PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

Fikri akhirnya mengikuti Janie dan Mila menuju ke kawasan wisata di daerah Bandung.


Meskipun ia masih belum tahu kedua gadis itu akan membawanya kemana namun demi menjaga Janie iapun ikut saja tanpa bertanya.


"Apa kau yakin Deden ada di sana Jan?" tanya Mila mulai membuka obrolan


"Aku yakin seratus persen Mil. Secara mereka itu ketemu di sana pasti mereka juga akan melakukan ritual di sana. Seperti kata Ken yang mengatakan jika gua itu sebenarnya adalah istana Angel, jadi itu sudah menguatkan prediksi ku," jawab Janie


Sementara Mila dan Janie asyik berbincang, Fikri justru terlelap hingga mendengkur keras membuat kedua gadis itu langsung menoleh kearahnya.


"Astoge, bisa-bisanya dia tidur di mobil sambil ngorok!" cibir Mila


"Mungkin dia lelah Mil, secara perjalanan dari Temanggung ke Jakarta itu lumayan lama dan melelahkan," jawab Janie


Mila bahkan sampai menyumbat telinganya menggunakan ear phone.


Pukul sembilan malam, Mila menghentikan mobilnya di sebuah vila yang tak jauh dari kawasan wisata.


Ia segera memesan dua kamar dan langsung memasukkan barang-barang mereka.


Setelah memastikan perut mereka kenyang Janie kemudian mengajak Mila untuk bergegas menuju ke gua tempat Deden akan melakukan ritual.


"Ini gak bisa di tunda besok saja Jan, sudah malam banget pasti kan tempat wisatanya tutup," tanya Mila saat Janie hendak pergi ke tempat wisata dimana Deden berada.


"Gak bisa Mil, harus sekarang. Karena jika kita menunggu sampai besok maka aku takut Deden akan mati atau sebaliknya, dia menjadi kuat karena ilmu yang diberikan olah Angel padanya," jawab Janie


"Tapi kan tempat wisata ditutup saat malam. Memangnya kau mau lewat mana untuk bisa masuk ke sana jika gerbangnya saja di tutup Janie!" seru Mila


"Banyak jalan menuju Roma," jawab Janie kemudian bergegas pergi disusul oleh Mila.


Keduanya tampak kecewa saat melihat gerbang tempat wisata ditutup.


"Tuh kan gue bilang juga apa, ngeyel sih lo!" cibir Mila


"Tetap saja aku akan masuk kedalam bagaimanapun caranya," Jawab Janie


Ia tetap bersikeras untuk masuk kedalam tempat wisata itu apapun resikonya. Ia kemudian berkeliling mencari pintu masuk, meskipun sudah mengelilingi tempat itu namun mereka belum juga menemukan pintu masuk tempat wisata tersebut.


Namun Janie tak kehabisan akal, ia mengajak Mila untuk kembali mengelilingi tempat itu dan berhasil menemukan pintu masuk darurat.

__ADS_1


"Banyak jalan menuju roma. Akhirnya setelah berputar dua kali ketemu juga nih pintu doremon," celetuk Janie


Ia kemudian memasuki sebuah jalan kecil yang dipenuhi dengan rerumputan dan benalu. Setelah menelusuri rerumputan itu mereka akhirnya tiba juga di tempat tujuan.


Setibanya di dalam, Janie mulai memasang telinganya. Ia sengaja mencari Deden dengan mengandalkan indra pendengarannya.


"Sst, diam," ucap Janie sengaja membungkam mulut Mila.


"Aku mendengar sesuatu," ucap Janie kemudian memasang telinganya tajam-tajam.


Ia bahkan bisa merasakan kedatangan para lelembut yang kini menyambutnya.


"Sial, kalian pikir aku datang ke mari untuk bersenang-senang, tunjukan padaku dimana temanku berada!" seru Janie


Tiba-tiba gadis itu merasakan sesuatu menariknya menuju ke suatu tempat.


Ia terkejut saat mengetahui dirinya sudah berada di depan gua tempat dimana Deden bertemu dengan Angel.


"Terimakasih," ucap Janie membuat Mila merinding dan langsung mengusap bulu kuduknya


Ia mulai mencoba untuk masuk namun Fikri melarangnya.


