PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 40


__ADS_3

Abu hanya tersenyum menanggapi ancaman Bik Sumi. Meksipun ia sudah terluka parah namun Abu tak gentar.


Lelaki berdarah campuran Timur Tengah tengah dan Jawa itu menarik nafas sebentar kemudian membalas tantangan Bik Sumi.


"Hidup mati semua orang sudah digariskan oleh Allah SWT, jadi aku tidak takut. Jika memang aku harus mati di tangan mu tentu saja aku akan menerimanya dengan legowo," ucap Abu membuat Bik Sumi semakin marah


"Cih, kau pikir kopiah dan sarung mu bisa menolong mu!" serunya dengan tatapan penuh kebencian


Entah kenapa ku lihat Bik Sumi seperti sangat membenci Abu Musa. Tatapan penuh kebencian Bik Sumi dibalas dengan seutas senyum dari wajah teduh Abu Musa.


Lelaki itu terlihat begitu tenang dalam menghadapi Bik Sumi yang tampak berapi-api. Ia seakan tahu jika wanita itu memiliki dendam yang membuatnya harus melakukan hal-hal mengerikan bahkan sampai membunuh seseorang.


"Tentu saja kopiah dan sarung ku memang tidak bisa menolongku, karena itu hanya benda mati. Aku percaya hanya Allah yang bisa menolongku," jawab Abu Musa begitu tenang


"Allah, dimana dia waktu suamiku membutuhkan pertolongannya??" jawab Bik Sumi menatap nanar kearah pria berbaju serba putih itu


"Tentu saja Allah sudah menolongnya, hanya saja hari itu memang sudah waktunya bagi suamimu untuk kembali. Dan itulah satu-satunya pertolongan dari Allah yang diberikan kepadanya. Bagaimana jika ia tetap hidup dengan lukanya yang begitu parah karena sang demit yang menyerangnya, coba bayangkan bagaimana rasanya suami mu akan menanggung sakit yang menahun hingga akhir ajalnya seperti almarhumah Ibu Sri. Apa kamu ingin suamimu seperti itu??" tanya Abu Musa berusaha menyadarkan wanita itu


"Tetap saja mati sebagai tumbal tidak membuat kematiannya berakhir bahagia, karena ia akan menjadi budak iblis di alam sana," jawab Bik Sumi


"Wawllahu A'lam bi Showab. Hanya Allah yang tahu tentang itu, manusia tidak akan pernah tahu hal itu, karena kita hanya mendengar dari cerita manusia yang belum tentu kebenarannya,"


"Sok tahu!" cibir Bik Sumi


Bik Sumi yang terlanjur kesal dengan sikap Abu yang dianggapnya sok tahu, pun terlihat menggerakkan tangannya seolah-olah bersiap untuk menyerangnya.


Benar saja tiba-tiba ku lihat dua bola api langsung melesat menyerang Abu Musa. Namun Abu dengan tenang mampu menghalaunya dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Ah sial, bagaimana ia bisa lolos dari serangan ku itu !


Bik Sumi yang gagal menghabisi Abu dengan Banas Patinya kini menggunakan cara lain untuk menyingkirkan pria itu.


Ia mulai menggunakan ajian sirep. Ia mulai membaca kidung yang membuat Abu Musa seketika jatuh tak sadarkan diri.


*Bruugghhh!!


Aku segera berlari menghampiri Abu yang tergeletak di depan pintu gudang.


"Abu, Abu bangun!" seruku berusaha mengguncang tubuhnya agar ia sadarkan diri.

__ADS_1


Namun semuanya percuma, Abu seperti sedang tertidur pulas dan tak bisa dibangunkan lagi.


Sekarang aku harus melindunginya, Aku tak bisa membiarkan Bik Sumi mencelakainya.


"Sekarang tamatlah riwayat mu Ustadz!"


Tiba-tiba beberapa pocong berdatangan saat Bik Sumi melemparkan segenggam beras kuning kearah ku.


Aku masih ingat bagaimana pocong-pocong itu berusaha mengejar ku waktu itu.


Melihat wajahnya saja sudah menakutkan apalagi aku harus berhadapan dengan mereka sekarang.


