PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 29


__ADS_3

*Pov Author


Lingga merasakan aura hitam saat melihat Sri memasuki kediamannya.


Sorot mata Sri yang tajam penuh kebencian saat menatapnya membuat pria itu hanya menghela nafas.


Bahkan tamparannya tak membuat Lingga dendam apalagi marah kepada pemuja Buto Ijo itu. Ia tahu pasti jika semua yang dilakukannya semata-mata untuk melindungi dirinya.


Setelah puas mengeluarkan amarahnya kepada Lingga, Sri bergegas untuk melihat lesung peninggalan sang ayah.


Tentu saja Sri tidak mau kehilangan Lesung keramat yang sudah membuat hidupnya banyak berubah.


Lesung yang sudah memberinya kekayaan meskipun harus di tebus dengan berbagai pengorbanannya termasuk dengan rela menanggung rasa sakit bertahun-tahun.


Wanita itu tersenyum lega saat melihat lesung itu masih tergeletak di tempatnya. Ia bahkan langsung membersihkan dengan air bunga tanpa menghiraukan larangan putra sulungnya yang memintanya untuk meninggalkan lesung keramat itu..


Fikri yang tak mau melihat Ibunya semakin tenggelam dalam dosa berusaha membujuknya untuk melupakan Lesung itu. Namun Sri tak mau mendengarkannya dan tetap melanjutkan ritualnya membersihkan lesung itu.


Sementara itu Lingga memang sengaja tak mengikuti Sri. Ia lebih memilih duduk di sofa ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi hitam.


Dalam keheningan Lingga mencoba membuka buku usang yang diberikan oleh Anas kepadanya.


Ia perlahan membuka lembar pertama buku itu. Memang ada yang aneh dari buku itu. Dari aromanya saja sudah mengisyaratkan jika buku itu mengandung unsur klenik.


Saat membaca kalimat pembuka di buku itu, Lingga langsung mengernyitkan keningnya. Bagaimana tidak, halaman pembuka buku itu sudah di mulai dengan mantera pemanggil iblis.


"Jangan di baca Lee," ucap Gilang kemudian mengambil buku itu.


"Memangnya kenapa Om?" tanya Lingga penasaran


"Kalau kamu membacanya berarti kamu memanggil iblis itu. Aku heran kenapa buku seperti ini bisa ada dirumah ini?" ucap Gilang


"Kata Anas, buku ini adalah warisan dari kakek Fikri, orang yang menurunkan ilmu pesugihan kepada Sri," jawab Lingga


"Meskipun aku dan Deddy kamu sudah berhasil menyelamatkan Fikri dari istana Raja Buto ijo, tapi bukan berarti perjanjian antara Sri dan Parewangannya itu selesai. Dan sepertinya ada seseorang yang memang sengaja memprovokasi Sri untuk mengusir mu dari tempat ini. Sepertinya ia tak rela jika ada yang menyelamatkan Sri," ucap Gilang


"Hmm, pantas saja aku pun melihat aura Hitam dalam diri Sri,"


"Kalau begitu pergilah, biar aku yang akan menyapanya," jawab Gilang


"Baik Om," Lingga kemudian mengambil tas ranselnya dan bergegas pergi meninggalkan rumah itu.


Sementara itu Gilang sengaja duduk di sofa menggantikan Lingga.


Ia tampak menyeruput kopi hitam Lingga yang masih tersisa setengah cangkir.

__ADS_1


"Ah nikmat mana lagi yang kay dustakan," ucap Gilang kemudian meletakkan cangkir kopinya di atas piring kecil.


*Srek, srek, srek!!


Gilang menoleh kearah Sri yang memasuki ruangan itu sambil menyeret kopernya.


Sri tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh kearah Gilang.


Melihat wajah Gilang Sri tampak ketakutan dan buru-buru keluar lagi. Karena buru-buru Sri bahkan menabrak pintu hingga ia sempoyongan.


"Ibu kenapa?" tanya Fikri langsung menghampiri ibunya.


"Siapa pria itu, usir dia dari sini!" seru Sri sambil memijat kepalanya yang terbentur pintu.


