PASUTRI SETTINGAN

PASUTRI SETTINGAN
CHAPTER 67 : BE STRONG Mark!!!


__ADS_3

Profesional dalam kerja itu harus !!


🌿MarkLee🌿


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Ponsel Direktur Byun bergetar dan ternyata itu adalah panggilan telpon dari Hye Ri.


"Kak Byun, apa kau bisa menemuiku?" Suara Hye Ri di telpon.


"Baiklah"


.


.


.


.


Direktur Byun dan Hye Ri bertemu di sebuah taman menjelang senja.


Hye Ri duduk di sebuah ayunan dan Direktur Byun berdiri tak jauh dari sana bersandar di tiang ayunan.


"Kakak, bolehkah aku bertanya padamu??" Tanya Hye Ri setelah mereka terdiam beberapa saat.


"Bertanya lah" Jawab Direktur Byun seraya memandang langit senja yang indah.


"Aku ingin menanyakan tentang hubungan kita saat ini. Mark sudah menikah dan dia tidak ada di tengah-tengah kita. Bisakah kau melihatku lebih dari wanita yang Mark cintai??? Atau lebih dari seorang adik sekarang??"


Hye Ri mendongak menatap wajah Direktur Byun yang berdiri di samping tiang ayunan.


"Hye Ri, kau benar-benar egois ! Kau menanyakan ini berkali-kali padaku sedangkan kau sudah tau jawabannya. Dengan menayakan ini terus-terusan apakah akan membantu?? Dengarkan aku, meskipun di dunia ini wanita hanya kau seorang, kamu hanya aku anggap sebagai adik. Tak lebih dari itu" Nada bicara Direktur Byun agak meninggi dan enggak selow.


"Oppa, bisakah kau menjelaskannya agar aku mengerti?" Hye Ri yang sekarang berwajah sendu ingin jawaban yang jelas dari Direktur Byun.


"Baiklah, jika itu akan membuat dirimu lebih baik, aku tidak mencintaimu. Dan tak akan pernah mencintaimu karena kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri"


Mata Direktur Byun menatap Hye Ri dengan rasa iba. Direktur Byun memang dari dulu hanya menganggap Hye Ri sebagai adiknya.


"Terima kasih, kau sudah membuat segalanya menjadi mudah" Hye Ri bangkit dari ayunan itu menatap Direktur Byun sebentar kemudian melangkah pergi.


Hati Hye Ri sangat terluka. Dia menyesal mengabaikan Mark demi Laki-laki yang sama sekali hanya menganggap dia adik dan tidak akan pernah mencintainya.


Disaat dia seperti ini, dia butuh bahu Mark untuk bersandar.


🌿🌿🌿🌿🌿


Mark merasa jenuh dan bosan di rumah.


Dulu saat dia masih tinggal sendirian di rumah, tak ada orang lain membuat dia nyaman.


Tapi setelah menikah, kehadiran Gwen memang membuat harinya penuh warna.


Mark mengutuk diri sendiri kenapa dia mengatakan bosan saat ada Gwen dan mengakibatkan Gwen sekarang mengabaikannya.


Dan Mark yakin, istrinya itu pasti sedang menemui Direktur Byun.


Andai kakinya tak sakit, Mark pasti akan mengantar sekaligus mengawasi istrinya itu agar Direktur Byun tak berani menggoda istrinya.


Mark mengenal Direktur Byun dengan waktu yang Lama.


Mark tau Direktur Byun itu suka sekali membuat gadis tersanjung.


Hye Ri saja dia buat bertekuk lutut. Dan dengan teganya dia hanya menganggap Hye Ri sebagai adiknya.


Mark tak mau Gwen akan termakan rayuan


Direktur Byun.


Mark juga takut, mengingat pernikahan ini sebentar lagi akan berakhir, ketika mereka sudah bercerai, Direktur Byun akan mendekati Gwen.


Mark menggelengkan kepalanya membayangkan Gwen yang tersipu malu karena di rayu Direktur Byun.


Untuk mengusir rasa was-was nya, Mark mencoba berlatih berjalan.


Benar kata Gwen, kalau dia malas dan manja kapan sembuhnya.


Perlahan-lahan dia mencoba berdiri dengan kedua tangan bertumpu sofa.


.


.


.


Karena Gwen tiba-tiba malas bertemu dengan Mark di rumah. Setelah bertolak dari cafe itu Gwen tak langsung pulang.


Dia mampir sebentar ke rumah kakaknya dan makan siang disana.


