PASUTRI SETTINGAN

PASUTRI SETTINGAN
FINAL CHAPTER : HONEST !!!


__ADS_3

Jika kau mengawali sesuatu dengan cara yang benar, tak akan ada kata menyesal.


🌻Realationship🌻


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ











Gwen langsung melempar ponsel ke ranjang setelah menerima chat dari Kak Andy.


"Ngapa lu??? Kusut mulu kalo ke kota?? Enggak betah di kota??" Tindakan Gwen yang melempar ponsel semena-mena membuat teman karibnya di SMP menjadi heran.


"Enggak, gue suka kok ke kota. Kan ada sinyal HP kalo disini. 4G lumayan...." balas Gwen menanggapi teman karibnya yang bernama Karina ini.


"Besok kita balik ke kampung lagi. Sekalian lu chek lagi deh belanjaan kita dah cukup apa belom. Besok kita butuh waktu seharian buat mencapai kampung...." Karina mengingatkan.


"Ok Bu.... Laksanakan..." Gwen terkekeh menerima mandat dari temannya.


"Ahh.... Saatnya nonton Youtube. Kan gue kangen ama idola gueeee..." Karina merebahkan tubuh di ranjang hotel bintang tiga ini dengan perasaan lega.


Seharian tadi.... Gwen dan Karina berbelanja ke Pasar Wamanggu Kota Merauke Provinsi Papua.


Gwen tersenyum karena teman karibnya itu senang sekali jika ke Kota. Dia bisa menemukan sinyal internet dan bisa menonton Youtube.


Dan Gwen bertambah heran saat Karina senyum-senyum seperti orang kasmaran melihat Idolanya di ponselnya.


"Lu nonton apa sih??? Ketawa gitu?? Kalau nonton OVJ mending di Tv aja noh..." Seloroh Gwen.


"Gue gak nonton OVJ. Tapi gue nonton Oppa-Oppa ganteng...." Karina cekikikan.


"Oh, dia nonton Drakor...." desis Gwen.


Saat melihat Karina menonton channel Youtube, Gwen pun juga ingin menontonnya.


Saat Gwen memutuskan pergi, dia berjanji tak akan membuka media sosial, seperti Youtube, Weibo, Instagram, Facebook atau Twitter.


Gwen tak mau terlena dan harus melihat berita atau foto Mark di media sosial.


Namun rasa penasaran Gwen akan Mark mengalahkan janjinya sendiri, apalagi Kak Andy bilang kalau lagu Mark meledak di pasaran.


Dengan tangan gemetar Gwen menyalakan ponsel dan menekan aplikasi Youtube. Lalu memasukkan nama Mark Lee di mesin pencari.


Benar saja.... Lagu baru Mark muncul dan sudah di tonton 100juta orang di Youtube.


Gwen tersenyum dan mendengarkan lagu itu.





Gwen tersenyum dan air matanya hampir jatuh. Mark sudah kembali mencapai tujuannya. Dia bisa di anggap sukses dengan bersolo karir.


Apalagi di MV itu style rambut Mark berbeda dan dia lebih Manly dengan kostum Jadul.


Andai saat menikah dulu Gwen yang memakai hanbok dan Mark juga memakai kostum tradisional juga, pasti mereka serasi.


Apalah daya pernikahan itu pernikahan palsu. Bahkan baju pengantin mereka pun tak sesuai. Mark memakai setelan jas dan Gwen memakai hanbok.


Karena sebelumnya mereka juga tak saling mengkonfirmasi baju pengantin yang akan mereka kenakan.


Mark dan Gwen berpikir ini hanya pernikahan settingan, tak perlu memikirkan baju pengantin.


Gwen mengusap pipinya dengan lembut.


"Wah, elu ngefans ama dia?" teguran Karina membuat Gwen berjingkat. Ia malu tertangkap basah melihat MV Penyanyi Korea.


