
Janie....
Kembali Gadis bermata coklat itu menoleh ke belakang saat mendengar suara seseorang memanggilnya.
"Oi, siapapun lo jangan suka manggil-manggil gue kalau lo terus sembunyi. Cepat tunjukkan batang hidung lo atau gue akan menghajar lo!" seru Janie dengan suara lantang.
Tiba-tiba angin berhembus kencang membuat gadis itu hampir terhempas olehnya.
*Wusshh!!
*Grepp!!
Tiba-tiba seorang pria tampan muncul di depannya menangkap tubuh yang hampir terjatuh.
Janie langsung bangun dan menjauhi pria itu.
"Siapa lo?" tanyanya menatap sinis pria di depannya.
Ia bahkan langsung mendorongnya saat pria itu semakin mendekatinya.
"Tidak penting siapa aku, yang jelas aku hanya ingin memperingatkan kamu kalau teman kamu dalam bahaya," jawab pria itu dingin
Tiba-tiba pria itu langsung menghilang, berubah menjadi pasir, saat seorang teman Janie menghampirinya.
Janie membelakakan netranya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Mahluk apa itu??
"Gimana Jan, apa sudah ketemu sama si Deden?" tanya Mila
"Eh," Seketika Janie tergagap saat mendengar suara Mila sahabatnya
"Ish malah ngelamun, kamu sudah ketemu Deden belum!" jawab Mila mengulangi pertanyaannya
"Oh itu, sudah Mil," jawab Janie
"Dimana dia?" tanya Mila lagi mencari keberadaan Deden
"Di sa...na!" Janie kemudian menoleh ke belakang, namun sialnya Deden tak ada di tempat.
Ish sial, kemana lagi tuh bocah,
"Mana gak ada!" Mila mengangkat bahunya
"Sorry, sepertinya dia udah cabut lagi,"jawab Janie hanya tersenyum kecut saat menyadari sahabatnya itu pergi tanpa berpamitan kepadanya.
"Sepertinya jal*ng itu sudah membawa dampak buruk bagi Deden sehingga ia tak menghargai ku lagi, dasar anj*ng!" gerutu Janie
" Siapa sih jal*ng yang lo maksud Jan?"
"Tadi gue liat si Deden sama cewek, katanya anak IPA, tapi aku belum pernah melihat dia," jawab Janie
"Namanya siapa?" tanya Mila
__ADS_1
"Angel,"
Mila tampak menggaruk-garuk kepalanya mencoba mengingat satu persatu nama siswa dikelas XI IPA.
"Kayaknya gak ada deh anak IPA yang namanya Angel," sahut Mila
"Itu dia Mil, yang bikin aku penasaran juga," ucap Janie
"Ya sudahlah mungkin dia anak pindahan karena yang aku tahu memang ada satu siswa pindahan kemarin. Sebaiknya sekarang ayo kumpul, Bu Vita nyariin lo tuh di suruh makan siang," Mila segera menarik Janie dan membawanya pergi ke Gasebo.
Semua siswa tampak berkumpul di Gasebo sambil menikmati makan siangnya. Janie mengamati satu persatu teman-temannya, namun ia tak melihat sosok yang dicarinya, Deden.
"Kemana dia??" Ia mengernyitkan alisnya mencari keberadaannya
"Gak ada di sini," sahut Mila kemudian menarik Janie mencari bangku kosong.
Kemana lagi tuh si Deden, jangan bilang kalau dia lagi berduaan lagi sama si Angel,
Janie tampak kesal saat mengingat Angel yang kini lengket dengan Deden.
"Kamu nyari aku ya sayang?" tanya Radit menghampirinya
"Sorry, gue nyari Deden bukan lo!" jawab Janie kemudian melewati Radit
Pemuda berambut ikal sebahu itu kemudian membuntuti Janie yang tampak mengacuhkannya.
"Kamu kenapa sih sayang kok jutek gitu sama gue?"
"Harusnya lo tahu dong Dit, kenapa gue kaya gini sama Lo," sahut Angel menatapnya tajam
"Deden itu sahabat aku Dit, dan aku tak suka kalau kau terus membullynya," sahut Janie kemudian memutar badannya dan meninggalkan pria di depannya
"Ah sial, kenapa dia lagi. Deden, Deden dan Deden. Kenapa si cupu itu selalu membuatku kesal."
