
Kata peribahasa : Kasih anak sepanjang galah, kasih Ibu sepanjang jalan.
🌸🌸🌸🌸🌸
Aku masih menikmati hari libur ku yang tinggal 3 hari lagi.Dan kini ak sedang berada di sebuah Supermarket untuk berbelanja.
Aku sendirian.Mark pagi-pagi sekali sudah berangkat ke sebuah kantor advertising.
Entah ada apa Mark kesana, yang aku dengar tadi pagi manajernya yaitu Yuri menelpon untuk bertemu.
Dengan bermodal blackcard no limit yang di pinjamkan Mark padaku, aku mulai berbelanja.Mendorong trolli belanjaan.
Aku mau tak mau belanja di supermarket milik Direktur Byun, bukan karena aku mau gratisan lagi tapi Supermarket inilah yang paling lengkap.
Aku mendorong trolly lagi mendekati rak-rak detergen dan sabun.Saat aku mengambil botol pewangi pakaian dan memasukkannya ke trolly aku melihat seorang Ibu keaulitan mengambil kotak detergen yang ada di atas.Tangannya menggapai gapai tapi tak kunjung dapat.
Aku pun permisi ingin mengambilkannya.Setelah aku dapat detergen itu dan memberikannya pada Ibu itu, si Ibu pun tersenyum membungkuk berterima kasih dan akupun membalasnya.
Ketika aku melihat Ibu itu aku malah teringat Ibu mertuaku.Wajahnya yang tegas dengan sorot mata tajam begitu menyeramkan.Aku mendadak ngeri membayangkan Ibu mertua ku yang sedang menyunggingkan senyum menakutkannya.
Setelah bertemu dengan Ibu Mertua ku beberapa hari yang qttlalu aku lebih banyak merenung.Bagaimanapun juga, segalak-galaknya Ibu Mertua, aku harus menghormatinya.Selagi Ibu ada......
Aku menarik trolly kembali setelah beberapa menit melamun.
"Gwen"
Sepertinya ada suara yang memanggilku.Tapi dimana ya.Suara perempuan yang kemarin baru aku dengar.
Aku menoleh ke belakang.
Mati aku !!!!
🌸🌸🌸🌸🌸
Suara horor yang belakangan akrab dan familiar memanggilku saat di supermarket tadi adalah Nyonya Lee Hye Jin.Yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu mertuaku sendiri.
Panjang umur sekali Ibu mertua ku ini.Tiba-tiba muncul saat aku memikirkannya.
Saat aku memikirkan anaknya pun, anaknya juga mendadak muncul di hadapanku.
Kami berada di food court yang berseberangan dengan supermarket milik Direktur Byun saat ini.
Hatiku sama sekali tak bisa ku kondisikan.Aku takut, aku canggung, aku malu.Campur jadi satu.
Ya Tuhan, apakah ini balasan untukku setelah aku menolong seorang Ibu yang kesulitan mengambil detergen???
"Ibu sendirian saja?" Tanyaku memberanikan diri agar suasana tak seperti sidang pengadilan dengan terdakwa menantu durhaka.
"Iya, aku sedang menikmati hari liburku dengan berbelanja"
Ah, iya ini weekend.Pantas sekretaris Ibu yang berwajah anggun itu enggak nampak.
Ponsel yang aku taruh di atas meja bergetar.Aku sebenarnya enggan membuka chat yang entah dari siapa.
"Lihatlah, siapa tau itu penting" Ibu sedikit tersenyum mempersilakan ku untuk membuka aplikasi chat di ponselku.
Aku membukanya.
Kita berbalas pesan dan aku men share dimana lokasiku saat ini.
Aku kembali menatap wajah Ibu yang tiba-tiba berubah sendu.
Loh, ada apa dengan Ibu??
"Apa aku boleh bercerita padamu?"
Aku tersenyum mengangguk.
Makanan di meja kami berdua sama sekali belum kami sentuh.Aku lebih tertarik mendengarkan cerita yang akan Ibu sampaikan.Aku harus pasang telinga lebar-lebar. Dan aku tak boleh salah mentranslate kata demi kata yang akan Ibu katakan.
"Mark anak lelakiku satu-satunya.Dua orang anak perempuan ku yang lain sekarang sudah menikah dan mereka memilih tinggal di Luar Negri.Anak sulungku menikah dengan Warga Negara Kanada, dan anak keduaku menikah dengan Warga Negara China.Aku sama sekali tak keberatan jika Mark menikah dengan warga asing."
Pembukaan cerita yang terasa seperti oase di padang pasir.Ibu tidak masalah dengan statusku yang Imigran.Ok, so far aku lega mendengar ini.
