
"Anas,"
Ku lihat Anas tampak kebingungan berjalan mondar-mandir di depan sebuah pohon besar.
Wajahnya tampak pucat dengan tatapan mata yang kosong. Kutarik lengannya namun ia tak mengenaliku.
"Siapa kamu?"
"Aku Fikri?" jawabku
Lagi-lagi ia seperti orang linglung saat mendengar namaku. Entah apa yang membuatnya jadi seperti ini.
Namun aku tetap membujuknya pergi meskipun ia selalu menolak bila ku ajak pergi.
Aku tak putus asa dan terus meyakinkan dia kalau aku adalah temannya dan aku tidak akan berbuat jahat padanya. Tapi tetap saja Anas tidak pernah percaya padaku. Disaat aku mulai putus asa, aku teringat bagaimana Anas berusaha membantuku. Setidaknya itu yang bisa menguatkan aku untuk bisa membawa Anas kembali.
Aku hanya bisa memeluknya sambil beberapa kali membaca ayat kursi untuk menyadarkannya.
Namun hasilnya nihil, ia masih belum mengenaliku.
"Pelan-pelan saja Fik, dia belum ngumpul," ucap Om Barra kemudian menuntut kami keluar dari tempat itu.
"Ngumpul?"
"Iya, sama seperti orang yang baru bangun tidur, ia belum bisa mengingat semuanya. Ia juga baru saja terbebas dari alam gaib jadi wajar saja kalau dia masih linglung," terang Om Barra
Karena melihat ku sudah putus asa, Om Barra kemudian mengusap wajah Anas hingga membuat ia mulai melunak dan mau ku ajak pergi meninggalkan tempat itu.
Perlahan kami meninggalkan gurun pasir itu dan mulai menerobos rimbunnya hutan pinus. Entah sudah berapa kilometer kami berjalan sehingga ku rasakan kakiku begitu letih dan pegal.
Menyusuri hutan dan gurun pasir, membuat kami seakan menembus ruang dan waktu yang berbeda. Hingga pada akhirnya tiba kami harus meniti sebuah jembatan dimana dibawahnya terdapat sungai yang yang dipenuhi oleh ribuan buaya yang siap memangsa siapapun yang jatuh.
Jembatan maut, itulah julukannya.
Konon jembatan itu adalah pembatas antara alam gaib dan alam manusia. Dimana banyak arwah bergentayangan untuk mengganggu orang-orang yang menyebrang agar tidak sampai ke alam dunia. Hanya orang-orang berhati bersih yang bisa meniti jembatan itu dengan selamat. Bahkan Om Barra mengatakan jika hanya dua puluh lima persen saja manusia yang masuk ke alam gaib yang bisa melewati jembatan itu dengan selamat.
"Fokus dan jangan melihat ke bawah, abaikan mereka!" seru Om Barra membuat ku kembali fokus menatap ke depan
Memang tak mudah melewati jembatan itu, karena banyak rintangan yang harus kami hadapi. Terutama kita akan berjumpa dengan arwah orang-orang yang kita sayangi. Mereka akan berusaha menahan kita untuk tetap tinggal. Jembatan yang hanya satu titian itu begitu kecil sehingga saat kita tidak fokus dan salah sedikit saja kita bisa tergelincir dan tewas di mangsa para buaya yang ganas.
Alhamdulillah akhirnya kami tiba juga disebuah gerbang dan saat pintu gerbang terbuka maka mataku pun mulai terbuka.
Aku segera bangun dan menatap ke samping. Ku lihat Anas mulai menggerakkan tangannya.
"Alhamdulillah, akhirnya Anas kembali juga,"
__ADS_1
Ku lihat senyumnya langsung mengembang saat menatapku.
"Fikri,"
Ia langsung memelukku erat, "Terimakasih Fik, sudah membawaku kembali,"
"Sama-sama Nas,"
 Suasana hening membuat kami merasa curiga. Apalagi saat tak ku lihat jejak Om Barra.
"Sepertinya ada yang tidak beres," Anas menarik lenganku melangkah menuju ke halaman belakang rumah.
"Aku yakin terjadi sesuatu di sana," ucap Anas
"Aku juga berpikir begitu,"
Kami menghentikan langkah saat melihat sesosok wanita berkerudung hitam yang menahan kami.
