
"Sekarang kau tinggal pilih, mau jadi budakku atau menjadi tumbal berikutnya??"
Aku termangu menatap orang-orang berpakaian serba hijau yang memiliki wajah pucat dengan tubuh tinggal tulang belulang itu.
Aku yakin jika mereka bisa bicara mereka pasti memilih untuk mati saja daripada harus hidup tersiksa sebagai budak setan.
Mereka bekerja sebagai penjemput manusia-manusia tak berdosa yang akan menjadi makanan Raja buto ijo dan semua rakyatnya.
Jika di dunia manusia, maka wujud mereka akan berubah menjadi sosok buto ijo yang menyeramkan yang menakuti para tumbal pesugihan hingga mereka mati.
Mereka juga yang membawa sukma-sukma manusia tak berdosa itu untuk dijadikan budak bangsa jin.
Aku tak mau seperti itu, aku tak mau berubah menjadi buto ijo. Dalam ketakutan ku dengar seorang buto ijo yang memiliki badan paling besar membentukku dengan suaranya yang membuat gendang telinga ku nyaris pecah.
"Cepat pilih!" tiba-tiba sosok algojo itu langsung mencekik leherku membuatku sulit bernafas.
"Aku...pilih mati saja," jawabku terbata-bata
Tiba-tiba ku rasakan seseorang yang menjambak rambutku dari belakang hingga tubuhku terhempas ke lantai.
*Buuuughhh!
Tubuhku di seret dan di benturkan ke tembok berkali-kali hingga aku merasakan sakit yang teramat sakit.
Ya Allah tolonglah aku, jika aku memang harus mati maka mudahkanlah kematianku dan aku mohon akhiri penyiksaan ini.
Aku berdoa dalam hati sambil menitikkan air mata. Mungkin hanya itu yang bisa ku ucapkan sebelum kematianku.
Rasanya tidak mungkin bagiku untuk bisa mati dengan Husnul khatimah seperti orang-orang. Apalagi sampai membaca kalimat syahadat.
Bahkan untuk menyebut nama Tuhanku saja terlalu sulit, mungkin karena selama ini aku selalu makan uang haram hasil pesugihan.
Tapi aku sangat bersyukur karena akhirnya aku bisa menyebut namaMu untuk terakhir kalinya dalam doaku meski hanya dalam bahasa Indonesia.
Di saat aku merasakan sukmaku seperti akan terpisah dengan ragaku aku melihat sesosok pria tampan menghampiriku.
Ku pikir dia adalah malaikat maut, karena wajahnya yang nyaris sempurna.
Ia tersenyum padaku, mengusap lembut kepalaku hingga ku rasakan tubuhku begitu sejuk dan tertidur sejenak.
Aku terbangun saat mendengar suara kidung yang begitu merdu menggema di istana itu.
Seorang pria tampan dengan rambut panjang sebahu berdiri tak jauh dariku. Ku lihat puluhan Buto ijo langsung menyerangnya.
Aku tidak tahu siapa dia, yang jelas pria itu seperti tokoh raja-raja dalam film kolosal. Ia berperawakan tinggi dengan badan atletis. Wajahnya yang tampan dengan kulit sawo matang khas orang Indonesia. Ia memegang keris persis seperti seorang kesatria.
Ia berhasil menumpas semua pasukan Raja buto ijo dibantu oleh dua orang temannya.
__ADS_1
Ke tiga pria itu berhasil memporak-porandakan istana Raja buto ijo dan membebaskan para manusia yang di jadikan budak oleh Raja Buto Ijo.
Sepertinya Aku mengenal salah satu dari mereka, dia adalah pria yang pernah datang menemuiku di kamar ku.
Barra, ya ... Aku masih ingat nama itu. Pria yang kedua itu sangat mirip dengan Anas, mungkin Anas jika sudah dewasa akan seperti pria itu. Sedangkan pria ketiga dia itu seperti yang aku ceritakan tadi ia seperti seorang kesatria dari kerajaan Singosari, Ken Arok.
Lelaki yang mirip dengan Anas menghampiriku. Ia duduk di sampingku kemudian memejamkan matanya. Lagi-lagi ku dengar alunan suara merdu pria berambut panjang berkidung membuat ku merasa rileks.
