PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 30


__ADS_3

*Dug, dug, dug!


Meskipun bulu kudukku mulai berdiri saat mendengar Lesung itu kembali berbunyi. Namun Ku beranikan diri untuk melihat kebelakang rumah saat lesung itu masih berbunyi.


Ku langkahkan kaki perlahan menuju halaman belakang. Dinginnya udara di pagi hari dan kabut yang menghalangi pandangan ku tak membuat diriku mengurungkan tekadku.


Sengaja aku hanya mengintip di belakang pohon untuk melihat siapa yang menabuh lesung itu.


Ku kepalkan tanganku agar aku siap menghadapi apapun yang terjadi. Terutama saat melihat makhluk yang selalu membuat ku tak bisa tidur.


Beruntung kabut mulai bergeser hingga membuat aku bisa melihat sesosok wanita yang sedang membunyikan lesung itu.


Ia menggunakan pakaian serba hijau dengan rambut yang digerai hitam dan panjang. Meksipun aku tak bisa melihat wajahnya, tapi aku yakin dia bukan hantu.


Selesai membunyikan lesung wanita itu pun meletakan sesuatu di depan gudang.


Tiba-tiba ku dengar suara ibu berteriak-teriak membuat aku segera berlari meninggalkan tempat itu.


Aku takut terjadi sesuatu dengan Ibu sehingga aku langsung menemui Ibu di kamarnya.


Ku lihat Ibu menjerit-jerit kesakitan.


"Ah, sakit, sakit, tolong, tolong!!" serunya sambil mencakar-cakar wajahnya


"Ibu kenapa Bu," ucapku segera menahan kedua lengan ibu agar tak menyakiti dirinya sendiri.


"Sakit, sakit sekali Fikri!" seru Ibu sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri.


"Nyebut Bu, ayo ikuti bacaan Fikri," Ku lafadzkan ayat kursi perlahan agar ibu bisa menirukannya.


Namun bukannya menirukan bacaan ku ibu malah berteriak kepanasan.


"Panas, sakit, panas, hentikan Fikri, hentikan, ibu tidak kuat!" serunya dengan matanya yang memerah dan melotot.


Entah kenapa aku merasa seperti ada yang mengendalikan Ibuku. Seperti pesan Abu Musa, ku bacakan lagi ayat kursi untuk mengusir makhluk halus yang menguasai tubuh ibuku.


Namun baru saja ku membuka mulut, ibu berhasil melepaskan diri dariku dan mencekik leherku hingga aku kesulitan bernapas.


Rasanya sesak, dadaku terasa panas seperti terbakar karena aku benar-benar susah bernafas. Keringat membasahi seluruh tubuh ku yang berusaha tetap bertahan hidup.


Saat semuanya hampir gelap, ku melihat seseorang datang memasuki ruangan. Dengan tenang ia membaca mantera berbahasa jawa kuno hingga membuat ibuku perlahan melepaskan cekikannya dan jatuh tak sadarkan diri.

__ADS_1


Aku tak ingat apa-apa lagi setelah itu. Saat ku bangun ku lihat Bik Sumi sedang menyisir rambut ibu.


"Kamu sudah sadar Fik?" tanyanya begitu ramah


Aku mengangguk kemudian duduk bersandar di ranjang ibu. Ibu menghampiri ku dan menatapku sendu.


"Kenapa kok melamun, katanya kamu mau kerja?. Lebih baik kamu sekarang mandi, nanti biar bik Sumi yang akan membuatkan sarapan buat kamu,"


"Iya Bu," tanpa berpikir panjang aku langsung bangun dan bergegas menuju kamar mandi.


Aku memilih mandi menggunakan air hangat karena pagi ini terasa dingin. Ku dengar suara Bik Sumi sedang memasak di dapur. Tak ada kecurigaan apapun saat itu, aku malah berterima kasih kepada Bik Sumi yang masih setia membantu keluarga kami meskipun aku hanya bisa membayar murah untuk jasanya.


Entah kenapa hari ini aku enggan untuk berangkat bekerja. Meskipun ibu sudah terlihat sehat, namun kenapa ada yang mengganjal di hati.