"Aku dengar dari berita di internet, Mark sedang sakit sekarang??" Kak Andy bertanya kemudian menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya.


Gwen terheran, tumben Kak Andy sekarang up to date tentang berita artis.


"Jadi Kakak sekarang follow ig nya Dispet ya??" Gwen menahan tawa.


Kak Andy tiba-tiba jadi salah tingkah karena keceplosan membaca berita di internet.


"Ah, waktu itu aku tak sengaja lihat." Jawabnya berkilah.


Andy Sondakh memang pria pekerja keras dan tak suka dengan gosip artis.


Tapi semenjak adiknya yakni Gwen Sondakh menikah dengan Rapper Mark Lee, dia memfollow Instgram Dispet.


Kalau di Indonesia Dispet itu seperti akun gosip Lambe-Lambean.


Selalu update tentang gosip-gosip panas dan skandal heboh para artis.


Gwen dan Mark pernah masuk Dispet saat mereka terciduk berpelukan di kampus.


"Iya kemarin pergelangan kaki Mark terkilir karena jatuh dari tangga" Jawab Gwen dengan makan kerupuk.


"Apa???" Kak Andy berteriak kaget Dan itu membuat Gwen sedikitg berjingkat.


Kemudian Gwen mengelus dada.


"Kak Andy ngagetin!!" Protes Gwen kemudian dia menenguk segelas air.

__ADS_1


"Mark lagi sakit trus kamu enak-enakan disini? Istri macam apa kamu, suami sakit malah klayapan kesini".


Gwen ingin ngumpat dengan menyebut satu nama hewan dalam hati, tapi dia coba calm down.


"Aku tadi ke kampus trus pengen main kemari. Kirain adek bayi udah di bawa pulang" Gwen mempoutkan bibirnya.


"Ya seharusnya abis dari kampus langsung pulang. Kasian kan Mark nunggu. Udah cepet sana pulang..."


Kak Andy langsung mengusir Gwen yang di anggapnya tak becus merawat Mark yang sedang sakiy di rumah.


Gwen mengeluh dalam hati.


Andai Kak Andy tau siapa Mark Lee itu sebenernya dia pasti shock.


Mark memang paling bisa pencitraan. Hanya di depan Gwen saja dia menyebalkan.


Tapi jika di depan orang lain atau fans nya dia bisa unyu sekali.


🌿🌿🌿🌿


Gwen berteriak histeris mendapati rumah dalam keadaan berantakan.


Mulut Gwen ternganga.


Pandangan matanya menyapu seluruh ruangan.


Sofa tak tertata rapi.


Meja penuh dengan plastik bekas camilan dan kotak susu UHT rasa melon.


Gwen beralih mendatangi dapur yang hanya berjarak 5 meter dari sofa.


Piring kotor dimana-mana. Panci bekas memasak mi instan tergeletak begitu saja di lantai.


Sisa-sisa mi rebus tertinggal mengotori kompor.


Minyak goreng tumpah.


Tisu dapur menggelinding terurai penjang lepas dari gulungan.


Dengan perasaan jengkel luar biasa, kilatan mata marah Gwen beralih ke suaminya yang sekarang sedang santai dengan headset di telinga.


Dan itu membuat Gwen mengamuk.


Gwen berjalan cepat ke sofa di mana ada Mark disana sedang mendengarkan musik dan bernyanyi.


"Mark??" Panggil Gwen dengan amarah tertahan.


Mark yang di panggil malah berteriak menyanyi lagu CALL ME BABY !


Gwen menyugar rambut karena stress melihat kelakuan suaminya yang membuat isi rumah seperti kapal pecah !!!


Apa dia ingin menghinaku dengan lagu itu?? Setelah dia membuat rumah kacau dia ingin di panggil sayang?????


Gwen melepas jaket jeansnya dan melempar nya dengan kasar. Tangannya bersedekap dengan menatap horor suaminya.


Mark pun Melepas headsetnya dan kedua sudut bibirnya terangkat. Matanya yang indah seketika berbentuk seperti bulan sabit.


Dia tersenyum.


"Ahh, istriku sudah pulang??" Tanya dia lembut. Gwen tau itu adalah bagian dari tipu daya Siluman Buaya.


"Apa ini definisi bosan???" Gwen pun berkecak pinggang dengan tatapan ingin menelan Mark hidup-hidup.


"Aku bosan makanya aku berkegiatan tapi aku belum cukup kuat..."


Gwen tak tahan dengan wajah melas Mark dan rengekannya.


