PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 36


__ADS_3

#Pov Author


Rangga dan Lingga tampak duduk bersila di depan sesaji. Keduanya tampak khusuk membaca mantera pemanggil roh.


Tidak lama seorang wanita cantik muncul di tempat itu. Ia berjalan pelan dan duduk di samping Rangga.


Ia mengusap lembut dada bidang pria tampan di sampingnya itu.


"Sudah lama aku ingin bertemu denganmu Aki," ucapnya dengan senyuman manisnya membelai lembut wajah pria tampan di sampingnya


Saat Rangga menepisnya, wanita itu menggerakkan bibirnya dan berkidung merdu.


Gilang terkejut saat mendengar kidung itu.


"Kidung Kematian??" Ia membelakakan matanya saat melihat seorang wanita cantik sudah muncul di tempat itu.


Gilang langsung melepaskan tinjunya kearah wanita itu hingga ia terpental menghantam tiang-tiang penyangga rumah itu.


Tubuhnya hancur namun seketika menyatu lagi dan menatap dingin kearah Gilang.


"Kesatria dari Singosari, aku sudah berusaha menjauhi mu. Tapi sepertinya kau berusaha mengikuti ku,"


"Sebaiknya kau kembali ke duniamu dan jangan ikut campur dalam urusan manusia," ucap Gilang membuat wanita itu tertawa kecil


"Lalu apa yang kalian lakukan di sini, bukankah kalian juga melakukan hal yang sama denganku, jadi apa bedanya?"


"Tentu saja berbeda, kami tidak mencelakai manusia, tapi kau bukan hanya mencelakainya tapi kau juga sudah membunuhnya,"


"Itu bukan urusanmu," jawab wanita itu


"Sekarang akan menjadi urusanku karena kau sudah menganggu keturunanku,"


Wanita itu menyeringai dan segera melepaskan kilatan berwarna merah saat Gilang lengah.


Tubuh Gilang terhempas menghantam dinding ruangan, sementara itu wanita itu langsung menghilang.


#Kediaman Bik Sumi


*Brakkkk!!


Bara terhempas menghantam dinding ruang tamu saat sebuah kilatan cahaya menghantam tubuhnya.


Seorang wanita cantik menyeringai, berdiri di samping Bik Sumi.


"Jangan ikut campur urusan kami, jika kau tak ingin celaka Pangeran," ucap wanita itu menghampiri Barra


"Kau tidak bisa membunuhnya," ucap Barra


"Untuk itulah aku perlu menghabisi mu lebih dulu supaya lebih gampang menyingkirkan bocah itu," ucap wanita itu


Ia kemudian mengeluarkan bola-bola api dari tangannya, "Matilah kau sekarang Barra!"


"Awas Om!" seru Fikri berlari memeluknya erat


*Wuushhh!!

__ADS_1


Sesosok bayangan putih menepis serangan wanita itu dan menyambar tubuh Barra dan Fikri.


*Brakkk!!


Rangga dan Lingga segera mendongakkan wajahnya saat melihat kedatangan Gilang bersama Barra dan Fikri.


"Dimana Anas, kenapa dia tak kembali bersama kalian?" tanya Lingga


"Sepertinya makhluk itu mengurungnya di suatu tempat," jawab Barra


Fikri membuka tangannya yang mengepal dan memberikan segenggam pasir kepada Lingga.


"Aku hanya sempat menangkapnya segitu Pak De," ucapnya penuh sesal


Lingga menatap segenggam pasir ditangannya.


"Rogo sukmo,"


Rangga membelalak mendengar ucapan putranya.


"Jadi dia memanfaatkan kekuatan dari para arwah untuk menghabisi musuh-musuhnya. Aku tak bisa membiarkan makhluk itu menyentuh cucuku, dia harus membayar mahal karena sudah berurusan denganku," ucap Rangga


"Sabar Ran, ojo kesusu," jawab Gilang kemudian membaringkan tubuhnya di lantai


"Aku gak bisa sabar kalau sudah menyangkut nyawa keluargaku,"


"Hmm, iya juga sih. Tapi kasian si Bar-bar lagi terluka," sahut Gilang


"Sekarang yang aku butuhkan itu hanya pelukan dari belahan jiwaku. Tapi gimana mau peluk, wong jeruk sama jeruk,"


"Sue lo!" cibir Rangga


Melihat Barra yang terluka Fikri pun tak tega melihatnya, apalagi saat melihat pria itu begitu lemah hingga tak bisa bangun.


