PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 33


__ADS_3

Aku terbangun saat seseorang menarikku.


"Fiuh,"


Aku masih mengatur nafasku yang naik turun setelah melihat peristiwa yang membuatku panas dingin.


"Minum dulu Fik, biar adem,"


Anas memberiku segelas air dingin.


Ah, rasanya segar sekali sampai aku menghabiskan dua gelas air dingin.


"Abis melayat itu harusnya mandi Fik, bukan malah tidur. Jadinya gini kan, mimpi di rep rep setan!" celetuk Anas


"Iya Nas, abis aku tadi capek banget,"


"Yaudah sekarang mandi, abis itu makan, mumpung Daddy masak enak tuh,"


"Emang Pak Dhe bisa masak Nas?"


"Jangan salah Fik, Daddy itu serba bisa. Pokoknya super Dad diamah,"


"Aku jadi iri sama kamu Nas,"


"Jangan Ngiri kan ada Barra di kanan mu Fik," ucap Om Gilang


"Iya Om,"


Aku buru-buru menuju kamar mandi. Di sana aku berendam cukup lama hingga suara gedoran pintu kamar mandi membuat ku buru-buru menyudahi mandi ku.


Tapi saat keluar tak ada siapapun di depan pintu.


"Ah sial, pasti kelakuan Om Barra sama Om Gilang lagi, dasar usil!


Selesai berganti pakaian aku langsung menuju ke dapur. Aku begitu senang saat melihat aneka makanan enak tersaji di atas meja makan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak makan enak. Mungkin semenjak ibu sakit, karena aku harus menghemat uang untuk biaya pengobatan Ibu.


"Alhamdulillah, terimakasih Pak De sudah membuatkan makan siang yang lezat,"


"Sama-sama Fik, silakan dimakan,"


Kami pun makan siang bersama. Anas begitu lahap menyantap makanannya, begitupun dengan Pak Dhe.


Alhamdulillah, rasanya sangat beruntung memiliki teman seperti Anas yang begitu peduli denganku. Karena terharu akh hampir lupa menyantap makanan ku.


Selesai makan siang aku bergegas pergi ke rumah Bik Sumi untuk memintanya membantu mempersiapkan acara tahlilan nanti malam.


Meskipun Bik Sumi sudah lama bekerja untuk keluarga ku, tapi aku belum pernah ke rumahnya. Baru kali ini aku menyambangi kediaman Bik Sumi.


Tak ada yang aneh di rumah itu, sama seperti rumah penduduk kampung pada umumnya. Hanya saja rumah Bik Sumi sedikit lebih rimbun karena begitu banyak pepohonan besar di depannya.


Ku lihat Bik Sumi sedang membersihkan halaman rumahnya.


"Assalamu'alaikum Bik,"

__ADS_1


"Waalaikum salam Fik, ada apa tumben ke sini?"


"Mau minta tolong di bantuin buat acara nanti malam,"


"Oh iya, nanti sore Bibik dateng, sekarang lagi nanggung beres-beres rumah dulu,"


"Inggih Bik, kalau gitu Fikri pamit ya,"


"Ya Le, hati-hati!"


Pukul empat sore Bik Sumi datang ke rumah. Ia segera menuju ke belakang untuk bergabung dengan ibu-ibu lain yang sedang sibuk di dapur. Aku dan Anas sengaja membersihkan halaman depan.


Karena rumah ini akan kedatangan banyak orang aku pun merapikan tanaman di depan rumah.


Alhamdulillah akhirnya semuanya selesai tepat pukul lima sore.


Aku buru-buru mandi dan bersiap-siap untuk solat magrib di musholla.


Namun sebelum pergi Bik Sumi menyuruhku untuk makan lebih dahulu. Ia bilang nanti aku bisa gak sempat makan kalau nunggu abis magrib.


Selesai solat magrib aku langsung pulang untuk menggelar karpet dan tikar persiapan untuk tahlilan.


Semuanya sudah siap saat adzan Isya. Aku bahkan memilih sholat isya di rumah agar bisa menyambut para tamu.


Benar saja para warga datang lebih cepat dari yang saya duga. Tak lama setelah adzan isya berkumandang beberapa orang tetangga sudah datang.


Saat acara hendak di mulai Anas dan Pak Dhe belum datang, mungkin mereka telat karena memang kampung anas dan kampung ku lumayan jauh.


Bukan hanya sedih aku juga jadi teringat dengan wanita itu, wanita yang menyayat leher ibu hingga nyaris putus.


Darahku seketika mendidih saat mengingatnya. Aku yakin dia lah yang sudah memanggil kembali Parewangan Ibu untuk menyakitinya hingga akhirnya dia mati.


