
Aku pengen nanya sama suami kawe, patah hati ama patah tulang sakit mana??
πΏIstrikaweπΏ
ππππ
Gwen sedang serius mengerjakan tugas dan jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Sesekali Gwen menguap karena mengantuk.
Matanya lelah dan berair karena terlalu lama menatap monitor laptop.
Gwen mendesah, kepalanya di sandarkan ke meja bertumpu kedua tangannya.
Bibir tipis Gwen mengerucut, pikirannya melayang ke tempat lain bukan memikirkan tugas kampusnya.
Dia pikir dengan mengerjakan tugas kampus maka ia akan melupakan kegalauan hatinya. Rupanya menyibukkan diri pun rasanya tak membantu.
Laptop masih menyala dengan microsoft office terpampang di layar.
Mata Gwen tiba-tiba terasa berat. Dia menguap dan tertidur.
Hening.
Hanya suara jam yang berdetak memecah kesunyian rumah. Dari pagi tadi Gwen sendirian. Saat dia bangun pagi, Mark sudah tak ada di kamarnya. Pergi entah kemana.
Gwen enggan menanyakan kepada Yuri tentang keberadaan Mark. Dia tidak enak saja di tuduh Yuri posesif. Suami kemana-mana mesti ngintil.
Gwen harus paham resiko jadi istri artis terkenal harus siap di tinggal kerja, kadang harus melihat suami beradegan mesra dalam drama atau iklan.
Pintu depan terbuka, dengan jaket di ikat di pinggang Mark terdiam mendapati Gwen yang sedang tidur di lantai dengan kepala tertelungkup di atas meja.
Di lihat jam sudah pukul 22.00.
Mark berjalan pelan mendekati Gwen dan dia berjongkok untuk mengamati istrinya itu dari dekat.
Di lihatnya tubuh lelah istrinya yang sedang tertidur dengan posisi duduk di lantai. Terlihat tak nyaman namun pulas tertidur.
Di lepasnya jaket yang dari tadi di ikat di pinggang dan menyelimutkan jaket itu di punggung Gwen agar tak kedinginan.
.
.
.
.
Gwen mendapati Mark pagi ini sedang sibuk di dapur. Dan Gwen sudah rapi bersiap akan ke kampus. Gwen sudah membuat janji dengan Dosen untuk mendiskusikan tugasnya lagi.
"Aku berangkat ke kampus ya???" Gwen berpamitan dengan nada agak gugup.
"Iya, hati-hati " Jawab Mark seraya sibuk mengaduk-aduk masakan di panci.
Tak ada kata selain itu di pagi hari ini.
Mereka seperti dua orang asing lagi.
.
.
.
.
Gwen keluar dari ruangan Dosen tapi sebelum keluar ruangan tadi Dosennya berpesan agar dia ikut kelas Dosen tamu.
Dilihatnya jam masih siang, daripada di rumah terus galau lagi, lebih baik kan masuk kelas, batin Gwen.
Gwen duduk di deretan bangku yang berada di tengah.
Kelas di hadiri oleh 50 an mahasiswa dan akan berlangsung selama satu jam setengah.
Gwen tak tau siapa yang akan menjadi Dosen tamu kali ini.
Persetan, aku kesini kan hanya membuang waktu.
Tepuk tangan meriah menyambut Dosen tamu yang baru saja masuk dan berdiri di Podium.
Gwen yang tak bersemangat hanya menunduk, dia seperti di tengah-tengah pasar namun merasa sendirian.
"Hai selamat siang, aku Byun Hak Do yang akan menyampaikan materi kuliah hari ini"
Suara itu mengejutkan Gwen, ternyata Dosen tamunya adalah Direktur Byun.
Seketika Gwen merasa bersemangat untuk menerima materi dari Direktur Byun.
.
.
.
.
Satu setengah jam telah berlalu, Gwen puas karena materi yang di sampaikan Direktur Byun tak jauh-jauh dari profilnya dan profil perusahaannya.
Mulai dari bagaimana dia memulai bisnis retailnya, bagaimana dia berkomunikasi dengan mitra bisnis hingga sekarang dia punya kerajaan bisnis yang dia rintis dari bawah.
Semua yang di sampaikan adalah materi yang dia butuhkan untuk mengerjakan tugas akhirnya.
Direktur Byun seakan mengerti, semua itu adalah yang Gwen butuhkan.
Terlihat dari kejauhan, Direktur Byun masih berbincang dengan salah satu Professor di Universitas, Dia terlihat ramah dan nyaman jika sedang mengobrol.
Dia memang ramah dengan semua orang. Tak seharusnya aku curiga kalau dia hanyaaa....
__ADS_1
Gwen menggeleng cepat, Diapun berdiri untuk meninggalkan kelas yang seperti auditorium itu.
"Gwen"
Gwen berhenti dengan salah satu kaki menginjak anak tangga.
Gwen menoleh ke sumber suara dan tersenyum.
Mereka akhirnya duduk bersebelahan mengambil jarak dua bangku. Suasana hening hanya ada mereka berdua.