Radit semakin kesal saat mengetahui Janie lebih memperdulikan Deden daripada dirinya. Ia bahkan rela meninggalkan makan siangnya demi mencari sahabatnya itu.
Sial, masa gue kalah sama si cupu Deden
Dengan wajah kesal Radit terpaksa menyusul Janie dan menemaninya untuk mencari Deden.
Janie menghentikan langkahnya saat melihat Deden memasuki Gazebo bersama dengan Angel.
"Wah siapa cewek yang bersama si cupu, tumben Io punya teman cantik?" ucap Radit kemudian menghampiri keduanya
"Dari mana aja lo Den, kasihan tuh Jani dari tadi nyariin lo sampai dia belum makan siang," ucap Radit
Pemuda itu tampak memperhatikan Angel dengan seksama. Sementara itu Deden yang khawatir dengan Janie segera menghampiri gadis itu.
"Apa itu bener Jan?" tanyanya dengan wajah cemas
"Tidak apa-apa kok Den, santai saja. Lagian gak makan siang sehari gak bakal mati," jawab Janie
"Tapi tetap saja kamu harus makan Jan, nanti kalau mag kamu kambuh gimana?" ucapnya lagi
__ADS_1
"Santai aja, banyak obat mag,"
"Yaudah kalau gitu ayo makan," ajak Deden
Janie kemudian mengajak Deden masuk.
Ia bahkan mengambilkan satu nasi kotak untuknya.
"Thanks Jan," ucap Deden
Keduanya kemudian berjalan menuju ke meja yang kosong. Deden tak lupa mengajak Angel menyusul Janie.
Aku tak bisa membiarkan si cupu mendapatkan perhatian Janie.
Radit yang tak suka Janie lebih memperhatikan Deden dengan sengaja memasang kakinya, hingga membuat Deden jatuh tersungkur dan nasinya tumpah ke lantai.
*Buughhh!!
Deden melirik kearah Radit yang tersenyum melihat kemalangannya. Meskipun begitu Deden tidak marah. Ia segera bangkit dan berdiri kembali. Sementara itu Janie buru-buru mengambil nasi box baru dab memberikannya kepada Deden.
Melihat Radit menyakiti Deden membuat Angel kembali naik darah. Ia bahkan mengepalkan tangannya saat melihat Radit menertawakan Deden.
Gadis itu menatap tajam kearah Radit. Ia kemudian mengeratkan kepalan tangannya hingga membuat Radit seketika jatuh terkapar di lantau. Tak puas membuat Radit jatuh, Angel berusaha untuk menjatuhkan sebuah benda berat kepada Pemuda nakal tersebut. Ia menggerakkan bola matanya kearah lambu besar yang digantung di plafon ruangan.
Hanya dengan tatapan mata yang tajam lampu itu seketika putus dan melesat jatuh kearah Radit.
"Radit awas!" seru Janie berusaha memperingatkannya
Namun terlambat, lampu gantung itu dengan cepat melesat mengenai kepala Radit.
*Buugghh!!!
Rinjani langsung berlari kearahnya dan berusaha untuk menolongnya.
"Radit!!" seru Janie histeris
Meskipun banyak orang di sana tapi entah kenapa semuanya hanya diam termangu menatap Radit yang terkapar penuh luka.
Bukannya menolong Radit, Deden justru tersenyum bahagia melihat Radit yang terluka.
Ia seperti menikmati kemalangan Radit.
"Apa kau senang sekarang?" tanya Angel
"Meskipun aku senang tetap saja aku tidak tega dan kasian saat melihat orang lain terluka dan menderita," jawab Deden
"Jangan lemah, Radit itu manusia jahat. Ia pantas mendapatkan semua itu," jawab Angel
Namun Deden yang tak tega saat melihat Angel menangisi Radit berusaha mendekatinya.
Angel yang tak suka Deden mendekati gadis lain pun berusaha mencelakai Janie.
Ia menggerakkan bola matanya kearah lukisan besar yang tertempel di dinding tak jauh dari Janie berada.
__ADS_1
Kau tidak boleh berpaling dariku Deden, karena kau hanya milikku.