
Melihat Fikri nyaris di mati karena golok Sari mau tidak mau Gilang menyelamatkan dulu pemuda itu.
Gilang melepaskan tendangannya tepat saat Sari hendak menebaskan goloknya.
*Pranngg!!!
Gilang buru-buru berlari untuk mengambil golok itu. Ia dan Sari berkejaran mengambil golok itu.
*Priiit!!
Anas sengaja meniup peluit untuk menghentikan keduanya.
Ia buru-buru mengambil golok itu dan melemparnya kepada Gilang.
"Tangkap Om!"
Gilang segera melompat untuk menangkapnya, namun siapa sangka Sari langsung menendangnya hingga Gilang terhempas.
Sari langsung melompat untuk menangkap golok itu, tapi siapa sangka ia terpeleset hingga membuatnya terjatuh.
*Jrasshh!!
Gilang dan Anas terkesiap saat melihat tangan Sari putus setelah terkena sabetan golok yang melesat kearahnya.
Hanya dengan menjentikkan jarinya tiba-tiba lengan Sari berhasil terpasang kembali.
"Anj*r ilmu apa itu Om?"
"Rawa rontek!"
Gilang terkesiap saat melihat Sari ternyata memiliki ajian rawa rontek dimana ia bisa menyatukan kembali anggota tubuh yang telah putus.
"Hmm, Untuk mengalahkannya aku harus menggunakan ajian pelebur sukma, karena hanya itu satu-satunya cara agar ia tak bisa menyatukan kembali semua anggota tubuhnya,"
Gilang mulai mengambil nafas dalam-dalam kemudian mulai berkidung. Tiba-tiba semua makhluk gaib satu persatu menghilang saat mendengar kidung mematikan titisan Ken Arok itu.
"Wah keren, bahkan demit saja ketakutan saat mendengar kidung Om Gilang,"
Suasana mulai hening, hanya desiran angin menerpa wajah Sari.
Wanita itu tampak mengeratkan giginya saat mendengar kidung yang dinyanyikan oleh Gilang.
"Kau pikir bisa membunuhku dengan ajian pelebur sukma, kau pikir aku ini makhluk astral apa!"
Sari mengambil segenggam kembang tujuh rupa dan melemparkannya kearah Gilang.
Seketika bunga-bunga itu berubah menjadi golok yang tajam dan mematikan melesat kearah Gilang.
Dengan kekuatan supranaturalnya Gilang pun menghancurkan golok-golok itu menggunakan suara kidungnya.
Bahkan serpihan senjata tajam itu mampu menyayat tubuh Sari hingga wanita itu berusaha melindungi wajahnya dari serpihan besi golok-golok yang mulai menyerangnya.
Bak sebuah tebasan pedang yang mematikan alunan suara merdu Gilang mampu memecahkan Gendang telinga sari bahkan merontokkan seluruh gigi-gigi wanita itu.
Serangan terakhir adalah saat serpihan golok itu menyayat leher Sari hingga kepalanya terlepas dari tubuhnya.
__ADS_1
Gilang segera melompat menangkap kepala itu dan memasukkannya kedalam sebuah peti.
Ia kemudian memasukkan tubuh Sari kedalam peti mati.
"Kuburkan keduanya dengan dua peti terpisah," ucap Gilang
Setelah mengucapkan itu Janie langsung tergeletak pingsan di lantai.
"Jani bangun Jan," tukas Anas mengguncang tubuh sang kakak.
Namun janie tak kunjung siuman.
Justru Radit dan Mila yang mulai sadarkan disi.
"Apa yang terjadi Nas?" tanya Radit
"Janie pingsan Sepertinya dia habis kesurupan," Jawab Anas
Fikri kemudian mendekati Janie dan mengusap wajahnya dengan lembut Hingga gadis itu tersadar.
"Ken??"
"Aku Fikri," jawabnya kemudian mengulurkan tangannya membantu gadis itu bangun
Anas yang penasaran dengan sosok Ken pun menanyakan kepada Janie.
"Siapa sih Ken itu?" tanya Anas
"Jangan kepo deh, nanti kalau ada waktu aku ceritakan, soalnya terlalu panjang kalau aku ceritain sekarang." jawan Janie
"Dih parah,"
"Wah sekarang kamu punya kekuatan supranatural Fik," puji Anas
"Entahlah, aku hanya mengikuti naluri ku saja," tandas Fikri
Ia juga mengusap wajah Mila yang masih belum sadarkan diri. Mila terkejut saat melihat Fikri.
"Ken??"