Ku lihat sosok wanita berpakaian hitam di depanku. Ia menutupi wajahnya dengan kerudung hingga aku tidak bisa melihat wajahnya.


Rasa dendam membuatku tak bisa mengendalikan diri. Ku ambil pisau yang tergeletak di samping ku. Aku berdiri dan berjalan menghampiri wanita itu.


Kini kami saling berhadapan, ku segera menebas Leher wanita itu. Dab anehnya dia tak melawan sedikitpun.


Ia hanya diam menatapku dengan tatapan mata seolah memberi peringatan kepadaku.


Entah kenapa dia yang ku tusuk tapi justru aku yang terluka.


Tiba-tiba semuanya terlihat gelap hingga akh tak bisa melihat apapun.


"Fikri, bangun Fikri!!"


Ku dengar suara yang begitu familiar di telingaku, perlahan ku buka mataku untuk melihat siapa yang memanggilku.


"Alhamdulillah akhirnya kamu sadar juga," ucapnya mengusap lembut kepalaku


Entah kenapa leherku terasa begitu sakit, sampai aku kesulitan untuk bicara.


"Jangan banyak bicara dulu Fik, tunggu sampai gift nya di lepas ya," imbuh Abu Musa

__ADS_1


Aku mengangguk mengiyakan ucapan Abu.


Tak lama Anas datang bersama ayahnya.


"Maaf ya Fik, aku baru datang," ucap Anas merasa menyesal


Abu yang mengetahui aku kesulitan berbicara segera mengambilkan secarik kertas dan pena untukku.


"Tulis aja kalau mau jawab pertanyaan Anas," ucap Abu


Lagi-lagi aku hanya bisa menjawab pertanyaan Abu dengan anggukan kepala. Abu bahkan membantuku duduk agar bisa menulis dengan mudah.


"Gak papa Nas, sans aja," jawabku yang ku tulis di secarik kertas


"Lagian kenapa sih kamu sampai nekat mau bunuh diri segala, kan aku udah bilang kalau ada masalah cerita aja ke gue, jangan di pendam??"


"Bunuh diri, kapan aku melakukannya, aku bukan orang yang " tanyaku tak percaya


Abu kemudian menceritakan jika saat acara tahlil aku seperti orang kesurupan yang tiba-tiba mengambil pisau dan menyayat leherku sendiri. Beruntung seorang tetangga ku langsung melarikan ku ke rumah sakit hingga nyawaku masih tertolong.


Seketika aku merinding mendengar cerita versi Abu. Aku kemudian menceritakan cerita versiku menggunakan tulisan.


Abu, Pak De Lingga, dan Anas seketika menghela nafas setelah membaca ceritaku.


"Fiks ini mah ada seseorang yang sengaja menginginkan kamu mati," ucap Anas


" Setelah mendengar ceritamu aku yakin kalau orang yang ingin membunuh mu sengaja menggunakan bantuan makhluk gaib," imbuh Pak Dhe Lingga


"Apa mungkin ini pekerjaan dari bangsa Jin?" tanya Abu Musa


"Betul Pak Ustadz," jawab Pak Dhe Lingga


Seketika wajahku memucat mendengar pembicaraan mereka. Ku kira semua urusan Parewangan sudah selesai dengan kematian Ibu, tapi ternyata semuanya belum berakhir.


"Apa aku akan jadi tumbal juga??" tanyaku disertai emot sedih


"Kalau menurut yang aku baca dari buku catatan milik ibumu seharusnya sih enggak, tapi aku juga kurang tahu karena hanya ibumu yang tahu perjanjiannya dengan sang makhluk gaib itu. Tapi kamu jangan khawatir ada aku dan Pak Ustadz jawab akan melindungi kamu," ucap Pak De Lingga membuat ku sedikit lega


Malam ini aku menginap di rumah sakit di temani oleh Pak Dhe Lingga dan Anas.


"Istirahat aja Fik kalau ngantuk, gak usah mikirin yang lain-lain. Masalah Tahlilan sudah di urus oleh Abu Musa sama Bik Sumi, jadi kamu fokus saja sama kesehatan kamu,"


Entah kenapa lama-lama Anas terlihat seperti orang tua yang selalu menasihati ku. Terimakasih Nas sudah mau menemaniku.


Aku pun memejamkan mataku setelah minum obat. Aku ingin cepat sembuh agar aku bisa mencari tahu siapa orangnya yang berusaha membunuhku.


"Fikri... Fikri..."


Seketika aku terjaga saat mendengar suara seseorang memanggil ku.


Saat terbangun ku lihat seorang Wanita cantik tersenyum simpul menatapku.


"Sugeng Ndalu Fikri ( selamat malam Fikri)"

__ADS_1


__ADS_2