__ADS_1
"Suamiku, ayah Mark meninggal ketika Mark masih bersekolah SMA.Suamiku meninggalkan sebuah perusahaan garmen dan mau tak mau aku harus mengurusnya sendirian.Pada awalnya aku adalah Ibu Rumah Tangga Biasa, anak-anak perempuan ku yang lain tak banyak membantu karena waktu itu sedang fokus kuliah ke Luar Negri.Aku sangat sibuk sehingga tak bisa selalu memperhatikan Mark.Tapi Mark adalah anak yang penurut.Dia tak pernah menuntut apa-apa dariku.Aku ingin dia berkuliah jurusan bisnis agar kelak dia mewarisi usaha yang ku rintis bersama suamiku."
Ibu menghela nafas panjang di sela-sela ceritanya.
"Tapi tiba-tiba dia memutuskan untuk menjadi seorang Idol.Aku menentang keras keputusannya itu.Dan sampai puncaknya, aku mengusirnya dari rumah."
Wajah Ibu bertambah sedih, matanya berkaca-kaca.Aku ingin sekali mendekatinya dan mengelus bahu ibu yang mulai terguncang.Tapi aku hanya diam terpaku.
Begitukah masa lalu suami KW ku??Makanya dia tak suka jika aku menyinggung perihal Ibu di hadapannya??
"Mark keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa. Saat itu dia masih kuliah.Aku tak bergeming dengan keputusan Mark karena aku yakin dia pasti akan kembali ke rumah.Tapi aku salah, dia tak pernah kembali hingga detik ini." Ibu mertua ku menunduk tak ingin menampakkan tangisnya di hadapanku.
Tak kupedulikan orang lain yang lalu lalang dan makan di tempat itu.Yang aku tau aku harus segera memeluk Ibu yang perasaannya sedang kalut.
Ibu yang terlihat menyeramkan, tegas, elegan mirip Ibu Tao Ming Shi di drama Meteor Garden mendadak menumpahkan tangisnya di pelukanku.
Aku memeluk erat Ibu.
"Menangislah Ibu, tidak apa-apa." Aku menggosok-gosok punggung Ibu dengan perlahan menggunakan telapak tanganku.Aku ingin menenangkannya.
"Aku rindu putraku, aku ingin memeluknya. Aku ingin meminta maaf padanya."
Serapuh ini Ibu Mertua ku????
"Gwen" Suara familiar yang aku kenal memanggilku.
Aku melepas pelukan ku dengan Ibu dan mendapati Mark berdiri di sebelah tempat duduk kami.
"Kau sedang apa??Kenapa malah makan disini bukannya langsung pulang.." Dia langsung protes kenapa aku tak langsung pulang.
Aku berdiri di hadapan suami ku ini dengan mata berkaca-kaca.
Mark rupanya masih tak paham dengan siapa aku bertemu.
"Mark" Panggilku lirih lalu menoleh ke arah Ibu yang ada di belakangku.
Mata Mark membelalak ketika tau Ibunya ada disana dengan mata sembab dan berkaca-kaca.
"Ibu-------"
Aku tak menyangka Mark menyebut Ibu dengan Wanita itu.
"Mark dia ibumu"
Aku mempertegas.
Ibu beranjak dari kursinya dengan membawa tasnya dan keluar dari Food Court makanan cepat saji itu.
Ibu berjalan cepat dengan perasaan hancur melihat Mark membentak Ibu dengan kasar.
Aku melepas paksa cengkraman Mark dari lenganku dan aku berlari mengejar Ibu.
Saat Ibu sudah menyeberang di zebra cross aku segera mengejarnya.Aku melewati zebra cross.Tak kupedulikan klakson yang memperingatiku hingga Mark menarikku dan kita berguling di atas trotoar.
"Dasar bodoh!!! Kau hampir celaka!!"
Aku melihat kemarahan dari wajah Mark yang sedang memelukku.
Aku hampir saja tertabrak mobil jika saja Mark tak menyelamatkanku makaaaa???
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Aku menotolkan kasa yang basah dengan antiseptik di punggung tangan Mark.Saat dia menyelamatkanku tadi, punggung tangannya tergores aspal.
Aku menunduk karena aku sedang ketakutan Mark akan memarahiku lagi seperti di mobil waktu kami pulang.
"Maafkan aku...." hanya itu kata yang berulang-ulang aku ucapkan.
"Makanya kalau di jalan hati-hati." Balas Mark sesekali mengaduh karena cairan antiseptik itu membuat Mark marasakan perih.
"Terima kasih, kau menyelamatkan aku"
Aku menempelkan plester itu ke luka goresnya.