"Maafin Fikri ya Om, Gara-gara Fikri om jadi begini," ucap pemuda itu menatap sendu kearah Barra


"Sans aja Fik, dia mah udah sering kaya gitu," sahut Gilang


"Iya sans aja, aku udah biasa kok kaya gini," imbuh Barra.


"Tetap saja aku gak enak,"


Pemuda itu memegang tangan Barra yang terluka kemudian mengusapnya.


"Terimakasih ya Om, karena Om aku masih bisa selamat,"


Fikri kemudian memeluk Barra dengan erat membuat pria itu melirik kearah Gilang yang langsung mengacungkan jempol kearahnya.


"Aku berdoa semoga Om cepat diberikan kesembuhan,"


"Aamiin,"


Entah kenapa tiba-tiba luka-luka di tubuh Barra seketika menghilang. Tentu saja hal itu membuat Barra terkejut bukan main.


"Wah, bagaimana bisa semua lukaku menghilang?"

__ADS_1


"Itu artinya kamu sama Fikri berjodoh Bar," ucap Rangga


"Weh, masa jeruk sama jeruk Ran?"


"Jodoh itu bukan berarti harus menjadi pasangan Bar, bisa jadi kalian berjodoh dalam hal lain," jawab Rangga


"Benar, sepertinya Fikri yang memanggilku dan membawa ku ketempat ini?" jawab Barra


"Bisa jadi,"


"Terus piye iki??"


"Kita harus menolong Anas Om," ucap Fikri


"Benar, karena Barra sudah pulih kekuatan bertambah kita sudah dan sudah siap melawan Bik Sumi dan Parewangannya itu," sahut Rangga


"Lalu siapa yang akan ke Jagad Arwah untuk menjemput Anas?" tanya Rangga


"Biar Lee aja Dad," jawab Lingga


"Tidak bisa Lee, kamu terlalu tua. Kita perlu seorang yang masih muda karena perjalanan menembus ruang dan waktu memerlukan energi yang luar biasa. Selain itu kamu masih memiliki anak dan istri yang harus dilindungi dan itu bisa menjadi kelemahan mu. Jadi Daddy tidak bisa mengizinkan mu melakukan hal ini. Kita butuh anak muda yang tidak punya kelemahan khususnya keluarga," jawab Rangga


"Kalau begitu biar Fikri saja Om,"


"Apa kau yakin Fik?" tanya Lingga


"Tentu saja, masalah hidup dan mati itu ada di tangan Gusti Allah jadi aku tidak takut. Lagipula semua orang memang suatu saat pasti akan mati, hanya tinggal menunggu waktu saja, jadi sebelum aku mati aku juga ingin melakukan hal terbaik untuk orang-orang yang aku sayang. Apalagi Pak De dan Anas sudah banyak menolong Fikri selama ini. Jadi sekaranglah saatnya aku membalas kebaikan kalian," jawab Fikri


"Ya Allah betapa mulia hatimu Fik, Pak De jadi terharu mendengarnya," ucap Lingga kemudian memeluknya.


"Kalau begitu mari kita lakukan ritualnya sekarang," tukas Rangga


Gilang kemudian membisikkan sesuatu kepada Fikri.


"Gimana kamu siap?" tanya Gilang


Meskipun sedikit ragu namun pria dua puluh satu tahun itu langsung mengangguk setuju.


Gilang kemudian mengusap mata Rifki untuk membuka mata batinnya.


"Sekarang mata batinmu sudah terbuka, jadi jangan kaget kalau mulai sekarang kamu bisa melihat semua makhluk gaib," tukas Gilang


"Iya Om," jawan Fikri


Rangga kemudian mengajak Fikri untuk berdiri di lingkaran yang sudah ia buat khusus untuknya dilengkapi dengan kembang telon.


"Saat kau tiba di Jagat Arwah maka yang pertama kali akan kau hadapi adalah sedulur 4 mu, jadi kalahkan mereka dulu baru kau bisa menemukan Anas," tukas Rangga


"Baik Om,"


"Tenang saja kau tidak sendirian, kami bertiga tetap akan membantumu di sana,"


Lingga kemudian mulai duduk di depan sesaji. Ia mulai menyalakan dupa sambil membaca mantera.


"Hidup dalam mati, mati dalam hidup, rogo Sukmo,"

__ADS_1


__ADS_2