PAREWANGAN

PAREWANGAN
PAREWANGAN SEASON 2 KHODAM PENJAGA


__ADS_3

*Deg!


Janie begitu terkejut saat melihat Nandar meregang nyawa di hari kematian sang Ibu.


Bukan hanya dia yang terkejut bahkan semua penduduk desa yang sedang melayat.


Semua orang tampak berbisik-bisik membicarakan Nandar. Mereka mengira jika kematiannya adalah karma karena sudah menelantarkan sang ibu di usia senjanya.


Namun berbeda dengan Janie, mat batin Janie yang sudah terbuka bisa melihat dengan jelas jika Nandar mati karena di bunuh.


Ia kini semakin yakin jika Angel adalah Jin jahat yang juga bisa menyakiti Deden sahabatnya.


"Deden," Janie kemudian mendekati Deden, namun pemuda itu seolah merasa bersalah kepadanya hingga berusaha menghindarinya.


"Kita harus bicara," bisik Janie


Deden tampak melirik kearah Angel yang tak suka saat ia berdekatan dengan Janie.


"Maaf aku tidak bisa," jawab Deden kemudian melepaskan tangan Janie


Ia buru-buru menghampiri Angel agar Janie tak mendekatinya lagi.


Janie tak putus asa, ia terus mendekati Deden meskipun pria itu terus menghindarinya.


Ujungnya saat Janie berusaha menahan Deden saat ia berusaha untuk meninggalkannya.


"Deden sebentar, kamu harus dengarkan aku jika kau tidak ingin menyesal seumur hidup,"


"Jangan pernah memaksakan kehendak kepada orang lain," jawab Angel kemudian menyingkirkan tangan Janie


"Sebaiknya kau jangan membuat masalah di sini jika tidàk mau berakhir tragis seperti ayah Deden," imbuh Angel


Seketika Janie merasakan tubuhnya lemas saat mendengar ucapan Angel. Ia bahkan hampir terjatuh, beruntung Radit langsung menangkap tubuhnya.


"Kamu gak papa sayang?" tanya Radit


Janie mengangguk pelan. Radit kemudian membawanya keluar


"Sebaiknya kita tunggu di sini saja, jangan membuat masalah dengan gadis itu?" imbuh Radit menunjuk kearah Angel


Janie seketika terhenyak mendengar penuturan Radit.


Bagaimana dia bisa berkata seperti itu, apa dia tahu tentang Angel?


"Benar, seperti katamu dia itu menyebalkan!" imbuh Mila


"Tapi aku harus bicara sama Deden, ada hal penting yang harus aku sampaikan padanya?"


"Lain kali saja Jan, sekarang ada yang lebih penting?"


Tiba-tiba Anas muncul dihadapan mereka membuat semuanya terkesiap melihatnya.


"Hal penting apa Nas?" tanya Janie


"Temanku menghilang?"


"Kok bisa memang ada yang nyulik?" tanya Janie

__ADS_1


"Di culik Jin, dan aku harus mencarinya sekarang,"


"Bagaimana caranya?" tanya Janie


"Kau akan membantuku," jawab Anas


"Bagaimana bisa!"


"Kata ayah hanya kau yang bisa menemukan Fikri,"


"Anj*r yang bener aja kenal aja gak, gimana aku bisa menemukan dia. Emangnya aku ini anggota Basarnas apa?" sahut Janie


"Tepat sekali, khususnya kamu itu ahli dalam pencarian orang-orang yang dibawa makhluk gaib. Kata Daddy si itu keahlian kamu," jawab Anas


"Wah keren," ucap Mila tampak terkesiap mendengar jawaban Anas.


Janie yang tak percaya dengan ucapan adiknya terus memprotes setiap ucapan Anas. Namun Anas tak sekalipun menyerah, ia bahkan dengan senang hati menjelaskan kepada sang kakak bagaimana caranya agar ia bisa menemukan sahabatnya Fikri.


Anas bahkan mengajak mereka ke bekas rumah Fikri yang terbakar.


"Rumah siapa ini?" tanya Janie setibanya di sana.


"Ini adalah bekas rumah Fikri, yang terbakar oleh seorang dukun," jawab Anas


"Rumahnya seperti angker ya?" tukas Mila


"Iya, bulu kudukku sampai berdiri," jawab Radit menimpali


Saat semua orang keluar setelah melihat-lihat semua ruangan rumah itu, Janie justru masih bertahan berdiri di bekas kamar Sri.


