
Terdengar suara riuh membuat ku langsung membuka mata. Ku lihat semua orang meratapi diriku yang terbaring diatas tikar ditutup kain berwarna putih.
Ku lihat Bu De Suryati memelukku sambil berlinang air mata. Begitupun dengan Anas dan Pak De Lingga. Aku melihat jasad diriku terbaring kaku dengan wajah yang memucat.
"Apa aku sudah mati??"
Aku berusaha menggerakkan tanganku di depan wajah anas berharap dia melihat ku, namun Anas sama sekali tak menyadari kehadiranku.
Mungkin aku benar-benar sudah mati. Aku yang sekarang adalah ruh yang kebingungan karena baru keluar dari jasadku.
Dari semua orang yang ada di sana hanya Abu Musa yang tak meratapi
Kepergianku. Ia begitu khusuk membaca yasin di depan jenazah ku.
Aku duduk di sampingnya dan mencoba menggenggam tangannya. Tapi aku tak bisa menyentuhnya. Mungkin benar aku sudah mati.
Aku benar-benar bersedih, bagaimana bisa aku mati secepat ini. Padahal aku belum mengetahui siapa yang membuat ibu meninggal.
Saat aku menangis meratapi nasibku. Ku lihat Bik Sumi datang membawa sesuatu. Ia langsung menuju ke atas, entah kenapa aku begitu penasaran hingga ku ikuti dia.
Ku lihat Bik Sumi memasuki kamar Ibuku. Dia meletakkan satu baki kembang tujuh rupa lengkap dengan sesaji. Ia kemudian membaca mantera dan ku lihat sesosok wanita cantik berdiri di sampingnya.
Aku seketika melangkah mundur saat wanita cantik itu menyeringai di depanku.
"Sekarang sudah saatnya Nyai," ucap Bik Sumi
Kini Wanita cantik itu berjalan menghampiriku membuat ku semakin ketakutan.
Apa ia melihat ku??
Saat Wanita itu hendak memasuki tubuhku tiba-tiba seorang pria datang menyambar tubuhku.
"Om Barra!"
"Bagaimana kondisinya?" tanya Om Gilang menghampiri kami
"Dia baik-baik saja, wanita itu baru saja dari sini, cepat kejar dia!. Aku yakin dia belum jauh!"
Ku lihat Om Gilang dan Om Rangga melesat pergi, sementara Om Barra membawa sukmaku dan menyatukannya dengan tubuhku.
"Sekarang kembalilah Fikri,"
Ku buka mataku, dan ku singkap kain putih yang menutupi seluruh tubuhku.
"Fikri!" Anas berteriak kaget saat melihatku
Ia segera menghapus air matanya dan memeluk ku erat.
"Syukurlah kau masih hidup Fik,"
"Alhamdulillah," ucap Abu Musa kemudian menghampiriku
__ADS_1
Ia memberikan segelas air putih kepadaku dan membacakan doa untukku.
"Bagaimana apa kalian menemukannya?" tanya Om Barra
"Dia menghilang secepat kilat," jawab Om Gilang
"Hmm, seperti yang ku duga kekuatannya berkali-kali lipat saat bersama dengan pemanggilnya itu. Kita harus mencari cara untuk memisahkan mereka berdua,"
Kini ketiga hantu ganteng itu menatap lekat kearah ku.
"Karena Fikri udah baikan Abu pamit dulu ya," ucap Abu
"Silakan Abu,"
"Jangan lupa sholat Fik,"
"Baik Abu,"
Karena Abu Musa Pulang, semua orang pun ikut pulang. Kini hanya ada kami Berenam.
"Apa kamu melihat sesuatu?" tanya Om Gilang
"Melihat apa Om?"
"Orang itu, si pemilik Parewangan yang mulai menginginkan kematian mu?" imbuhnya
Aku mengangguk pelan.
