
"Bagaimana bisa ada manusia biasa, masuk ke ruangan ini. Apa kalian cari mati!" hardik Sari
*Tak, tak, tak!!
"Janie, kamu gak papa sayang?" tanya Radit menghampiri kekasihnya
"Stop, jangan dekat-dekat!" ucap Janie
"Emangnya ada apa sayang,"
Radit membalikkan badannya karena penasaran. Tiba-tiba dihadapannya muncul sesosok makhluk bertubuh besar dengan mata besar dan berwarna merah, seluruh badannya ditumbuhi bulu-bulu panjang. Seketika Radit langsung pingsan saat melihatnya.
*Buughhh!!!
Saat makhluk itu berusaha mendekati Radit, Janie langsung menyemburnya dengan air kopi.
*Byuurr!!
"Jangan sentuh pacar cucuku Ferguso, kalau kau tak mau ku pulangkan ke rumah orang tua mu!" seru Janie
"Emangnya sejak kapan Gondoruwo punya orang tua Jan?" tanya Anas
"Dari dulu kali, lo aja gak pernah update Nas. Makanya gaul dong biar eksis," jawab Janie
"Dih sok asik," cibir Janie
"Gak sopan lo sama orang tua, gue kutuk jadi dukun baru tahu!" sahut Janie
Sementara itu, melihat semua peliharaannya tak mau menyentuh Rinjanie, Sari pun mulai menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan pasukan Parewangannya itu.
"Sssttt, diam," ucap Janie menempelkan telunjuknya di depan bibirnya
Ia kemudian mengeluarkan tiga buah bunga kantil dan menyerahkannya kepada Fikri.
"Makan bunga ini dan rasakan sensasinya," bisik gadis itu membuat Fikri seketika terkesiap dibuatnya
*Tuk!
Anas seketika menempelkan telapak tangannya di kening Janie.
"Sepertinya kamu salah minum obat Jan,"
"Sembarangan, gak sopan lo sama orang tua!" cibir Janie kemudian menyingkirkan tangan adiknya
"Lo gak tahu gue siapa!" imbuhnya sambil berkacak pinggang
"Rinjanie anaknya bapak Lingga, salah emang!"
"Semprul emang si Anas ya, hadeeh kok bisa Lee punya anak kaya lo, polos sepolos kain kafan," jawab Janie terkekeh
"Kampret lo Jan, ngatain gue kain kafan,"
"Wkwkwk, minggir. Sebaiknya kamu jagain si Radit jangan sampai dia dirasuki oleh para lelembut itu. Nih gue kasih modal," Janie kemudian menyuruh Anas untuk menyingkir setelah memberinya satu bunga Kantil
"Cih, kayaknya si Janie kerasukan deh, masa ngasih modal gue kembang kantil, creepy banget dia, diih!" ucap Anas bergidik ketakutan
Ia buru-buru menghampiri Radit yang masih tak sadarkan diri.
Sementara Fikri mulai memakan bunga kantil itu sesuai perintah Rinjani.
*Blasss!!
Tiba-tiba Fikri melihat ruangan itu berubah menjadi sebuah istana.
__ADS_1
"Apa tempat ini menyimpan banyak sihir??"
"Tepatnya teluh dan santet Fik. Kamu kan udah pernah jalan-jalan ke istana Raja Buto Ijo, harusnya kamu lebih peka,"
Bagaimana Janie bisa tahu kalau aku pernah di tahan di istana Raja Buto ijo??
"Mau tau ya?" tanya Janie
"Bagaimana kamu bisa tahu??" ucap Fikri begitu penasaran
"Nanti kamu juga tahu Fik, sekarang sensasinya belum terasa soalnya baru di bawah, belum *******,"
Tiba-tiba Sari duduk terdiam membuat suasana di ruangan itu menjadi hening.
Hanya suara hembusan nafas dan detak jantung yang bisa terdengar.
Janie mulai menghentikan langkahnya.
Ia kini memasang tajam telinganya, sembari mendengarkan pandangannya.
*Tak, tak, tak!
Janie menggerakkan bola matanya saat mendengar suara derap langkah kaki mendekatinya. Ia tersenyum sinis dan membalikan badannya.
Namun tidak ada apapun di depannya, yang ada hanya ******* nafas Fikri yang memburu.
Tidak ada apa-apa???
Kini Janie fokus menatap dua kaki yang berada dibelakangnya.
