
"Kenapa berisik sekali di kamar Janie, apa dia belum tidur?"
Tari segera mendekati kamar putri sulungnya itu.
Ia menempelkan telinganya untuk memastikan apa di kamar itu masih berisik atau tidak. Saat mendengar Janie tengah berdebat dengan seseorang tanpa berpikir panjang wanita itu langsung mengetuk pintu kamar putrinya tersebut.
*Tok, tok, tok!!
"Janie, kamu belum tidur nduk??"
Janie terkesiap saat mendengar suara ibunya di depan pintu kamarnya.
"Cepat pergi dari sini!" seru Janie
Tak sabar menunggu jawaban putrinya Tari pun memutuskan untuk membuka pintu kamar itu.
*Krieet!!
Kani yang tak mau kehilangan kesempatan segera menarik Janie dalam pelukannya dan menghilang.
Tari membelalakkan matanya saat melihat putri sulungnya menghilang di depannya.
"Janie!!"
Wanita itu buru-buru menghubungi suaminya.
"Halo Lee, kamu dimana?"
"Masih dalam perjalanan pulang, memangnya kenapa?" jawab Lingga
"Janie Ilang!" ucapnya dengan nada panik
"Kok iso?"
"Dia di bawa Demit Lee, aku melihatnya sendiri seorang pria membawanya pergi," jawab Tari
"Kamu ngigo kali Tar?"
"Gak Lee, aku benar-benar melihat pria itu membawa Tari pergi,"
"Rumah kita itu sudah aku beri pagar gaib loh, jadi tidak mungkin ada demit yang bisa mencelakai keluarga kita,"
"Terserah kau mau percaya atau tidak yang jelas sekarang Janie hilang," pungkas Tari kemudian mengakhiri obrolannya
Lingga tampak menarik nafas dalam-dalam. Anas menoleh kearahnya.
__ADS_1
"Ada apa Dad?"
"Janie ilang digowo Jin ( Tari hilang di bawa Jin),"
"Kok bisa?" jawab Anas tak percaya
"Aku juga gak percaya, untuk itu sekarang kamu nyetir yang bener karena Daddy mau belah rogo," jawab Lingga
"Daddy mau nyari kak Janie?"
"Iyalah masa aku biarin putriku dibawa Jin,"
"Ok siap Dad,"
Lingga pun memejamkan matanya dan mulai melakukan ritual belah rogo.
Sementara itu Janie terkejut saat ia menyadari berada di sebuah lobang tempat dimana Deden jatuh.
"Tempat apa ini, kenapa aku ada di sini?" ucap Janie ketakutan
"Mungkin bagi orang awam akan melihat tempat ini sebagai lubang biasa, tapi bagi seorang yang memiliki mata batin maka ia akan melihat istana di sini," Kani kemudian mengusap wajah Janie dan dalam sekejap Janie terperangah saat menyadari dirinya berada di sebuah istana.
Kani kemudian menjelaskan jika itu adalah istana Siluman Ular yang juga merupakan penjara baginya dan seluruh pengikutnya.
Kanigara mengatakan jika Siluman ular sangat berbahaya dan sering mencelakai bangsa Jin dan manusia. Untuk itulah ia dikurung di istananya. Namun ia berhasil lepas setelah ada seseorang yang jatuh ke tempat itu.
"Sudah menjadi sifat alamiah bagi bangsa Jin untuk mendekati manusia yang dipenuhi amarah dan dendam. Ia juga akan mendekati seorang yang merasa merasa tersakiti dan mengalami kesedihan atau kegalauan mendalam,"
"Oh begitu, lalu apa hubungannya dengan kematian Melvin dan Radit?" tanya Janie
"Seorang Jin yang mengabadikan dirinya kepada manusia dan berjanji akan membantunya melakukan sesuatu adalah jenis Jin Parewangan mereka akan melakukan apapun yang diperintahkan oleh sang majikan termasuk membunuh orang. Tapi jangan salah kebaikan Jin Parewangan ini biasanya ada yang tanpa pamrih namun tak sedikit yang meminta imbalan. Semuanya tergantung Parewangan itu sendiri. Satu yang perlu digaris bawahi jika semua jin Parewangan itu adalah Jin Ireng yang biasanya membawa manusia kepada kekufuran jadi hati-hati,"
"Jadi maksud kamu Melvin itu di bunuh oleh Jin Parewangan milik Deden?" tanya Janie
"Iya, mungkin dia memiliki dendam kepadanya sehingga membuat sang Parewangan itu membunuhnya, begitu pun dengan kekasihmu Radit, beruntung dia hanya koma, tapi kau harus waspada karena bisa saja ia juga akan jadi korban selanjutnya. Dan jika dugaanku tidak meleset maka setelah kematian Melvin akan ada korban lagi berjatuhan. Untuk itulah aku minta bantuanmu untuk menemui orang yang memanggil siluman ular itu agar aku bisa menangkapnya dan membawanya kembali ke alam gaib,"
"Ok sekarang aku paham," jawab Janie
"Kalau begitu mari kita bergerak sekarang,"
Kanigara kemudian mengajaknya pergi meninggalkan istana Siluman Ular namun siapa sangka sebuah bayangan melesat kerahasiaannya dan menyambar tubuh Janie.