"Oh, enggak kok.... Kebetulan aja ini muncul trus gue penasaran. Gue tonton deh. Enggak bagus juga kok lagunya.." Gwen berkilah dan buru-buru menaruh ponsel di atas bantal.


"Mark itu ganteng banget kan..... Andai aja gue jadi pacarnya...!" Karina tersenyum songong membayangkan Mark Lee.


"Udah sono tidur, besok kita balik kampung....!"


Karina masih tersenyum menonton artis idolanya Di Youtube.


Gwen pun langsung tidur, diam-diam dia senang dengan pencapaian Mark Lee.


🌻🌻🌻🌻🌻




Gwe menghentakkan kakinya di lantai marmer. Dia kesal karena kakaknya selalu menyurhnya pulang ke Korea.


Padahal Gwen masih ingin berbakti dan memajukan sekolah.


Ya, Sejak hari itu Gwen memutuskan untuk pergi ke Indonesia. Selama masa-masa galaunya dengan pernikahannya dulu Gwen selalu membaca jurnal usang yang di tulis ayahnya sendiri.


Ayahnya memang tak meninggalkan harta berlimpah namun buku yang di tinggalkan ayah untuknya dan Kak Andi sangat berharga melebihi warisan apapun.


Gwen dan Andy Sondakh banyak belajar tentang Kegiatan Ayahnya di pedalaman.


Ayah Gwen dan Andy bernama Jefry Sondakh asli dari Manado. Beliau adalah seorang Mantri yang selalu mengabdi untuk orang-orang terisolir yang hidup di pedalaman.


Ibu Andy dan Gwen bernama Maria.


Maria seorang relawan berwarga Kenegaraan Turki berprofesi sebagai perawat yang bertugas di Afghanistan.


Seperti yang tertulis di jurnal, Jefry dan Maria bertemu di Afghanistan sama-sama sebagai relawan.


Ayah Gwen menuliskan jika mereka berpisah selama lima tahun dan di pertemukan kembali sampai menikah.


Hanya itu kehidupan pribadi Jefry dan Maria yang terkuak.


Di bagian akhir buku, Jefry menuliskan jika dia sangat menyayangi Gwen dan Andy. Ayah Gwen tak berharap anak-anak nya mengikuti jejaknya sebagai relawan.


Namun Ayah Gwen dan Andy berpesan agar mereka berlaku jujur dan takut akan Tuhan. Pesan sederhana namun menyentuh.


" Kejujuran akan membawa kalian pada ketentraman hidup.

__ADS_1


Orang yang mengedepankan kejujuran akan mendapat tiga hal : Kepercayaan, Cinta, dan rasa hormat.


Jika Ayah dan Bunda tak bisa menemani kalian hingga dewasa, jujur adalah sandaran kalian"


Karena hal itulah Gwen ingin memulai hubungan dengan Mark atas dasar kejujuran.


Ini sudah setahun lebih mereka berpisah.


Hidup di dua belahan bumi berbeda dengan mengejar tujuan yang sama.


Mereka percaya, jika jodoh pasti akan bertemu.


Seminggu lalu Gwen dan Karina di undang di salah satu stasiun TV Swasta untuk menghadiri acara penghargaan untuk Pahlawan pendidikan Indonesia tahun ini.


Karina Sangalang, wanita berusia 26 tahun ini mengabdikan diri selama 4 tahun mendirikan sekolah di Distrik terisolir di perbatasan antara Indonesia dan Papua Nugini.


Perjuangan Karina begitu berat dan berliku. Mengorbankan harta, keluarga dan cintanya untuk mengabdi.


Karina lulusan terbaik di Sun Yat Sen University Tiongkok. Dan dia concern di dunia pendidikan.


Gwen merasa terpanggil saat Karina menghubunginya untuk bergabung dengan sekolahnya karena dia butuh sukarelawan lagi.


Dan pengorbanan besar Karina membuahkan hasil. Dia terpilih menerima penghargaan dan Gwen bangga ikut andil serta.


