PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

Janie membelakakan matanya saat pria misterius itu tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Kau... siapa kau sebenarnya?" ucap gadis itu seketika mundur menjauhi pria itu.


"Kau sudah tahu siapa aku Janie," jawab Pria itu kemudian menggenggam lengannya


"Apa kamu Jin, demit, Gondoruwo?" tanya Janie Lagi


"Raden Mas Kanigoro, panggil saja aku Kani. Sekarang tidak ada waktu lagi, kau harus ikut denganku," jawab Kani


" Tapi Aku tidak mau ikut denganmu, aku belum mau mati Ken!" seru Janie berusaha melepaskan tangannya


"Kali ini kau harus ikut denganku, atau pria itu akan mati!" ucap pria itu menunjuk kearah Radit.


Seketika Janie langsung terdiam dan menatap kekasihnya yang masih belum sadarkan diri.


Melihat Janie termangu membuat Pria itu kemudian menariknya dan membawa gadis itu menghilang bersamanya.


Janie seketika menghilang bersama pria misterius itu.


*Blaastt!!


Ia terkejut saat menyadari dirinya berada di sebuah kafe. Lelaki misterius itu mengajaknya masuk, Janie berjalan menghampiri sekelompok anak muda yang sedang berpesta minuman keras.


"Halo cantik," tampak beberapa orang pemuda menggodanya saat ia semakin dekat dengan para pemuda yang sedang beradu minun minuman keras.


Suara hingar bingar para muda mudi terdengar bergemuruh saat salah seorang dari mereka sedang menghabiskan beberapa botol minuman keras sekaligus.


Seorang pria yang begitu familiar di mata Janie tampak bahagia saat berhasil mengalahkan beberapa orang peserta lainnya.


"Melvin," Janie membelalak saat mengetahui pria itu adalah Melvin, sahabat Radit.


"Selamat bro, akhirnya lo kembali jadi juara. Emang lo benar-benar keren, gak ada tandingannya kalau soal minuman keras," ucap salah seorang peserta memberi selamat kepada Melvin


Melvin kemudian duduk di sudut kafe bersama dengan beberapa orang temannya.


Ia merayakan kemenangannya bersama teman-temannya. Saat meneguk sebuah gelas berisi alkohol Melvin berteriak histeris saat melihat seekor ular berbisa yang melilit tangannya. Gerakan tangan Melvin yang berusaha mengusir ular tersebut justru membuat ular itu mematuknya.


"Aaarrggh!!" Melvin kembali menjerit histeris saat ular itu mematuknya.


Tak lama ia pun jatuh terkulai tak sadarkan diri.


Semua orang berhamburan pergi menghindari ular besar yang kini melilit tubuh Melvin, hanya Janie yang termangu menatapnya.


Tak jauh dari tempat itu Angel tersenyum senang melihat Melvin sekarat.


Melvin???


Janie segera berlari menghampiri Melvin yang terbaring tak sadarkan diri. Ia berusaha mengusir ular yang melilitnya.


Dasar gadis bodoh, kau pikir bisa mengusir ku,


Angel kemudian menggerakkan tangannya dan ular itupun mulai melepaskan diri dari Melvin.


Janie berjalan mundur saat ular itu kini merayap kearahnya.

__ADS_1


Saat ular itu akan mematuknya, pria misterius itu muncul dan menyerang ular itu.


Melihat seorang makhluk gaib muncul Angel pun segera lari dan menghilang.


Tidak lama sebuah mobil ambulance datang. Beberapa orang tim medis merangsek masuk dan mengevakuasi Radit menuju rumah sakit.


Melihat Janie yang juga terluka membuat tim medis juga membawanya.


Mobil ambulance melesat meninggalkan bar.


Janie tampak memegang tangannya yang terluka. Pria misterius kembali muncul dan mengusap tangan Janie yang terluka. Seperti sulap luka itu langsung menghilang tanpa bekas .


"Terimakasih," ucap Janie


Ambulance itu berhenti di rumah sakit tempat Radit di rawat.


Janie segera turun saat pintu mobil dibuka.


Beberapa orang tim medis langsung bergegas membawa Melvin menuju ke ruang UGD.


Sementara itu Janie menunggu di selasar depan ruang UGD.


Tidak lama seorang guru berlari menghampiri Janie.