Kau pikir bisa mengelabuhi ku,
Janie mengepalkan tangannya dan melepaskan tinjunya sambil memutar badannya.
"Kemana dia,"
Tiba-tiba sebuah tinju melesat menghantam wajah Janie.
"Hahaha, bagaimana rasanya dukun cilik!" seru Sari tiba berdiri di samping
"Awww, sialan. Rupanya lo mau main curang. Ayolah!"
"Tapi sepertinya aku harus ganti kolor dulu, kasian si Janie bisa bonyok mukanya kalau gue tetap mode cool," jawab Janie
"Tunggu ya, jangan nyerang dulu!"
Tiba-tiba Janie jatuh terkulai di lantai, membuat Sari terkesiap dan menghampirinya.
"Kenapa dia, apa dia mati karena pukulan ku??"
"Tapi gak mungkinlah, masa dukun sekelas dia langsung K.O hanya dengan satu tinju biasa?" ucap Sari kemudian menopang dagunya
Saat Sari hendak memeriksa nafas gadis itu, tiba-tiba Janie langsung bangun, Fikri yang khawatir pun langsung menariknya kedalam pelukannya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Fikri
Janie mengangguk kemudian melepaskan pelukannya.
Janie langsung membalikkan badannya saat mengetahui Sari berusaha menyerangnya lagi.
Kali ini ia melompat menghindari pukulan wanita itu membuat Anas langsung bangun dan berdiri.
"Anj*r, sejak kapan si Janie jadi Wonderwoman, sampai bisa terbang gitu?"
__ADS_1
Janie kemudian melesat turun dN menghantam tubuh Sari hingga ia terhempas membentur dinding.
"Dug!
Sari segera mengambil keris yang tergeletak di samping baki sesaji.
Ia kemudian menghunus keris itu tepat mengenainya jantung Sari.
*Jlebb!!
Bola mata membulat sempurna saat Janie menghunuskan keris kepadanya.
Sari memegangi perutnya kemudian tumbang di lantai.
"Mbak Sari bangun mbak!" seru Jalu berusaha membangunkannya
"Dia gak akan bangun sampai kapanpun!" seru Janie
"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum tempat ini aku robohkan !" seru Janie
"Tidak mungkin, Mbak Sari tidak akan pernah mati!" sahut Jalu
"Emangnya dia itu Tuhan apa, sampai gak bisa mati!"
"Mbak Sari Tidak akan pernah mati sebelum ka bisa menghabisi semua makhluk jahat di muka bumi ini;" sahut Jalu
"Kau pikir di itu Wonderwoman apa, atau Catwoman?"
Jalu kemudian mengambil baki sesaji ya tak jauh dan menaburkan bunga tujuh rupa ke tubuh Sari.
Sementara itu Janie kemudian mengusap wajah Radit yang masih belum percaya dengan ucapan Jalu. Saat ia hendak pergi meninggalkan Tempat itu,
"Bagaimana bisa ia masih hidup?"
"Impossible!" seri Janie dan teman-temannya
.Saat ia hendak bergegas pergi bola mata Sari yang sebelumnya tertutup kini terbuka dan berwarna hitam pekat.
*Deg!
Janie menghentikan langkahnya sat mencium aroma tak biasa dari tubuh Sari.
Hal yang sam juga terjadi pada Fikri, ia masih ingat betul bagaimana bau khas ini yang pernah ia temui saT mengunjungi istana Raja Buto Ijo.
"Bau ini...." Janie langsung membalikkan badannya dengan cepat.
Sementara itu Sari mendesis keras membuat Jalu tersenyum senang dan menghampirinya.
"Aku tahu kamu akan bangun lagi mbak," ujar Jalu
Lelaki itu buru-buru mengambil secangkir darah ayam hitam dan memberikannya kepada wanita itu.
*Wushh!!
Tiba-tiba Janie melesat dan menyambar gelas itu darinya, membuat Jalu terkesiap melihatnya.
"Siapa sebenarnya dirimu?" tanya Jalu
"Perkenalkan saya adalah titisan raja Singosari Gilang!"
*Klontang!!!
Tiba-tiba semua orang tampak terkejut saat mendengar nama Janie.
__ADS_1
"Sepertinya digaan ku, di rasuki oleh Om Gilang. Tapi gimana ceritanya??"
"Semuanya bisa saja terjadi atas izin Allah, Kun Fayakun!"