
**Ya Tuhan jika dia memang bukan jodohku, tolong di pertimbangakan lagi. Udah nyaman banget ini.....!!!!
๐GwenSondakh**๐
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Sore itu Gwen menerima chat menyebalkan dari Mark Lee.
Gwen berdecih seraya menggelengkan kepala tanda tak percaya suaminya masih sempat menghina masakannya.
Dan Mark juga bilang kalau hidupnya sekarang paripurna karena tak melihat wajah Gwen.
Masak masak sendiri makan makan sendiri dirumahpun sendiri na na na naa...
Gwen menyanyi dangdut milik Bang Caca Handika dengan memotong kue buatannya.
Sudah 3 hari Mark pergi meninggalkan rumah untuk pemotretan di Paris.
Ya, setelah aksinya di panggung kemarin Mark punya julukan baru. Para fans menyebut dia dengan Romantic Husband. Ada juga yang menyebut Suami Idaman, bahkan para emak-emak menyebut Mark menantu idaman.
Fans salah duga tentang Mark selama ini, mereka telah melihat sisi lain Mark dalam memperlakukan wanita.
Gwen masih tertawa saat mengingat kejadian hari itu. Dan aku mengulang-ulang video nya di Youtube.
Sesekali Gwen menggigit potongan kue sambil menscroll layar dari atas kebawah untuk membaca komentar yang sebagian besar positif.
Mark terpuruk seketika setelah dia memutuskan mundur dari Grup. Tak ada satupun yang menawarinya bekerja sama. Tapi setelah Mark comeback stage dan tayang di stasiun televisi live, ketenaran Mark naik.
Bahkan Yuri bercerita kalau ponselnya dari pagi sampai malam sibuk menerima telpon dari kantor advertising untuk menawarkan iklan. Yuri berteriak histeris karena ponselnya panas dan seperti mau meledak.
Untuk pemanasan, Mark bersedia menjadi cover majalah VOGUE dan sekarang dia sedang di Paris untuk pemotretan.
Gwen meletakkan ponselnya lagi dan lanjut makan.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Gwen ada janji dengan Direktur Byun siang ini. Mereka bertemu untuk membahas tugas Gwen yang sudah memasuki tahap inti dari penelitian.
Direktur Byun sangat baik, dia selalu membimbing Gwen dan tak menyulitkan wanita itu.
"Hai Direktur Byun, Apa kau sudah lama menunggu?" Sapa Gwen dengan nafas terengah-engah karena dia baru saja berlarian menuju tempat dirinya berjanji menemui Direktur Byun.
Seperti biasa, Direktur Byun selalu menyunggingkan senyum sejuta mega wattnya dan membuat Gwen sedikit terpana.
Tapi dia harus menepisnya, Direktur Byun itu teman Mark Lee. Dan pertemuan ini semata-mata demi tugasnya saja.
Gwen duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Direktur Byun dan terhalang meja yang tak cukup lebar.
"Bisa aku lihat sampai mana tugasmu??" Pinta Direktur Byun.
"Boleh..." Gwen mengambil laptop dan menyalakannya. Karena semua masih ada dalam laptop dan berbentuk draft.
"Kau masih menggunakan laptop model lama??"
"Ha??" Gwen agak nggak ngeh apa maksud Direktur Byun karena saat dia bicara Gwen sibuk menyiapkan buku-bukunya.
"Laptopmu model lama..." Ulang Direktur Byun.
"Oh... Aku suka dengan laptop ini karena ini hadiah dari kakakku" Gwen tersenyum untuk menutupi kebohongannya.
Laptop ini bukan hadiah natal atau ulang tahun, tapi ini adalah laptop bekas Kak Andy karena kakaknya itu sudah bosan dan membeli laptop baru.
Gwen terpaksa berbohong karena dia curiga Direktur Byun akan mengira Mark pelit dan tak mau membelikan istrinya laptop padahal Mark banyak uang.
"Mark juga ingin membelikanku laptop baru, tapi aku menolak karena laptop ini berarti bagiku..." Gwen beralasan lagi.
Bagaimanapun juga Gwen paham pernikahan ini palsu, Gwen tak akan meminta yang aneh-aneh pada Mark Lee. Selamat dari Deportasi baginya sudah cukup.
Bukankah Mark juga mengorbankan cinta dan karirnya demi menyelamatkan Gwen dari Deportasi?? Batin Gwen.
"Susunan tugasmu sudah lebih baik sekarang, dari pada yang kemarin" Direktur Byun memeriksa tugas Gwen satu persatu.
Gwen tersenyum lega karena usaha nya belajar serius tak sia-sia. Direktur Byun akhirnya menilai progres Gwen yang cukup meningkat.
.
.
.