Hati kecilku seperti tak mengijinkan ku untuk meninggalkan ibu. Tapi isi dompet ku mengharuskan aku pergi bekerja, apalagi ini hari Selasa Kliwon dimana aku harus mengambil air kembang yang rutin digunakan untuk memandikan ibu.


Dengan berat hati ku putuskan untuk pergi bekerja meskipun hati kecilku menyuruhku untuk diam di rumah mendampingi ibu.


Ku lihat wajah ibu tampak sumringah menyambut ku dan mengajakku untuk sarapan bersama.


Ia bahkan menyuapiku, hingga aku menitikkan air mata. Rasanya sudah lama sekali aku merindukan suapan ibu. Terakhir kali ibu menyuapiku saat aku hendak pergi kuliah ke Jakarta, dan setelah itu ibu tak pernah menyuapi ku lagi karena ia sakit berkepanjangan.


Dan kali ini ibu sudah mengobati kerinduanku itu. Ya Allah aku sangat bersyukur padamu karena akhirnya aku bisa merasakan lagi nikmatnya suapan Ibu.


"Maaf Bu, Fikri terharu,"


"Iya Le, maafkan ibu ya karena selama ini sudah merepotkan kamu, Ibu janji kalau diberi umur panjang ibu mau nyuapin kamu tiap hari sebelum kamu disuapi sama istri kamu nanti,"


"Aamiin,"


Ku buka lebar-lebar mulutku saat suapan terakhir.


Aku buru-buru meneguk segelas susu putih hangat saat melihat jam tangan ku menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Fikri berangkat kerja dulu ya Bu," ucapku kemudian mencium punggung tangannya


"Iya, hati-hati Le,"


Ibu mengantar ku sampai ke depan rumah. Ku pacu sepeda motorku menelusuri jalanan yang mulai macet karena jam sibuk kerja.


Aku sengaja memilih rute yang sedikit jauh untuk menghindari kemacetan. Pukul delapan lebih aku tiba di bengkel.

__ADS_1


Ku lihat beberapa orang teknisi sudah membuka bengkel dan merapikan etalase.


Aku langsung menuju ruang kerja Bu Dhe Suryati untuk mengambil air kembang.


"Astaghfirullah," aku terkejut melihat sosok Bu Dhe yang tiba-tiba muncul di depan pintu


"Kenapa kok kaget banget kaya baru liat setan aja!"


"Iya Bu Dhe, abis aku pikir Bu Dhe gak ada, eh malah nongol kan serem,"


"Aku hanya penasaran saja Fik," jawab Bu Dhe


Ia kemudian mempersilakan aku masuk dan duduk di kursinya.


"Penasaran kenapa Bu Dhe?"


"Penasaran sama orang yang ngirimin ingon-ingonne nganggo mateni aku toh," jawab Bu Dhe Arsih membuat ku terkejut


"Apa itu alasan Bu Dhe berhenti mengobati ibu?"


"Bukan itu,"


Ia beranjak dari duduknya dan memegangi air kembang yang ada di dalam kendi.


"Sepertinya gara-gara ini," ucap Bu Dhe


"Sekarang ibuku sudah sehat Bu Dhe, Alhamdulillah dia sudah bisa bicara, sudah bisa jalan dan beraktivitas lagi seperti dulu,"


"Syukurlah, setidaknya ia tak perlu mandi air kembang lagi, toh selama ini air kembang ini hanya sia-sia saja," ucap Bu Dhe Suryati dengan wajah kecewa


"Maksudnya??" tanyaku benar-benar tak paham


"Sudahlah kau tak perlu tahu, yang jelas sekarang lebih baik kamu pulang saja, karena ibumu lebih membutuhkan mu."


"Tapi Ibu sudah sehat Bu Dhe, lagipula ada Bik Sumi yang menjaganya,"


"Jangan pernah meninggalkan ibumu pada orang yang belum kamu kenal," jawab Bu Dhe


"Tapi aku sudah kenal sama Bik Sumi,"


Bu Dhe hanya tersenyum sinis mendengarkan ucapan ku seperti ia menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


Ku lihat Bu Dhe berjalan pincang dan tangannya dipenuhi lebam.


"Turuti saja kata hatimu Fikri, jangan sampai kau menyesal nantinya," ucap Bu Dhe kemudian meninggalkan aku sendirian di ruangan itu.


__ADS_2