PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN 34


__ADS_3

"Sugeng Ndalu Fikri ( selamat malam Fikri)"


*Deg!


Seketika mendadak tubuhku membeku melihat sosok Wanita di depanku.


Apakah dia makhluk gaib yang akan mengambil nyawaku. Aku benar-benar ketakutan saat ini. Tak ada seorangpun di sini, aku sendirian. Keringat dingin mulai membasahi keningku yang menandakan jika aku benar-benar ketakutan.


Meskipun wajahnya tidak begitu menyeramkan, namun wanita itu berhasil membuatku membeku hingga wajahku memucat saat semakin lama berhadapan dengannya.


Saat aku hendak berteriak wanita itu menggerakkan tangannya hingga membuat lidahku seketika kelu.


Aku bagai patung yang tak bisa bersuara. Perlahan ia mendekati ku dengan sorot matanya yang tajam seolah ingin menghabisi ku.


Ia mendongakkan daguku menyisakan rasa sakit yang begitu perih hingga darah segar mengalir dari leherku.


"Sekarang waktunya kau membayar semuanya Fikri, kau harus membayar apa yang sudah ibumu lakukan," ucap wanita itu dengan tatapan penuh dendam


Sepertinya ia sangat membenci ibuku dan ingin menumpahkan segala kemarahan dan kebenciannya kepadaku.


Entah apa yang sudah dilakukan ibu kepadanya hingga ia belum bisa memaafkannya meskipun ibu sudah tidak ada.


Ia kembali menempelkan tangannya dileher ku. Aku yakin dia ingin mencekik ku lagi. Tapi herannya aku tak bisa bergerak ataupun menghindarinya.


Tubuhku tibaub333


Saat wanita itu hendak mencekik ku, sebuah angin kencang menghempaskan tubuh wanita itu.


Aku harap itu adalah bala bantuan yang datang menyelamatkan aku.


Entah kenapa wanita itu tiba-tiba menghilang setelah terkena hembusan angin.


Aku pikir dia sengaja melarikan diri. Tapi dugaanku salah. Tiba-tiba ku lihat api menyala tepat di tempat wanita itu menghilang. Api dengan cepat melahap semua benda-benda yang mudah terbakar. Seluruh ruangan kini sudah di lalap oleh si jago merah.


Aku berusaha untuk menyelamatkan diri dan pergi dari tempat itu. Namun sialnya ßllmasih tak bisa bergerak, ku rasakan masih ada kekuatan gaib yang membelenggu diriku.

__ADS_1


Ternyata angin kencang itu adalah angin biasa, bukan kekuatan gaib yang membantu ku mengalahkan makhluk gaib itu.


Mungkin sekarang saatnya aku menyusul ayah dan ibu. Saat aku sudah benar-benar pasrah ku lihat sebuah bayangan putih melesat mendekatiku.


Bayangan itu perlahan berubah menjadi sosok yang aku kenal. Om Barra muncul dan segera menyambar tubuhku dan membawanya keluar.


Suara alarm kebakaran membuat semua tenaga medis buru-buru mengevakuasi para pasien ke tempat yang lebih aman.


"Apa yang terjadi?" tanya Pak De Lingga


"Makhluk itu datang," jawab Om Barra


"Parewangan milik Bu Sri?" tanya Pak De Lingga lagi


Om Barra menggelengkan kepalanya, "Dia adalah makhluk gaib yang dikirim oleh seseorang untuk menghabisi Fikri,"


"Apa Om sudah menangkapnya?" tanya Pak Dhe Lee lagi


"Tidak bisa, makhluk itu terlalu kuat karena ia sudah bersatu dengan pemiliknya itu,"


Ia tampaknya begitu ingin tahu tentang makhluk yang menyerangku tadi.


"Hmm, bisa di bilang begitu, tapi lebih tepatnya ia datang untuk menjawab panggilan dari yang memanggilnya. Jenis Parewangan seperti ini biasanya lebih kuat dari makhluk gaib lainnya apalagi jika ia bersama dengan pemanggilnya." jawab Om Barra


"Kalau begitu biar aku cari tahu siapa yang memanggil Jin itu. Kali aja dia masih belum jauh," kali ini giliran Pak Dhe Lingga langsung turun ke bawah bersama Anas untuk mencari tahu siapa pemilik makhluk gaib itu.


