PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 28


__ADS_3

Sebuah Ular besar berwarna hijau keluar dari mulutku.


Seketika aku langsung batuk-batuk hingga mengeluarkan darah.


Pak De buru-buru memberikan segelas air putih hangat kepadaku.


"Terimakasih,"


"Alhamdulilah udah keluar juga suaranya," ucap Pak De sumringah


"Sekarang semua ilmu hitam, dan lelembut yang ada di tubuhmu sudah berhasil dikeluarkan oleh ayahku. Insya Allah setelah ini kamu sudah bisa beraktivitas lagi seperti biasa," ucap Pak De Lingga


"Alhamdulillah," akhirnya aku lega karena sudah bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala.


"Sekali lagi terimakasih Pak De,"


"Terimakasihnya bukan sama Pak De, tapi sama trio somplak yang sudah berhasil membawa kamu kembali dari alam baka,"


Seketika aku langsung menoleh kearah tiga pria yang duduk di depanku.


Ketiganya langsung kompak memasang wajah manis dengan jempol dan telunjuk yang di silangkan seperti di drakor.


"Sarangheeee!!" serunya kompak


"Terimakasih Om sudah menolong Fikri," ucapku kemudian bergegas menyalami mereka


"Sami-sami cah bagus," ucap seorang pria berambut panjang mengelus kepalaku


Kemudian akun beranjak ke pria kedua yang mirip dengan Anas. Ku cium punggung tangannya dan diapun mengusap kepalaku sama dengan pria sebelumnya.


Yang terakhir adalah pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Barra. Diantara mereka bertiga memang Barra yang terlihat berbeda lebih tampak dan elegan seperti seorang pangeran.


Namun ada yang aneh dari mereka bertiga, ketiganya memiliki tangan yang dingin seperti es.


"Jangan bengong Le," seru salah seorang dari mereka saat melihat ku termangu menatap Om Barra


"Gak usah iri sama wajah tampannya, kalau kamu mau aku bisa membuat mu lebih tampan dari dia!" celetuk Om yang mirip dengan Anas


"Paling pake susuk, inget azab Ran,"


"Gak usah Om, aku gak mau bernasib seperti ibu. Biar saja aku wajahku pas-pasan asal hidup aman dan tentram,"


"Cakeep,"


"Santai aja Fik, Om Rangga gak pakai susuk kok, ada cara lain membuatmu terlihat tampan dan menawan tanpa klenik dan benda-benda gaib,"


"Apaan tuh?" ucap semuanya penasaran


"Pakai skin care dong, biar glowing kaya artis korea," jawan Om Rangga

__ADS_1


"Sue kirain apan,"


"Om, apa Fikri boleh tahu nama kalian?" tanyaku penasaran


"Oh tentu saja fikri, karena ada yang bilang tak kenal maka tak gampar, kuylah kita kenalan dulu. Dimulai dari gue Gilang tanpa Dirga kesatria dari singo sari, yang katanya sih titisan Ken Arok,"


Sebelah gue namanya Rangga gak ada hubungannya sama Rangga Azof meskipun wajah mereka hampir mirip. Tapi jangan kaget karena itu hasil editan ilmu hitam. Rangga ini kakeknya Anas. Selain sebagai seorang dukun milenial pekerjaan sambilannya adalah menggoda janda muda makanya hati-hati takut ibumu di goda juga sama dia,"


Seketika semuanya langsung tertawa mendengar candaan Om Gilang.


"Sembarangan lo Lang, mana ada gue godain janda yang ada juga mereka yang ngejar-ngejar gue," sahut Om Rangga


"Gak ingat lo kalau dulu pernah suka sama Rose jandanya Barra,"


"Ya ampun aku lupa, ikan hiu makan gulali, please deh masa lalu jangan di ungkit lagi," jawab Rangga


"Ikan ****** naik ke leher janda, gak kok bang cuma bercanda aja," jawab Gilang


"Makanan sudah datang!" seru Anas yang datang membawa satu kantong plastik nasi goreng.


"Silakan, dimakan," ucap Anas


Ia kemudian menuju ke dapur dan tak lama kembali dengan membawa tiga gelas kopi hitam.


