
Kesel menghadapi sikap nyebelin Mark Lee. Untung sayang......
πPerawatdadakanπ
πΏπΏπΏπΏ
Sudah 3 hari Mark terbaring sakit di sofa ruang tengah.
Sesekali Yuri datang untuk mengantar pekerjaan Mark, bisanya Yuri membawa berkas untuk di tanda tangani.
Gwen tak tau menahu itu berkas apa. Kalau dia sotoy nanya-nanya bisa ngamuk si Mark.
Gwen paling males kalau harus ribut sama Mark.
Pagi ini, Gwen membantu membuka gips yang di pasang di pergelangan Mark yang terkilir dan hampir saja tulangnya retak.
Untungnya tidak sampai patah.
Kalau di Indonesia bisa di bawa ke tukang pijat. Apa boleh buat, ini Korea. Ada banyak tempat pijat, tapi itu tempat pijat penghilang setres dan pemenuhan hasrat saja.
"Mark, kau harus minum obatmu sekarang ya.." Gwen dengan cekatan menyiapkan obat -obatan Mark.
"Jangan yang ini, aku bisa mengantuk" Kata Mark seraya menunjuk pil kecil berwarna kuning.
Kalau boleh sih, Gwen pengennya Mark minum yang itu biar tidur terus. Dengan begitu kan Gwen bisa bebas istirahat.
Apa boleh buat, suaminya itu sudah dewasa dan cukup pintar untuk ini.
Ponsel Gwen yang ada di saku daster batiknya bergetar.
Tertera nama Dosen pembibingnya di layar ponsel.
Gwen buru-buru menggeser panel berwarna hijau dan segera mengarahkan ponsel itu ke telinganya.
"Selamat pagi Pak Dosen------ Ah iya---- Baiklah---- Saya akan segera datang ke kampus"
Gwen segera meletakkan ponsel di meja dan memastikan Mark sudah meminum obatnya.
"Siapa yang menelpon??" Tanya Mark seraya duduk rebahan di sofa.
"Dosen pembimbingku, baiklah aku akan menjemur pakaian dulu."
Gwen berlalu dari sisi Mark dan menuju ke balkon atas untuk menjemur pakaian.
Saat Gwen tak ada, ponselnya bergetar.
Ada chat masuk. Dan setelah tau siapa yang nge chat, mata Mark melotot. Lalu mendengus kesal.
Mark menjadi kesal membaca chat dari Direktur Byun. Ketika dia akan menghapusnya, Direktur Byun malah menelpon.
Mau tak mau Mark yang akan bicara pada si penelpon
"Halo " Sapa Mark tegas tanpa ragu.
"Oh, ini kau Mark??" Balas Direktur Byun dari sana.
"Iya, ini aku. Ada apa pagi-pagi menelpon istriku ??" Tanya Mark dengan nada ketus.
"Bilang saja padanya aku tadi menelpon untuk membicarakan sesuatu yang penting. Baiklah Mark, terima kasih"
Terputus.
Mark menatap tajam ponsel milik Gwen dan dia serasa ingin membantingnya.
Kenapa sekarang Gwen tambah akrab saja dengan Direktur Byun.
"Hei, apa yang akan kau lakukan dengan ponselku??? Apa kau akan membantingnya lagi seperti dulu??"
Gwen berjalan cepat mengamankan ponselnya. Dia trauma Mark akan melemparnya lagi dan ponselnya pasti rusak.
Karena di dalam ponselnya tersimpan data-data penting dan tugas kuliahnya.
"Siapa yang mau membantingnya, aku cuma pegang apa tidak boleh??" Mark pintar berkilah.
"Kalau kau mau memegang sesuatu, pegang saja yang lain jangan ponselku" Gwen sebal dan segera memasukkan ponsel itu ke saku dasternya.
Ponsel Gwen berdering lagi.
Direktur Byun??? Gwen membatin.
"Hallo, Direktur Byun??" Sapa Gwen ramah tersenyum.