"Beritahu aku cara agar bisa lepas darimu??"
Pertanyaan Direktur Byun membuat Gwen speechless. Gwen masih tak mengerti apa maksudnya.
"Haha, kau tak perlu memikirkan bagaimana caranya. Jangan panggil aku jika kebetulan kita bertemu" Gwen berseloroh dengan tertawa.
Setiap kali mereka bertemu tanpa sengaja dan Direktur Byun pasti memanggilnya
"Aku pernah mencoba, nyatanya itu sulit" Jawab Direktur Byun sedikit melirik Gwen yang seketika wajahnya jadi tegang.
"Eh??" Gwen spontan.
"Aku dengar Hye Ri sedang sakit, dan Mark yang menjaganya"
Gwen menengadah di langit-langit auditorium. Dadanya sesak jika ingat momen dimana suaminya membelai rambut Hye Ri yang tertidur di ranjang rumah sakit.
"Iya, aku tau. Kemarin aku sempat ke Rumah Sakit" Jawab Gwen dengan menunduk.
"Aku kenal Mark dari dulu, dia tak bisa lepas dari Hye Ri". Perkataan Direktur Byun yang memang fakta itu selalu sukses membuat luka yang masih basah tersiram air garam.
"Aku tau"
"Jika saja kau mengenalku lebih dulu"
"Apa maksudmu Direktur Byun??"
"Aku tau ini keterlaluan tapi aku memang menyukaimu."
Ucapan Direktur Byun membuat Gwen terkesiap. Dia masih tak percaya, Gwen tak salah dengar.
"Tentu saja kau kan teman Mark" Gwen tertawa tak ingin menaggapi serius pernyataan Direktur Byun.
"Bukan, aku melihatmu lebih dari sekedar istri Mark".
Gwen memejamkan mata.
"Aku kan sudah menikah sekarang" Gwen terkekeh menunjukan cincin kawin yang tersemat di jari manisnya.
"Aku sempat berharap kalau pernikahnmu dengan Mark itu adalah rekayasa. Dan dengan waktu yang sudah kalian sepakati, kalian akan berpisah"
Gwen sudah tak sanggup lagi mendengar perkataan Direktur Byun. Jantungnya sudah berdetak kencang bukan karena pernyataan suka dari Direktur Byun, tapi tentang kondisi sebenarnya pernikahan itu. Apa diam-diam Direktur Byun sudah tau.
"Aku curiga saja, Mark adalah orang yang sangat konsisten dengan cinta. 18 tahun memendam rasa dengan Hye Ri aku pikir itu bukan main-main. Dengan kepopuleran Mark sekarang ini dia bisa mudah menemukan pengganti Hye Ri. Namun dia menikah denganmu, Kau wanita biasa, tidak secerdas Hye Ri. Menurutku sangat aneh jika Mark menikahimu"
Analisa Direktur Byun membuat Gwen keringat dingin. Gwen mati kutu sekarang.
Gwen hanya menunduk dengan apa yang di dengarnya barusan.
Terjadi bencana alam di hatinya saat ini. Tanah longsor, angin ****** beliung, banjir bahkan sunami di sertai gempa 8 magnitudo sedang berlangsung serentak di hati dan pikirannya.
Badannya serasa tak menapak tanah seperti prujurit yang tumbang di medan pertempuran setelah peluru menembus tepat di dadanya.
"Baiklah, aku pergi sekarang" Direktur memgakhiri sesi "pembunuhan" dengan ucapan pamit undur diri
Auditorium hening lagi. Hanya mata Gwen yang berair deras meratapi pernikahannya sekarang.
ππππππ
Gwen menyibukkan diri dengan menata pot-pot sayuran dan memberikan tanamannya pupuk.
Zuccini dan strawberry yang di tanam mulai berbunga.
Gwen merasa bersalah pada tanamannya yang akhir-akhir ini kurang terawat.
Kegalauan hatinya memporak-porandakan segala segi kehidupannya.
Untuk menebus rasa bersalah, sore ini Gwen dedikasikan untuk mengurus tanamannya.
Cinta karna cinta
Tak perlu kau tanyakan
Tanpa alasan cinta datang bertahta
Cinta karna cinta
Jangan tanyakan mengapa
Tak bisa jelaskan jika hati ini telah bicara.
Gwen mengangkat pot di selingi mendengarkan lagu Judika- Cinta Karena Cinta.
Dulu dia suka mendengar lagu galau tentang cinta walau tak merasakan jatuh cinta.
Tapi saat ini dia memang butuh asupan lagu galau yang pas di hatinya.
Walaupun kita berpisah, aku tak akan menyesal Mark Lee....
Tepukan di pundak membuat Gwen berjingkat dan ingin mengambil ancang-ancang dengan mengarahkan spray ke arah si penepuk pundak.
Gwen pun menghela nafas lega karena ternyata Mark yang datang.
"Oho, kau akan menyerangku??" ucap Mark terkekeh.
