PASUTRI SETTINGAN

PASUTRI SETTINGAN
CHAPTER 47 : TERLUKA. . .


__ADS_3

***Lebih penting mana:


Temuan Issac Newton atau issac tangis janji yang kau ingkari????


๐Ÿ‘ฐ๐Ÿปistrikawe๐Ÿ‘ฐ๐Ÿป***


๐ŸŒง๐ŸŒง๐ŸŒง


Nah, Suami kawe akhirnya pulang juga.Dan dia sekarang menatap horor diriku yang sedang sibuk mengerjakan tugas.


"Kenapa bermalas-malasan??"


"Aku sedang mengerjakan tugas" Jawabku seperlunya.


"Ayo cepat bersihkan rumah !" Mark kembali beraksi.Dia sepertinya gak senang jika aku santai-santai.


"Aku tadi sudah membersihkan rumah !"


Aku memang sudah membersihkan rumah sejak pagi makanya sekarang aku bisa leha-leha mengerjakan tugas tanpa beban.


Mark masih menatap gak selow.Dia ini kenapa sih datang-datang sinis?


Harusnya yang marah disini aku !


Yang kesel juga harusnya aku !


Emang lupa kalau semalam dia berbuat salah??,


Minta aku memasak jjapchae dia malah tidur di rumah Hye Ri!!


Ohhhh ya, dia kan Mark Lee.Pemilik rumah ini, dan aku hanya Imigran yang menumpang tinggal di rumahnya,don't forget it Gwen!!


Mark berjalan mengitari seisi ruang tengah yang lebar dan luas.Aku di buat terperangah ketika ujung telunjuknya menyentuh bingkai foto bergambar dirinya sedang berpose manly dengan rambut hitam menggunakan jas motif Armani.


"Debunya masih banyak, kau tak pernah membersihkan ini??" Tunjuknya sinis ke arah foto.


Aku akui, aku belum mengelap bingkai foto itu.Soalnya aku lihat masih bening.


Kayak gak berdebu.


"Iyaaa, nanti aku bersihkan dengan vacuum cleaner biar debu beserta fotonya bisa hilang..." Kataku spontan.


Mendengarnya Mark malah tambah sinis memelototi ku.Aku yang tidak merasa bersalah bangkit dari tempat duduk.


Kacamata bacaku, aku lepas dan kupakaikan di atas kepala.


"Aku sedang mengerjakan tugas.Nanti sore aku bersihkan." Kataku seraya berjalan ke sampingnya di depan foto besar itu.


"Bersihkan sekarang.....!!" Perintahnya.


Dia memang gak bisa di nego.Dimana-mana aku yang selalu mengalah !


Aku yang malas berdebat dengan Mark dengan terpaksa mengambil semprotan pembersih kaca dan kain lap.


Aku mengambil kursi di dapur untuk pijakan mengelap kaca yang tinggi.


Aku yang akan naik ke kursi mengurungkan niat karena melihat Mark menyentuh buku ku yang masih berserakan di meja.


"Jangan sentuh buku ku !" Aku memperingatinya.


Aku gak suka ya dia ikut campur dengan tugas kuliahku.Bukan aku gak suka lebih tepatnya aku malu kalau dia melihat tugasku yang---udahlah enggak banget!!!


"Siapa yang mau menyentuhnya, aku hanya akan membersihkan meja dari kotoran." jawabnya santai seraya matanya mengarah ke meja.


Tentu saja omongan Siluman Buaya terdengar seperti sayatan di gendang telingaku.Itu buku berisi ilmu bukan SAMPAH !!!


Aku membereskan buku dengan cepat dan Mark hanya hanya bengong melihatku lalu lalang.Ingin rasanya aku memukulnya berkali-kali untuk kesalahan yang sudah menumpuk dari sebelum kita menikah hingga saat ini.


Aku mengembalikan buku di kamarku dan melanjutkan mengelap kaca.


Aku membersihkan bingkai foto itu dengan geram.


Apa dia gak bisa ya sehari aja gak nyuruh-nyuruh???


Aku rasa ini sudah bersih mengkilap dan wajah Siluman BNEuaya sudah terlihat bercahaya.

__ADS_1


Mark yang dari tadi mengawasi pekerjaan ku beranjak dari posisi duduknya di sofa dan mendatangiku.


Aku yang masih berdiri di atas kursi bertanya padanya.


"Bagaimana?Apa kau terlihat lebih tampan sekarang???" Tanyaku dengan suara aku lembut-lembutkan dengan maksud menyindirnya.Tak lupa aku berkecak pinggang dengan memandangnya dari atas kursi tempatku berdiri.


"Aku suamimu, jangan berlagak tak sopan ya??" Mata Mark menunjuk ke arahku yang sedang berkecak pinggang.Sebagai istri memang aku gak sopan sih.


"Iyaaa." Balasku malas.


Aku turun dari kursi.Dan meminta pendapat dia tentang bingkai fotonya yang sudah aku lap sampai kinclong.


"Kau bisa memeriksanya, kalau masih ada debu yang menempel ya sudah buang saja fotonya." Suaraku terdengar meledek seraya memainkan lap pembersih kaca.


Mark menjulurkan telunjuknya di atas permukaan kaca bingkainya dan dia memelintirnya,memastikan ada debu yang menempel atau tidak.


Aku sih 1000% yakin itu sudah sangat kinclong!!!


"Bagus." Komentar singkat padat jelas untuk pekerjaan yang menguras tenaga hampir setengah jam.


"Ya sudah kalau begitu aku akan melanjutkan mengerjakan tugasku yang tadi.Kau sebaiknya tidur.Bukankah kau tak tidur semalaman??" Aku berkata dengan dada menahan bongkahan batu besar yang setiap saat bisa meledak jika Mark cari gara-gara.


