
Zaman dahulu kala ada seorang gadis malang yang selalu dibully oleh teman-temannya karena ia memiliki wajah yang buruk rupa. Alih-alih melindungi diri sang gadis kemudian mempelajari ilmu beladiri. Saat mengetahui si gadis buruk rupa memiliki kemampuan spiritual maka semakin banyak orang yang ingin menyingkirkannya karena ia dianggap membahayakan teman-teman sebayanya.
Merasa terancam si gadis itu menggunakan kekuatannya unt membunuh siapapun yang berusaha menyentuhnya.
Al hasil Sang Raja memerintahkan prajuritnya untuk menangkap si gadis malang itu dan mengurungnya bersama dengan keluarga anehnya di sebuah kastil yang diberi pagar gaib.
Suatu hari seorang pangeran dari negeri lain datang menyelamatkannya.
Angel tampak berseri-seri saat menceritakan kisah itu kepada Deden.
"Ceritanya hampir mirip kaya snow white kah?" tanya Deden
"Hmm, sepertinya tidak karena snow white itu orang yang baik dan lemah, sedangkan gadis buruk rupa itu dia adalah gadis yang jahat karena berhasil membunuh semua orang yang merundungnya sampai keluarganya tanpa sisa," jawab Angel
"Kenapa pangeran itu menyelamatkannya jika tahu gadis itu adalah perempuan jahat?" tanya Deden
Angel tersenyum sinis mendengar ucapan Deden.
"Karena ia memiliki nasib yang sama dengan gadis itu," jawab Angel
"Jadi pangeran itu jahat?"
"Hanya orang jahat yang bisa mengerti isi hati orang jahat bukan. Asal kau tahu kalau gadis dalam cerita itu adalah aku , dan pengeran itu kamu," jawab Angel
"Tapi aku tak merasa menyelamatkan kamu,"
Angel mendekati Deden dan meletakan telunjuknya tepat di dada pemuda itu.
"Kemarahan mu pada teman-temanmu yang sudah membully mu yang sudah mengeluarkan aku dari penjara dunia kegelapan, kau tahu kenapa?" tanya Angel
Deden langsung menggelengkan kepalanya.
"Karena aku bukan manusia sepertimu, aku adalah jin."
...🌿🌿🌿🌿🌿...
Pagi itu Radit berusaha memperbaiki hubungannya dengan Janie yang mulai merenggang karena Ken.
"Sayang maafin gue soal kemarin ya," ucapnya sambil memberikan bunga mawar merah kepadanya
"Ok, aku memaafkan kamu dengan catatan no posesif lagi. Karena aku paling gak suka sama cowok yang over posesif," jawab Janie
"Iya sayang, aku percaya kok kalau kamu sama si cupu itu gak ada hubungan apa-apa," jawab Radit
Janie menatap tangan Radit yang terluka karena perkelahian kemarin dengan Ken.
Sebenarnya ia merasa bersalah karena sudah membuat pria itu terluka karena Ken, itulah sebabnya hari itu Janie menerima permintaan maaf darinya.
"Janie!"
__ADS_1
Janie langsung menoleh kearah Ken yang baru tiba. Lelaki itu tampak menawan dengan setelah denim dengan sepatu sport putih biru.
Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya kearah gadis itu. Tentu saja hal itu membuat Radit semakin tak menyukainya.
Ngapin lagi sih tuh cowok udik datang kemari!
Namun Radit berusaha menahan emosinya demi Janie. Bahkan saat Ken berlari menghampiri Janie dan membuat perhatian gadis itu teralih padanya.
Sementara itu Mila yang sudah menunggu kedatangan Ken kemudian mengeluarkan kotak nasi berisikan daun kelor yang sudah ia persiapkan.
Melihat Janie begitu akrab dengannya membuat Mila merasa kesal dengan Ken.
Dasar Jin jahat kau pasti sedang berusaha menjerat Janie agar bisa menjadi budakmu, kali ini aku tidak akan membiarkan kau mencelakai Janie.
Mila kemudian mengambil segenggam daun kelor dan menaburkannya ke arah Ken hingga pria itu jatuh terkulai ke tanah.
"Ah panas!" seru Ken sambil menutupi wajahnya.
"Ken, kamu kenapa?" tanya Janie berusaha mendekatinya
Namun Mila langsung menariknya, "Jangan dekati dia, dia Jin jahat yang akan mencelakai mu!" ucap Mila
"Jangan sok tahu Mil, dia bukan seperti yang kau katakan," jawab Janie
"Jadi kau sudah tahu jika dia itu bukan manusia??"