"Pergi dan cari bantuan," ucap wanita itu
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Sebelum semuanya terlambat pergi dari sini dan cari bantuan!" kali ini nada ucapan wanita itu mulai meninggi
Ia bahkan mendorongku saat aku berusaha melangkah maju untuk melihat apa yang terjadi di sana.
Anas berlari menghampiriku dan membantuku berdiri.
"Sebenarnya siapa kamu, kenapa kau mengikuti ku?"
"Kau pikir aku mau mengikuti mu, jangan ge er aku mengikuti mu karena ada ikatan kita di kehidupan sebelumya. Meskipun begitu jangan berpikir kalau aku adalah Parewangan mu," jawab wanita itu dengan tatapan dingin
Ku dengar suara jeritan memilukan membuatku benar-benar penasaran dan langsung berlari kearah sumber suara itu.
Aku tak peduli dengan teriakan suara wanita itu yang berusaha menghentikan aku.
Aku lihat ketiga Om Ganteng tampak mengerang kesakitan saat seorang wanita cantik menyeramkan menyiksanya dengan kekuatan gaibnya.
Sementara itu Bik Sumi tampak membunyikan lesung dengan irama riang.
Di depan gudang ku lihat Abu tergeletak bersimbah darah. Seketika kakiku mati rasa, ingin ku berlari menolong salah satu dari mereka tapi apalah daya kakiku tak bisa bergerak.
Saat aku mulai membaca ayat-ayat Alquran tiba-tiba ku rasakan seseorang seperti mencekik ku dan membawa tubuhku terbang.
Wanita berkerudung hitam terlihat berusaha menolong ku dengan kekuatannya.
__ADS_1
Dadaku terasa panas karena aku tidak bisa bernafas. Ku rasakan semuanya mulai gelap.
*Bruugghhh!!
Saat aku terjatuh wanita berkerudung hitam pun ikut jatuh.
Tiba-tiba sebuah cahaya terang membuatku terjaga.
"Ranum,"
Gadis itu menuntunku berjalan menghampiri Om Barra.
"Dia adalah khodam penjagamu, kalian akan kuat jika bersatu," ucap Ranum kemudian menyatukan tanganku dengan tangan Om Barra.
Seketika Om Barra membuka matanya. Ia segera bangun dan berdiri. Sorot matanya berubah tajam dengan otot-otot tangannya yang mulai terlihat membesar.
"Wah Bar-bar sudah berubah," celetuk Om Gilang kemudian berusaha bangun
"Hmm," Om Rangga pun tampak membuka matanya.
Kini Om Barra menggandengku menghampiri wanita cantik yang merupakan PAREWANGAN Bik Sumi.
Wanita itu kini berubah menjadi sosok wanita menyeramkan dengan rambut panjang dan kuku-kukunya yang tajam.
Ia melesat terbang dan menyeret om Barra terbang bersamanya.
Saat melihat kedua makhluk gaib itu bertempur aku juga merasa harus bertindak.
Melihat Bik Sumi terus memukul lesung, aku yakin sumber dari kekuatan jahat itu ada pada lesung itu.
Aku bergegas menghampiri Bik Sumi.
"Hentikan Bik,"
Aku berusaha menghentikannya dengan cara halus mengingat jasa Bik Sumi yang sudah merawat ibuku selama ini. Tapi sepertinya Bik Sumi memang tidak mau diperingatkan dengan halus. Ia bahkan menyerangku dan berusaha membunuhku dengan kekuatan supranaturalnya.
*Brakkk!!
Tubuhku terlempar menghantam dinding sumur. Bik Sumi menghampiri ku dan mengangkat tubuhku dengan kekuatannya. Ia berusaha membunuhku dengan cara memasukkan tubuhku ke dalam sumur.
Beruntung ada Abu Musa yang nasih berusaha menolongku.
Bik Sumi seolah mendapat lawan sebanding hingga ia berhenti menyiksaku. Kini ia fokus menyerang Abu Musa.
"Dasar tua bangka, kau pikir aku akan membiarkan mu mengacaukan rencana ku?"
__ADS_1
"Padahal aku sudah mencoba mengampuni mu Ustadz, tapi sepertinya memang ingin mati!" seru Bik Sumk