"Jenie!!"
Tubuh Kani terhempas dan menghilang di kegelapan malam.
__ADS_1
"Ken!!"
Janie kemudian membuka matanya. Gadis bermata coklat itu terkejut saat menyadari dirinya sudah kembali ke rumahnya.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga sayang," ucap Tari segera memeluk putrinya
"Dimana aku??" tanya Janie seperti orang linglung
"Kamu di rumah nduk," jawab Tari
"Ken!" Janie segera turun dari ranjangnya saat mengingat Ken.
Ia berusaha lari dari kamarnya untuk mencari pemuda itu namun dengan cepat Lingga menahannya.
"Kau tidak boleh kemana-mana Janie!"
"Tapi Ken dalam bahaya Dad, dan Janie harus menolongnya!" seru gadis itu berusaha melepaskan diri saat Lingga menahannya pergi
"Mulai sekarang dan seterusnya dia tidak akan bisa mengganggu mu lagi, karena Daddy sudah membuat pagar gaib di tubuhmu,"
"Daddy aku harus menyelamatkan Ken, karena jika tidak semua teman-teman Janie dalam bahaya," terang Janie berusaha meyakinkan ayahnya
Gadis itu kemudian menceritakan tentang kejadian yang menimpa beberapa orang siswa saat melakukan study tour kesebuah air terjun di kawasan Jawa Barat.
Ia juga menceritakan tentang siluman ular yang kini hendak membunuh semua siswa yang sudah membully Deden.
"Kalau begitu biar Daddy saja yang menghadapi siluman ular itu. Kau tidak perlu lagi berurusan dengan makhluk gaib itu, karena aku tidak mau terjadi sesuatu denganmu Janie," jawab Lingga
Janie tak bisa melawan keinginan ayahnya, apalagi dia tahu benar jika lelaki itu memang selalu melarangnya untuk berurusan dengan hal-hal mistis.
Pagi harinya, Janie menjenguk Radit di rumah sakit. Namun sayangnya Radit belum juga siuman sehingga Janie memutuskan untuk kembali ke sekolah untuk menghadiri doa bersama mendoakan Melvin.
Seluruh siswa dikumpulkan di aula untuk mendoakan almarhum Melvin. Mila sengaja mengajak Janie duduk di deretan bangku depan. Janie yang masih kepikiran tentang Deden kemudian mencari pemuda itu.
Namun sayangnya Deden tidak ada di sana.
Kemana sih Deden, biasanya dia tak pernah alfa untuk menghadiri acara seperti ini,
Saat seorang Ustadz berdiri di depan mimbar untuk memulai acara tahlilan bersama tiba-tiba Audi tampak gelisah, saat acara dimulai.
Ia seperti merasa tidak tenang hingga beberapa kali *******-***** jemarinya. Audi bahkan nekat maju ke depan dan mengambil sebuah pisau seorang satpam.
Seorang satpam dan Ustadz mencoba menghentikan Audi dan mengambil pisau yang dibawanya.
Tidak seperti biasanya malam itu Audi tiba-tiba memiliki kekuatan yang besar hingga mampu melepaskan diri dari kejaran sang satpam. Ia bahkan berhasil mendorong sang Ustadz saat berusaha membacakan ayat-ayat suci kepadanya.
__ADS_1
Ia berbicara melantur serta di akhir ucapannya ia menyayat lehernya sendiri hingga ia jatuh terkulai di lantai.
*Bruugghhh!!!