"Sepertinya aku jadi penasaran dengan pria yang bernama Ken. Apakah dia benar-benar mirip denganku atau dia memang kembaran ku yang hilang?" ucap Fikri
Janie menghampiri Mila dan memberitahu gadis itu jika pemuda itu bukan Ken tapi Fikri.
"Kalau dia bukan Ken lalu kemana Ken?" tanya Mila
"Entahlah, mungkin dia sudah kembali ke dunianya,"
"Syukurlah kalau begitu berarti kamu aman sekarang Jan," jawab Mila
"Gimana aku bisa aman kalau sekarang aku justru merindukan dia," ucap Janie lesu
"Jangan bilang kamu menyukainya Jan. Bisa bahaya kalau Radit tahu," bisik Mila.
"Tenang saja semuanya akan baik-baik saja, Toh Ken sudah pergi dan tak akan pernah kembali lagi,"
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita pulang, kan urusan kita udah kelar?" jawab Radit
"Kita harus mengubur jasad Sari dulu seperti pesan Om Gilang," jawab Anas
"Biar aku saja yang mengurus pemakamannya," ujar Jalu
"Tidak bisa, kami tidak percaya padamu, bisa-bisa nanti kamu malah menghidupkan lagi Sari dengan menyatukan anggota tubuhnya," cibir Anas
"Tentu aja tidak, lagipula dari dulu Mbak Sari juga sangat ingin mati. Dia sudah menunggu lama untuk hari ini. Itulah alasan dia menahan Fikri disini," jawab Jalu
"Tetap saja aku harus memastikan kau menguburnya dengan benar."
"Tentu saja, kalian bisa ikut kok. Lagian saya sudah mempersiapkan makam mbak Sari jauh-jauh hari sebelum kedatangan kalian," jawab Jalu
Dibantu Anas dan teman-temannya, Jalu kemudian membawa peti mati Sari menuju ke halaman belakang penginapan. Jalu kemudian membuka bongkahan kayu yang menutupi sebuah liang kubur.
"Ini adalah makam yang dipilih mbak Sari sebagai tempat peristirahatan terakhirnya. Dia memang ingin dikuburkan di samping pusara kedua orang tuanya," terang Jalu
"Baiklah,"
Anas dan teman-temannya bahkan tercengang saat mengetahui liang lahat kuburan itu sudah di bagi dua.
"Gila, dia bahkan sudah tahu kalau nanti jenazahnya akan menjadi dua sampai sudah mempersiapkan semuanya dengan matang,"
"Mbak Sari itu selain indigo dia juga bisa melihat masa depan jadi kalau dia mau selamat sebenarnya bisa saja ia melarikan diri atau menolak kedatangan kalian. Tapi dia tidak melakukannya karena dia memang ingin mati. Dia sudah bosan hidup terlalu lama. Ia juga ingin seperti manusia lainnya yang menua dan mati," jawab Jalu
"Aneh, jika banyak orang yang mencari keabadian, Sari malah ingin menjadi manusia biasa dan mengakhiri kehidupannya yang abadi,"
"Terimakasih sudah datang ke penginapan kami, berkat kalian maka Mbak Sari bisa mewujudkan keinginannya. Sampaikan juga ucapan terimakasih ku kepada Titisan Raja Singosari, terimakasih sudah menyempurnakan hidupnya," tukas Jalu
Janie kemudian mengajak teman-temannya untuk pulang setelah selesai memakamkan jenazah Sari.
"Lalu bagaimana dengan Deden dan Angel?" tanya Mila
"Tentu saja aku harus menyadarkan Deden, dan menyingkirkan Angel daei kehidupannya apapun yang terjadi," jawab Janie
Sementara itu Fikri tampak berpamitan dengan Anas.
"Terimakasih banyak Nas sudah menyelamatkan ku lagi," ucap Fikri
"Jangan berterima kasih kepadaku Fik, tapi berterima kasihlah pada Janie dan Om Gilang. Karena merekalah yang menyelamatkan kamu," Jawab Anas
Fikri kemudian menemui Janie.
"Terimakasih Jan, sudah menolongku," ucap Fikri
"Jangan berterima kasih kepadaku karena kan aku hanya jadi mediator,"
"Tapi tetap saja Janie kau juga sudah menolongku,"
"Udah dong jangan lama-lama ngobrolnya," tandas Radit kemudian menggandeng Janie
"Ok, kalau begitu aku pamit ya, semoga kalian selamat sampai Jakarta,"
"Thanks Fik,"
__ADS_1
Janie segera memasuki mobil disusul oleh Radit.
Sementara itu Fikri tampak melambaikan tangannya saat mobil mereka meninggalkan halaman rumahnya.