
Pagi itu, Janie tak melihat Deden di kampus. Gadis itu tampak menunggu lama tapi Deden belum terlihat juga batang hidungnya.
"Kemana Deden?"
Karena penasaran iapun menghubungi Deden.
"Nomor yang anda hubungi sedang sibuk?"
Seketika raut wajah Janie tampak kesal saat mendengar jawaban dari mesin penjawab ponsel otomatis.
Kemana sih Deden, gak seperti biasanya. Biasanya dia gak pernah ngilang begini.
Karena Deden tak membalas pesan ataupun panggilannya, Janie pun terpaksa menghubungi orang tua Deden.
"Halo Tante, Deden dimana ya, kok di kampus gak kelihatan?" tanya Janie
"Deden memang gak masuk Jan, hari ini keluarga kami akan pulang kampung karena nenek Deden meninggal,"
"Innalilahi wa inna Ilaihi Raji'un, kalau boleh tahu dimana kampungnya Tante?" tanya Janie lagi
"Desa T di Jawa Tengah," jawab Ibu Deden
"Oh begitu. Bisa tunggu sebentar tidak Tante, Janie pengin ketemu Deden sebentar,"
"Iya Jan, ini masih nunggu ayah Deden belum pulang kerja,"
"Baik Tante, Janie ke sana sekarang ya," jawab Janie
Gadis itu buru-buru melajukan sepeda motornya menuju ke kediaman Deden.
#Kediaman Keluarga Deden
"Den, Janie mau ketemu kamu?" tanya Sofia menghampiri Deden yang sedang membereskan barang-barangnya
Seketika bola mata pemuda itu membulat sempurna mendengar ucapan sang Ibu.
"Bilang aja Deden gak ada mah,"
"Yah Mamah udah terlanjur bilang kamu lagi siap-siap,"
"Ish, mamah kenapa gak tanya dulu sih sama Deden!" seru pemuda itu tampak kesal
"Memang kenapa sih Den, apa kalian lagi ada masalah, kenapa kamu tampak menghindari Janie?"
__ADS_1
"Mamah jangan kepo deh, biasalah urusan anak muda, mamah gak usah ikut campur!" sahut Deden
Ia kemudian membawa tas ranselnya ke luar.
Deden tampak melihat keluar rumah untuk memastikan Janie sudah tiba atau belum.
"Hmm!"
Deden langsung bergegas masuk saat melihat sang ayah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya.
Seorang pria paruh baya turun dari mobil dan memasuki ruang tamu. Ia kemudian menuju ruang tamu dan merebahkan tubuhnya di sofa.
Melihat suaminya datang Sofia segera membuatkan minuman untuknya.
Sambil menikmati kopi hitam lelaki itupun menyalakan rokoknya.
"Apa semua sudah siap?" tanyanya kemudian menghisap rokoknya
"Sudah ayah, tinggal nunggu Deden?" jawab Sofia
"Kenapa kamu lama banget sih Den, cowok kok apa-apa lambat banget kaya cewek saja!" gerutunya
"Memang apa saja yang kamu bawa sampai lama sekali packing nya!" imbuhnya
"Kalau Ayah gak mau nunggu Deden silakan tinggal Deden saja, aku bisa kok berangkat sendirian!" sahut Deden tampak kesal mendengar ucapan sang ayah yang terkesan
"Dasar anak gak tahu diri. Memangnya kau punya duit untuk ongkos sampai ke kampung, lagian kampung ku aja kamu gak tahu kok sok-sokan mau jalan sendiri. Anak manja dan dungu seperti mu mana bisa pergi sendirian tanpa bantuan orang tua. Jangankan pulang kampung, bahkan ke rumah nenekmu di daerah Jakarta saja kamu nyasar. Jadi jangan sok deh. Anak manja seperti mu sebaiknya nurut kata orang tua!" cibir Nandar
Deden tampak mengepalkan tangannya saat mendengar ocehan sang ayah tiri yang terkesan meremehkannya.
"Sudah lah Ayah, jangan dilanjutkan lagi!" ucap Sopia berusaha menengahi ke duanya
"Lagian makin lama tuh anak makin ngelunjak, bukannya berterima kasih karena sudah ku besarkan dia tapi malah membangkang!" seru Nandar
Deden hanya diam mendengar makian sang ayah Tiri. Memang selama ini hubungan Deden dan ayah tirinya tidak harmonis.
