
Lo mah enak LDR an beda kota, beda kecamatan, beda kabupaten atau beda negara, lah gue LDR nya beda perasaan. Gue kudu ottokke???
๐ฟGwen๐ฟ
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Gwen hari ini tak ke kampus, dan dia sedang semangat membersihkan rumah. Mark sedari tadi pagi sudah pergi karena dia bilang ada meeting dengan staffnya di studio.
Mark tidak terikat kontrak apapun dengan agensi. Jadi waktunya fleksibel, dia bisa mengatur jadwal sesuka hati.
Gwen menyunggingkan senyum saat tadi malam dia duduk di pangkuan Mark.
Memangkas jarak yang belakangan ini agak jauh karena Mark terfokus dengan Hye Ri.
Namun Gwen masih ragu, dia memilih mundur atau tidak. Jika ia memilih untuk maju dia harus siap terluka, kalau dia memilih mundur, dia harus siap kehilangan kesempatan untuk mengetahui Perasaan Mark yang sesungguhnya.
Jika menjalani pernikahan settingan serumit ini, Gwen tak ingin menjalaninya. Cinta lokasi yang bisa saja terjadi tak bisa di hindari.
Gwen menghela nafas sebentar lalu membereskan peralatan bersih-bersih nya.
Beralih ke dapur diapun meneguk segelas air dingin hingga tandas.
Getar ponsel mengalihkan perhatiannya sebentar.
Mark mengirim pesan untuk mengajaknya berpesta barbeque malam ini.
Dan yang membuat hati Gwen berbunga-bunga adalah Mark memakan bekal yang di bawakan Gwen dari rumah.
Beralih dari layar ponsel yang menampilkan pesan Whatsapp, Gwen menggeser panel ke menu Galeri.
Jari telunjuknya tak henti-hentinya mengusap foto suaminya yang terpampang di layar ponselnya saat ini . Diam-diam Gwen sering mendownload foto Mark dari Pinterest dan menyimpannya di ponselnya.
Gwen mengulum senyum lalu sejurus kemudian dirinya menepok jidat.
Dia ingat harus berbelanja untuk Barbeque nanti malam.
.
.
.
.
Kali ini mau tak mau Gwen harus berbelanja di Supermarket milik Direktur Byun.
Gwen harus memakai topi dan mengurai rambut agar tak di kenali orang. Terlebih Direktur Byun memergoki dia berbelanja disini.
Ya memang sih skala pertemuan nya dengan Direktur Byun bisa 1: 1000. Gwen hanya berjaga-jaga saja.
Pernyataan suka Direktur Byun untuk Gwen membuatnya harus menghindar sementara waktu.
Gwen berkeliling di area daging segar dan ikan seraya menenteng keranjang di lengannya.
Matanya tak henti-henti mengamati daging. Tangannya bergantian memilih daging yang bagus. Dan akhirnya Gwen mengambil 2 sterofoam daging sapi lalu memasukkannya ke dalam keranjang.
Gwen beralih ke freezer penyimpanan sosis. Tapi begitu Gwen ingat bagaimana Mark menyebut sosis sebagai makanan anjing membuat Gwen bergidik ngeri. Ia urung membeli sosis dari pada pesta BBQ yang menyenangkan berubah jadi tragedi seperti pagi itu.
"Kenapa tak jadi mengambil sosis??"
Gwen berjingkat ketika ada suara yang mengagetkannya. Dan itu adalah suara yang paling dia hindari saat ini.
"Hallo Direktur Byun" Gwen yang tak berhasil menghindar tersenyum paksa ke arah Direktur Byun yang sekarang menghampirinya.
"Kau sendirian??" Tanya nya dengan mengedarkan pandangan mencari Mark.
"Iya, aku sendiri...." Jawab Gwen cengengesan
"Kau berbelanja apa??" Tanya Direktur Byun dengan pandangan mengarah ke keranjang Gwen.
"Oh, aku berbelanja untuk keperluan barbeque" Gwen pun menghela nafas pelan. Ia ingin kabur tapi belum menemukan alasan yang pas.
"Sepertinya kau tidak terpengaruh dengan gosip tentang Mark??"
Mereka kemudian berjalan beriringan.
"Aku tidak terlalu serius menaggapi hal itu. Mark adalah seorang Idol, segala tingkah lakunya entah baik atau buruk memang jadi santapan media"
"Apa kau tak takut jika Mark kembali pada Hye Ri??"
