
*Dreet!!
Lingga menghentikan motornya saat ponselnya berkali-kali berdering.
"Halo Aki,"
Terdengar suara Suryati di ujung telpon memberitahukan kondisi Fikri.
"Baik Nyai, aku akan menjenguknya setelah urusanku selesai," jawab Lingga
Ia kembali melesatkan motornya menuju ke rumah sakit.
*Ciiit!!
Lingga tampak mengusap dadanya yang terasa sesak saat memasuki lobby rumah sakit. Ia beberapa kali menghela nafas untuk menetralisir energi negatif yang menyelimuti bangunan itu.
Ia buru-buru naik ke lantai dua dimana Audi di rawat.
Saat tiba di selasar ruang rawat inap Teratai, ia terhenyak melihat sosok Ken yang berdiri di samping Putrinya Anjani.
Pantas saja ruangan ini terasa begitu sesak ternyata ada Pangeran dan Ratu Jin disini
Lingga menatap lekat pria di samping Janie.
Tunggu... kenapa dia mirip sekali dengan Fikri??
Radit menyeringai saat melihat Ken mulai terbakar amarah saat ia berhasil memprovokasinya.
Melihat Ken hendak melepaskan tinjunya ia segera menjentikkan jarinya.
Namun sebuah kekuatan yang lebih besar menyerang Ken. Lelaki itu tampak terhempas ke udara dan menghilang.
"Ken!" teriak Janie begitu histeris saat melihat
Melihat Ken yang menghilang membuat Mila terkesiap hingga jatuh pingsan.
Radit melirik kearah Lingga pria yang dirasuki oleh lelembut itupun seketika jatuh terkulai saat melihat sosok Lingga tak jauh darinya.
"Radit!" seru Janie
"Tolong!" gadis itu tampak kebingungan saat melihat dua orang pingsan disampingnya
"Jangan panik!" seru Lingga menepuk pundak putrinya.
Tidak lama dua orang perawat menghampirinya. Mereka segera memindahkan Radit ke ruang perawatannya, sedangkan Mila di bawa ke UGD.
Lingga sengaja menuju ke ruang perawatan Radit. Setelah dokter selesai memeriksanya Lingga mengusap wajah Radit yang tampak pucat.
Tidak lama pemuda itu membuka matanya. Ia terkejut saat melihat sosok Lingga di sampingnya.
"Gue dimana?" tanyanya bingung
"Di rumah sakit," jawab Janie kemudian menghampiri kekasihnya itu.
__ADS_1
Radit berusaha bangun dan duduk bersandar di brankarnya. Ia melihat luka di tangannya yang kini sudah di perban.
"Sudah berapa lama aku di sini?"
"Dua hari," jawab Janie
Radit menatap sekelilingnya, ia benar-benar merasa asing di tempat itu apalagi saat melihat Lingga. Meskipun ia tahu jika Lingga adalah ayah dari kekasihnya Janie tapi entah kenapa ia merasa tak nyaman saat pria itu bersamanya.
"Sepertinya aku sudah sembuh dan aku harus segera pulang," ucap kemudian menyingkap selimutnya.
"Jangan gila, kalau mau pulang harus seizin dokter," tegas Janie seketika menarik Radit kembali ke ranjangnya.
"Sebaiknya kamu memang harus pulang dan keluar dari tubuh anak itu . Karena jika tidak aku yang akan mengusir mu dan mungkin saja menghancurkan sukmamu," ancam Lingga
Seketika Radit kembali pingsan membuat Janie kembali panik.
"Sudah jangan panik, itu lelembutnya udah pergi. Bentar lagi dia akan sembuh dan boleh pulang," Lingga berusaha menanangkan putrinya
Tidak lama dokter datang atas panggilan Janie. Saat itu juga Lingga menarik lengan putrinya dan membawa Janie keluar dari tempat itu
"Jangan pernah temui pria itu lagi, ayah tak mau melihat mu dalam bahaya," ucap Lingga
"Pria yang mana Ded?" tanya Janie
"Yang tadi ilang," jawab Lingga dengan santai
"Oh Ken, tapi dia itu baik kok, buktinya dia mau nolong Audi," jawab Janie
"Emang kenapa Audi?"
"Hmm, apa boleh Deddy melihatnya?"
"Kuy!" jawab Janie segera menarik lengan Lingga.
Namun saat keduanya tiba di bibir pintu tiba-tiba ponsel Lingga terus berdering.