Mark yang sedang melihat istrinya di telpon Direktur Byun memasang wajah masam dan mulutnya seolah mengikuti gerakan bibir Gwen tanpa suara.
"Apa?? Kau tadi menelpon??" Gwen mengernyitkan alis lalu menatap ke belakang di mana suaminya sedang duduk rebahan.
Mark yang melihat gerakan reflek istrinya pura-pura main ponselnya sendiri.
"Iya, baiklah. Tapi aku tidak janji hari ini ya??------ Ok, sampai nanti"
Gwen menatap horor ke Arah Mark.
"Kau tadi menerima telpon dari Direktur Byun kan??"
Mark hanya fokus ke layar ponselnya.
"Seharusnya kau bilang Padaku kalau Direktur Byun menelpon" Gwen kesal.
"Aku mau bilang tadi, tapi aku lupa..." Ucap Mark dengan nada rendah di ujung kalimatnya.
__ADS_1
Mark memang sengaja tak akan memberitahu Gwen kalau Direktur Byun menelpon. Tapi Direktur Byun tak percaya dengan Mark dan malah menelpon lagi.
Gwen berjalan ke arah dapur dan membawakan Mark makanan. Senampan penuh berisi sepiring nasi, semangkuk sup sayuran yang sudah di ukir berbentuk bunga agar Mark berselera memakannya dan tumis daging lada hitam.
Gwen sengaja bangun lebih pagi untuk menyiapkan ini semua.
"Mark, ini sarapanmu" Gwen meletakkan nampan itu di meja dan Gwen pun duduk di sofa terpisah di sebelah sofa Mark.
Mark tidak merespon panggilan Gwen untuk sarapan dan malah bermain game Angry Birds 2.
"Mark...." Panggil Gwen lagi seraya menepuk bahunya.
Mark mendongak menatap istri KW nya itu sinis. Gwen pun tak paham dengan tatapan suaminya itu.
"Ayo sarapan. Jangan main game" Gwen memperingatkan suaminya itu untuk segera makan. Gwen sudah sibuk dari pagi hanya untuk ini.
"Aku suka main game. Aku bosan!" Kata Mark sinis.
"Aku tau keadaan seperti ini membuatmu bosan, makanya ayo makan dulu..."
"Aku tidak bosan dengan keadaan ini. Aku bosan denganmu. Setiap hari hanya melihatmu dirumah. Membosankan"
Gwen yang mendengar kalimat semena-mena keluar tanpa filter dari mulut Suami KW membuatnya meradang. Dari kemarin Gwen sibuk merawat Mark hingga tidur larut malam sedangkan dia harus bangun pagi-pagi sekali dan Mark dengan seenaknya berkata bosan.
Gwen menghela nafas perlahan.
"Baiklah, kalau kau bosan" Gwen berlalu dari sisi Mark dan menaiki tangga ulir menuju kamarnya.
Mark kembali main lagi.
.
.
.
.
Gwen telah bersiap akan pergi menemui Direktir Byun.
Dan Gwen bersumpah, akan pergi tanpa berkata apa-apa.
Buat apa pamitan???
Gwen melewati ruang tengah.
Suara sandal swallow Gwen yang berdecit menapak lantai mengalihkan perhatian Mark dari games nya.
"Kau mau kemana??" Tanya Mark kepo.
Gwen memutar bola mata, tak ingin menanggapi tapi Gwen ingin menggoda Mark.
"Aku mau pergi" Balas Gwen dengan memainkan sepatu boots nya.
"Kau kan bilang kalau di rumah bersamaku sepanjang hari membuatmu bosan?? Jadi aku pergi keluar saja. Aku juga bosan melihatmu berbaring lemah membiarkan tubuhmu tak bergerak sama sekali. Manja.." Goda Gwen dengan mencibirkan bibirnya.
Mark sedikit kecewa dengan tingkah Gwen. Mark hanya kesal saat Direktur Byun menelponnya tadi. Bukan karena Mark merasa bosan dengan istrinya.