Meskipun ia adalah seorang dukun sakti, namun Pak Dhe Lingga tampak begitu hati-hati dan tidak gegabah dalam mengambil keputusan.


Ia bahkan belum bisa menyebutkan siapa pengirim makhluk gaib yang ditugaskan membunuhku itu, meskipun bisa saja ia menggunakan kekuatannya untuk melihat siapa pelakunya.


Ia yakin jika orang itu pasti adalah orang terdekat ku.


"Semoga saja Gilang berhasil mengejar makhluk itu," Om Barra berjalan mondar-mandir tampak cemas menunggu kedatangan Om Gilang.


Tidak lama Pak De Lingga kembali. Dari tatapan matanya terlihat kalau ia gagal menemukan orang itu. Orang yang sudah mengirimkan jin untuk membunuhku tentunya.

__ADS_1


"Aku sudah mengeceknya ke bawah, tapi aku tidak melihat seseorang yang mencurigakan di sana. Sekarang kita hanya tinggal menunggu Anas yang sedang mengecek rekaman CCTV rumah sakit. Semoga saja Ia bisa menemukan siapa pelaku pengiriman makhluk gaib itu," tukas Pak De Lingga


Namun semuanya kembali kecewa saat Anas tak mendapatkan apa-apa pada cctv rumah sakit.


Setelah api berhasil dipadamkan semua pasien dievakuasi dan di pindahkan ke bangsal Bugenvil yang ada di lantai satu.


Semalaman ini aku tak bisa tidur bukan karena rasa sakit yang ku alami. Tapi aku berusaha lebih waspada dan lebih tepatnya karena aku ketakutan. Aku takut makhluk itu akan datang lagi dan berusaha untuk membunuhku. Meskipun sekarang ada Pak De Lingga, Anas, dan ketiga om Ganteng hantu ada di sini, tapi tetap saja aku tidak merasa bisa tenang.


Peristiwa itu benar-benar membuatku trauma.


Wajah wanita itu masing terngiang dalam benakku sehingga membuat ku susah tidur.


Bagaimanapun juga aku tidak mau bernasib sama seperti ibu yang mati secara mendadak. Aku belum mau mati, aku masih ingin hidup. Masih banyak hal yang ingin aku selesaikan, Itulah alasan ku bertahan hidup dan membuatku selalu terjaga hingga pagi hari.


Pukul 09.00 pagi aku masih terlelap karena semalaman bergadang. Ku dengar ada seorang datang menjenguk.


Suasana seketika menjadi hening dan hanya derap langkah kaki yang terdengar mendekat kearahku.


Kemana perginya Pak Dhe Lee dan Anas, begitupun dengan ketiga Om hantu yang selalu berada di sini menemani ku.


Entah kenapa aku hanya bisa mendengar suara langkah kakinya saja tanpa bisa melihat wajahnya. Itu karena aku tak bisa membuka mataku. Entah karena terlalu ngantuk atau ini hanya mimpi tapi aku benar-benar kesulitan untuk membuka mataku seolah ada sesuatu yang mengganjal.


"Selamat pagi Mas Fikri,"


Kalau dari suaranya dia adalah seorang wanita.


Dari bunyi suara yang ku dengar, Ia meletakan sebuah rantang diatas meja. Seperti adat kebiasaan penduduk desa kami yang selalu membawa makanan saat menjenguk setiap orang sakit.


Aneh, meskipun aku tidak bisa melihat wajahnya tapi aku bisa tahu apa yang dilakukan wanita itu.


Sekarang aku melihat ia duduk di sampingku sambil meletakkan sesuatu. Ia mengangkat tangannya dan meletakkannya diatas kening ku.


Rasanya begitu dingin, seperti diberikan kompres Es. Aku yang sedari tadi merasakan hawa panas karena Ac sudah dimatikan tiba-tiba merasa nyaman karena seluruh tubuh ku terasa sejuk.


Namun setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi.

__ADS_1


__ADS_2