Kini saatnya Gwen akan kembali ke Korea.


Karina sebelumnya tak tau jika Gwen pernah belajar Di Korea dan sudah menikah. Dan Gwen tak perlu menjelaskan itu padanya.


Seoul,, aku dataaaangggg !!!!


🌻🌻🌻🌻


Gwen dan Andy berjanji jika hari ini memperingati kematian orang tua mereka di Gereja.


Tapi Andy beralasan jika masih di Kantor Im Sang Hyun & Co dan menyuruhnya untuk berangkat sendiri.


Andy memesankan Taksi adiknya untuk menuju Gereja. Namun bukan Gereja biasanya yang Gwen datangi tapi Gereja tempat Gwen dan Mark menikah dulu.


Gwen menelpon Andy dan protes kenapa berubah tempatnya.


"Kak, kenapa bisa berubah tempat gini sih?? Masih banyak gereja yang lain...." Protes Gwen menahan kesal.


Bukan apa-apa, dia hanya tak mau mengalami Deja vu dan mengingat pernikahannya dengan Mark.


"Bawel amat sih Nyonya Lee, gereja biasanya lagi di pakek pemberkatan. Udah tunggu situ. Aku otewe nih..."


"Beneran ya dateng, awas aja....!!" Ancam Gwen.


Terputus.


Gwen menunggu Andy yang sedang otewe menuju Gereja. Dan Gwen tak membawa bunga karena Andy bilang kalau dia yang akan membelinya.


Sejam berlalu namun Andy belum juga datang.


Lama-lama Kak Andy mirip Mark !!!!


Batin Gwen kesal.


Berdekatan dengan Mark malah membuat Kak Andy jadi rese dan ngeselin.


Sekali lagi Gwen mengechat abangnya itu menanyakan keberadaannya.


Namun Gwen kecewa !



Dia geram pada abangnya karena tak ikut berdoa di Gereja.


Gwen berjalan memasuki altar Gereja dan menduduki sisi kanan bangku yang berderet rapi.


Gwen menghela nafas sebentar kemudian memejamkan mata dengan kedua tangan menggenggam di dada.


Ayah Bunda, Gwen datang . Semoga kasih Tuhan menerangi jalan kalian. Terimakasih Ayah Bunda sudah mendidik Gwen dan Kak Andy untuk menjadi orang yang jujur. Aku sudah memperbaiki semua kesalahanku dengan memulai semua ini berlandaskan kejujuran. Aku sudah melaksanakan tujuanku dan Mark juga sampai pada tujuannya. Meskipun aku dan Mark entah berjodoh atau tidak, tapi hingga hari ini aku masih mencintainya. Ayah Bunda beristirahat lah dengan damai. Aku selalu menyayangi kalian sebagaimana kalian menyayangi ku. Amin


"Amin" Sahutan terdengar dari bangku persis belakang Gwen duduk. Gwen langsung membuka mata dan menghadap ke belakang.


Gwen terkejut, Mark ada di belakangnya.


"Mark....." desis Gwen lirih memanggil nama pria yang sangat di cintainya ini.


"Ini....." Mark dengan senyum khas di sertai lesung pipinya menyerahkan sebuket bunga baby breath untuk Gwen.


"Andy Hyung bilang kalau kau lupa membawa bunga, jadi aku membawakannya untukmu..."


Gwen cemberut.


"Aku tidak lupa, dia tadi bilang kalau dia saja yang membawa bunganya...."


Gwen merasakan debaran jantungnya yang begitu kuat, begitupun Mark.


Gwen meraih bunga itu lalu menatap Mark sebentar.


"Kenapa melihatku seperti itu???" Tanya Mark dan Gwen seketika terkesiap karena tertangkap basah memandangi Mark.


"Selamat, kau sukses sekarang...." Bisik Gwen lirih.


"Aku kan Mark Lee......" Katanya dengan nada yang pongah.