Tanpa berdebat lagi Gwen langsung membereskan meja di depan Mark dan membersihkan sampah.


Gwen lalu menyadari, tadi dirinya malah pergi seharian mengabaikan tugasnya menjaga suaminya.


Saat Mark membutuhkannya dia malah pergi.


Gwen menghela nafas pelan.


Gwen harus ikhlas mengerjakan semua tugas rumah tangga ini dengan baik dan dia tak akan mengeluh.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Seperti biasa, Gwen menyiapkan makan malam untuk Mark.


Keduanya dudk di sofa terpisah.


"Setelah ini aku akan mengganti perban yang membalut lukamu. Dan besok aku tak akan kemana-mana. Aku akan membantumu latihan berjalan."


Ucap Gwen kemudian menggigit potongan buah.


Bel di depan berbunyi.


"Mungkin Yuri...." Gwen segera berjalan ke depan untuk membuka pintu.


Setelah pintu di buka itu memang yang datang adalah Yuri tapi yang membuat suprise adalah Yuri datang bersama Ibu.


"Ah, Ibu..." Gwen tersenyum lebar.


.


.


.


"Kalau ibu sedang sibuk, Ibu tak perlu kemari. Aku tak apa-apa" Kata Mark dengan bersandar di badan Ibu.


Setelah mereka berbaikan, Mark sangat manja.


"Aku tidak sibuk," Ibu pun mengelus kepala Mark.


Gwen dan Yuri sedang di dapur membuat teh dan menyiapkan camilan.


"Kau sengaja kesini mengajak Ibu??" Tanya Gwen sedikit berbisik.


Yuri menggeleng pelan.


"Aku bertemu Bibi di depan rumah. Jadi kami semua datang bersamaan" jawab Yuri mendekat ke tubuh Gwen dengan suara berbisik.


"Aku sebenarnya kesini karena ada yang akan kuberitahukan pada suamimu" Bisik Yuri lagi.

__ADS_1


"Apa??"


"Sebenarnya seminggu lagi suamimu harus menghadiri acara peluncuran film terbaru. Suamimu kan pengisi Soundtrack Nya."


Mulut Gwen membentuk O tanpa bersuara.


"Acara seminggu lagi dan kaki Mark masih sakit. Bagaimana??" Yuri berbisik dan wajahnya terlihat panik.


"Aku tak bisa membicarakan ini jika Bibi masih ada disini."


Gwen dan Yuri saling memandang. Kemudian mereka bergabung bersama Mark dan Ibu.


"Maaf Ibu, aku belum maksimal merawat Mark dengan baik..." Gwen menunduk, Dia menyesal seharian ini meninggalkan Mark sendirian di rumah.


"Bagaimana bisa Mark jatuh dari tangga?" Ibu bertanya tapi bukan dengan ekspresi marah. Ibu hanya penasaran.


Mark dan Gwen saling melempar pandangan. Seakan berdebat siapa yang akan menjawab.


"Ah, waktu itu aku akan membersihkan jendela itu Ibu, Aku mau memanjat tangga tapi Mark melarangku dan akhirnya dia yang memanjat. Lalu Mark terjatuh"


Gwen tersenyum berbohong menutupi kejadian yang sebenarnya. Bahwa saat itu mereka bertengkar hingga insiden jatuh itu terjadi.


"Lain kali kau harus hati-hati" Ucap Ibu dengan mengelus rambut putra manjanya itu.


Kemudian sekretaris Ibu yang bernama Sekretaris Seo itu masuk kedalam dan memberitahukan bahwa ada jadwal perjamuan dengan rekan bisnisnya.


Tak lama Kemudian Ibu pergi meninggalkan rumah Mark.


Yuri seperti bisa bernafas lega melihat Ibu pulang.


"Aku tak akan berani bicara jika Bibi masih ada disini. Kau masih ingat kan jadwalmu?? Seminggu lagi, kau harus perform."


"Apa Mark harus hadir?" Tanya Gwen serius. Gwen khawatir karena kaki Mark belum sembuh benar.


"Semuanya aku serahkan padamu Mark. Ini adalah kesempatan untuk muncul di hadapan publik lagi setelah semua luka yang kau alami kemarin. Tapi jika kau tak bersedia aku akan membatalkan nya untukmu. Kau masih sakit mereka pasti memakluminya" Kata Yuri tersenyum kemudian dia mengambil IPAD di tasnya dan mulia men-slide layar.