"Tapi aku harus membawa Deden keluar!" seru Janie


"Dia tidak ada di sini," jawab Fikri


"Jika dia tidak ada di sini lalu dimana?" tanya Janie lagi


Fikri kemudian mengusap wajah Janie dan tiba-tiba Janie berada di sebuah gurun pasir.


Ia langsung terkesiap saat menyadari dirinya berada di tempat asing. Ia lebih terkejut saat melihat Deden bersama Angel berada di sebuah tempat peraduan di tengah-tengah gurun.


"Deden!" serunya berusaha memanggilnya


Namun sialnya Deden tak melihat kedatangan Janie. Ia masih terbuai dengan kemolekan tubuh Angela.


"Dia tidak akan bisa mendengar mu!" sahut Fikri


"Sekarang kau tinggal pilih Deden, kau mau memberiku apa sebagai imbalan jika aku memberikan kekuatan dan harta untukmu?" tanya Angel

__ADS_1


"Imbalan??" Deden tampak tercengang mendengar ucapan Angela


"Tentu saja, anggap saja itu sebagai mahar untuk perjanjian kita. Kau bisa memilih dari dua benda di depan mu!" seru Angel


"Aku kira kau benar-benar tulus membantuku selama ini, tapi ternyata kau sama saja dengan yang lain," jawab Deden


Seketika Angel menertawakan sikap naif Deden.


"Tak ada yang gratis di dunia ini Deden. Jika di duniamu kau harus berkerja untuk mendapatkan uang maka di duni gaib pun sama. Jika kau mau harta yang berlimpah maka kau harus menukarnya dengan mahar atau biasa disebut dengan tumbal," terang Angela


"Jadi begitu rupanya," Deden memalingkan wajahnya dan menatap kearah dua mahar yang diminta Angela.


Deden melihat sebuah pohon pisang yang sudah tua dan tak memiliki buah. Yang kedua adalah sebuah kuda jantan yang terlihat sangat gagah dan kuat.


"Aku pilih pohon pisang ini?" ucap Deden


Angel kemudian memberikan sebuah golok dan menyuruh Deden untuk menebas pohon pisang tersebut.


Deden segera menerima golok pemberian Angel dan menghampiri pohon pisang di depannya. Saat ia hendak mengayunkan goloknya ia tiba-tiba ia melihat ibunya yang sedang mencuci tumpukan pakaian. Wajah lelah dan letih terlihat jelas dalam diri Sofia yang bekerja sebagai buruh cuci gosok.


Deden tahu benar jika ibunya akan melakukan apapun demi membiayainya kuliah.


"Ibu!!" Buru-buru Deden melemparkan goloknya saat menyadari ia harus membunuh ibunya untuk di jadikan sebagai tumbal


"Kenapa kau ragu Deden?"


"Aku tidak bisa membunuh ibuku, bagaimanapun juga aku bersedia bersekutu denganmu karena ingin membahagiakan ibuku, jadi mana mungkin aku tega membunuhnya hanya," jawab Deden


"Aku tidak mau membunuh ibuku, apa tidak ada cara lain. Bisakah kau meminta mahar lain selain ibuku, aku tidak bisa membunuhnya. Dia adalah alasanku bertahan hidup dan bersekutu denganmu tentunya, jadi aku mohon Angel, jangan ibuku," ucap Deden meminta keringanan


"Jika kau tak bisa mengorbankan ibumu maka pilihlah kuda jantan itu," tunjuk Angel


Kali ini Deden begitu penasaran dengan kuda itu. Jika sebelumnya ibunya diibaratkan sebagai pohon pisang lalu siapa kuda jantan itu?.


Deden berjalan perlahan mendekati kuda itu dan mengusapnya.


Saat Ia sedang membelainya dengan penuh kasih, tiba-tiba ia melihat dirinya yang harus melayani Angel di atas ranjang berkali-kali.


Seketika wajah pemuda itu kembali berkaca-kaca. Kini ia benar-benar dilanda kebimbangan antara memilih dirinya atau sang ibu tercinta yang harus ia tumbalkan kepada Angel

__ADS_1


__ADS_2