
Cintaku padamu tu bukan seperti VIDI ALDIANO dengan STATUS PALSU.
Cintaku padamu itu udah kayak ASAL KAU BAHAGIA-- ARMADA.
๐ผGwen๐ผ
โคโคโคโคโค
Gwen turun memutari tangga ulir dengan menggamblok tas ransel warna coklatnya. Di lihatnya Mark sedang menikmati sarapan.
"Hei, Kau mau kemana??" Tanya Mark dengan mulut penuh makanan.
"Aku ke kampus, temanku mendadak meminta bertemu" Jawab Gwen setengah berteriak dengan memeriksa tas ranselnya. Dia tak mau ada barang yang tertinggal.
"Aku pergi ya???" Gwen berjalan cepat dan Mark mencegah.
"Tunggu, aku akan mengantarmu!!" Mark tak melanjutkan sarapannya lagi dan segera naik ke lantai atas mengambil dompet, jaket dan kunci mobilnya.
"Kau tak boleh pergi jika bukan aku yang mengantar" Kata Mark seraya memasukkan tangan ke lengan jaket dan memakainya.
Gwen tersenyum simpul. Gwen senang Mark mau mengantarnya.
Mark harus waspada dengan gerak-gerik Gwen. Bisa saja hari ini Gwen menemui Direktur Byun. Pria itu adalah orang yang selalu Mark curigai menyukai Gwen.
Dan sebenarnya benar jika Direktur Byun memang menyukai Gwen.
Sejujurnya Gwen tak enak hati saat kemarin menggagalkan pertemuannya dengan Direktur Byun. Gadis itu sudah tak berniat meminjam buku, tapi tadi pagi Gwen mendapat telpon dari Direktur Byun kalau dia ada waktu pagi ini.
"Kenapa kau tersenyum??" Tegur Mark membuyarkan lamunan Gwen.
"Aku ingat emm....adegan di Netflix" Jawab Gwen sekenanya.
Padahal dia baru saja kegirangan saat Mark bersedia mengantarnya tanpa diminta.
"Jangan suka menonton adegan dewasa di Netflix, itu bisa meracuni otakmu. Pantas saat di Milan kau berbuat mesum" Timpal Mark Mengingatkan Gwen tentang ciuman di lobi hotel saat itu.
"Bisa tidak kau tak mengingatnya??? Kau pikir aku benar-benar suka?? Itu terpaksa. Aku akan melakukannya dengan orang yang aku cintai nanti". Dengus Gwen sebal di tuduh mesum.
Omongan Gwen menarik rasa penasaran Mark.
"Memangnya, kau mencintai laki-laki yang seperti apa??" Tanya Mark dengan fokus menyetir. Lampu sedang merah, mobil Mark berhenti sejenak.
"Aku suka pria yang baik, perhatian, tidak sombong, sayang keluarga, Bukan seperti dirimu" Jawab Gwen seraya melirik Mark yang duduk menyetir di sampingnya.
"Apa kau sudah menemukannya??" Tanya Mark lagi.
"Sudah" Jawab Gwen tanpa merasa beban malah terlihat santai.
Mark terkesiap mendengar jawaban Gwen, semua ciri-ciri yang di sebutkan sebagai lelaki idaman Gwen ada pada Direktur Byun.
"Hei ! Ayo jalan!!" Gwen mengagetkan Mark karena lampu sudah berganti hijau dan Mark malah melamun.
.
.
.
Mereka sudah sampai di kampus. Direktur Byun bilang kalau dia akan menunggu Gwen di Taman samping kampus dekat air mancur.
"Kau bisa pulang sekarang" Kata Gwen lalu melepas sabuk pengamannya.
"Aku mau ikut" jawab Mark.
"Baiklah, ayo...."
Mereka pun turun dari mobil dan segera menemui Direktur Byun yang sudah menunggunya.
Ketika Mark melihat Direktur Byun ia merasa lega, dugaannya tak meleset.
"Hallo Direktur Byun..." Sapa Gwen ramah seraya membungkuk.
Mark yang melihat Direktur Byun tersenyum kepada istrinya, terlihat sangat kesal
Gwen menyikut Mark.
"Kau tak menyapa Direktur Byun, dasar tak sopan!" Bisik Gwen mendekat di telinga Mark yang berdiri di sampingnya.
Mark terpaksa menuruti Gwen untuk menyapa Direktur Byun walaupun dia malas.
"Hai Kak Byun, apa kabar??". Tanya Mark tersenyum paksa.
"Hai Mark, aku baik. Aku mendengar dari Gwen kemarin kau sakit. Apa kau sudah sembuh sekarang??" Tanya Direktur Byun .
"Tentu saja, istriku yang cantik ini kan selalu merawatku dengan baik." Mark langsung merangkul Pundak Gwen dan tersenyum senang.
__ADS_1
Sedang Gwen yang di rangkul melirik Mark seraya mengernyitkan alisnya.
Oh, dia ngajak akting nikah-nikahan??? Oukeehhhh !!!!!
Gwen pun tersenyum lebar ke arah Direktur Byun. Seakan mereka adalah pasangan serasi tanpa cela.