Pertanyaan Direktur Byun Membuat Gwen tercekat. Rasa takut itu ada, bahkan rasa takut akan hal itu membuat Gwen sulit memejamkan mata di malam hari.
__ADS_1
"Bukankah itu hanya masa lalu mereka?? Lagipula Mark kan sudah menikah denganku"
Sebisa mungkin Gwen berusaha tegar menutupi kejanggalan rumah tangganya yang enggak tau mau di bawa kemana.
"Benar, kau sudah menikah. Bahkan kau sudah menutup hatimu untukku" Direktur Byun berseloroh.
Dan itu Membuat Gwen semakin waspada. Pernikahan boleh palsu, tapi Gwen tak mau berhianat.
Daripada obrolan ini makin ngaco Gwen pun segera pamit untuk membayar ke kasir.
"Maaf, aku harus pulang sekarang. Oh, kali ini aku akan membayar." Gwen tertawa mengingat dulu Direktur Byun menggratiskan belanjaannya.
Direktur Byun mengamati kepergian Gwen yang makin jauh dari pandangan dan berbaris rapi di kasir.
.
.
.
Gwen terjebak hujan deras saat dia di halte menunggu bis yang tak kunjung datang. Angin bertiup agak kencang. Jaket Gwen sudah basah dan dia kedinginan.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Dia harus segera pulang sebelum hari berganti malam.
Diapun bernafas lega saat bis yang di tunggu datang. Dengan badan menggigil Gwen masuk ke dalam bis.
Sesampainya di rumah Gwen langsung mandi agar kepalanya tak pusing.
Belanjaan di letakkan begitu saja di meja makan.
Dan akibat kehujanan itu Gwen saat ini meringkuk berselimut tebal di sofa ruang tengah menunggu Mark pulang.
Pesta barbeque di halaman bisa saja gagal tapi mungkin saja kan bisa barbeque an di dalam rumah.
Gwen menanti kepulangan Mark dengan tubuh masih berbalut selimut tebal. Teh hangat tak cukup mampu mengusir rasa dinginnya.
Hingga jam 21.00 Mark belum datang juga. Gwen jadi was-was. Kenapa Mark belum pulang.
Gadis itu coba menelpon suaminya tapi tak kunjung mendapat jawaban. Beberapa pesan whatsapp juga sudah di kirim Gwen namun hanya bercentang 2, tak berubah jadi centang biru. Dan pesan terakhir yang di kirim Gwen malah bercentang satu.
Gwen yang merasakan badannya meriang dan kepalanya pusing efek kehujanan tadi sore hanya bisa pasrah. Mungkin Mark tak akan pulang malam ini.
Seolah ini adalah Deja Vu, berkali-kali Gwen menunggu Mark tapi Mark selalu ingkar dengan janji yang di buatnya sendiri.
Gwen pun tertidur dengan air mata mengalir dari pelupuk matanya.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Malam ini Mark menjaga Hye Ri yang tiba-tiba sakit karena telat makan.
Ya, siang tadi Mark menolak ajakan makan siang Hye Ri, dan akibatnya Hye Ri tak mau makan dan penyakit lambungnya kambuh.
Mark merasa bersalah dan karena itu dia menjaga Hye Ri.
"Mark...." Panggil Hye Ri dengan suara parau.
"Aku disini... Apa kau sudah merasa lebih baik??"
"Aku masih merasakan sakit, aku... ingin kau menjagaku malam ini Mark. Lagipula hujan sangat deras. Berbahaya jika kau pulang"
Mark yang luluh dengan mata sayu Hye Ri akhirnya menuruti wanita yang sekarang jadi staf pribadi Menteri.
"Istirahatlah, apa kau ingin makan?? Aku sudah membuatkan bubur untukmu"
Hye Ri tersenyum dengan wajah pucatnya dan mengangguk senang Mark Membuatkannya bubur.
Mark dengan telaten menyuapi Hye Ri sesendok demi sesendok bubur itu hingga tinggal setengah.
"Kenapa kemarin kau tak makan siang??" Tanya Mark seraya menyendok bubur.
"Aku bisa makan jika bersamamu" Jawab Hue Ri dengan tatapan sayunya.
"Kau kan tau aku sekarang sedang sibuk" Mark berkilah. Dia sebenarnya ingin menghindari Hye Ri karena Gwen sudah menyelamatkan dirinya saat reputasinya hancur untuk kesekian kali.