"Kau sombong seperti ini semua orang tau???" Ledek Gwen dengan melirik Mark yang masih duduk di belakangnya.


"Siapa yang tak kenal Mark Lee..."


Gwen melirik Mark kemudian mereka tertawa.


"Apa kau bahagia bisa bertemu dengan ku lagi??" Tanya Mark serius.


Gwen mengangguk.


"Terlebih lagi dengan pencapaianmu, aku bahagia...."


"Aku kagum padamu, bagaimana kau bisa hidup di tempat seperti itu??" Tanya Mark lagi menatap Gwen lekat-lekat.


"Tak peduli bagaimanapun tempatnya, aku sudah menemukan tujuanku disana. Jalan yang aku lalui untuk mencapainya tak ada dalam sistem GPS. Aku ingin seperti orang tuaku yang mengabdikan diri untuk orang-orang yang hidup di daerah terisolir agar bisa mendapatkan kesehatan yang layak. Tapi aku bukan tenaga medis seperti mereka jadi aku abdikan diriku dalam bidang lain."


Tutur Gwen. Mark tersenyum senang.


"Terimakasih karena kau membukakan ku jalan agar aku mencapai tujuan yang aku inginkan...." Ucap Gwen tersenyum dengan mata berkaca-kaca.


Keduanya tersenyum lagi kali ini seperti malu-malu.


Kemudian mereka terdiam. Suasana hening, mata mereka saling memandang.


"Gwen, apa selama hidup satu tahun disana kau tak pernah ke Salon dan mengkrimbath rambut?? Ya Tuhan, rambutmu terlihat berantakan seperti singa...."


Mark berkomentar jahat lagi tentang penampilan apalagi rambutnya.


Bagaimana lagi disana bisa hidup damai saja rasanya sudah beruntung.

__ADS_1


Gwen merasa insecure.


Mark yang di kenal Gwen telah kembali.


"Aku disana untuk mengabdi, bukan ikut kontes kecantikan...." Gwen mengerucutkan bibir


"Tapi kau sangat cantik.. dan dengan semua hal baik yang kau lakukan untuk orang-orang , kau bertambah cantik...."


Gwen tersipu malu.


Mark bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Gwen.


Mark mengulurkan tangan dan Gwen menerima nya.


Dengan menggenggam erat, Mark membawa Gwen berjalan pelan di altar dan maju di depan mimbar.


"Kau ingat kan di Gereja ini, kita pernah menikah. Mengikatkan janji palsu pernikahan disini...."


"Ya, dan Tuhan menghukum kita dengan perasaan cinta yang kita miliki." Mereka sama-sama melirik satu sama lain.


"Gwen , sudah saatnya kita jujur dan berjanji dengan benar di hadapan Tuhan. Apa kau bersedia?" tanya Mark mantap.


"Aku, Gwen Sondakh berjanji akan setia di sisi Mark Lee dalam suka dan duka. Dalam keadaan sehat dan sakit. Aku berjanji !" tangan sebelah Gwen di angkat sebagai tanda janji.


"Aku Mark Lee, berjanji akan selalu setia di sisi Gwen Sondakh, mencintai dan menyayangi dengan tulus.... Aku berjanji"


Mark juga melakukan hal yang sama seperti Gwen.


Gwen memejamkan mata, meresapi ikrar janji suci dengan Mark jujur di hadapan Tuhan tanpa ada kebohongan.


Mark memeluk erat Gwen, dan Gwen mengusap lembut punggung Mark.


"Gwen, apa kau bersedia menikah denganku??"


Gwen terdiam dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi Mark, bukankah kita belum bercerai???"


Mark buru-buru melepas pelukannya.


"Aku lupa....!" Mark menepuk jidatnya sendiri seperti yang Gwen lakukan jika lupa.


Mereka berdua tertawa dan kemudian terdiam lagi dengan mata saling menatap.


Mark pelan-pelan mendekatkan wajahnya di depan wajah Gwen.


