
Jujur itu hemat waktu !
๐ฟGwen๐ฟ
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Gwen terduduk lesu di kursi balkon tempat berjemur pakaian malam ini.
Sesekali di bersin karena memang dia sedang flu karena kehujanan kemarin sore sepulang dari berbelanja.
Badannya masih terasa agak meriang dan belum fit benar.
Angin sejuk menerpa badannya, meskipun itu membuatnya sedikit kedinginan. Gwen tak ingin beranjak dari tempat dudukknya karena ia merasa mendapat kedamaian di tempat ini.
Memandang langit luas dan lampu kelap kelip di seberang waduk.
Gwen memejamkan mata sejenak hingga bulir air mata jatuh di pipinya dan menetes mengenai buku jurnal usang milik ayahnya yang belakangan ini sering di bacanya.
Gwen serasa mendapat pencerahan setelah membaca buku itu.
Dia tau apa yang harus ia lakukan sekarang.
Momen menjenguk Hye Ri di Rumah Sakit tadi siang serasa tamparan bagi Gwen.
Dia melihat sendiri suaminya memperlakukan Hye Ri dengan penuh perhatian.
Ditambah dengan kondisinya yang kurang fit, Gwen juga butuh perhatian.
Alih-alih Mark menanyakan kenapa suaranya bindeng dan serak di sertai hidung kemerahan dan wajah pucat, Mark hanya diam seribu bahasa dan menatap tajam Direktur Byun yang datang bersama Gwen.
Flashback :
Gwen dan Direktur Byun memasuki ruangan tempat Hye Ri di rawat saat Mark menyuapi Hye Ri.
Gwen yang melihat pemandangan seperti itu langsung speechless, dengan perasaan yang berkecamuk di dada.
Namun Gwen berusaha tegar, dia sebisa mungkin biasa seperti tak terjadi apa-apa dan memaklumi tindakan suaminya.
"Hallo Hye Ri, maaf aku baru bisa menjengukmu sekarang" Sapa Gwen ramah dengan tersenyum manis.
"Maafkan aku Gwen, aku tau kalau Mark ada janji denganmu malam itu, tapi aku minta pertolongan Mark untuk menjagaku. Asam lambungku kambuh dan hanya Mark yang ada di ingatanku"
Gwen yang menjuluki Hye Ri dengan sebutan Siluman Ular tak heran jika dia berkata seperti itu. Tapi melihat kondisi Hye Ri yang lemah bersandar di ranjang rumah sakit membuat Gwen iba.
"Tidak masalah" Ucap Gwen tersenyum.
"Kalau begitu, bisakah aku meminjam Mark untuk menemaniku di rumah sakit?? Setidaknya hingga orang tuaku datang?"
Jawaban apa lagi yang bisa Gwen katakan selain menyetujuinya. Bukankah suaminya juga tak keberatan ? Janji yang di buat sendiripun di ingkari hanya demi Hye Ri.
"Baiklah, tak masalah" Gwen berusaha tersenyum.
Gwen menyadari, Mark memang lelaki yang di pinjam dari para fans nya dan Hye Ri. Jadi Gwen harus segera mengembalikannya.
Gwen pun pamit pulang, Direktur Byun mengikuti Gwen sampai keluar ruangan. Lelaki itu tau jika Gwen sedikit terguncang dengan perkataan Hye Ri.
"Aku akan mengantarmu pulang !" Direktur Byun mengahadang langkah Gwen yang terkesan terburu-buru.
"Maaf Direktur Byun, aku bisa pulang sendiri. Aku ingin sendiri" Gwen secara halus menolak tawaran Direktur Byun yang ingin mengantarnya pulang.
"Rumahmu jauh dari sini. Mark akan khawatir jika kau pulang dalam keadaan seperti ini??" Bujuk Direktur Byun.
Gwen menatap nanar laki-laki itu, dia bilang bahwa Mark akan khawatir. Gwen pun tersenyum miris.
"Mark tidak pernah mengkhawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Bukankah mereka memang cocok satu sama lain?? Kenapa kau meributkan masalah ini?? Mark pun tak peduli padaku, bahkan aku bisa merawat diriku sendiri saat sakit. Kau lihat?? Aku baik-baik saja kan??" Mata Gwen berkaca-kaca menahan rasa sesak di dada.
