
"Halo??" Suara Janie tampak bergetar saat mengangkat telepon masuk dari orang yang tak dikenal itu
"Halo sayang??"
Seketika netra perempuan berambut panjang itu membulat, melati dalam genggamannya jatuh berurai ke lantai dan tubuhnya seketika lemah setelah mendengar suara itu.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?"
*Brakk!!
Seketika Janie membuang ponselnya saat mendengar suara itu kembali memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Tidak mungkin,"
Keringat dingin mulai memenuhi keningnya, iris matanya mulai bergerak menatap setiap sudut ruangan, seolah ia sedang mencari sesuatu.
Kini ia berusaha mendekati Sofia, satu-satunya korban yang masih hidup dan masih ada di tempat itu.
"Tante?"
Janie berusaha mengguncang tubuh wanita itu, untuk mendapatkan reaksi Sofia yang hanya diam tak bergerak. Sofia mulai membuka matanya, namun wanita itu tak bereaksi apapun dan hanya diam mematung.
"Tante sadar Tante, kita harus pergi dari sini Tan," Janie terus berusaha membangun interaksi dengan wanita itu.
Senyumnya mulai merekah saat ia melihat bola mata Sofia mulai bergerak. Janie langsung menggandeng lengan wanita itu dan membantunya berdiri.
"Sekarang Tante di rumah Janie dulu supaya aman,"
Sofia yang masih linglung hanya diam dan mengikuti Janie keluar.
*Brakkk!!
Tiba-tiba keduanya pun berhenti saat pintu rumah tiba-tiba tertutup sendiri.
"Sial ada apa lagi ini!" gerutu Janie
Reflek ia menoleh kearah Sofia untuk menenangkannya.
Tapi wanita itu justru mencekiknya hingga Janie kesulitan bernafas dan ambruk.
*Bruughhhh!
Saat merasakan Janie dalam bahaya Fikri Pun terbangun. Ia langsung membuka matanya.
"Janie!"
Fikri kemudian segera bangun dan mencari pintu keluar.
Baru beberapa langkah ia bejalan tiba-tiba ia merasa seseorang menarik kakinya hingga ia jatuh.
__ADS_1
*Bruughh!!
Seorang wanita dengan berpakaian putih polos dipenuhi darah merayap mendekatinya.
"Owa, owa, owaaa!!"
Saat Fikri berusaha melepaskan tangan wanita itu dari kakinya, tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi yang membuatnya merasa Iba.
Selesai melepaskan lengan hantu wanita dari kakinya, kini Fikri menuju ke sebuah kamar mandi tempat dimana asal suara bayi itu. Sesosok bayi yang masih merah dipenuhi darah tergeletak diatas toilet, kepalanya bahkan masuk kedalam lubang pembuangan.
Fikria segera mengambil bayi itu dan menggendongnya. Namun bayi yang sepertinya baru dilahirkan dan dibuang ke toilet itupun terus menangis tanpa henti.
"Kasian sekali bayi ini, siapa yang tega membuangnya di toilet,"
Awalnya Fikri memang tak curiga dengan bayi itu yang sekilas terlihat normal sama seperti bayi pada umumnya.
Bahkan tali pusarnya masih ada dan belum terpotong. Akan tetapi semuanya berubah saat ia hendak melangkah keluar dari toilet. Kepala bayi tiba-tiba membesar dan langsung menyerang Fikri.
Pemuda itu langsung melemparkan bayi yang hendak menggigitnya tersebut.
Ia kini bukan saja hantu wanita dan bayi saja yang ada disana, namun beberapa lelembut penghuni rumah itu bermunculan dan mengepung Fikri.
Di sana ia juga melihat Deden dan Audi yang bergabung dengan para hantu itu.
"Tempat apa ini, apa ini seperti kuburan masal atau tempat berkumpulnya para arwah, atau Neraka??"
"Hihihi!!"
Saat ia sedang kewalahan menghadapi para demit itu sendirian tiba-tiba Bara dan Rangga pun muncul untuk membantunya.