"Bagian keadaan Melvin?" tanya Bu Vita


"Entahlah, aku belum tahu ibu. Mereka baru saja membawanya masuk ke dalam ruang UGD, dan sampai sekarang belum ada satupun dokter yang keluar. Jadi tunggu saja di sini bersamaku Bu,"


Ibu Vita pun menunggu di depan ruang UGD. Tidak lama seorang dokter keluar dan memanggil Wali dari Melvin.


"Iya, saya dok!" seru ibu Vita


Wanita itu langsung menghampiri sang dokter.


Mereka tampak berbicara begitu serius, sedangkan Janie terlihat duduk menunggu dengan cemas.


Janie begitu terkejut saat melihat Pria misterius itu tiba-tiba muncul didepannya dan masuk ke ruang UGD.


*Braakkk!!


Seorang perawat keluar dengan wajah yang panik, ia menghampiri dokter dan memberitahu sesuatu kepadanya.


"Pasien atas nama Melvin meninggal dok?"


Sang dokter tampak terkejut dan segera berlari masuk kedalam.


Bu Vita tampak lemas mendengar kabar itu hingga wajahnya memucat.


Janie yang melihatnya tampak khawatir dan segera menghampirinya.


"Ada apa Bu, kenapa Ibu tampak begitu khawatir,"


"Mereka bilang Melvin meninggal," ucapnya sedih


"Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un,"

__ADS_1


Janie hanya bisa menenangkan Bu Vita yang masih shock dan tak percaya dengan kematian Melvin.


Bu Vita langsung memberikan kabar kepada guru lainya, untuk bersiap memulangkan semua siswa.


Malam itu juga semua siswa dipulangkan untuk menghindari adanya korban berikutnya.


Janie pun ikut pulang ke Jakarta bersama dengan siswa lainnya.


Setibanya di sekolah, para orang tua siswa sudah menunggu anak-anaknya dengan cemas.


"Kamu kenapa janie, kok seperti orang yang sakit?" tanya Tari


"Ah tidak apa-apa Ibu," jawab Janie melengos.


Setibanya di rumah, Janie langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Ia mengambil handphonenya dan menyalakannya. Ia menikmati alunan musik pop.


Dalam sejenak tiba-tiba musik pop berubah menjadi suara seseorang yang menyuruhnya untuk bersiap untuk melakukan pembalasan.


Janie benar-benar Shock saat mendengar suara pria misterius itu. Ia membuang head setnya dan melompat dari ranjangnya.


Tiba-tiba sesosok pria tampan muncul di depannya.


"Melvin meninggal karena dibunuh oleh Siluman Ular, aku sudah berusaha menahannya tetapi aku tidak bisa menggantikan dia karena wanita itu terlalu kuat dan aku tak bisa melawannya sendirian," jawab pria itu


"Lalu dimana saja kau saat ia sekarat, dimana dirimu saat dia di dipatuk ular siluman itu. Kenapa kamu baru datang saat Melvin sudah mati!" jawab Janie mendorong Kani


"Karena aku Siluman Ular itu sengaja menjauhkan aku denganmu. Ia tahu jika aku ini lemah tanpamu Janie, hanya kau yang bisa membantuku mengalahkan Siluman Ular itu,"


"Siapa yang percaya, jangan-jangan kau yang membunuh Melvin, karena aku lihat kau masuk ruang UGD sebelum Melvin dinyatakan meninggal," ujar Janie


"Aku berani bersumpah demi nama Allah jika bukan aku yang membunuhnya Janie,"


"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku panggil ayahku!"


"Aku hanya akan pergi jika bersamamu," jawab Kani


"Memangnya aku bisa apa, sampai kau begitu terobsesi denganku?" tanya Janie


"Kau adalah keturunan seorang dukun sakti, dalam dirimu ada sebuah kekuatan yang bisa mengalahkan semua jenis siluman, dan sebangsanya. Itulah yang membawaku ke sini, jadi bantulah aku untuk menangkap siluman ular itu?"


"Wah kamu ngadi-ngadi, Ken Meskipun aku ini seorang keturunan dukun, tapi ilmu seperti itu tidak bisa di wariskan. Harus berguru dulu jika mau punya ilmu seperti itu Ken," jawab Janie


"Tapi kau bisa Janie, bahkan tanpa berguru, aku bisa membuktikannya,"


*Tok, tok, tok!!


"Janie, kamu belum tidur nduk??"


Janie terkesiap saat mendengar suara ibunya di depan pintu kamarnya.


"Cepat pergi dari sini!" seru Janie


*Krieet!!

__ADS_1


Tari membelalakkan matanya saat melihat putri sulungnya menghilang di depannya.


__ADS_2