
Semua pilihan yang kita ambil dalam hidup pasti ada konsekuensinya !
๐ฟMark & Gwen๐ฟ
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Pagi ini di rumah Kak Andy sedang ramai karena sekarang ada anggota baru di rumah mereka. Ya, Kak Andy sekarang punya bayi perempuan cantik yang di beri nama Qeela. Qeela sudah berusia 2 bulan sekarang. Dan Gwen sangat senang mengasuh keponakannya itu, dari memandikan, memberikan susu, mengajak bermain hingga menidurkannya.
Kakak iparnya tak keberatan jika Gwen membantu mengasuhnya. Tapi keberadaan Gwen yang sudah seminggu ini di rumahnya terlebih datang dengan membawa koper membuat Kak Andy menanyakan sesuatu.
"Gwen, bukan aku tak suka kau ada disini. Apa terjadi sesuatu antara kau dan Mark??"
Gwen yang sedang memainkan kerincingan di depan Qeela jadi menghentikan kegiatannya.
"Tak terjadi apa-apa dengan rumah tanggaku. Kami baik-baik saja" Jawab Gwen tersenyum menutupi segala keresahan hatinya.
Gwen memainkan kerincingan itu lagi untuk menghibur keponakannya.
"Qeela.... Qeela.... mana aunty??? Ciluk baaaa!" Gween tertawa mengajak bermain cilukba Qeela yang tentu saja hanya melihatnya seraya kakinya bergerak tak bisa berhenti.
Gwen hanya berkamuflase menutupi segala keresahan hatinya, bagaimana rumah tangganya yang sudah berakhir dan perasaan cinta Mark yang tak pernah ada untuknya.
Dia bersyukur, ada Qeela yang menjadi obat galau. Apalagi Qeela sangat lucu dan menggemaskan. Gwen berjanji suatu saat dia akan jujur tentang rumah tangganya.
"Aku akan menggendong Qeela ya, biar dia tertidur. Kakak ipar sedang berbelanja kan??"
Gwen buru-buru mengambil gendongan dan dengan cekatan dia menggendong Qeela untuk mengajaknya keluar rumah.
Sebenarnya dia hanya menghindar dari pertanyaan Kakaknya saja. Gwen masih takut untuk jujur.
Yang membuat dia bertambah sedih, Mark tak coba untuk mencarinya. Setidaknya mencegah wanita itu pergi. Namun nyatanya, ini sudah seminggu dan Mark tak kunjung mencarinya.
Qeela di ajak ke taman untuk melihat daun-daun di pepohonan yang tertiup angin. Meskipun dia tinggal di Korea, tapi cara mengasuh Qeela masih sama seperti yang di lakukan orang Indonesia kebanyakan.
Biasanya orang-orang disini menggunakan stroller untuk membawa bayi mereka jalan-jalan.
Tapi Gwen menggendongnya dengan jarik seperti bayi-bayi di Indonesia.
"Qeela.... lihat daunnya bagus kan?? " Gwen memainkan daun-daun itu dan menggerak-gerakkannya. Senyum Qeela merekah.
"Hei, kau bisa tersenyum lebar ya.. Aunty makin gemes aja deh..." Gwen mencium pipi gembul keponakannya itu.
"Hai Gwen...." Sapa seseorang dari arah samping tempat Gwen berdiri dengan suara lembut.
"Oh, Hai Direktur Byun.... Apa kabar??" Balas Gwen menyapa dengan sedikit membungkukkan badan.
"Ini bayi siapa??" Tanya Direktur Byun keheranan.
"Aah... Ini bayi Kakakku, namanya Qeela. Aku sering membawanya keluar rumah jika dia bosan dan menangis." Jawab Gwen tertawa.
"Bayinya cantik sekali..." Puji Direktur Byun.
Gwen menimang-nimang keponakan nya itu ketika mata Qeela menyipit dan akan tertidur.
"Bagaimana kau tau jika aku tinggal disini??"
"Ada yang memberitahuku..."
"Oh..." Gwen pun menepuk-nepuk pelan p*antat keponakannya itu agar segera tertidur.
"Kenapa kau keluar dari rumah Mark??"
Pertanyaan Direktur Byun sukses membuat Gwen yang tadinya berwajah ceria sekarang menjadi sendu.
