PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

Janie berjalan mundur saat melihat saat melihat wanita di depannya mulai menggeliat seperti Ular.


Tatapan mata Sofia bahkan sudah berubah menjadi sosok dari dunia lain.


Janie yang mulai menyadari jika Sofia tengah dikendalikan oleh makhluk tak kasat mata mulai membaca ayat-ayat suci untuk mengusir makhluk gaib itu dari tubuh Sofia.


Sofia mulai merasa tidak nyaman saat mendengar alunan suara Janie membaca ayat-ayat suci.


Ia menghampiri Janie, dan berusaha mengejarnya saat Janie terus menjauh darinya.


"Aku senang akhirnya kita bisa ketemu lagi bocah ayu?" ucap Sofia tersenyum melihat Janie


"Tapi sayangnya aku tidak senang bertemu denganmu," jawab Janie kemudian mendorong tubuh Sofia hingga perempuan itu terhempas ke lantai.


*Braakk!!


"Hahahaha!!" terdengar suara tawa Sofia yang menggema di seluruh ruangan.


"Sebaiknya kau segera pergi dari tubuh wanita itu jika tidak ingin aku musnahkan sukmamu!" ancam Janie


Sofia kembali tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan gadis itu.


"Memangnya siap kau sampai bisa memusnahkan sukmaku!" jawab Sofia kemudian berusaha mencekiknya.


Janie berusaha menghindar namun serangan Sofia yang tak terduga membuat gadis itu terpojok.


Ia tak bisa berlari lagi saat Sofia kini berdiri tepat di depannya.


"Kali ini tidak ada yang bisa menyelamatkan kamu lagi cah ayu!" ucap Sofia kemudian mencekiknya.


Janie berusaha melepaskan tangan Sofia dengan sekuat tenaga. Namun sekuat apapun dia tetap saja tenaga Sofia jauh lebih besar apalagi sekarang ia tengah di rasuki oleh iblis.


Sofia mulai merasa lemas, ia sudah tak kuat lagi karena kesulitan bernafas.


Aku sudah tidak kuat lagi, Ken dimana kamu. Datanglah dan bawa aku pergi bersamamu,


Samar-samar Janie melihat sekelebat bayangan menghampirinya.


Seorang lelaki melesat cepat kearahnya.


"Ken??"


Sofia segera melepaskan cekikannya dan menyerang lelaki itu.


*Grep!!


Sebuah lengan dengan cepat menangkis serangan Sofia. Ia kemudian memegangi ubun-ubun wanita itu hingga tidak lama Sofia pingsan di lantai.


"Ibu!" seru Deden kemudian menghampiri sang ibu yang terkulai di lantai.


"Sebaiknya bawakan satu gayung air kembang tujuh rupa!" seru Fikri


"Air kembang??" Janie tampak mengerutkan keningnya saat mendengar permintaan Fikri


"Hmm," jawab Fikri mengangguk


"Hihihihi!!"

__ADS_1


Terdengar suara tawa seorang wanita yang kembali membuncah membuat suasana di ruangan itu kembali mencekam.


Janie seketika langsung menoleh kearah suara seseorang yang tertawa menyerupai kuntilanak.


Ia benar-benar terkejut saat melihat Deden tiba-tiba berubah menjadi sosok yang berbeda.


Deden yang sedang memeluk Sofia, tiba-tiba tertawa terbahak-bahak seperti seorang yang kesurupan.


Matanya berubah memutih semua dengan wajahnya yang tampak memucat. Ia melepaskan Sofia dan mendorongnya ke lantai. Deden yang dirasuki makhluk halus segera bangun dan menghampiri Janie dan Fikri.


"Kau terlalu sombong anak muda!" seru Deden menunjuk kearah Fikri


"Kau pikir dengan kekuatan yang kalian miliki, bisa mengalahkan aku?" imbuhnya


*Tak, tak, tak!


Ia berjalan menghampiri Fikri yang berusaha melindungi Rinjani.


"Kau... Sebaiknya jangan ikut campur dalam urusan ku anak muda!" Deden menuding kearah Fikri bahkan menyuruhnya untuk pergi


"Tapi sayangnya aku harus ikut campur, kau sudah membuat orang yang ku sayang ketakutan, jadi terpaksa aku harus ikut campur. Lagipula aku juga tidak takut denganmu!" jawab Fikri


Deden menyeringai mendengar jawaban Fikri. Pemuda itu kemudian mengeluarkan beberapa kelopak bunga melati dari telapak tangannya kemudian memakannya.