"Ya kan sayang???" ucap Mark lagi dengan menekan bahu Gwen agar Gwen paham dan segera panggil dia sayang.
"Hehe iya..." Gwen terkekeh.
Direktur Byun memandang suami istri itu bergantian.
"Ini buku dan beberapa data dari perusahaanku. Kau bisa mempelajarinya" Direktur Byun menyerahkan satu buku tebal dan 2 folder.
Gwen menerimanya.
"Terimakasih Direktur Byun."
"Syukurlah Mark kau mau mengantarkan Gwen ke kampus, aku kasihan padanya. Setiap hari harus berlarian ke stasiun dan berdesakan di kereta"
Perkataan Direktur Byun membuat Mark kicep. Selama ini kan memang Mark tak pernah mau tau urusan Gwen.
Mark hanya tersenyum kecut seraya mengangguk.
"Sayang, ayo kita pulang. Kau pasti lelah kan?? Nanti aku akan memijit kakimu"
Gwen tergelak dalam hati, Mark terlalu overacting dan itu menjijikkan.
"Kami pulang Direktur Byun, terima kasih."
Setelah pamitan Gwen di rangkul Suami KW nya balik kanan pergi dari hadapan Direktur Byun.
Rangkulan Mark terasa kuat hingga membuat Gwen tak nyaman. Istrinya pun menyikut perut Mark lagi hingga rangkulan itu dilepaskan.
"Kau kenapa?? Kita suami istri, ini tempat umum" Protes Mark.
"Aku tau, kalau mau merangkulku lakukan dengan benar. Kau merangkulku seperti terdakwa kasus korupsi" Balas Gwen sengit
Mark mengulurkan tangan dan di sambut Gwen dengan senyuman.
Mereka bergenggaman tangan dan berjalan bersama.
Gwen hanya ingin waktu berhenti, walaupun sebentar saja. Nyatanya itu mustahil.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
*Aku percaya jika doa orang teraniaya di kabulkan oleh Tuhan. Saat Mark semena-mena memerintahku membersihkan rumah, aku berdoa akan ada orang yang mengajakku berlibur ke Pulau Jeju. Aku berterima kasih Kau mengabulkan doaku Tuhan.
Tapi please....enggak gini juga kali*?????
Gwen melirik Mark dengan tatapan sendu dengan bibir mengerucut. Sedangkan suami KW super ngeselin tengah bersandar duduk tenang di kursi pesawat.
3 minggu yang lalu Gwen berusaha keras mengerjakan tugas dan kemarin tugas kuliahnya telah selesai. Mark membantunya mengerjakan tugas kampus agar Gwen tidak ketergantungan dengan kebaikan Direktur Byun.
Gwen senang karena itu yang di inginkannya. Suaminya dengan senang hati membantunya.
Biar ngeselin juga Mark sudah S2. Tidak di ragukan lagi.
Meskipun Mark sering memakinya stupid saat Gwen melakukan kesalahan namun Gwen tetap merasa senang karena Mark memberi tahu letak kesalahannya dan memberi tahu penyelesaiannya.
Dan kini Mark mengajak Gwen liburan ke Pulau Jeju, kata Mark sih itu gratisan dari Maskapai dan hotel.
Tapi Mark mengarang cerita itu. Mark membeli tiket liburan dan hotel dengan uang pribadinya bukan gratisan seperti yang di katakan kepada istrinya.
Mark masih gengsi mengakui kalau dia sengaja mengajak Gwen liburan untuk melepas penat setelah menyelasaikan tugas.
Memang tugas itu mutlak belum di sahkan Dosen tapi Mark terlanjur kasihan pada Gwen yang siang malam belajar.
Mark juga punya tujuan lain yang lebih besar dari ini.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Mark dan Gwen memasuki kamar mereka. Gwen lagi-lagi cemberut harus satu kamar dengan Mark. Dia trauma kejadian di Milan beberapa bulan yang lalu terulang.
Gwen harus berjibaku berebut ranjang dengan Mark dan Gwen selalu kalah. Berhari-hari Gwem tidur di sofa atau lantai beralaskan karpet saja.
"Kau pesan kamar cuma satu??? Aku trauma!!!" Dengus Gwen kesal dengan mensedekapkan tangan di dada.
"Lalu bagaimana?? Kita suami istri, mana mungkin beda kamar?? Yang benar saja.." Mark pun menghempaskan tubuh di ranjang sedang Gwen masih berdiri mematung di tempatnya melihat tingkah suaminya.
"Pokoknya aku berhak tidur di ranjang ini!! Kalau tidak, aku pulang saat itu juga!!" Gwen mengancam dengan menunjuk-nunjuk ke arah ranjang.
Mark yang takut ancaman istrinya segera duduk dan memasang wajah melas.
"Iyaiya.... kau boleh tidur disini"
__ADS_1
"Kalau begitu minggir!!!" Usir Gwen kasar
Mark pun berpindah ke sofa.
"Aaahh, kalau begini kan aku bisa tidur dengan nyaman" Gwen langsung merebahkan diri di kasur. Tangannya mengelus-elus permukaan ranjang.