Gwen paham, untuk apa dirinya harus peduli dengan Mark dan pernikahan bodoh ini??
"Aku ingin sendiri !" Gwen berlalu pergi dengan perasaan kacau.
Direktur Byun pun tak bisa apa-apa dan membiarkan Gwen pulang sendiri. Gwen memang butuh waktu sendirian.
Direktur Byun kembali ke ruangan Hye Ri, ia sedikit kesal dengan wanita yang sejak dulu di anggap seperti adiknya ini.
__ADS_1
"Aku tak percaya kau bisa seperti itu pada Gwen"
"Apa maksudmu Byun Oppa??"
"Aku tak pernah menyangka kau bisa menarik suami orang untuk terus bersamamu!" Suara Direktur Byun agak meninggi.
"Oppa...." suara Hye Ri terdengar lirih.
Direktur Byun sebal dengan sikap Hye Ri dan dia langsung meninggalkan Hye Ri sendirian di kamarnya.
Di depan ruangan Hye Ri, Direktur Byun berpapasan dengan Mark yang sejak mereka berdua datang menjenguk Hye Ri, memilih keluar dari ruangan itu.
"Byun Hyung..." Desis Mark memanggil Direktur Byun.
Direktur Byun pun berhenti dan Menatap mark yang sedang menyorot tajam dirinya.
"Kenapa kau mengajak Gwen kesini??" tegas Mark
"Aku kemari karena ingin menjenguk Hye Ri. Dan kau, apa yang kau lakukan disini. Kau tak lihat Gwen sakit karena kehujanan kemarin??"
Perkataan Direktur Byun membuat Mark terperanjat.
"Aku sudah berjanji pada Hye Ri akan menjaganya" jawab Mark lirih.
"Itu janji kekanak-kanakan yang pernah kau ucapkan saat masih SMP kan?? Lihatlah sekarang kau sudah menikah Mark?? Gwen terluka melihatmu merawat Hye Ri sedangkan Gwen sedang sakit. Aku bertemu dia saat berbelanja bahan untuk Pesta barbeque. Dia terlihat bahagia. Tapi kau menghancurkan perasaannya demi Hye Ri yang mencampakkanmu ! Apa itu adil baginya?? Baiklah jika kau tak bisa membuatnya bahagia setidaknya jangan buat dia menangis. Kalau sikapmu masih seperti ini, jangan salahkan aku jika aku akan mengambil Gwen darimu !" Direktur Byun sangat kesal dengan sikap plin plan Mark. Dia mengancam akan merebut Gwen Dari Mark jika idol itu tak bisa menentukan sikap.
Perdebatan mereka berakhir. Direktur Byun pergi dari hadapan Mark yang masih terpaku dengan perkataan Direktur Byun yang menusuk hatinya saat ini.
Flashback end,!
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Gwen bangkit dari tempat duduknya karena angin sepoi-sepoi di sekitar balkon rumah membuatnya merasa kedinginan.
Saat dia memasuki dapur Gwen terkejut karena Mark ada disana.
.
.
.
.
"Kau sedang sakit, jangan minum soju " Ucap Mark lirih.
Gwen tersenyum kecut.
"Begitu? Aku memang sengaja minum soju agar aku sakit dan kau memperhatikanku" desis Gwen menatap nyalang suami KW yang duduk di hadapannya ini.
Mark hanya terdiam.
"Tapi itu kan tidak mungkin. Hye Ri lebih penting bukan??" lanjut Gwen.
"Aku sudah berjanji padanya" Mark menunduk menghindari kontak mata dengan Gwen.
"Kalau kau sudah ada janji dengan orang lain, kenapa kau membuat janji denganku?? Apa kau pikir hanya Hye Ri yang punya perasaan??" Sekarang Gwen yang menunduk.
Mark masih terdiam.
"Apa kau ingat, hampir 8 bulan yang lalu kita berdua duduk disini, berhadap-hadapan seperti ini. Membuat surat perjanjian pernikahan kita dan kita berdua sepakat untuk menjalankan drama ini dengan baik. Aku lega karena aku tak jadi di deportasi karena menikah denganmu. Namun jika aku tau menjalani pernikahan palsu denganmu ternyata sesakit ini, aku lebih baik pulang sebagai pecundang." Ucap Gwen dengan air mata hampir jatuh, tapi Gwen masih menahannya. Dia menghela nafas berat karena hidung masih tersumbat.