Nandar sang ayah tiri sangat membenci Deden yang dinilainya sangat lemah seperti seorang anak perempuan.
Begitupun dengan Deden yang tak suka dengan Nandar yang dinilai ringan tangan dan suka menyakiti sang ibu.
Ia bahkan berkali-kali meminta ibunya untuk bercerita dengan pria itu namun Sofia sang ibu tidak pernah mau mendengarkan permintaannya karena alasan ekonomi.
Hidup bersama dengan Nandar yang ringan tangan dan kerap menyiksa sang Ibu membuat Deden muak bahkan berpikir untuk meninggalkan rumah itu dan hidup mandiri.
__ADS_1
Demi sang ibu ia bertahan, bagaimanapun juga ia tak bisa meninggalkan ibunya bersama lelaki ringan tangan sepertinya.
"Kalau begitu tinggal saja aku, sekarang aku ingin membuktikan kepada ayah kalau aku sudah besar dan aku juga sudah mandiri. Aku bisa melakukan semuanya sendiri," jawab Deden yang tiba-tiba memberanikan diri melawan sang ayah
"Ok Fine, dengan senang hati. Mari kita lihat saja, apa benar kau bisa sampai ke rumahku atau tidak," sahut Nandar tampak merendahkannya.
"Kalau aku benar-benar bisa sampai ke rumahmu apa hadiahnya?" tantang Deden
"Everything you want (apapaun yang kau inginkan) pasti akan aku turuti," jawab pria itu
"Kalau begitu ceraikan ibu dan biarkan kami hidup bahagia!" sahut Deden membuat lelaki di depannya menertawakannya
"Hahahaha, fine. Aku juga sudah muak menghidupi kalian berdua. Tiap hari aku kerja banting tulang menghidupi kalian, tapi apa yang ku dapatkan. Anak manja pembangkang, istri yang bodoh dan hanya bisa menghabiskan uangku saja," jawab Nandar kemudian mengambil koper bajunya dan bergegas keluar
Sofia tampak menghampiri Fikri dan berusaha meredam emosi putra semata wayangnya.
"Sudahlah nak, jangan diperpanjang lagi. Untuk sementara kuatkan dirimu. Ibu janji setelah lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan ibu pasti akan bercerai dengannya," ucap Sofia
"Kenapa tidak sekarang saja Ibu, apa perlu aku mencari pekerjaan sampingan untuk membiayai kuliahku agar ibu mau bercerai dengannya,"
"Tidak bisa sekarang sayang. Kau tahu kan kau masih butuh banyak biaya untuk kuliah mu. Jadi bersabarlah!"
"Tapi aku tidak bisa bersabar setiap melihat ibu di pukuli olehnya tiap hari," jawab Deden
"Ibu masih bisa menahannya sayang, asal kau bisa kuliah dan hidup nyaman ibu gak masalah sayang,"
"Sofia cepat!"
Suara Nandar membuat Sofia buru-buru menyudahi obrolannya dengan putranya.
"Tunggu Janie, dia akan menemani mu ke Temanggung," ucap Sofia sebelum pergi
Ia tak lupa memberikan uang kepadanya untuk ongkos perjalanannya.
Meskipun sebenarnya Deden tak ingin berkunjung ke desa sang ayah, namun demi ibunya ia pun memberanikan diri untuk menuju ke desa itu.
Ia Segera menenteng tas ranselnya dan memakai topi kesayangannya.
"Aku tidak perlu menunggu Janie, karena aku tak mau merepotkannya lagi. Sudah cukup selama ini aku selalu menyusahkannya,"
Baru saja berpikir untuk meninggalkan Janie dan bergegas pergi setelah ayah dan ibunya pergi. Ia terkesiap saat melihat kedatangan Alexa yang sudah berada di halaman rumahnya.
"Bagaimana dia tahu rumahku di sini?"
__ADS_1
Dari kejauhan Alexa tersenyum menatap pemuda itu.
Apa kau lupa Deden kalau aku adalah makhluk gaib yang bisa mengetahui semuanya, termasuk yang ada dalam pikiran mu,