Mark hanya diam mematung mendengar ucapanku.Atau dia sudah merasa kalau aku sedang menyindirnya yang bersenang-senang semalaman dengan Hye Ri??


Sampai melupakan makanan yang aku buat.Memangnya masak enggak capek??Jariku juga terluka karenanya.


Kalau dari awal dia bilang tak akan pulang aku juga tidak repot-repot memasak.


Aku yang sudah sangat malas menanggapi Mark memutuskan untuk naik ke lantai atas ke kamarku.


Lebih baik mengerjakan tugas kan???


Aku membanting pintu kamar dengan keras.Dan duduk di tepi ranjang.


Aku membuka laci pelan-pelan.Aku ingat aku pernah menyimpan surat perjanjian pernikahan yang aku remas-remas disini.


Aku lega karena kertas itu masih ada.Dan aku merobek kecil-kecil kertas laknat itu.


Aku tidak mau menderita karena membacanya.Mark masih menyimpan satunya.Jadi,kalau terjadi sesuatu masih ada salinannya.


Aku berjalan membukanya.


Mark berdiri di depan pintu kamarku.


Aku yakin memang itu dia.Tak mungkin ada yang lain lagi karena kita hanya tinggal berdua.


"Ada apa??" Tanyaku datar.


"Kau ini bagaimana???Jangan hanya membersihkan bingkai foto.Kau juga belum mengepel lantai kan??Dan mana makan siangku???" Dia tiba-tiba mengomel mengabsen pekerjaan yang belum aku kerjakan.Wajahnya juga terlihat sangat menyebalkan.


"Aku akan mengepelnya nanti." Aku yang sedang mode senggol bacok enggan menanggapi Mark.Daripada terjadi adu mulut.Aku lebih baik mundur dari medan peperangan.


Aku menutup pintu tapi Mark menahannya.


"Aku lapaaaarr." Ucapnya lirih dengan mimik wajah memelas.


...........


Dengan memakai celemek berwarna biru navy motif polkadot aku mulai mengiris sayuran.Aku harus hati-hati atau pisau ini akan menyayat kulitku lagi.


Mark duduk di kursi makan dengan tangan menopang dagu


Pandangannya mengarah lurus ke depan menghadap ke arah taman belakang yang mana dari kejauhan terlihat hamparan waduk buatan.


Dia sebenarnya sedang memikirkan apa ya??


Apa yang terjadi dengan nya dan Hye Ri semalam??


Apa mereka saling menyatakan cinta lalu berciuman??


Aku menggelengkan kepalaku cepat.


Itu gak mungkin.


"Kau masak apa??"

__ADS_1


Pertanyaan Mark membuyarkan pikiran liarku tentang mereka berdua.


"Terserah aku, yang penting bisa di makan"


Tampaknya Mark tak menanggapi balasanku yang terdengar setengah hati barusan.


20 menit kemudian makananku sudah tersaji di meja.


Mark yang dari tadi hanya menunduk seketika terlihat bersemangat ketika melihat makanan.


Tanpa basa basi lagi atau mengamati makanan dengan jeli seperti chef juri di acara kontes masak di televisi.


Mark menyumpit sepotong daging dan langsung memakannya.


Melihat ekspresi Mark yang makan dengan lahap dan memejamkan matanya saat mengunyah daging teriyaki itu membuat aku tertawa geli.


Harus pakai aegyo juga saat makan????


Aku berdehem.


Mark pun langsung membuka mata seperti tersadar kalau aku memergoki kelakuannya.


"Enak??" Tanyaku singkat.


"Biasa saja."


Alah dia gengsi,gak mau mengakui kalau masakanku enak.


Aku mengulum senyum.Hatiku lumer melihat dia menyukai masakanku.


"Kalau kau tak bisa pulang kerumah, kau harus bilang padaku agar aku tak menunggumu."


Finally kata-kata yang aku susun sejak aku memasak di dapur meluncur juga dari mulutku.


Aku memang berencana mengingatkan Mark dengan janji kita yang akan bekerja sama menjalankan pernikahan ini dengan baik.


Dia hanya menunduk dan menyuap sepotong daging lagi dengan sumpit.


"Jarimu terluka??" Mark ternyata tak sengaja melihat jariku yang terbungkus plester.


Aku mengangguk kecil.


"Aku terkena pisau saat memasak jjapchae.."


"Lain kali kau harus hati-hati." katanya seperti khawatir seraya mengayunkan sumpitnya.


Dia menasehatiku,tapi kayak gak merasa kalau dia juga ikut andil dalam membuat luka di jariku dan juga hatiku.


"Aku tidak apa-apa, aku terbiasa terluka.."


balasku dengan nada rendah di ujung kalimat.


Terluka.


Karena mu, Mark.


"Oh iya, nanti malam bagaimana kalau kita menonton di bioskop??"


Tawaran Mark seperti angin segar yang berhembus di pulau Jeju dan menerpa tubuhku.


Aku serasa melayang di udara mendengar ajakannya.


Mataku berbinar-binar seperti mendapat arisan 2 Milyarrrr


owkeeehhh lets go Mark!!!!


๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ***


***Terimakasih untuk para authors yang mampir ke karya saya yang sangat receh ini.


Saya menyadari bahwa banyak sekali kekurangan di sana sini.


Terima kasih juga untuk kritik dan sarannya agar membuat tulisan saya menjadi lebih baik.


selamat siang and see you next chapter***.๐Ÿค—๐Ÿค—

__ADS_1


__ADS_2