"Aku keluar dari sana karena urusan Ku dan Mark sudah selesai..." Jawab Gwen.
"Urusan??" Direktur Byun mengernyitkan alisnya, tak paham dengan maksud Gwen.
"Iya, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan, jadi aku harus pergi dari sana bukan?? Mark segera kembali pada Hye Ri, dan aku tak jadi di Deportasi. Aku bisa lulus kuliah dengan damai." Jawab Gwen santai.
"Gwen....."
"Ini bukan masalah besar... Kau benar memang ada yang janggal dengan pernikahan ku ini." Potong Gwen cepat.
__ADS_1
Direktur Byun seakan mengerti dengan apa yang menimpa rumah tangga wanita yang diam-diam di taksirnya ini.
Dia pun tersenyum.
"Jika kau butuh pekerjaan, hubungi aku. Kesibukan akan membuatmu lupa dengan hal-hal yang membuat hatimu sakit"
"Terimakasih atas perhatian mu Direktur Byun. Tapi sepertinya aku punya tujuan lain yang lebih besar dari ini."
"Apa itu??"
"Aku ingin menjadi seperti mendiang ayahku".
"Apapun itu, aku selalu mendukungmu Gwen"
Keduanya pun tersenyum. Qeela pun juga sudah tertidur di gendongan tantenya.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Mark terburu-buru ke rumah Hye Ri untuk mengantar wanita itu chek up kesehatan.
Mereka berdua menaiki mobil Mark dan segera menuju rumah sakit.
Tatapan mata Mark kosong dan saat mobil berhenti karena lampu merah Mark melamun dan tak mendengarkan Hye Ri berbicara. Hingga lampu berganti hijau pun Mark masih melamun hingga suara klakson membuyarkan lamunannya.
"Mark, ada apa?? Kenapa kau melamun??" Tanya Hye Ri seraya melihat ke arah Mark yang duduk menyetir di sampingnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya..."
"Sudah seminggu ini kau kacau Mark. Kau bukan seperti Mark yang aku kenal sejak dulu" potong Hye Ri cepat
"Aku... aku masih sama seperti Mark yang dulu..." Mark tertawa.
"Aku tidak masalah kalau kau tak mengantar ku ke rumah sakit dari pada aku melihatmu tak fokus menyetir !" Tegas Hye Ri.
"Aku bersedia mengantarmu, kan aku sudah janji padamu"
"Apa semua yang kau lakukan ini hanya karena janji??"
"Mark !" Desis Hye Ri.
Mobil Mark menepi di pinggir jalan.
"Kau melakukan ini hanya karena janji?? Janji yang kau ucapkan saat kita masih sekolah dulu?? Apa tak ada yang lain???" Hye Ri bertanya dengan mata yang hampir berkaca-kaca.
Mark hanya terdiam dengan dua tangan masih memegang setir.
"Oke Mark, apa kau mencintaiku?" Tanya Hye Ri tegas.
Lagi-lagi Mark hanya diam.
"Oke, kemarin aku sudah menanyakan ini dan kau tak bisa menjawabnya. Sekarang aku bertanya untuk yang terakhir kali Mark. Apa kau mencintai Gwen????"
Mark langsung memalingkan wajah ke arah Hye Ri. Menatap tajam wanita yang sekarang meneteskan air mata untuknya. Pandangan Mark berubah sendu.
"Sebenarnya aku tak ingin mengatakan ini, tapi jujur aku katakan bahwa aku tak bisa mencintai Gwen karena terhalang janji bodoh yang aku ucapkan padamu" Tegas Mark jujur.
"Jadi dengan kata lain, kau mencintainya bukan???" Hye Ri menatap nanar wajah Mark yang baru saja mengatakan perasaannya dengan jujur.
Hye Ri membuka safety belt nya dan turun dari mobil Mark.
Mark pun mengejar Hye Ri hingga ke sisi trotoar.
Tapi memang belakangan ini keberuntungan tidak berpihak padanya.
Keduanya yang tengah berkerjaran dan Mark menarik pergelangan tangan Hye Ri mencegah pergi menjadi serbuan media.
Entah darimana mereka tau jika Mark ada disini. Mungkin jawaban Gwen kurang memuaskan jadi para wartawan diam-diam membuntuti Mark.