Ia kini menari melenggak-lenggokan tubuhnya di depan Rinjani dan Fikri.


Sementara itu Anas berlari tergopoh-gopoh sambil membawa seember air yang sudah diberi bunga setaman.


"Sorry gue telat!" serunya saat tiba di sana


"Air kembang, kan tadi Fikri bilang suruh bawa air kembang?" jawab Anas


"Iya tapi udah telat Anas!"


"Bukankah lebih baik telat daripada tidak sama sekali. Udahlah bismillah saja!"


"Dibantu ya, dibantu!" seru Anas mulai berancang-ancang untuk menyiram Deden yang masih menari-nari seperti seorang penari.


*Byurr!!


*Bruughhh!!


Tiba-tiba Deden terjatuh di lantai dan tak berkutik lagi setelah tersiram air kembang.


"Wah tepat sasaran!" seru Anas bersorak kegirangan


"Keren juga Lo, sekali siram langsung ambruk!" ucap Janie


"Siapa dulu dong, Anas!" serunya menyombongkan diri


"Dih sombong!"


Janie yang penasaran karena Deden tak lagi bergerak, kemudian berjalan menghampirinya. Ia pun mengguncang tubuh sahabatnya itu untuk membuatnya sadar.


"Deden, bangun Den!" seru Janie


Setelah beberapa menit Ia segera duduk di sampingnya dan memeriksa kondisinya.

__ADS_1


Ia begitu terkejut saat membalik tubuh Deden. Lelaki itu sudah tak bernyawa lagi dengan wajah yang sudah berubah menghitam.


"Kok gak ada nafasnya!" teriak Janie


"Si Deden mati!" celetuk Anas


Janie mengangguk, Anas puns segera berlari menghampiri Janie.


"Inna Lillahi Wa Inna ilaihi Raji'un," ucap Anas menutup mata Deden yang membelalak


Janie masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Deden mati dengan begitu cepat!" serunya hingga tangisnya kemudian pecah.


"Rasanya benar-benar gak masuk akal, Deden tidak sedang mengidap penyakit apapun tapi kenapa ia bisa tiba-tiba mati." imbuhnya sambil terisak


Sepertinya ada yang aneh. Janie bahkan berpikir jika ada seseorang yang sengaja mencelakai Deden hingga ia meninggal.


"Dari wajahnya sepertinya ia meninggal karena santet," ucap Fikri


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Janie


"Melati yang dimakannya???" tunjuk Fikri


"Aku yakin ia meninggal karena bunga melati itu!"


Janie buru-buru membuka telapak tangan Deden yang masih menggenggam beberapa buah bunga melati.


"Melati ini!"


Tangannya seketika mengepal saat mengetahui Deden mati karena bunga melati yang juga ditemukan di sekitar mayat Audi.


Ia tampak begitu sedih saat tahu Deden menjadi korban santet seperti Audi.


"Aku yakin pelakunya orang yang sama, yaitu orang yang sudah membunuh Audi?" ujar Janie


Fikri berjalan mendekati Janie dan mengambil satu buah kelopak bunga melati dari tangannya.


Saat ia hendak mencium aroma bunga melati itu, tiba-tiba tubuh Fikri menghilang seketika seperti di telan Bumi.


"Fikri!!" Seru Janie tak percaya saat melihat tubuh Fikri tersedot masuk dalam bunga melati.


Anas buru-buru mengambil kelopak melati yang tergeletak di lantai.


"Weh, kok Fikri bisa ilang ya, kira-kira kemana perginya si Fikri!" ucap Anas sambil memandangi bunga melati itu


Tiba-tiba Janie mendengar suara ringtone ponselnya berdering. Ia buru-buru mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelponnya.


"Halo??" Suara Janie tampak bergetar saat mengangkat telepon masuk dari orang yang tak dikenal itu


"Siapa yang nelpon Jan?"


Janie hanya mengangkat bahu karena tak ada jawaban dari si penelpon.


"Halo!" sapa Janie berusaha mengulang beberapa kali hingga mendapatkan sebuah balasan.


"Halo sayang??"

__ADS_1


__ADS_2