Gwen tak mempedulikan Mark dan asyik menyanyi lagi dengan menyemprotkan obat semut di daun-daun tanamannya.
__ADS_1
Mark yang marasa di abaikan tiba-tiba menarik lengannya dan melepas earphone wireless itu dari telinga Gwen.
"Apa-apaan kau? Jangan ganggu aku!" Protes Gwen.
"Astaga, kenapa kau marah?? Coba, lagu apa yang kau dengarkan" Mark pun memasang headset itu di telinganya.
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa.
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu.....
Mark tersenyum mendengar lagu Andmesh Kamaleng, meskipun tak tau artinya rasanya lagu itu meresap di hatinya. Karena suara lembut Andmesh menghanyutkan siapa saja yang mendengar lagunya.
Gwen heran melihat suaminya begitu menghayati lagu itu dan Gwen menatap layar nya. Mulut Gwen membentuk huruf O setelah tau lagu yang di dengar Mark. Kemudian ide jahil melintas di otak Gwen.
Dengan cepat Gwen mengubah lagu Andmesh yang lembut itu menjadi lagu Linkin Park yang ngerock.
Seketika Mark berjingkat dan melepas earphone wireless itu.
"Kau gila!!" Mark masang wajah murka.
Gwen hanya tertawa terbahak-bahak.
"Makanya jangan ganggu aku!" Gwen masuk ke dalam rumah, lalu di ikuti Mark.
ππππ
"Kau tak kerumah sakit??" Tanya Gwen seraya menyumpit tempura dengan saus teriyaki.
Malam itu mereka duduk berhadapan di meja makan seperti biasa.
"Oh... Aku..."
"Hye Ri membutuhkanmu saat ini" potong Gwen cepat seakan tak peduli.
"Dia sudah pulang dari Rumah Sakit tadi siang" Mark kemudian terdiam dan menghentikan makannya.
"Kau tak perlu memberitahuku jika bertemu dengannya, bukankah kau masih mencintainya??" Ucap Gwen tenang seakan tak terjadi apa-apa dengan perasaanya yang galau berhari-hari.
"Aku masih punya janji padanya"
Mark lalu menenguk segelas air , Gwen menangkap sinyal kalau dia sekarang tak selera makan karena Membicarakan Hye Ri.
"Aku tau kau tak akan mengingkarinya" Gwen pun juga meneguk segelas air.
Terdengar suara bel di depan.
Gwen beranjak pergi membuka pintu tapi di cegah Mark.
"Biar aku saja" Mark pun berjalan ke depan membuka pintu.
Setelah itu dia kembali masuk dengan beberapa orang yang menggotong meja belajar dan kursi ergonomis.
Gwen berjalan pelan ke arah kerumunan itu. Mark membantu mengarahkan para kurir itu untuk menata meja dan kursinya.
Gwen mengernyitkan alis.
Apa Mark pindah studio???
Setelah orang-orang itu pergi kemudian Mark berseru.
"Taraaaa......!!"
Gwen semakin heran kenapa suaminya bertingkah senang.
"Kemarilah" perintah Mark.
Gwen masih diam mematunga tak mengerti.
Mark yang tak sabaran menggeret tangan Gwen dan mendudukkannya di kursi ergonomis itu.
"Bagaimana kau suka??" Tanya Mark seraya berdiri dengan pantat bersandar di tepi meja.
"Kau pindah studio???" Gwen masih tak paham
"Aku beli meja belajar ini untukmu, daripada kau mengerjakan tugas di sofa. Bukankah lebih baik disini??" Mark tak henti-hentinya tersenyum dengan bersedekap.
"Terima kasih, tapi apa ini tak berlebihan??" Gwen merasa masih tak enak dengan pemberian Mark.
"Kenapa kau merasa begitu??" Tanya Mark.
"Setelah ini kita akan berpisah, lalu kalau aku sudah tak di sini lagi, kursi dan meja ini untuk apa??" Jawab Gwen lirih dengan pandangan lurus ke depan menghadap jendela kaca besar di depan meja barunya.
Mark terkesiap dan menguraikan tangannya. Mark terdiam sejenak. Dan tak terasa pernikahan ini di penghujung akhir kontrak.
"Pernikahan kita sudah berjalan 5 bulan. Dan masih tersisa 3 bulan lagi. Setelah ini kita akan berpisah dan kau bisa kembali dengan Hye Ri. Bukankah itu menyenangkan??" Gwen berkata lirih, kedua tangannya di atas meja saling menggenggam.
"Tapi, apapun itu, aku berterima kasih dengan pemberianmu, ini akan sangat berguna untukku".
Gwen berdiri dari kursi ergonomis baru pemberian suami kawe nya itu.
Tanpa berkata lagi Gwen menaiki tangga ulir menuju kamarnya.
Mark duduk di sofa dan merebahkan badannya. Mata nya terpejam mengingat perkataan Gwen barusan.
*Gwen, aku tak ingin berpisah darimu.
__ADS_1
πππππ*