Mau tak mau mereka berdua harus memberikan klarifikasi ke media.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Sore ini Gwen baru bangun tidur karena seharian mengajak Qeela bermain dan berkeliling taman komplek perumahan mereka.
__ADS_1
Dilihatnya Qeela sudah tak ada di sampingnya. Dan Jam sudah menunjukkan angka jam tiga sore. Qeela pasti sudah mandi .
Gwen keluar kamar dengan rambut berantakan dan sesekali menggaruk rambutnya yang gatal.
Kemudian dia teringat Mark, suami KW nya itu pernah bilang jika rambutnya seperti singa.
Tapi sekarang tak akan ada yang berkomentar buruk tentang penampilan nya.
Gwen terkejut mendapati kakaknya yang duduk di sofa dengan wajah yang serius.
"Gwen aku ingin bicara padamu" Kata kak Andy dengan ekspresi datar namun Gwen tau kakaknya akan menanyakan hal yang penting padanya.
"Hmmm, Qeela sama kakak ipar mana??" Tanya Gwen mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sedang mengunjungi Nyonye Lee,"
"Oh..." Gwen segera menghindar dari kakaknya itu namun Kak Andy langsung mencegahnya.
"Duduklah Gwen, aku ingin bicara" Kak Andy dengan ekspresi datarnya membuay Gwen takut.
Gwen pun duduk berhadapan dengan kak Andy di sofa.
Rasa was-was meliputi seluruh tubuh Gwen. Dia takut kakaknya membahas tentang nya yang menginap disini selama seminggu.
"Aku adalah seorang pengacara, dan aku sering berhadapan dengan lawan hukumku di pengadilan. Menyelesaikan kasus-kasus besar bahkan rumit sekalipun. Aku bisa membantu klienku untuk mencari keadilan bahkan membuktikan mereka tidak bersalah. Namun aku sekarang merasa bodoh karena aku tak tau ada orang yang mempermainkan pernikahan, terlebih dia adikku sendiri..."
Suara Kak Andy yang tenang serasa petir yang menyambar di siang bolong. Kaki Gwen gemetar, perasaannya kalut. Ya, Gwen ketakutan.
Gwen hanya menunduk.
"Aku menemukan ini tercecer di kamarmu. Aku tadi ingin mengambil jurnal Ayah yang kau bawa saat kau keluar menggendong Qeela. Tapi aku tak sengaja menemukan ini."
Mata Gwen terbelalak saat tau benda apa yang di temukan Kak Andy di kamarnya.
"Ini adalah surat Deportasi, apa kau menikah karena ini??"
Gwen tak mampu menjawab.
"Aku tak menyangka kau bisa melakukan ini padaku Gwen. Kau menipu semua orang dengan pernikahanmu ini."
"Aku bisa jelaskan itu Kak. Ini tak seperti yang kakak bilang. Aku mencintai Mark sekarang??"
"Cinta?? Aku tadi melihat Mark tertangkap basah wartawan mengejar Konsultan pajak itu."
Gwen mendongak menatap wajah kakaknya.
Hatinya mencelos tatkala kakaknya membicarakan Mark yang tertangkap basah bersama Hye Ri.
Jadi itu alasan Mark tak mencariku??
"Yang pasti adalah, kau menikah karena ini !" Kak Andy marah dan meletakkan surat beramplop coklat itu di meja dengan kasar
"Maafkan aku Kak..." Gwen terisak.
"Kau bilang sekarang kau mencintainya. Tapi Gwen kau harus paham. Semua hal yang di awali dengan niat buruk akan berakhir buruk. Apa membohongi semua orang ini benar?? Meskipun kau mencintainya??"
Gwen menunduk terisak.
"Aku kecewa padamu Gwen..." Kak Andy menghela nafas kasar dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.
Sedang Gwen hanya menangis. Gwen harus sadar, cepat atau lambat pernikahan palsu ini akan terkuak. Dan inilah hasil dari perbuatannya.
"Maafkan aku kakak."
"Aku ingin memaafkanmu Gwen, tapi aku belum bisa....."
Kak Andy pergi meninggalkan Gwen dengan memendam amarah pada adik yang sangat di sayanginya ini.
Gwen telah membuatnya kecewa, dan kepercayaan pada adiknya luntur sekarang.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
To Be Continued ! ๐
__ADS_1