PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 25


__ADS_3

*Pov Anas


Ada yang aneh setelah aku kembali dari kediaman Fikri. Sepertinya ada seseorang yang mengikuti ku.


Aku ingin menceritakan semuanya kepada Daddy tapi aku belum berani karena takut ini hanya imajinasi ku saja.


Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam tapi aku masih terjaga karena ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.


Setelah mengerjakan banyak tugas kuliah akhirnya aku tumbang juga. Pukul satu dini hari mataku sudah mulai lelah dan akupun segera membaringkan tubuhku keatas ranjang.


Entah kenapa hari ini terasa begitu panas padahal aku sudah menyalakan AC pada suhu 16 derajat Celcius.


Saat ku terlelap tiba-tiba kurasakan dadaku terasa sesak seperti ada seseorang yang menindih ku.


Benar saja saat ku terbangun ku lihat sosok buto ijo perempuan itu berada diatas ku hingga wajah kami saling berhadapan.


Aku benar-benar terkejut bukan saat itu. Ini adalah kali kedua ku melihat sosok makhluk mengerikan itu, tapi malam ia benar-benar tampak lebih mengerikan hingga aku langsung berteriak sekeras-kerasnya meminta pertolongan.


Tapi kenapa Daddy tak mendengar teriakan ku, kenapa ia tak datang menolongku, kemana dia.


Aku menggunakan seluruh kekuatan ku untuk mendorong makhluk itu.


*Buugghh!!!


Aku segera bangun saat ku lihat makhluk itu jatuh dari ranjang. Aku buru-buru berlari keluar namun sialnya aku merasakan seseorang menarik kakiku hingga aku tak bisa bergerak.


Ku lihat sosok buto ijo perempuan itu bangun dan mendekati ku. Ia menjulurkan tangannya dan mencekik ku dengan kuku-kukunya yang tajam seperti pisau.


Aku merasakan sulit bernafas hingga akhirnya semua menjadi gelap. Kembali aku terbangun saat merasakan sayatan di tubuhku, rasanya sangat perih hingga membuat ku berteriak kesakitan.


Saat pandanganku mulai jelas ku lihat sosok wanita itu sedang mencabik-cabik tubuhku dengan kukunya yang tajam tanpa ampun.


Saat aku merasakan tubuhku mati rasa dan pandangan mataku kembali kabur, tiba-tiba ku dengar suara seseorang berkidung begitu merdu.


Aku seperti pernah mendengar kidung itu, rasanya tak asing bagiku. Samar-samar ku lihat makhluk itu berhenti mencabik-cabik tubuhku dan berjalan keluar kemudian menghilang.


Ku coba untuk menggerakkan tubuhku tapi tak bisa. Tubuhku terasa kaku seperti batu. Aku hanya bisa membatin semoga Daddy cepat datang menolongku.


Tak lama seorang pria datang menghampiriku dengan senyuman khas yang tak asing bagiku.


Ia menggendongku dan membaringkan tubuhku keatas ranjang tempat tidurku.

__ADS_1


Ia mengusap lembut kepalaku sambil bersenandung merdu. Kidung itu mengingatkan aku kepada seseorang yang selalu menemaniku saat Daddy tak ada di sisiku.


Karena mulutku masih belum bisa bicara aku hanya bisa mengetikkan air mata saat menyadari pria itu adalah Kakekku Rangga.


Ia memelukku erat, membuatku merasa nyaman hingga aku bisa tertidur pulas dalam pelukannya.


"Tidurlah le, kali ini eyang akan menjagamu, jadi jangan takut lagi,"


*Pov Anas selesai


#Kediaman Fikri


Pagi itu aku merasakan tubuhku begitu bugar karena aku bisa beristirahat dengan tenang tanpa gangguan makhluk gaib apalagi suara lesung yang selalu membuatku was-was.


Alhamdulillah malam ini lesung itu tak berbunyi sehingga aku merasa lega, setidaknya nyawaku dan Ibu masih aman hari ini.


Seperti pesan Pak De, aku melepaskan cincin pemberinya saat ke kamar mandi.


Karena sudah subuh aku memutuskan untuk mengambil air wudhu.


Aku baru ingat kalau semalam aku meninggalkan ibu sendirian. Aku takut terjadi sesuatu dengannya karena meninggalkan hingga selesai wudhu aku buru-buru menengoknya.


Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya.


Ku buka perlahan pintu kamar ibu, dan aku masuk untuk melihat keadaannya.