"Kok Om bertiga gak makan?" tanyaku penasaran


"Kita lagi diet Fik," jawab Om Gilang


Selesai makan Anas menemaniku tidur di kamar, sedangkan Pak De Lingga dan ketiga Om Ganteng memilih menghabiskan malam dengan mengobrol di ruang tamu.


Malam ini benar-benar tenang, tak ku dengar lagi suara lesung ataupun makhluk halus yang datang mengganggu.


Pagi itu aku sengaja pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Ibu.


Saat aku datang aku lihat kondisi ibu sudah membaik hingga dokter memperbolehkan dia pulang. Kini ku lihat wajah ibu lebih segar tak pucat lagi. Dia juga sudah bisa bicara dan berjalan.


"Terimakasih ya Bik Sumi sudah merawat ibu selama aku sakit,"


"Sama-sama fik," jawab Bik Sumi


Setibanya di rumah aku merasa kaget karena Anas sudah membersihkan rumahku bersama Pak De Lingga.


Yang lebih mengejutkan lagi saat memasuki kamar ibu tak ku lihat lagi cermin keramat yang sudah banyak memakan tumbal.


"Dimana cermin itu?" tanyaku penasaran


"Dibawa sama Eyang ku," jawab Anas


Aku merasa khawatir dengan keselamatan Om Rangga saat Anas memberitahukan jika dia membawa cermin di kamarku.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi sesuatu kepada eyang mu Nas,"


"Santai saja tak akan terjadi apapun pada makhluk gaib sepertinya," jawab Anas membuat ku melotot


"Makhluk gaib??. Apa maksudmu??" tanyaku penasaran


Anas hanya tersenyum sambil menepuk pundakku.


"Lupain aja,"


Ku lihat ada raut wajah kecewa saat ibu memasuki kamarnya.


Ia langsung menatap sedih kearah cermin itu biasa tergantung.


"Siapa yang merubah kamarku?" tanyanya dengan raut wajah kesal


"Saya Mbak Yu," jawab pak De Lingga


"Dimana cermin milikku??" tanyanya menatap nanar Pak De Lingga


"Aku sudah menghancurkannya,"


*Plaakkk!


"Lancang sekali!" seru Ibu menampar wajah Pak De Lingga membuat aku tak enak hati padanya


"Harusnya kamu meminta izin dulu padaku sebelum menghancurkannya Bangs*t. Apa kamu akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku!" hardik ibu membuat aku langsung menghampirinya dan menenangkan ibu


"Jangan ikut campur kamu Fik!" hardiknya sambil mendorongku


Hampir saja aku terjatuh beruntung ada Anas yang langsung menangkap ku.


Saat aku ingin menjelaskan sesuatu kepada Ibu, Pak De Lingga memberikan isyarat padaku untuk membiarkan ibuku.


Aku sampai malu sendiri melihat Ibu yang terus memaki Pak De Lingga, padahal ia sudah menyelamatkannya hingga ia bisa bicara dan jalan lagi.


Setelah puas memaki Pak De Lingga, Ibu langsung berlari menuju ke belakang rumah.


Aku dan Anas bergegas mengikutinya. Sementara Pak De Lingga terlihat begitu santai, bahkan tak mengejar Ibuku.


Ibu langsung memeriksa lesung yang ditutup kain berwarna hitam.


"Awas aja kalau ada yang berani menyentuhnya, tak pateni ( tak bunuh)!" seru Ibu dengan mata memerah.


"Kamu juga fik, gak usah ikut campur urusan ibu kalau mau selamat!" ucap Ibu


Setelah mengecek Lesung Ibu juga mengecek gudang yang ada di sebelahnya. Ia kemudian keluar dari gudang dengan membawa koper usang yang aku tahu isinya semua pakaian berwarna hijau.


Saat kembali masuk ke dalam rumah, ku lihat Pak De Lingga tampak menikmati secangkir kopi hitam di ruang tamu.

__ADS_1


Entah kenapa Ibu seperti ketakutan saat melihatnya, padahal ia belum lama memarahinya.


__ADS_2