Gwen dan Mark tiba-tiba saling berpandangan satu sama lain. Mata mereka mengisyaratkan sesuatu. Mata Gwen bilang kalau Mark harus membatalkannya karena tak mungkin kaki Mark akan sembuh dalam seminggu kedepan.


Dan sorot mata Mark bilang bahwa Gwen tak perlu khawatir, Gwen harus percaya padanya.


"Baiklah Yuri, aku akan tampil. Kau urus saja persiapannya". Mark meyakinkan Yuri.


"Benar kau tak apa-apa??" Tanya Yuri sekali lagi.


Mark menggeleng seraya tersenyum.


"Aku akan sembuh, apa kau tak tau jika Gwen merawatku dengan baik??"


Pipi Gwen bersemu merah mendengar perkataan Mark.


"Walaupun dia suka mengomel dan marah-marah seperti singa dia tetap menjagaku" Tambah Mark.


Bibir Gwen mencebik. Mark membuatnya melayang lalu menghempaskannya ke dasar lautan.


"Itu tandanya Gwen mencintaimu. Sadarlah..."


Perkataan Yuri yang spontan membuat Mark dan aku saling memandang. Sedangkan Yuri asik dengan IPAD nya.


Setau Yuri, Mark dan Gwen menikah karena saling mencintai, bukan saling memanfaatkan satu sama lain.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00.


Yuri sudah pulang sejak jam 20.00 tadi.


Mark sedang rebahan di sofa dengan telinga terpasang headset.


Matanya terpejam seraya meresapi lagu yang di dengarkannya.


Gwen sedang duduk bersila di lantai mengahada laptop yang menyala.


Satu jam yang lalu Direktur Byun mengirimkan sebuah file untuk di pelajari agar Gwen mudah mengerjakan tugas akhirnya.


Dan beberapa hari kemudian Direktur Byun akan melihat sejauh mana progres tugas yang Gwen kerjakan.


Makanya dia belajar dengan keras sekarang. Kritikan tajam Direktur Byun tadi siang di jadikan cambuk agar dia belajar lebih keras lagi.


Mark yang merasa lelah mendengarkan lagu, melepas headset dan sekilas memandang istrinya yang sedang sibuk belajar.


Mark tersenyum melihat istrinya seperti mahasiswi pintar karena menggunakan kacamata. Padahal Mark tau, istrinya lihai membuat contekan.


"Gwen..." Seperti biasa jika Mark bosan dia akan mengganggu istrinya.


Gwen tak bergeming dan hanya menjawab panggilan Mark dengan hemmmmm


"Gwen..." Panggil Mark sekali lagi seraya melempar tisu yang di remas.


Gwen tetap tak peduli. Dan Mark malah semakin gemas untuk mengganggunya.


"Jangan ganggu aku!!" tukas Gwen tanpa menatap Mark.


"Apa kau tidak lelah??" Tanya Mark pelan-pelan agar istrinya tak marah. Mark mendadak kasihan melihat istrinya sudah bekerja keras merawatnya.


"Kau berani bertanya begitu padaku?? Setelah kekacauan yang kau timbulkan tadi sore??" Gwen mendelik memelototi Mark yang sedang mengerucutkan bibirnya.


Kali ini Gwen tak habis pikir dengan Mark. Apa dia tidak sadar sudah membuat Gwen lelah seharian ini??


"Hei, kemarilah. Duduklah disini." Mark tersenyum lebar dengan menepuk-nepuk permukaan sofa mempersilakan Gwen duduk disampingnya.


Gwen melepas kacamatanya kemudian di taruh di atas kepala. Diapun berdiri dan duduk di sebelah Mark.


Gwen paham Mark sedang butuh perhatian.


"Ceritakanlah tentang masa kecil, masa sekolah atau tempat kelahiranmu." Pinta Mark.


Gwen melirik ke arah Mark heran. Untuk apa Mark ingin Gwen bercerita. Bukankah itu enggak penting untuk Mark Lee.


Tapi Gwen selalu menuruti keinginan Mark meskipun dia tak ingin mengabulkannya.


"Saat aku seolah SMU, aku sangat nakal. Tingkahku seperti preman. Bahkan semua temanku adalah pria...."


Gwen berceloteh panjang lebar. Dia menceritakan kisah semasa dia kecil dan sekolah hingga kepala Mark tersandar di pundak Gwen.


Gwen melirik Mark yang sudah bersandar di pundaknya.


Gwen tersenyum simpul. Mark tertidur.

__ADS_1


Mata Gwen tiba-tiba menjadi berat dan mereka berdua pun sama-sama tertidur.


πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“πŸ“


__ADS_2