"Kau tau?? Aku telah kalah dalam permainan ini. Aku ingin pernikahan kita di akhiri saja. Dalam surat perjanjian kita tertulis, jika kita di larang untuk menyukai. Dan aku sepertinya melanggar janji itu."
"Aku sudah berjanji pada Hye Ri, bahwa aku akan menjaganya apapun yang terjadi, meskipun aku seringkali merasa dia mengabaikanku selama ini. Saat aku bertemu denganmu aku bisa melupakan nya sesaat. Tapi kenyataannya adalah, aku sudah menetapkan hatiku pada Hye Ri...." Desis Mark lirih.
Air mata Gwen hampir jatuh mendengar kejujuran Mark padanya. Jawaban itu sudah lebih dari cukup untuknya.
"Baiklah, Mark mari kita bercerai. Dan aku akan pergi meninggalkan rumah ini. Bukankah jika salah satu dari kita yang menyukai terlebih dulu maka dia akan pergi??"
Mark menatap sendu istri KW yang di nikahinya 8 bulan yang lalu. Mark sebenarnya sangat shock dengan akhir rumah tangganya ini.
Gwen pun melangkah pilu menaiki tangga ulir dan masuk ke kamar.
__ADS_1
Wanita itu memeluk lutut erat-erat. Meringkuk di atas ranjang. Tangisannya pecah, dia merasakan hatinya luluh lantak.
Kejujuran memang selalu menyakitkan.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Mark pagi ini bersiap untuk pergi menjemput Hye Ri yang akan pulang dari Rumah sakit. Saat berada di lantai dasar suasana hening. Mark yang biasanya melihat istrinya beraktivitas di pagi hari tak nampak sosok istrinya itu di dapur. Mark mencari di ruangan laundry istrinya tak ada. Di balkon tempat menjemur pakaian, juga tak ada.
Semua penjuru rumah sudah di jelajahi Mark tapi tak ada tanda-tanda wanita itu disini.
Mark langsung menaiki tangga ulir menuju kamar Gwen. Namun tak ada juga.
Mark seketika teringat saat malam tadi Gwen bilang ia akan pergi.
Mark membuka lemari pakaian Gwen dan semua barang-barang nya sudah bersih, tak ada lagi.
Mark sangat shock mendapati kenyataan ini. Dia mengira Gwen tak akan pergi namun semua di luar ekspektasinya.
Gwen benar-benar pergi.
Mark menuruni tangga ulir dan dia menemukan selembar kertas di atas meja belajar Gwen. Mark duduk di kursi ergonomis dan membaca nya.
**Ketika aku menutup mataku, aku masih bisa mendengar suara ramai itu.
Dan aku membuka mata, aku tak melihat kamu lagi.
Momen kita, kebersamaan kita, tak akan pernah kembali lagi.
Biarkan akhiran ini menjadikan kita lebih kuat.
Kemunduran kita akan membuat kita menjafi kuat.
Ketika kita bertemu sekali lagi,
Kita akhirnya terbang di tempat yang berbeda,
Kita harus maju sesuai arah kita sendiri.
Jangan meragukan dirimu.
Berjalan maju dengan berani
Jalan demi jalan yang kita lalui bersama,
Kenangan yang kita buat
Akan selamanya ada di lubuk hatiku.
Itu sebabnya kita harus berjalan maju dan tidak kembali.
Agar kita mencapai tujuan hati kita.
Meskipun hanya sebentar, aku bahagia bisa hidup bersamamu Mark Lee....
520โค**
Mark menaruh kertas itu di meja lagi.
Dia menyandarkan tubuhnya di kursi ergonomis. Memejamkan mata kemudian bulir air mata bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Gwen....." bisik Mark lirih.
๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ๐ผ
Biar malam minggu Gwen aja yang kelabu, malam minggu para readers and authors jangan ya...
Xie Xie ni untuk kalian semua yaa....
jaga kesehatan.
PS : kode angka 520 : jika di ucapkan dalam bahasa China yaitu ไบ ไบ ้ถ ( Wว รr Lรญng ) dan pengucapannya sangat mirip dengan ๆ ็ฑ ไฝ (Wว ร i nว) yang artinya " Aku cinta kamu"
__ADS_1
so, 520 adalah kode ungkapan cinta Gwen ke Mark dalam kode angka China.