"Sebenarnya aku juga masih tak percaya jika Bik Sumi Pelakunya. Aku tidak tahu apa motivnya hingga ia begitu ingin membunuhku. Sebenarnya apa salah ibu padanya sampai ia tega membunuh Ibu dan sekarang aku yang diincarnya,"
"Aku sudah menduga jika dia pelakunya. Sebenarnya dari buku usang itu aku sudah tahu tapi aku belum bisa memastikan jika itu dia karena belum ada bukti," sahut Pak De Lingga
"Lalu sekarang gimana?" tanya Barra
" Karena dia sudah semakin berani menunjukkan keberadaannya, makan kita harus segera bertindak. Karena jika tidak bisa saja nyawa Fikri akan melayang," jawab Om Gilang
"Benar juga, kalau gitu biar gue sama Lee yang akan manggil Parewangan itu kemari, untuk Anas dan Fikri pergi ke rumah Bik Sumi dan tahan dia jangan sampai keluar rumahnya," ucap Om Rangga
"Baik Om,"
"Baik Kek,"
"Tapi Fikri udah kuat belum?" tanya Om Barra
"Insya Allah Fikri sudah sehat Om,"
"Sebaiknya lo ikutin Mereka Bar, biar disini gue yang handle,"
"Ok Lang," Om Barra kemudian menemani kami menuju ke kediaman Bik Sumi.
Meskipun perjalanan menuju ke rumah Bik Sumi lumayan jauh dan harus melewati jalanan yang lumayan angker, tapi karena ada Om Barra kami berdua jadi merasa tenang.
__ADS_1
Setidaknya kami memiliki seorang penjaga.
Berbeda dengan siang hari, rumah Bik Sumi terlihat begitu seram saat malam hari. Pepohonan besar dan kurangnya penerangan, mungkin itu yang membuat rumah ini terlihat menyeramkan.
*Tok, tok, tok!
*Krieet!!
Bik Sumi pun keluar membukakan pintu rumahnya.
"Fikri, ada perlu apa kamu datang ke sini?" tanyanya begitu santai
Ia bahkan tak terkejut saat melihat aku kembali hidup setelah dinyatakan tewas di rumah sakit.
"Ada yang mau aku omongin sama Bik Sumi, boleh kami masuk?" jawabku
Bik Sumi pun mempersilakan kami masuk. Saat memasuki rumah itu aku melihat foto yang tak asing bagiku.
Lelaki itu, lelaki yang ada di foto bersama Bik Sumi, dia adalah Pak De Darno. Karena penasaran akupun menanyakan hubungan Bik Sumi dengan Pak De Darno.
"Dia suamiku?" jawabnya singkat
*Deg!
Seketika ingatanku kembali kepada Pak De Darno yang meninggal beberapa bulan lalu. Jika Pak De Darno adalah suami Bik Sumi, mungkin saja ia membunuh ibuku karena dendam. Dendam Karena suaminya sudah dijadikan tumbal oleh ibuku.
Sekarang aku tahu kenapa Bik Sumi membunuh ibu, dan Kenapa juga Ia begitu ingin membunuhku juga.
"Hutang nyawa harus dibayar nyawa Fik,"
Tiba-tiba aku terkejut mendengar ucapan Bik Sumi yang sepertinya bisa membaca pikiranku. Kini tatapan mata Bik Sumi berubah menakutkan. Bola matanya memerah dan menatap tajam ke arahku seolah-olah ia ingin membunuhku. Anas yang melihat ku gemetaran langsung menggenggam erat jemariku.
"Jangan takut, ada aku di sini,"
Kami berdua saling berpegangan tangan. Meskipun aku tahu Anas juga ketakutan tapi ia masih bisa menenangkan aku yang tak bisa menyembunyikan rasa takutku.
Aku semakin ketakutan saat Bik Sumi mengambil sebuah keris dan mengarahkannya kepadaku.
"Sekarang giliran mu mati Fikri!" ucap Bik Sumi menyeringai
Beruntung ada Om Barra yang langsung menepis benda pusaka itu. Ia langsung mengadu kekuatan dengan Bik Sumi hingga wanita itu jatuh terhempas menghantam dinding rumahnya.
"Cepat pergi dari sini, cepat pergi dari sini!" seru Om Barra
Baru saja kami berdua akan lari meninggalkan rumah itu tiba-tiba Anas menghilang menjadi butiran pasir.
Tentu saja hal itu membuat aku ketakutan hingga kakiku aku tak bisa digerakkan.
Apa yang terjadi pada Anas ke mana makhluk itu membawanya pergi?.
Aku semakin takut jika sesuatu terjadi terhadap Anas, namun aku lebih takut kepada diriku sendiri bagaimana nasibku nanti apalagi saat melihat Om Bara yang habis-habisan dihajar oleh Bik Sumi.
__ADS_1