"Hadeeh, gak manusia gak hantu pada seneng amat ya main keroyokan. Emang bener sih kalau sesuatu yang dilakukan bareng-bareng itu lebih nikmat. Kaya selogan sebuah iklan cigarette kesukaan sejuta umat, Gak ada Lo gak rame, eaaaa!" ujar Barra
"Maka dari itu kita datang kemari buat bantuin Fikri," sahut Rangga
"Tapi gak lengkap kalau gak ada Gilang,"
"Kan dia emang jatahnya bantuin cucu gue si Janie," jawab Rangga
"Kenapa gak lo aja yang bantuin dia Ran, secara lo kan kakeknya,"
"Sepertinya Janie dan aku berada di elemen yang berbeda,"
"Elemen apaan sih Ran?"
"Dia itu penguasa elemen air, sedangkan aku kan elemen api jadi gak cocok," jawab Rangga
"Buset, emang kalian Keluarga Avatar apa!"
"Iya dong, masa lo baru tahu Bar. Avatar ( Abdi vengusir Setan dan rekan-rekannya),"
__ADS_1
"Ya ampun aya-aya wae si Rangga,"
Sementara itu Fikri yang sudah kelelahan
"Om Tolong Fikri Om!" seru Fikri saat para lelembut itu berusaha memperebutkan tubuhnya untuk dimakan.
"Astoge, tuh demit kasian banget pada kelaparan sampe si Fikri jadi rebutan," ucap Rangga menggeleng kepalanya
Lelaki berhidung mancung itu kemudian mengeluarkan segenggam beras kuning dan. Menaburkannya ke udara membuat para demit itu langsung berlarian mengejarnya.
"Kamu gak papa Fik?" sapa Barra menghampirinya
"Iya Om, Alhamdulillah aku baik-baik saja,"
Rangga kemudian menghampiri mereka berdua dan membantu Fikri berdiri.
"Emang hanya dukun yang paling mengerti para hantu, ck, ck, ck!"
"Namanya juga bestie, ya gitu lah Bar,"
Ketiga pria itu dikejutkan dengan kedatangan seorang pria dengan pakaian khas pria jawa dengan buku yang dipeluknya.
"Astoge, ku pikir cuma bakso doang yang gepeng, ternyata muka juga ada yang gepeng," ucap Rangga
"Bukan gepeng Om tapi rata," sahut Fikri
"Iya juga sih, btw kenapa mukamu sampai rata begini. Memangnya kamu meninggal karena kecelakaan apa karena KDRT atau mall praktik?" tanya Rangga lagi
"Maaf anda tidak perlu tahu," jawab pria yang menggunakan blangkon itu
"Oh maaf ya, ternyata hantu juga punya privasi seperti manusia juga toh," celetuk Rangga
"Ada keperluan apa anda datang ke sini?" tanya Fikri
"Sudah lama sekali rumah ini tidak pernah di datangi oleh manusia bahkan nyaris tak ada seorangpun yang berani memasuki rumah ini, tapi entah kenapa Ki Bajul mengirim anda ke sini?"
"Ki Bajul siapa dia?" tanya Fikri
"Dia adalah dukun santet tersakti di tanah Jawa," jawab Rangga
"Betul sekali Aki," ucap pria itu
"Lo kenal sama dia Ran?" tanya Barra
Rangga mengangguk. Ia kemudian keluar dari ruangan itu untuk memastikan sesuatu.
Rangga menatap lekat bangunan kuno yang berbentuk rumah khas suku jawa itu. Di depan pintu jelas tertulis nama tempat itu menggunakan aksara Jawa.
"Jadi ini Griya Arwah, tempat dimana semua korban Bajul di kumpulkan. Dasar bajing*n, tidak puas dia menyiksa para arwah itu saat mereka hidup. Bahkan setelah mereka mati pun masih di siksa di tempat ini tanpa dibiarkan mereka mati dengan tenang," Rangga kembali masuk menemui lelaki bermuka rata itu.
__ADS_1
"Bagaimana caranya agar aku bisa membebaskan arwah-arwah itu dari sini?" tanya Rangga
"Tidak ada satupun makhluk gaib yang bisa mengeluarkan mereka dari tempat ini. Hanya manusia yang masih hidup yang bisa mengeluarkan mereka dari tempat ini. Itupun ia harus kekuatan supranatural yang tinggi agar bisa menghadapi Ki Bajul,"