Gwen dan Direktur Byun berjalan di taman beriringan. Setelah selesai memeriksa dan menyerahkan file-file tentang perusahaan Direktur Byun mereka memutuskan untuk rehat sejenak dengan berjalan-jalan.
__ADS_1
"Pemulihan kaki Mark yang cedera begitu cepat, apa karena kau yang merawatnya?? Aku dengar dari Yuri kalau Mark tak membutuhkan fisioterapis dan perawat." Direktur Byun membuka kata.
"Itu karena Mark juga punya semangat untuk segera sembuh. Meskipun mulutku terus saja mengomel padanya" Gwen terkekeh mengingat suaminya yang kadang sangat malas dan manja hingga Gwen harus berteriak untuk semangat.
"Betapa beruntung Mark memiliki istri seperti dirimu. Aku jadi iri..." Direktur Byun menggoda Gwen
"Aaa.... Kau memiliki segalanya, kau akan mendapatkan wanita yang baik nantinya."
"Apa aku bisa mendapatkan wanita yang sama persis seperti dirimu??" Direktur Byun menghentikan langkahnya.
Gwen yang selangkah di depannya juga berhenti. Desiran aneh melanda hati Gwen. Dia terkejut dengan kata-kata Direktur Byun.
Ngapain sih Direktur Byun ngomong kayak gitu????
"Aku bukan wanita yang spesial. Kau bahkan bisa mendapatkan yang lebih dariku" Gwen menyunggingkan senyum, senyum waspada. Karena pembicaraan ini sudah jauh melenceng mengarah ke urusan pribadi.
"Justru kau wanita sederhana, aku ingin wanita sepertimu"
Gwen terperangah mendengar ucapan Direktur Byun yang mulai ngaco menurutnya. Jelas-jelas Gwen melihat wajah Direktur Byun sangat serius. Bahkan lebih serius dari yang tadi di cafe.
"Ooohh, maafkan aku Direktur Byun, aku harus pergi. Tadi aku ada janji akan kerumah kakakku." Gwen ingin segera kabur karena dia sudah merasakan ada sinyal berbahaya jika obrolan ini di lanjutkan.
Direktur Byun mengangguk tersenyum.
"Terima kasih, sampai jumpa" Setelah membungkuk hormat seraya tersenyum paksa, Gwen langsung berjalan cepat pergi dari sisi Direktur Byun secepat mungkin.
Aku enggak GR , tapi tatapan Direktur Byun mulai dari pertama kali kita ketemu sampai hari ini tetap sama. Apa dia???
Gwen menggeleng cepat tak ingin pikirannya terlalu jauh berkelana.
*Ingat Gwen, kau adalah istri Mark Lee !!!
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ*
Gwen sangat senang saat Yuri menelpon kalau Mark hari ini pulang ke Korea.
Mark juga menelpon kalau dia ingin segera makan Tuna Kimbap.
Yuri bilang kalau malam ini Mark sudah sampai rumah. Makanya Gwen semangat berbelanja untuk memasak nanti malam.
.
.
.
Bel terdengar nyaring dari pintu depan.
Gwen yang awalnya senang mengira itu Mark yang datang, dia terkejut mendapati asisten yang bekerja di studio Mark bernama Steve membawa koper dan barang-barang milik Mark.
Senyum yang semula mengembang dengan detak jantung tak beraturan seketika sirna melihat yang datang bukan Mark.
"Maafkan aku, Mark Lee menyuruhku untuk mengantar barangnya ke rumah." Kata Steve.
"Lalu, dimana Mark??" tanya Gwen antusias.
"Oh, tadi dia bilang padaku mau kerumah sakit"
.
.
.
.
Gwen berlarian ke stasiun kereta bawah tanah untuk menuju Rumah Sakit yang di tunjukkan Steve padanya.
Steve sendiri tak tau kenapa Mark Lee harus ke Rumah Sakit.
Otak Gwen sudah tak bisa berpikir jernih. Dia sudah was-was. Dia takut hal buruk terjadi pada Mark Lee.
Gwen ingat ini adalah Rumah Sakit yang pernah di datanginya dulu. Rumah Sakit elite di Kota Seoul. Rumah Sakit yang sangat menjaga privasi pasiennya.
Sepatu sneakers Gwen berdecit saat melangkah di lantai Rumah Sakit yang sangat bersih ini. Gwen memeriksa kamar demi kamar untuk mencari Mark.
Setelah sampai di koridor yang paling ujung, Gwen mengintip ruangan kamar melalui jendela kaca persegi yang ada di pintu itu.
Disana tampak seorang laki-laki sedang duduk di kursi menghadap ranjang. Tangannya tak berhenti mengelus kepala pasien.
Gwen bernafas lega, sejauh ini suaminya tak apa-apa. Tapi siapa yang sakit?? Apa yang sakit Ibu??
Gwen menekan pelan-pelan handle itu untuk membuka pintu.