Lingga terkejut saat tahu Suryati yang menghubunginya.
Ia langsung menjawab panggilan itu.
"Aki, tolong Fikri Aki, dia sekarat sekarang?" ucap Suryati dengan nada cemas
"Baik, tunggu sebentar,"
Lingga kemudian meminta Janie untuk pulang, tapi gadis itu memilih untuk menemani Mila yang ada di UGD sendirian.
Meskipun Lingga sudah menjelaskan jika Mila baik-baik saja dan akan segera pulih, namun Janie tetap bersikeras untuk tetap menemaninya.
"Aku kasian sama dia Dad, dia itu sendirian di sini. Dan dia pingsan gara-gara Daddy kan jadi aku harus tanggung jawab. Kecuali kalau Daddy mau bantu sembuhin dia," ujar Janie
Mendengar ucapan putrinya mau tak mau Lingga pun mengikuti sarannya. Ia kemudian menuju ruang UGD untuk melihat Mila. Saat memasuki ruang UGD Mila tampak sudah sadar dan diperbolehkan pulang.
"Kamu gak papa kan?" tanya Janie
__ADS_1
"Iya aku baik-baik saja, tapi bagaimana dengan Ken, kenapa dia bisa menghilang, apa dia di serang makhluk gaib?" Mila memberondong Janie dengan pertanyaannya
"Emm, sebenarnya...." Janie tampak ragu-ragu saat hendak menceritakan tentang siapa Ken sebenarnya kepada sahabatnya itu.
"Ken tidak apa-apa nanti biar Om yang mencarinya," ucap Lingga memotong pembicaraan keduanya
"Sekarang kamu lebih baik pulang dan istirahat," Lingga kemudian memesankan taksi untuk mengantar Mila pulang.
Setelah memastikan putrinya pulang dengan selamat, Lingga kemudian pergi ke kediaman Fikri menggunakan kendaraan gaibnya.
Setibanya di kediaman Suryati ia Melia Fikri tampak mengejang seperti seorang yang sedang mengalami sakaratul maut.
Fikri di baringkan di tikar pandan. Terlihat Abu Musa begitu khusuk membacakan ayat suci Al-Qur'an di sampingnya. Sementara itu Suryati juga masih berusaha mengobatinya dengan kemampuan supranaturalnya.
Terlihat jelas dari adanya sesaji dan Dupa yang menyala di sebelah kiri pemuda itu.
Suryati langsung menyambut kedatangan Lingga dan menyuruhnya duduk di samping Fikri.
Lingga menatap lekat kearah Fikri yang tampak gelisah namun dengan mata yang masih tertutup rapat.
Ia menempelkan tangannya ke kening Fikri. Kini sukmanya telah melanglang buana mengikuti kemana Fikri berada.
"Mau kemana kamu Le?"
Tiba-tiba Lingga menoleh kearah suara yang memanggilnya.
"Mencari Fikri Dad?"
"Fikri sedang mencari jati dirinya, dia tidak bisa pulang sebelum mendapatkan apa yang dia cari," jawab Rangga
"Tapi aku melihat dia mendekati putriku Janie, dan aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran mengganggu orang-orang," jawab Lingga
"Sebenarnya yang bersama Janie itu bukan Fikri tapi khodam yang akan melindungi Janie. Dia adalah leluhurmu. Raden Mas Kanigara hanya meminjam Sukma Fikri untuk menemukan jatidiri pemuda itu. Itulah sebabnya aku, Gilang, dan Barra tak menyuruhnya pulang," terang Rangga
"Tapi aku takut sesuatu terjadi dengan Janie,"
"Dia adalah gadis yang kuat, selain Raden Mas Kanigara ada kita bertiga yang melindunginya jadi sans aja. Tidak ada yang akan bisa mengganggu cucuku, atau mereka akan berhadapan dengan kesatria dari Singosari," timpal Gilang
"Jangan lupa pangeran Gondoruwo juga," sambung Barra
"Inggih Om, kalau begitu terimakasih atas petunjuknya, kalau gitu Lee pamit ya Dad,"
*********
Universitias Jaya Taruna
Pagi itu Janie tampak bersemangat pergi ke kampus, karena ia tahu jika hari itu Radit sudah mulai kuliah.
Ia tampak melambaikan tangannya saat melihat kekasihnya yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
*Grep!!
Janie seketika menoleh ke samping saat seorang pria tampan menggandeng lengannya.
__ADS_1
"Apa kabar Janie?"