Tapi sekarang aku harus melindungi Abu, jadi mau tidak mau aku harus melawan mereka. Aku tidak boleh menyerah, Abu harus selamat dan tidak boleh ada lagi yang mati menjadi tumbal.


*Grep!


Aku melotot saat melihat sesosok pocong mengeluarkan tangannya dan menarik kakiku.


*Bruugghh!!


Aku hilang keseimbangan dan langsung terjungkal ke lantai. Ku gerakkan tanganku berusaha untuk merayap dan melarikan diri dari para pocong itu.


Ya Allah tolonglah aku, selamatkan aku agar aku bisa menyelamatkan Abu??


Aku berusaha melepaskan diri dari mereka. Namun sepertinya tenagaku tidak terlalu kuat untuk melawan para demit itu.


Ada yang berusaha mencekik ku, ada yang mencabik-cabik tubuhku dengan kukunya yang tajam.


Aku menjerit sekeras-kerasnya saat ku rasakan tubuhku benar-benar sakit seperti dikuliti.


Aku meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari puluhan pocong yang berusaha membunuhku. Namun semua usahaku sia-sia, mereka terlalu kuat dan aku tak bisa melepas ndiri da4


Seketika sebuah kilatan cahaya membuat para pocong itu terhempas dari tubuhku.


Om Barra datang ia datang untuk menyelamatkan aku meskipun ia sendiri terluka.


Ia mengulurkan tangannya dan menarikku untuk bangun.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya lirih

__ADS_1


"Hanya luka kecil, tidak masalah," jawabku singkat.


Kini makhluk Parewangan milik Bik Sumi langsung melesat kearah Om Barra. Tatap matanya yang tajam mengisyaratkan kematian.


Senyumnya yang seolah memberitahu jika tidak akan ada yang selamat malam itu.


Ia menggerakkan tangannya dan tiba-tiba Om Barra melayang terbang sambil mencekik lehernya sendiri.


Saat melihat Om Barra yang hampir membunuh dirinya Om Gilang pun melesatkan tendangannya kearah makhluk itu. Namun sialnya Om Gilang justru berubah menjadi patung dan tak bisa menyentuhnya.


Ah sial, emang demit satu ini susah banget di kalahkan.


Kini Om Rangga yang bergerak bersama Pak De Lingga. Keduanya bergerak menyerang sang Demit dengan kekuatan supranaturalnya.


Namun lagi-lagi keduanya terhempas ke tanah hingga muntah darah.


Aku hanya bisa menangis dalam hati saat melihat orang-orang yang berusaha membantuku justru celaka. Rasanya aku ingin membunuh Parewangan itu, makhluk gaib yang sudah menghabisi nyawa semua keluargaku.


Aku hanya bisa mengepalkan tanganku saat melihat makhluk itu mulai mendekati Anas.


"Sekarang kau tak bisa selamat lagi cah bagus, eyang dan ayahmu tak akan lagi bisa menyelamatkan dirimu," ucap makhluk itu kemudian menjentikkan jarinya hingga Anas langsung melesat kearahnya.


"Greepp!"


Ku lihat tatapan mata penuh ketakutan Anas saat berhadapan dengan demit itu.


"Aaarrggh!!" aku berteriak sekeras-kerasnya berusaha melepaskan diri dari kekuatan gaib yang membuat tubuhku tak bisa bergerak.


"Begitu syulit kalahkan demit, apalagi lawannya Jin Ivrit!" sayup-sayup terdengar suara Om Gilang bernyanyi.


Meksipun ia terluka parah dan tak bisa bangun tapi ia masih sempat bernyanyi membuat ku tertawa karena liriknya lucu.


Entah kenapa saat aku tersenyum tiba-tiba tubuhku menjadi rileks dan bisa digerakkan.


Aku melirik kearah Om Gilang dan Ia langsung mengedipkan matanya kepadaku.


"Semangat!" ucapnya hanya dengan menggerakkan bibirnya saja aku sudah tahu kalau dia memberi semangat padaku.


Aku kemudian membulatkan hati untuk melawan Makhluk Parewangan itu demi menyelamatkan orang-orang yang aku sayang.

__ADS_1


__ADS_2