
"Ada apa sih Jan, kok kamu bisa-bisanya tidur saat jam pelajaran?. Udah gitu pakai acara teriak-teriak lagi, mimpi apa lo?" tanya Mila
"Mimpi ketemu pengirim bunga melati itu,"
"Melati??" Mila tampak mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan Janie
"Melati yang ada di surat Audi,"
"Astaga, beneran Jan?"
"Iyalah masa boongan," jawab Janie
Tiba-tiba Janie merasakan bulu kuduknya berdiri hingga ia langsung menoleh kebelakang.
"Sepertinya ada yang mengawasi kita?" tanya Janie
"Jangan bikin takut deh Jan," ucap Mila segera memegangi lengan Janie
"Beneran tadi aku merasa ada seseorang yang memperhatikan kita, lihat aja bulu kudukku sampai berdiri gini," jawab Janie
Mila segera menarik Janie pergi meninggalkan ruang kesehatan. Keduanya sengaja memilih duduk di warkop depan sekolah.
"Bang Indomie goreng dua ya, pedes!" seru Mila
__ADS_1
"Tambah es teh manis dua," imbuh Janie
Saat kedua gadis itu mulai kembali membuka obrolan tiba-tiba Radit datang menghampiri mereka.
"Di sini rupanya, pantas saja aku cari-cari di kelas tidak ada," ucap Radit kemudian duduk di samping Janie
Ia berusaha mencari perhatian gadis itu namun sepertinya Janie sudah terlanjur ill feel dengan pemuda itu.
Merasa diacuhkan oleh Janie, Radit langsung menarik gadis itu keluar dari warung kopi.
Malam itu Radit mendatangi kediaman Janie dan berteriak-teriak memanggil nama mantan kekasihnya itu.
Tentu saja suara berisik Radit berhasil membuat semua anggota keluarga Janie keluar untuk melihat siapa orang gila yang sudah menganggu istirahat mereka.
"Bodo amat, gue gak ada urusan sama jomblo abadi kaya lo. mendingan belum masuk kerja cuci kaki cuci muka gosok gigi lalu bobo!" seru Radit sengaja mengejeknya
"Sial, sepertinya dia perlu di beri pelajaran!"
Anas buru-buru masuk ke dalam rumah. Tidak lama ia kembali lagi dengan membawa seember air di tangannya. Saat melihat pria itu berorasi tentang perasaannya dan juga kekecewaannya kepada Rinjani maka Dengan cepat Anas langsung menyiram pemuda itu dengan air di tangannya.
*Byuuur!!
"Anj*ng!" seru Radit kemudian berusaha menyerang Anas.
__ADS_1
Keduanya tampak tak bisa menahan amarahnya hingga mereka benar-benar berkelahi di depan pintu.
Sementara itu Janie yang tak menyangka Radit akan menjadi kekanakan seperti itu langsung keluar dari rumah dan meninggalkannya.
"Janie tunggu!" seru Radit mengejarnya
Ia segera menarik lengan gadis itu dan menahannya agar tidak pergi.
"Tolong jangan pergi Janie, maafkan aku sayang. Aku tahu aku salah sudah terlalu posesif denganmu. Aku mohon kamu mau memaafkan aku dan kembali menjadi kekasih ku," Pinta Radit sedikit memaksa
"Maaf aku tidak bisa menarik kata-kata ku!" seru Janie
Ia memilih pergi ke rumah Deden untuk melihat kondisi Sofia. Malan itu tak ada yang aneh dengan Sofia.
Ia bahkan menyambut kedatangan Janie dengan suka cita dan mengajaknya untuk membantunya membuat camilan kesukaan Deden.
"Hari ini Deden sakit jadi aku mau membuat makanan kecil untuknya. Siapa tahu dengan memakan makanan kesukaannya ia bisa cepat pulih," tukas Sofia
"Ok Tante, aku siap membantu Tante!" jawab Janie kemudian mengikuti Sofia menuju ke dapur.
Namun baru beberapa langkah mereka menuju ke dapur, tiba-tiba Sofia jatuh pingsan di lantai.
Wanita itu menggeliat seperti seekor ular dan berusaha menyerang Janie.
__ADS_1