah-ungguh ben selamat uripe, ( Kalau masuk rumah orang itu harus permisi nak. Jadi anak muda itu harus tahu sopan santun supaya selamat hidupnya selamat)," ucap wanita itu
"Maaf Nek, saya kurang bisa bahasa jawa jadi bisa tolong di artikan ke bahasa Indonesia?" tanyanya dengan wajah gugup
"Jangan kepo!" seru nenek itu dengan mata melotot membuat Mila semakin ketakutan
"Kalau begitu Mila minta maaf Nek,"
Mila buru-buru berlari meninggalkan kamar itu namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebah tangan menarik kakinya. Seketika bola mata gadis itu membulat sempurna saat melihat sepasang tangan tanpa wujud mencegahnya pergi.
"Janie, tolong!!!" serunya
*Buugghh!!!
Tubuh Mila terbanting ke lantai saat kedu tangan itu menariknya, Ia berusaha bangun dan melepaskan kedu tangan itu namun siapa sangka ia malah di seret ke sebuah ruangan gelap dan dimasukan kedalam peti.
*Srek, srek, srek!!
Di tempat berbeda terlihat receptions penginapan sedang mengasah golok. Setelah memastikan goloknya tajam ia kemudian mengambil seekor ayam cemani dan memotongnya.
Ia menampung darah ayam itu kedalam mangkuk kecil dan menaruhnya di tempat sesaji yang sudah ia persiapkan.
"Semuanya sudah siap Nyai," ucapnya saat menyerahkan sesaji itu kepada seorang wanita.
Di kamar Janie tampak memperhatikan lukisan di dinding kamar yang tampak menarik perhatiannya.
Sebuah lukisan payung besar yang dibawanya duduk seorang wanita dengan menggunakan pakaian khas Ratu kerajaan di singgasana.
Ia kemudian beralih menatap kembang telon yang tergeletak di meja kecil tepat dibawah lukisan itu.
"Aku yakin penginapan ini yang dimaksud Si Aki. Sebuah penginapan di desa Mati??" Janie tersenyum sinis menatap nanar lukisan di depannya.
Wanita dalam lukisan pun tersenyum kepadanya seolah membalas senyumannya.
Ia kemudian duduk bersila sambil memejamkan matanya.
*Tak, tak, tak!!
Tiba-tiba terdengar suara derap langkah mendekatinya.
"Ono opo cah ayu (Ada apa cantik)?" sapa wanita itu kemudian berdiri di depannya
__ADS_1
Perlahan Janie membuka matanya.
"Jangan ikut campur!" seru wanita itu mendekatkan wajahnya kepada Janie.