"Dia Om Lingga, ayahnya Anas," jawab Fikri


"Suruh dia pulang dari sini, aku tak mau melihat dia ada disini!"


"Tapi Bu, Pak De Lingga itu yang membantu Fikri menyelamatkan Ibu, dan juga menyelamatkan Fikri dari para lelembut yang ingin membawa Fikri pergi,"


"Tetap saja ibu tak peduli. Sekarang kau pilih aku atau pria itu!" seru Sri membuat Fikri kebingungan


Gilang langsung berdiri saat melihat pertengkaran ibu dan anak itu. Ia kemudian mengajak Anas untuk pulang.


"Santai saja Fik, Pak De sudah biasa ngadepin situasi seperti ini. Yaudah kalau gitu Pak De pamit ya, kalau ada apa silakan hubungi saja Pak De," ucap Gilang


"Baik Pak De," segera bergegas mengantar Gilang


*Pov Author off


Malam ini terasa sepi, karena sudah tidak ada Anas dan Ayahnya lagi di sini.


Sebenarnya aku senang saat mereka di sini. Rumah ini terasa rame dan tak menyeramkan lagi.


Semoga malam ini aku bisa tidur pulas lagi sama seperti saat Anas dan Pak De Lingga di sini.


Selesai membaca Yasin untuk ayah dan Azam, aku pergi menjenguk ibu di kamarnya.


Ku lihat ia sedang menyisir rambutnya.


"Ibu belum tidur??"


"Belum Le," jawabnya singkat


Ia kemudian membalikkan badannya dan tersenyum menatap ku.

__ADS_1


"Kamu rajin sekali mendoakan Bapak dan Adikmu, terimakasih ya Le,"


"Gak perlu berterimakasih Bu, itu kam sudah kewajiban Fikri,"


"Ibu ngantuk Le,"


"Ya sudah tidur,"


Aku mengantar Ibu ke ranjangnya dan menyelimutinya.


"Jangan lupa berdoa Bu,"


"Iya Le," Ibu langsung mengangkat kedua tangannya dan memejamkan matanya.


Aku sengaja menemani Ibu sampai ia benar-benar terlelap. Hanya sebentar saja, ku dengar suara dengkuran Ibu yang menandakan ia sudah terlelap.


"Semoga mimpi indah Bu," ucapku kemudian mengecup kening ibu.


Tidak lupa Ku matikan lampu kamarnya sebelum meninggalkan kamar ibu.


Alhamdulillah hari ini aku masih diberi kesempatan hidup, terimakasih Tuhan atas semua rezeki yang kau berikan padaku hari ini, semoga besok aku masih diberi kesempatan hidup aamiin.


Ku tarik selimut untuk menyelimuti tubuhku yang terasa dingin. Hanya sekejap tiba-tiba rasa kantuk ku mulai datang dan aku pun tak ingat apa-apa lagi.


Ku dengar suara merdu ibu berkidung sambil menumbuk padi.


Ku buka mataku karena aku tahu itu sudah pagi. Aku buru-buru menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.


*Dug, dug, dug!!


Suara lesung ibu tampak beraturan dan nyaring. Sekarang Ibu sudah sehat, jadi wajar saja bila ia mulai menumbuk padi lagi. Lagipula sekarang aku tidak was-was lagi karena cermin keramat dan semua lelembut yang ada di rumah ini semuanya sudah di usir oleh Pak De Lingga dan ketiga Om Ganteng.


"Assalamu'alaikum,"


Alhamdulillah pagi ini aku bisa sholat subuh dengan khusuk.


Ku angkat tanganku untuk berdoa, bermunajat kepada sang pencipta semoga aku diberikan rezeki yang banyak hari ini agar bisa merawat ibu dan ia tak perlu lagi bekerja.


Saat aku membereskan sajadah ku ku lihat dari pantulan cermin bayangan ibu yang masih terlelap di ranjangnya.


*Dug, dug, dug!!


Suara lesung itu membuat ku seketika merinding.


Aku buru-buru keluar dari kamarku untuk melihat ibuku. Setibanya di kMR ibu, Ku tercengang Saat melihat ibu benar-benar masih terlelap di ranjangnya.

__ADS_1


__ADS_2