Tiba-tiba ku rasakan tubuhku begitu mual. Kurasakan seluruh tubuhku berkeringat. Barra kemudian membantuku duduk dan saat itulah aku berhasil memuntahkan darah kental berwarna merah kehitaman.
Setelah itu ku rasakan tubuhku mulai enak, dan tak kaku lagi.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya pria yang mirip dengan Anas
Aku langsung mengangguk.
"Syukurlah kalau begitu, sekarang sudah saatnya kita pulang," ucap pria itu lagi
"Lang, udahan konsernya, sekarang saatnya kita go home,"
"Ok Ran,"
Kini ketiga pria itu mendekat kearahku dan tiba-tiba saja aku sudah berada di tempat berbeda.
Sayup-sayup ku dengar suara seseorang yang sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Suara begitu merdu dan menyejukkan. Tak salah lagi suara itu pasti milik Abu Musa.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga fik," ucapnya begitu bahagia
Abu Musa segera mengakhiri bacannya saat tahu aku siuman, begitupun dengan ayah anas yang langsung memberiku segelas air putih.
Ku lihat Abu Musa berdoa begitu khusuk kemudian memelukku erat.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah karena sudah membawa adikku kembali dengan selamat," ucapnya kemudian menepuk-nepuk punggungku
Ia kemudian melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajahku.
"Kamu tak apa-apa kan?"
Aku mengangguk.
"Syukurlah," jawabnya lega
"Dimana ibuku?"
Entah kenapa aku begitu khawatir dengannya. Setelah melihat kejadian mengerikan beberapa hari lalu membuatku merasa benci sekaligus kasian kepada ibu.
__ADS_1
"Sementara ini ibumu di rawat di rumah sakit Fik,"
"Emangnya ibu sakit apa?" tanyaku seperti orang linglung
"TBC," jawab Abu
"Kalau begitu aku ingin menjenguknya," rengek ku
"Tidak boleh sekarang toh Fik, nanti kalau kamu sudah baikan,"
"Baik Abu,"
"Yaudah karena kamu udah siuman Abu pamit pulang dulu, insya Allah nanti Abu datang lagi abis besok pagi. Sekarang kamu istirahat aja," ucap Abu kemudian berpamitan
Tidak lama ku rasakan cacing-cacing di perutku mulai berdemo. Entah sudah berapa lama aku tidak makan nasi hingga sekarang aku merasa sangat lapar.
Anas dan ayahnya tersenyum mendengar suara perutku yang keroncongan.
"Kamu lapar ya Fik?" tanya Anas
Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
"Ya sudah tunggu bentar ya, biar aku belikan nasi goreng di depan," jawab Anas
"Daddy kwetiau aja Nas, kalau mereka bertiga beliin aja kopi hitam," timpal Pak De
Mereka bertiga?? Siapa mereka, padahal di sini hanya ada kami bertiga.
Aku mengedarkan pandanganku mencari siapa lagi yang ada di rumah ini selain kami bertiga.
"Nyariin ya?"
Tiba-tiba aku terkejut saat melihat sosok pria yang ku lihat di istana raja buto ijo.
Ingin aku berteriak, ingin aku bicara tapi sepertinya lidahku masih kelu dan susah di gerakkan.
Aku hanya bisa mengangguk menjawab pertanyaannya.
"Kenapa sih dari tadi kamu ngangguk- ngangguk aja, sekali-kali ngomong dong, emangnya lagi sariawan, panas dalam susah buang air besar??, minum air comberan!" seketika aku tertawa mendengar banyolan konyol pria itu
"Jangan kurang ajar lo Lang. Dia belum bisa ngomong karena masih tersegel," timpal Barra
"Oh begigi, Ran tugas lo tuh, sebagai dukun milenial!" celetuk pria itu lagi
Kini pria yang mirip Anas mendatangi ku. Ia menyuruhku untuk membuka mulut sama seperti seorang Dokter yang sedang memeriksa pasiennya.
"Coba mangap!"
__ADS_1
Aku langsung membuka mulutku lebar-lebar, dan pria itu langsung memasukkan dua jarinya untuk mengambil sesuatu dari dalam mulutku.
Aku benar-benar terkejut saat melihat seekor ular berwarna hijau berhasil dikeluarkan dari mulutku.