Kepalanya menyembul di sela-sela pintu. Disaat itu juga terlihat jelas Mark mengelus rambut hitam panjang milik seorang wanita.
__ADS_1
Dia adalah Hye Ri.
Seketika Gwen mengurungkan niatnya untuk masuk. Karena Gwen tau, Mark tak ingin di ganggu.
Gwen menutup pintu itu dengan sangat pelan.
Gwen segera menutup kepalanya dengan hoodie jaketnya untuk menutupi segala kegalauan hatinya.
Air mata menetes dari pipi wanita itu. Gwen tersenyum miris. Dia tak langsung pulang kerumah, setidaknya memberi kabar.
Gwen bersungut dalam hati.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Tak ada gunanya lagi memikirkan Mark Lee.
Setelah kejadian Mark terciduk di Rumah Sakit menemani Hye Ri, Gwen sama sekali tak ingin berharap banyak pada pernikahan ini.
Dia harus ingat bahwa pernikahan ini rekayasa. Tak ada satupun yang benar. Kecuali perasaan yang tersimpan di dada.
Mark sama sekali belum menelpon atau sekedar memberi kabar. Dia hilang seperti di telan bumi dan tak ingat rumah sama sekali.
Gwen mengetik tugas kampusnya dengan cepat. Dia ingin menyibukkan diri dengan tugas dan tak ingin memikirkan tentang pernikahan.
Sayup-sayup Gwen mendengar suara langkah kaki memasuki ruang tengah. Mark datang dan melihat Gwen duduk bersila di lantai sedang sibuk di depan laptop.
"Gwen" Sapa Mark seraya menghempaskan badannya untuk duduk rebahan di sofa
Gwen tak segera menjawab, dia masih kesal dengan kejadian kemarin.
"Hei, kenapa kau diam saja??" Protes Mark yang tak terima sapaannya tidak di jawab istrinya.
"Hmmmm" jawab Gwen malas dengan fokus ke laptopnya.
"Jangan ganggu aku, aku sedang sibuk!" tukas Gwen sinis.
"Kenapa nada bicara mu seperti itu??" Mark pindah posisi dengan menegakkan badan menatap horor sang istri.
Gwen memejamkan mata.
Ya, untuk apa marah? Ini semua palsu kan???
Gwen tersenyum paksa dengan lebar.
"Aku sedang mengerjakan tugas, kau tak lihat."
Gwen mencoba profesional menjadi istri KW. Bahkan di surat kontrak pernikahan di sebutkan bahwa "tidak boleh saling mencintai??"
"Apa kemarin kau memasak kimbap dan japchae??" Tanya Mark sedikit dengan nada bergetar.
"Ah tidak, aku tak memasak apa-apa. Lagipula aku trauma memasak japchae dan tidak ada yang memakannya." Gwen pun berkata dengan menggelengkan kepalanya.
Diapun lanjut mengetik lagi.
"Semalam aku...."
"Kau tidur di studio kan??" Potong Gwen cepat. Gwen tak mau hatinya sakit mendengar alasan jujur Mark.
Mark hanya diam bukan karena merasa aman. Tetapi karena dia merasa bersalah.
"Lain kali kalau kau tak pulang segera kabari aku. Aku tak mau buang-buang makanan" Gwen mempoutkan bibirnya mengingatkan sekali lagi kepada Mark jika tak pulang harus memberi kabar.
Mark memandang istrinya sejenak yang sedang serius mengerjakan tugas kampus.
Dia tak ingin berbohong tapi saat ini mungkin itu yang terbaik.
Saat Mark baru turun dari pesawat dan menuju ke ruang bagasi, Mark yang baru saja menyalakan ponsel yang off dikejutkan dengan chat dari asisten Hye Ri.
Dia memberitahu Mark kalau Hye Ri sakit lagi. karena beberapa hari tak makan.
Flashback :
"Kenapa kau jadi seperti ini??" Mark bertanya saat di pergelangan tangan Hye Ri sudah terpasang infus.
"Kau tega padaku !" Jawab Hye Ri dengan wajah pucat berderai air mata.
"Apa maksudmu??" Mark memang heran dengan sikap Hye Ri yang sering berubah-ubah sekarang.
"Kau lupa janjimu padaku dan akan terus bersamaku?? Kau mengingkarinya Sekarang. Kau sudah menikah, apakah kau tak memikirkan perasaanku yang sekarang kehilangan dirimu???? Aku benci padamu !'
Hye Ri memukul dada Mark dengan tenaganya yang lemah, air matanya berlinang deras dan itu membuat Mark iba.
Mark mengenggam tangan Hye Ri dan membawa ke dalam pelukannya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
__ADS_1
please tinggalkan jejak like komen.
makasih...gamawo.๐ค๐ค๐ค