Aku memeriksa denyut nadinya dan juga hembusan nafasnya. Semuanya normal. Sepertinya ibu memang masih tidur. Aku segera merapikan kembali selimutnya.


 Alhamdulillah ibuku baik-baik saja, akupun melanjutkan untuk sholat subuh. Ku ambil sajadah dan ku gelar di samping ranjang ibu.


Saat aku sudah membaca niat dan mulai takbiratul Ikhram tiba-tiba ku dengar suara lesung ibu berbunyi.


Biasanya ibu memang suka membunyikan lesung itu saat subuh untuk menumbuk padi. Tapi sekarang ibu masih terbaring di ranjangnya, jadi kalau bukan ibu lalu siapa yang membunyikan lesung itu.


Aku sempat berpikir untuk melihat kebelakang namun segera ku abaikan dan kembali melanjutkan sholat.


Tiba-tiba ku dengar suara seseorang berbisik di telingaku, "Jangan sholat kalau kamu tak mau celaka!"


Aku sebenarnya ingin melihat siapa yang berusaha membisik ku tapi lagi-lagi aku mengabaikannya dan tetap melanjutkan untuk sholat.


Tak ada yang aneh sampai aku selesai membaca Alfatihah.

__ADS_1


Baru setelah aku membaca surat pendek tiba-tiba lampu di kamar mulai berkedip kedip.


Aku tetap melanjutkan sholat ku hingga ruku.


*Buugghh!!


Tiba-tiba ku dengar sesuatu berjatuhan di luar rumah. Hingga saat aku sujud aku dikejutkan dengan sesosok pocong yang mengerikan terbaring di depanku. Aku lihat wajah pocong itu begitu mengerikan karena hancur dan sebagian lagi gosong karena terbakar.


Aku tak bergeming dan tetap melanjutkan sholatku. Saat aku membaca alfatihah di rakaat kedua pocong lain bermunculan memenuhi seluruh ruangan ini.


Namun aku berusaha untuk tetap melanjutkan sholatku meski dengan menutup mata.


Saat aku sedang ruku, tiba-tiba aku rasakan seseorang menendang ku hingga aku jatuh tersungkur dan semuanya menjadi gelap.


Entah berapa lama aku tak sadarkan diri hingga suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an berhasil membangunkan aku. Ku buka mataku perlahan namun pandanganku masih kabur. Saat pandanganku mulai jelas ku lihat Abu Musa ada di sampingku sedang membacakan Al-Qur'an.


Anas juga ada di sampingku berusaha menguatkan aku.


"Yang sabar ya Fik, insya Allah semuanya akan segera berakhir," ucap Anas sambil menggenggam erat jemariku


Aku ingin sekali berterima kasih kepada Abu Musa dan Anas yang sudah menolongku tapi mulutku seperti terkunci. Aku baru sadar kalau aku sekarang tak bisa bicara. Hingga aku hanya bisa mengedipkan mata untuk merespon ucapan Anas.


Bukan hanya tak bisa bicara, tubuhku juga terasa kaku seperti batu hingga membuat ku tak bisa bergerak.


Kini nasibku sama seperti ibu, hanya bisa berbaring di ranjang tanpa bisa apa-apa.


Aku menitikkan air mata saat mengetahui betapa malang nasibku ini. Aku bahkan berpikir mungkin aku akan segera mati karena menjadi tumbal selanjutnya.


Melihat aku menangis Anas mengambil tisu dan mengusap air mataku.


"Jangan sedih Fik, semua orang akan membantumu, aku doakan kamu akan segera sembuh dan terbebas dari jerat iblis yang ingin mengambil nyawamu,"


Ku lihat Ayah Anas meminta Abu Musa untuk membawaku pergi dari rumah ini.


"Sepertinya lebih baik kalau fikri tinggal sementara bersama Abu, biar ibunya Fikri aku yang urus bersama Anas," ucap Pak De Lingga


Abu mengangguk dan segera memerintahkan beberapa orang tetanggaku untuk menggotong ku ke rumah Abu.


Saat perjalanan menuju kediaman Abu, ku dengar mereka bergosip membicarakan tentang nasibku yang malang karena di jadikan tumbal pesugihan ibuku.


Rasanya aku ingin memarahi mereka yang terus menghujat ibuku. Namun apa daya aku tak bisa apa-apa.

__ADS_1


Saat aku menatap keatas tiba-tiba aku terkejut melihat segerombolan ikan putih terbang diatas ku.


Astaghfirullah, aku baru sadar jika makhluk yang berterbangan diatas ku bukan ikan tapi ratusan pocong yang mengejar ku.


__ADS_2