Mila tak mengira jika selama ini Janie sudah tahu jika Ken bukan manusia, namun Janie malah mau berteman dengannya.
"Sudahlah Jan jangan di tangisi, Jin seperti dia tak pantas untuk dikasihani. Aku yakin dia lah yang sudah mencelakai Melvin dan Audi, dan sekarang ia sedang mentargetkan kamu. Aku tak mau kau menjadi korban selanjutnya Jan untuk itu sadarlah!" tukas Mila berusaha menasihatinya
"Jangan sok tahu, kau tidak tahu apapun tentang Ken jadi berhenti menyalahkan Ken!" seru Janie
"Sabar Jan, sepertinya kamu sudah diperdaya olehnya," tukas Mila kemudian melempari Janie dengan daun kelor yang dibawanya.
"Dasar gila, kau pikir aku kesurupan apa!" hardik Janie
Mila mundur beberapa langkah dan saat melihat Janie menatapnya nyalang.
"Pergi dari tubuh sahabatku!" hardiknya
Janie segera meninggalkan Mira. Gadis itu bergegas menuju ke toilet. Di sana ia berusaha memanggil Ken, namun pemuda itu tak juga muncul.
Kamu dimana Ken, apa kamu terluka??
Janie yang begitu khawatir tak bisa berbuat apa-apa selain mencemaskan nasib Ken.
Janie memilih untuk pulang, karena tak nisa konsentrasi belajar.
Angel yang melihat Ken tak bersama Janie menyuruh Deden untuk mendekati gadis itu.
__ADS_1
Deden pun menurut. Ia mendekati Janie dan mengajaknya bolos bareng.
"Tumben kamu mau bolos memangnya ada masalah apa?" tanya Janie
"Kamu tahu kan kalau ayah dan ibuku selalu bertengkar di rumah, aku jenuh dengan semua itu. Aku ingin hidup bahagia seperti yang lainnya Jan. Punya teman, keluarga yang harmonis dan juga kekasih," jawab Deden
"Apa kau lupa kalau kau masih punya aku, kita sudah berteman dari kecil, jadi jangan merasa sendiri. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu," jawab Janie
Deden menghentikan langkahnya.
"Kau dulu memang sahabatku Jan, tapi setelah kau jadian dengan Radit semuanya berubah," kenang Deden
"Tak ada yang berubah Den, hanya saja akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan kegiatan ku,"
"Malam ini adalah ulang tahunku, apa kau mau datang untuk merayakan pesta ulang tahunku?" tanya Deden
"Dimana?"
"Nanti aku jemput kamu," jawab Deden
"Ok,"
Malam pun tiba, Deden datang menjemput Janie dan membawanya pergi ke suatu tempat untuk merayakan ulang tahunnya.
Janie begitu terkejut saat mengetahui Deden mengajaknya kesebuah kafe dikawasan kota tua.
Janie tampak enggan melangkahkan kakinya saat Deden mengajaknya masuk, seolah hati kecilnya melarangnya untuk menginjakkan kaki di sana.
"Ayo masuk," ajak Deden
"Sebentar," Janie terlihat merapikan penampilannya sambil melihat ke sekelilingnya.
Meskipun bangunan kafe terlihat angker namun pengunjungnya begitu rame.
Jangan masuk Janie....
Lagi-lagi Janie menghentikan langkahnya saat ia mendengar kalau hati kecilnya melarangnya.
Melihat Janie yang ragu-ragu Deden pun menghampiri gadis itu dan menggandengnya.
"Jangan kelamaan mikir Janie, nanti keburu tutup kafenya," pungkas Deden
"Ok," Janie pun memantapkan hatinya dan melangkah bersama Deden.
Saat memasuki pintu masuk kafe Janie merasakan kepalanya terasa pusing. Ia tetap melangkah masuk karena mengira itu hanya pusing biasa. Toh Janie memang mengidap Migrain akut.
Sesampainya di dalam ia mulai merasakan sesak seperti ruangan itu dipenuhi oleh banyak orang, padahal ada beberapa bangku yang kosong karena kafe tidak terlalu ramai.
Semakin lama rasa sesak membuat kepala gadis itu semakin pusing hingga ia merasa kepalanya hendak pecah.
__ADS_1
Saat ia tak bisa menahan sesak di dadanya Janie pun pingsan