Ia kemudian membuka lemari tua tempat menyimpan pakaian Sri. Meskipun semua benda di kamar itu sudah habis terbakar namun anehnya Lemari itu masih utuh, bahkan baju-baju didalamnya masih tersusun rapi.


"Ngapain lo pakai pakaian hijau-hijau gitu Jan. Kesannya jadi kaya Nyai Roro Kidul kan, ih serem!" seru Anas


"Gak kok, Janie malah makin cantik dengan pakaian itu," ucap Radit


"Cantik apaan sih jadi serem iya," sahut Mila kemudian menghampiri Janie


Ia menyentuh wajah sahabatnya dan memastikan Janie baik-baik saja.


"Kamu gak papa kan Jan?" tanya Mila


Janie tersenyum simpul menatap sahabatnya itu, "Tentu saja Mil," jawab Janie kemudian berjalan menuju halaman belakang rumah diikuti oleh Mila.


Janie menghentikan langkahnya tepat didepan lesung yang teronggok di samping puing-puing bangunan.


Ia mengeluarkan lesung itu dan membersihkannya sehingga membuat Anas langsung melarangnya.


"Jangan sentuh benda laknat itu, kau bisa dalam bahaya jika menyentuhnya!" seru Anas menarik lengan Janie


"Sebenarnya tidak ada benda mati yang berbahaya di dunia ini. Yang berbahaya adalah orang yang menyalahgunakannya untuk keserakahan," jawab Janie dengan bijak


Gadis itu bahkan mengambil lesung yang tergantung membuat Anas benar-benar ketakutan.


"Sepertinya Janie kesurupan, aku harus segera memberitahu Daddy,"


Anas buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi sang ayah Lingga.

__ADS_1


*Dug, dug, dug!!


Anas seketika menoleh le belakang saat mendengar suara lesung antik itu berbunyi.


"Sial, kenapa kau malah memanggil demit itu Janie, cari mati saja dia," gerutu Anas kemudian menghampirinya


"Biarkan saja dia!" seru Lingga dari ujung telepon


*Deg!


Anas menghentikan langkahnya, "Apa Daddy yakin?, bagaimana jika ia diganggu oleh penunggu lesung itu?" tanya Anas semakin khawatir


"Sepertinya dia menggunakan lesung itu untuk mencari keberadaan Fikri,"


"What, bagaimana bisa?" seru Anas begitu kebingungan


"Hanya dia yang tahu alasannya. Janie itu memiliki kelebihan bisa mendengar panggilan makhluk gaib. Seperti kata Om Gilang jika kelak Janie lah yang akan menolong Fikri dan mungkin ini saatnya," jawab Lingga


"Baik Dad," Anas kemudian mematikan ponselnya dan memperhatikan Janie yang begitu bersemangat saat menabuh lesung itu.


Ia bahkan sesekali melantunkan lagu jawa yang membuatnya merinding saat mendengarnya.


Ana kidung rumekso ing wengi


Teguh hayu luputa ing lara


luputa bilahi kabeh


jin setan datan purun


paneluhan tan ana wani


niwah panggawe ala


gunaning wong luput


geni atemahan tirta


maling adoh tan ana ngarah ing mami


guna duduk pan sirno


"Janie belajar dari mana sih nyanyi lagu serem kaya gitu," ucap Mila langsung beringsut mundur menjauhi Janie


Radit bahkan tiba-tiba kesurupan saat mendengar suara nyanyian Janie.


Ia mengerang kemudian berjalan membungkuk seperti seorang kakek-kakek.


Ia menghampiri Janie dan duduk bersila didepannya.


Janie segera berhenti menabuh lesung itu dan mengusap kepala Radit.


"Kau pasti sangat tersiksa dengan kondisi mu sekarang Aki?" tanya Janie


"Inggih Nyai, Mulané aku ngadhep Panjenengan lan njaluk tulung, (Benar Nyai, untuk itu saya menghadap Anda untuk meminta tolong)," jawab Radit yang sudah di rasuki makhluk gaib


"Kalau begitu tunjukan dimana keberadaan Fikri cucumu, kau tahu kan dia menderita karena kelakuan mu. Jika kau bisa menunjukkan dimana dia maka aku akan membantumu membebaskan diri dari Raja Buto Ijo," jawab Janie

__ADS_1


"Tapi Nyai....aku takut ...." Radit tiba-tiba ketakutan hingga ia berusaha bersembunyi di belakang Janie


__ADS_2