"Ya sudah ya aku pergi. Seharian bersama b*bi - b*bi yang menertawakanmu di games itu sangat menyenangkan bukan???"
Mark hanya melongo menatap kepergian istrinya.
.
.
.
.
Setelah dari kampus untuk mengambil surat ijin penelitian di perusahaan Byun.co.ltd , Gwen berjalan cepat menuju tempat dimana dia bertemu Direktu Byun.
Gwen akan memasuki sebuah cafe kekinian yang ada di kawasan Gyeongnidan.
Di cafe unik ini tersedia berbagai macam desert dan kudapan yang berbentuk seperti monster yang menyeramkan.
Entah kenapa Direktur Byun memilih untuk bertemu Gwen disini
Gwen menyisir rambut dengan jari dan merapikan tatanan rambutnya. yang bergelombang panjang di bawah bahu.
Tak lupa juga merapikan kemeja dan celana jeansnya.
Gwen menemukan Direktur Byun duduk di sisi jendela. Diretur Byun duduk dengan kaki menyilang dengan kedua tangan memegang IPAD.
Gradasi cahaya yang di timbulkan dari sinar matahari yang menembus jendela kaca membuat seorang Direktur Byun Hak Do terlihat begitu shining di mata Gwen Sondakh.
Gwen merasakan sedikit pencerahan dalam hatinya yang diliputi rasa frustasi karena suami KW yang bilang bosan padanya.
Gwen menghela nafas sebentar kemudian menghampiri Direktur Byun.
"Hallo Direktur Byun...." Sapa Gwen tersenyum seraya membungkuk hormat dan tegak lagi.
"Hai, duduklah.." Direktur Byun dengan senyuman yang menawan mempersilahkan Gwen duduk di kursi yang berhadapan langsung dengannya. IPAD yang sedari tadi di mainkannya di taruh di atas meja.
"Maaf aku datang terlambat, aku terlebih dulu ke kampus tadi. Oh iya ini surat izin untuk penelitianku." Kataku seraya menyerahkan snelhecter warna kuning pada Direktur Byun.
"Aku mengizinkanmu" Senyuman Direktur Byun membuat wajah Gwen berseri.
"Apa kau tak membacanya dulu??" Gwen terheran kenapa Direktur Byun langsung memberikan izin pada Gwen untuk memuat studi kasus tentang Perusahaannya.
"Tak perlu, aku ingin membuat segalanya lebih mudah" Jawab Direktur Byun.
__ADS_1
Hah?? Apa semudah saat aku wawancara dulu. Aku hanya akan menerima data dari sekretaris nya dan dengan kemampuan mengarang kata-kata aku mengembangkannya sendiri??
Gwen mengangguk.
"Boleh aku melihat rincian tugasmu??" Pinta Direktur Byun.
"Boleh...." Gwen tersenyum dan membuka tas ranselnya kemudian mengambil laptop dan draft yang di tulisnya di buku.
"Ini masih draft saja," Gwen menyerahkan buku itu pada Direktur Byun.
Direktur Byun membukanya, terlihat dia sedang membaca, mengernyitkan alis sedikit, tersenyum sebentar lalu memandang Gwen sekilas, begitu seterusnya sampai dia selesai membaca.
Gwen yang menunggu reaksi Direktur Byun merasa was-was. Gwen sangat sadar dia bukan mahasiswi yang pintar di kampus.
Keahlian menconteknya semasa sekolah di Manado di terapkan juga saat kuliah.
Gwen tak punya pilihan lain, jika terlalu jujur dia takut jadi mahasiswi abadi.
Suasana hening tak ada obrolan di antara mereka berdua. Hanya jantung Gwen yang berdegup tak beraturan menunggu reaksi Direktur Byun yang notabene adalah lulusan cumlaude dari HARVARD.
Dan Gwen, hanya mahasiswa dari Universitas biasa.