Kakinya yang menjuntai kebawah di ayun-ayun. Dia nampak girang bisa mengalahkan Mark.
Mark yang melihat istrinya seperti anak kecil hanya bisa mengulum senyum.
.
.
.
Pagi ini saatnya mereka berdua mengeksplore Pulau jeju. Mulai dari cafe, dan jalan-jalan di pantai.
Alih-alih menikmati pemandangan dengan berjalan kaki, mereka bersepeda bersama menyusuri jalanan di Pulau Jeju.
Setelah senja tiba, mereka berdua melihat sunset di atas tebing di Pulau itu. Gwen dan Mark memandang lautan lepas dengan berpegangan ke pembatas anak tangga.
"Mark, terimakasih kau membawaku kemari." Ucapan Gwen lirih, senyumnya tak berhenti mengembang.
Gwen sangat bahagia bisa kesini. Apalagi dengan Mark, selama liburan ini Mark tak menyebalkan seperti biasanya.
"Apa kau baru pertama kali kemari??" Tanya Mark.
"Iya, kau tau kan kalau aku hanya imigran. Aku tak punya cukup uang untuk bersenang-senang" Jawab Gwen lirih seraya tersenyum kecut.
"Apa yang membuat kau dan kakakmu memutuskan pindah kesini?? Apa kau tak punya keluarga lagi??" Tanya Mark.
"Aku tak punya keluarga lagi selain kakakku. Kami ditinggalkan saat aku masih kelas 1 SMU. Dan kakakku sedang berkuliah. Setelah lulus kakakku melamar bekerja di Kantor pengacara di Jakarta, tapi kakakku di pindahkan kesini jadi mau tak mau aku ikut" Gwen bercerita dengan pandangan ke laut lepas.
"Semua orang punya lika liku kehidupan. Sudah takdirmu tinggal di sini dan bertemu denganku"
Gwen tersenyum mendengar ucapan Mark yang menurutnya terdengar aneh. Dapat pencerahan dari mana?? Tumben kata-katanya filosofis sekali. Batin Gwen.
Mereka terdiam sejenak menikmati angin pantai yang berhembus sejuk.
Sesekali Gwen melirik ke sampingnya. Melihat Mark yang tampan berlatar langit senja Pulau Jeju yang indah.
Siluet wajah Mark mempesona Gwen. Tapi kemudian pandangan mereka bersirobok satu sama lain. Gwen tertangkap basah memandang siluet wajah suaminya.
"Kenapa melihatku seperti itu??? Jangan-jangan kau sudah jatuh cinta padaku ya??" Mark langsung menuduh.
Jantung Gwen seketika berdetak lebih kencang dan dia tak tau mesti jawab apa.
"Enak saja !! Aku cuma memikirkan alasan apa yang tepat untuk kita bercerai nanti. Apa kau sudah memikirkannya??? Waktu kita sudah hampir habis" Gwen berkata sengit. Ia hanya berusaha menyembunyikan perasaannya yang telah jatuh cinta dengan suami KW nya itu.
Mark hanya terdima sejenak. Dia menghembuskan nafas pelan, lalu :
"Dari pada memikirkan alasan untuk bercerai kenapa kita tidak memperpanjang saja kontrak pernikahan ini hingga satu tahun ke depan??" Penawaran Mark terdengar merdu di telinga Gwen bahkan lebih sejuk dari angin di Pulau Jeju ini.
"Bagaimana bisa?? Kalau di perpanjang, kau tak bisa kembali pada Hye Ri...." Ucap Gwen lirih.
"Kalau kita bercerai apa kata kakakmu?? Apa kata orang di luar sana yang bergosip tentang pernikahan kita yang cuma beberapa bulan?? Karirku baru saja naik, aku tak rela jika hancur begitu saja" Mark sebisa mungkin berkilah agar Gwen tak menemukan maksud yang sebenarnya. Mark tak ingin berpisah dari Gwen.
Gwen menengadah ke langit yang sebentar lagi gelap.
"Bagaimana??" tanya Mark meyakinkan Gwen lagi.
"Deal, aku setuju!"
Mark yang bersemangat langsung mengulurkan tangan tanda deal sebelum Gwen berubah pikiran.
"Eitts, sebelum bersalaman aku punya beberapa permintaan."
Mark hanya mengernyitkan alis. Gwen punya permintaan??
"Jangan manja, jangan memerintahku seenaknya, kalau kau mau pergi harus bilang padaku agar aku tak menunggumu. Dan jika salah satu diantara kita menyukai lebih dulu, dia harus pergi."
Mark sebenarnya sangat keberatan dengan syarat yang terakhir. Itu merupakan syarat paling berat.
"Baiklah" Mark langsung menjabat tangan Gwen.
Mark tak berpikir panjang daripada Gwen berubah pikiran langsung setuju.
Bukan tanpa alasan Gwen mengajukan syarat yang terakhir, dia sudah merasa kalah dalam pernikahan kontrak ini.
Mark pasti memilih Hye Ri, bukan dirinya. Pergi darinya itu lebih baik....
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Gamawoo, xie xie, thanks......makasih.....
__ADS_1