"Aku sudah bosan mendengar maaf dan terima kasih.Kita ini suami istri.Sudah seharusnya aku menjagamu"
__ADS_1
Aku terkejut mendengar kata-katanya. Aku yang dari tadi menunduk langsung menatap wajahnya.
Mark yang juga menatapku malah mengernyitkan alis.
"Aku sudah berjanji pada Kakakmu untuk menjagamu kan??Kalau kau terluka bagaimana??Lagipula nanti siapa yang memasak, siapa yang membersihkan rumah??"
Dia ini sedang berkilah atau apa sih??Aku senang saat dia bilang kita pasangan suami istri.Lalu ketika dia bikang jika aku sakit tak ada yang memasak itu yang membuat aku kesal.
Aku berdiri dari tempatku duduk karena aku malas dengan Sikap Mark yang membuat mood ku naik turun.Aku juga tak mau membahas soal ibu lagi karena akan membuat Mark marah.
"Gwen" Mark memanggilku.
"Apa??" aku menoleh ke arahnya yang sedang duduk di sofa.
"Aku lapaaaarrr"
Aku selalu kalah jika Mark bilang lapar dengan wajah memelas.
.
.
.
Dua mangkuk ramen tersaji di meja petang ini.Aku tak mau masak sayur karena tak ingin ada sisa.
Semenjak aku suka nonton acara Masterchef Australia di tv streaming, aku jadi paham tentang zero waste.
Itu adalah challenge memasak dengan bahan se efisien mungkin dan tidak meninggalkan sisa dan sampah.
Aku dan Mark menikmati ramen ini bersama.Aku ingin membahas tentang Ibu tapi suasana hati Mark pasti langsung memburuk.
Aku tak menyangka Mark pernah di usir dari rumah dan keluar dari sana tanpa membawa apa-apa.
Bagaimana ya perasaannya saat itu??
Dia tinggal dimana??
Dia makan apa???
Aku mendadak merasa iba dengan masa lalu suami ku ini.Tapi tidak bisa memaafkan Ibu juga tak bisa di benarkan.
"Mark" Panggilku perlahan.
"Hmmm" jawabnya dengan menyeruput kuah ramen.
"Kau tau Mark, aku sering merindukan Ibuku" aku membuka pembicaraan.
Mark hanya melirikku lalu fokus ke mangkuk ramennya.Dan makan lagi
Ok, sejauh ini dia tak bereaksi apa-apa. Dia tidak tersinggung.
"Ibu dan ayahku meninggal karena kecelakaan pesawat saat kami masih Tinggal di Indonesia.Aku begitu terpukul saat aku tau jika mereka sudah tiada.Sehari sebelum Ayah dan Ibuku meninggal, aku menorehkan luka di hati mereka.Ibuku marah saat aku terlibat perkelahian dengan tetanggaku yang bernama Toni.Toni memergoki ku yang sedang mencuri mangga di belakang rumahnya.Aku yang nakal bukannya meminta maaf malah memukul Toni sampai mimisan.Ibuku marah besar karena malu dengan sikapku yang sangat nakal.Pagi hari kedua orang tuaku berpamitan padaku untuk berangkat ke Turki.Aku yang masih marah pada Ibu, tak menghiraukan mereka pergi.Hingga ada kabar jika orang tuaku mengalami kecelakaan dan semua penumpang tak ada yang selamat."
Aku bercerita dengan perlahan pada suami KW ku ini.
"Aku menyesal tidak pernah berbakti kepada Ibuku, sekarang dia sudah tidak ada lagi .Tak ada tempat bagiku bersandar."
Mataku sudah berair saat aku mengingat kenangan pahit itu.
"Aku mohon padamu, terakhir kali.Tolong, maafkanlah Ibu, Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, tak ada Ibu yang tidak sayang anaknya" aku bersandar di kursi
"Aku tau aku tak berhak mengatakan ini padamu karena pernikahan kita palsu.Tapi Mark, aku juga pernah sangat marah pada Ibuku.Aku tak dapat apa-apa dari kemarahan yang aku buat selain penyesalan yang mendalam."
Aku mengusap air mataku yang akan jatuh di pipi dengan tegar.
"Aku melakukan ini karena aku peduli padamu"
Aku mengambil mangkuk ramen ku yang tinggal sedikit dan membawanya ke wastafel.Setelah mencucinya, aku naik ke atas menuju kamar.
Di balik pintu kamar yang aku tutup rapat, aku menangis terisak karena penyesalan ku yang teramat dalam kepada mendiang orang tuaku.
Aku mengingat pernikahan palsu yang sedang aku jalani ini dan ku torehkan luka lagi pada mereka.
Semoga Tuhan mengampuni semua dosaku.
__ADS_1
🌸🌸🌸🌸