"Penulisan mu masih kacau. Aku tak paham apa yang kau tulis. Aku pusing"
Penilaian Direktur Byun terhadap tugasnya Membuat istri Mark Lee menunduk malu. Gwen sudah menyangka ini akan terjadi.
Gwen hanya tersenyum sebentar lalu menunduk lagi.
"Meskipun rumit kau bisa menulis hangeul dan berbahasa Korea dengan baik."
Gwen mendongak menatap laki-laki elegan itu.
"Aku sudah lama tinggal disini, aku sudah terbiasa" Gwen menjawab pujian Direktur Byun dengan agak sebal.
Gwen mengira pujian itu hanya kebohongan Direktur Byun karena dia mungkin bersalah karena mengkritik pedas tugas Gwen.
"Aku tinggal di Amerika 5 tahun tanpa pernah pulang ke Korea. Dan setelah aku kembali Bahasa Korea ku kacau. Aku lupa..."
Gwen melongo, Pria secerdas Direktur Byun bisa lupa dengan bahasanya sendiri.
Gwen menahan tawa.
"Kenapa tertawa??"
"Aku kira kau pandai dalam segala hal, ternyata dalam bahasa kau payah" Seloroh Gwen tersenyum mengejek.
" Bahasa apa yang kau kuasai??" Tanya Direktur Byun
"Aku bisa Bahasa Indonesia, Bahasa Korea, Mandarin, dan Inggris. Aku juga bisa Bahasa orang Manado."
Jawab Gwen dengan menghitung jari-jarinya.
"Manado??" Direktur Byun penasaran tentang Manado.
"Itu daerah asalku. Aku lahir di Manado."
Gwen memencet timbol mikrofon Google dan mengucapkan MANADO !
"Nah ini Manado, indah kan??" Gwen menyodorkan ponselnya untuk memperlihatkan tanah kelahirannya pada Direktur Byun.
Direktur Byun terlihat menscroll layar kebawah.
"Betul, Manado sangat indah. Pantainya juga bagus dan lagi------"
Kalimat Direktur Byun tertahan kemudian menatap lekat wajah Gwen.
"Gadis Manado sangat cantik"
Senyuman Direktur Byun membuat Gwen terpana.
Dia bilang gadis Manado cantik membuat kaki Gwen serasa tak menapak bumi lagi.
Kemudian senyum merekah itu pudar ketika dia mengingat suaminya yang sekarang sedang sakit.
"Aku rasa aku harus pulang sekarang" Gwen membereskan bukunya dan memasukkannya dalam tas ransel warna coklat itu.
"Kenapa?" Direktur Byun sebenarnya tak rela melepas istri adik kelasnya itu untuk pergi dari hadapannya.
"Aku takut Mark akan mencariku. Jam segini dia pasti lapar.." Kata Gwen cuek seraya memasukkan ponsel ke kantong celana jeansnya.
"Kau mengkhawatirkan Mark seolah Mark ini anakmu dan kau Ibunya. Kau akan tenang kalau Mark sudah makan. Apa aku Benar??"
Tebakan Direktur Byun mendekati kebenaran. Gwen lega jika melihat suaminya lahap memakan masakannya.
"Maaf, aku sudah mengganggu waktumu Direktur Byun. Aku harus pergi" Gwen memundurkan kursi kemudian berdiri
Direktur Byun pun juga ikut berdiri.
"Aku bisa membantumu mengerjakan tugas. Hubungi aku kapanpun, aku siap membantu"
Direktur Byun tersenyum
Gwen membungkuk hormat.
"Terimakasih, sampai jumpa..."
Gwen berjalan cepat keluar dari cafe dan kemudian setelah di luar dia berlari cepat.
Direktur Byun yang melihatnya dari jendela tersenyum senang bisa bertemu Gwen hari ini.
Dia merasakan, ketika ada Gwen suasana hatinya berubah jadi happy.
__ADS_1
ππππππ