"Apa karena istrimu kau jadi menghindariku??" Hye Ri pun cemberut dan langsung menuduh Mark.
"Ayo makan lagi??" Mark menyodorkan sesendok bubur ke arah mulut pucat Hye Ri.
"Aku tak mau" Hye Ri membuang muka.
"Bagaimana bisa sembuh kalau kau tak mau makan??" Mark pun membujuk Hye Ri agar mau makan lagi.
"Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?? Aku bisa begini karena kamu Mark...!" Hye Ri yang kesal langsung berbaring Kembali dan membelakangi Mark.
Mark mengehela nafas pelan.
__ADS_1
Di lihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Dia menyugar rambut.
Perasaanya tak menentu ketika ia ingat istrinya yang sudah pasti menunggu di rumah.
Mark menunduk.
Kenapa aku ingkar lagi??
.
.
.
Saat dini hari Hye Ri merintih kesakitan dan Mark yang masih ada di sana segera membawa Hye Ri ke Rumah Sakit.
Raut wajah Mark tampak cemas. Hye Ri tak sadarkan diri dan mendapat perawatan intensif.
Pagi itu Mark menelpon orang tua Hye Ri yang berada di London untuk mengabari jika Hye Ri sakit. Dan mereka. berjanji secepatnya akan pulang.
Namun sebelum Itu, Orang tua Hye Ri berpesan pada Mark agar menjaganya lebih dulu sampai mereka datang.
Mark mengalami dilema, disisi lain dia merasa bersalah pada Gwen dan selalu mengingkari janji yang telah dia buat sendiri.
Tapi Hye Ri juga butuh pertolongannya. Dia bisa seperti ini juga karena Mark.
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Dengan merawat diri sendiri saat sakit Gwen sudah agak baikan sekarang.
Tapi Gwen masih merasakan pusing dan hidungnya sedikit tersumbat. Mungkin mau pilek, pikir Gwen.
Mark tak pulang lagi. Gwen menghela nafas berat. Mark tak akan mungkin menepati janjinya pada Gwen.
Mark hanya menepati janji yang dia buat untuk Hye Ri
Gwen tersenyum miris. Bahkan saat Gwen sakit, dia harus merawat dirinya sendiri dan tak ada yang menolongnya.
Dia tak mungkin minta tolong Kak Andy, Gwen kan sudah punya suami. Mau minta tolong Leona juga Gwen ogah, Leona selalu kepo dengan rumah tangganya terlebih Mark kemarin tertimpa gosip selingkuh dengan Hye Ri. Makanya Gwen harus memblokir nomor Leona biar dia tidak emberrr....!!
Pagi-pagi sekali Gwen menerima email dari Dosennya untuk hari ini datang ke kampus membahas tentang jadwal wisuda kelulusannya.
Saat ini hanya berita ini yang membuat Gwen bersemangat memulai hari.
Diapun segera bersiap-siap pergi ke kampus walaupun dengan kondisi badan masih belum fit di tambah hidung mampet.
.
.
.
.
Gwen tersenyum sumringah ketika dia keluar dari auditorium tempatnya bermusyawarah dengan mahasiswa lain untuk acara wisudanya nanti.
Hari yang di impikan akhirnya akan datang.
Yaa, walaupun wisuda masih lama jadwalnya setidaknya Gwen patut bergembira.
Bahkan Mark yang tinggal serumah dengannya pun belum memberikan selamat.
Entah dimana dia sekarang Gwen tak peduli.
.
.
.
Gwen berdiri di halte menunggu bis, lalu sebuah mobil sedan berwarna hitam menepi. Saat jendela kaca terbuka, dilihatnya Direktur Byun yang mengendarai mobil itu tersenyum ke arahnya.
"Ayo ikut aku, aku dengar Hye Ri sakit. Bagaimana kalau kita menjenguknya??"
Gwen ingin menolak ajakan Direktur Byun namun tiba-tiba rasa penasaran menggelayuti otaknya.
Apa mungkin suami KW tak pulang gara-gara ini???
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
To Be Continued.
Terima kasih untuk para readers dan authors yang senantiasa membaca mendukung mengelike dan merelakan kuotanya untuk karya saya yang super berantakan dan receh ini.
__ADS_1
Tanpa kalian saya bukan apa-apa.
Ok, xie xie ni gamawo, thanks.