Gwen yang tau apa yang akan di lakukan suami nya ini hanya pasrah dan memejamkan mata.


Bibir Mark menyentuh bibir Gwen dengan lembut dan itulah yang terjadi. Silahkan bayangin sendiri. Heheheheh.


🌻🌻🌻🌻


Mark memijit kaki istrinya dan istrinya selonjoran di sofa dengan punggung bersandar di sandaran sofa.


"Bagaimana??"


"Lumayan....!"


"Kau terlalu lelah membersihkan rumah...."


"Ternyata jiwa memerintahmu tak pernah berubah." Desis Gwen dengan memalingkan wajah.


"Tapi kan aku bersedia memijatmu..." kilah Mark dengan terus memijat dan tak sengaja menekan kaki Gwen.


Istrinya pun memekik kesakitan


"Sakit...!" Gwen mendelik ke arah suaminya.


"Kau pikir aku suka melakukan ini??" Mark yang di tatap Gwen seperti itu balik murka.


Gwen melongo tak percaya.


"Kau pikir aku tahan jika kau minta di pijit?? Lihatlah aku yang sudah berpakaian rapi mau ke studio terpaksa akan melakukan hal ini kepadamu!"


Mark berdiri. Dan Gwen bergidik ngeri. Gwen yang sudah setahun ini serumah lagi dengan Mark jadi tau kebiasaan Mark jika sudah seperti ini.


"Mark, kalau kau sibuk ya sudah berangkat saja." Gwen tersenyum paksa sebenarnya dia takut dengan apa yang akan dilakukan Mark padanya.


Mark membuka jaket dan kemeja hingga tersisa singletnya. Gwen menunduk tak tahan melihat tubuh Mark.


Mark menarik paksa Gwen untuk duduk di pangkuannya. Mata Mark memancarkan hasrat yang besar untuk Gwen.


Dan Gwen pun hanya bisa pasrah atau Mark akan ngamuk dan kehilangan moodnya.


Selain itu Gwen juga suka dengan mode Mark yang ganas ini.


🌚🌚🌚🌚🌚


"Apa kau pernah berpikir jika Qeela kesepian dan butuh teman bermain??" Tanya Mark bersandar di badan Gwen setelah permainan panas pagi itu di sofa.


"Apa kau sudah siap??" Tanya Gwen dengan menautkan jarinya ke jari Mark.


"Ibu memaksa kita untuk segera memiliki anak..." desis Mark lirih.


"Aku siap..." Jawab Gwen mantap


"Benarkah?? Ayo kita lakukan lagi??" Mark segera meraih tengkuk Gwen dan mencium bibirnya.


Namun semua gagal karena terdengar suara telpon. Dan itu dari ibu..


.


.


.


"Ibu mengganggu saja....!" Mark bangkit dan memakai kemeja dan jaket nya lagi.


"Ibu tadi bilang apa??" Tanya Gwen seraya mengikat rambut.


"Ibu mengingatkan kita untuk hadir di pernikahan Hye Ri...." Jawab Mark seraya mengancingkan baju.


"Aku tak menyangka mereka menikah juga. Direktur Byun memang sangat cocok untuk Hye Ri...!" Gwen pun mengomentari hubungan Direktur Byun yang menikah dengan Hye Ri sambil menaikkan celana dalamnya yang di pakai di balik dasternya ini.


"Ya ampun istrikuu.... kamu mesum!!!" Mark terbahak dan tak bosan mengatai Gwen mesum karena sering menonton adegan dewasa di Netflix.


Gwen hanya tertawa dan kali ini setuju dengan hinaan suaminya.


❄❄❄


Final chapter dah aku persembahkan untuk kalian..


Thank you semua dan aku juga minta maaf untuk kekurangan novelku yang gak bermutu ini dan banyak typo nya.


Yang pasti makasih.


Tunggu karya selanjutnya yaaa...!!!

__ADS_1


See You !!!!πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰


__ADS_2