
Cinta itu 99% hati, 1% LOGIKA.
๐MahasiswijurusanCOCOKLOGI๐
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Dari kemarin malam Gwen sudah memutuskan bahwa dia tidak akan memperpanjang perasaannya terhadap Mark. Gwen tak ingin hatinya terluka lagi dan lagi.
Yang harus dia perjuangkan ialah tugas akhir kampusnya yang tinggal selangkah lagi menuju kelulusan.
Belajar yang rajin agar dia segera lulus lalu mencari pekerjaan.
Mark merasakan Gwen sekarang berubah sikap padanya semenjak kejadian malam itu.
Malam dimana dia menghadiahkan Gwen meja belajar, dan malam di mana Gwen mengatakan bahwa pernikahan settingan ini tersisa 3 bulan lagi.
Hal ini membuat Mark sedikit cemas, dia mulai takut kehilangan Gwen. Apalagi Gwen sekarang sangat cuek padanya.
Selama tiga hari ini, Gwen selalu berangkat pagi sekali dan pulang jam 19.00 malam.
Mark penasaran, apa yang dilakukan istrinya seharian hingga lupa pulang.
Di pagi hari Mark selalu menemukan sarapan di meja dan secarik pesan :
Aku ke kampus mengerjakan tugas kuliah dan pulang malam hari.
Seperti pagi ini, Gwen meninggalkan sup dan sayur di meja dengan pesan yang sama.
Itu membuat Mark kesal.
Mark memakan sarapan itu dengan hampa. Tak ada lagi ocehan istrinya di pagi hari. Tak ada tawa istrinya meramaikan rumah.
Benar-benar sunyi.
Rasa sup pun ikut hambar. Mark bersandar dikursi. Lalu dia menelpon Yuri.
"Apa aku ada jadwal hari ini??" Tanya Mark saat menelpon.
"Tidak ada " jawab Yuri.
Mark pun segera mematikan telpon kemudian menggebrak meja.
APA AKU KE KAMPUSNYA YA???
.
.
.
Dengan hoodie menutup kepala dan memakai kacamata hitam, Mark datang ke kampus Gwen. Dia ingin mengintai istrinya.
Mark sangat penasaran, kenapa dia sekarang berubah sikap padanya.
Setelah berkeliling kampus, Mark tak mendapati Gwen. Padahal ini jam istirahat makan siang, tentunya dengan mudah Mark menemukan Gwen di kantin atau koridor.
Setelah berkeliling cukup lama, Mark pun menemukan Gwen. Duduk di taman sendirian dengan membaca buku. Rambut yang tergerai tertiup angin dan Gwen terlihat sangat cantik.
Mark ingin menghampiri Gwen namun langkahnya terhenti ketika Direktur Byun datang menghampiri Gwen dan menyerahkan sebuah buku.
Setelah mengobrol sebentar, Gwen membungkuk hormat pada Direktur Byun dan pergi dari sana.
Mark memukul tembok dengan tangan terkepal. Obrolan Gwen tak lama hanya 5 menit, namun pikiran Mark sudah tak selow lagi.
Sepertinya Direktur Byun sengaja mendekati Gwen.
.
.
.
Jam 19.00 malam Gwen baru sampai rumah dan dalam keadaan gelap. Gwen berpikir mungkin Mark tak ada di rumah.
Setelah lampu ruang tengah dan dapur menyala Gwen terkejut karena Mark sedang duduk di sofa.
"Kenapa lampunya tak di nyalakan. Membuatku terkejut saja" Gwen mengelus dada kesal di buat kaget oleh Mark.
"Apa yang kau lakukan di kampus? Jam segini baru pulang??" tanya Mark menatap tajam Gwen yang masih berdiri di dekat tangga ulir.
"Aku disana belajar, tugasku banyak!!" Jawab Gwen kesal seraya memperlihatkan setumpuk buku yang di bawanya.
"Begitu??" Mark Lee mendengus kesal.
"Kau pikir aku tak punya kegiatan lain selain berdiam diri dirumah??? Kenapa kau marah?? Aku juga tak pernah ikut campur urusanmu!!!" Balas Gwen sengit lalu melengos ke arah lain.
"Selama beberapa hari ini kau mengabaikan pekerjaan rumah, tak pernah memasak, lihat semuanya. Bahkan kau tak memasak malam untukku beberapa hari ini.." Ucap Mark dengan nada rendah di ujung kalimat.
Hati Gwen seketika luluh namun logikanya menolak. Mark terbiasa semena - mena padanya.
"Baiklah, besok aku ada waktu. Aku janji besok akan membersihkan rumah". Ucap Gwen jengah.
"Benar ya? Awas kalau kau malas!!" Mark pun tak lupa dengan ancamannya.
Gwen memutar bola mata, jengah dengan sikap Mark yang selalu menindas dan menyakiti hatinya.
Gwen menaiki tangga ulir dan langsung masuk kamar.
Mark yang di tinggalkan Gwen tiba-tiba mendadak kesal dan melempar jaket nya ke lantai dengan kasar. Dia seolah tak peduli jaket itu berbandrol Gucci.
Dia menghempaskan badan di sofa dan menghela nafas kasar.
*Bodoh !! Kenapa aku berkata seperti itu padanya?????
๐๐๐๐๐*
Pagi itu Gwen sibuk mengerjakan tugas rumah. Sarapan telah siap dan Mark sudah duduk di kursi makan.
Gwen lalu lalang membawa cucian satu ember besar.
Mark yang merasa di abaikan dan sarapan sendirian masih merasa kesal.
__ADS_1
"Kau tak sarapan??" Tanya Mark dengan mata mengikuti langkah Gwen.
Gwen menoleh sebentar ka arah suaminya. Dia hanya menggeleng.
Mark yang sebal dengan jawaban Gwen mendadak menggebrak meja hingga sendok terpelanting ke atas dan mengenai kepalanya.
Mark mengaduh dengan menggosok-gosok kepalanya yang sakit
"Sendok s*alan!!" umpat Mark
"Ada apa Mark??" tanya Gwen yang baru masuk akan melewati meja makan.
"Oh, tidak... aku rasa ada laba-laba jatuh mengenai kepalaku. Tolong nanti kau bersihkan ya sarang laba-laba nya" Mark terkekeh dengan wajah songong takut ketauan Gwen yang abis kena sial.
"Baiklah" Gwen mengangguk lalu melirik ke arah atap.
Bahkan Gwen tak membantah sama sekali kata-katanya. Mark pusing dengan sikap istrinya yang abai padanya.
.
.
.
Diam-diam Mark mengintip Gwen di balkon atas saat istrinya itu menjemur pakaian. Gwen sangat cekatan dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dan Mark sangat senang saat melihatnya.
Mark seperti sedang melihat Ibunya saat masih menjadi Ibu Rumah Tangga.
Ponsel Gwen berdering ada panggilan masuk ke ponselnya.
"Halo----
Mark pasang telinga lebar-lebar, dia kepo istrinya di telpon siapa.
"Oh, Direktur Byun??" Gwen tersenyum senang.
Mark seketika merasa kesal saat tau yang menelpon itu Direktur Byun.
"Aku tidak sibuk hari ini bagaimana??----- Ah, ada bahan materi untukku?? Baiklah nanti siang aku akan menemuimu di perpustakaan kampus, sampai jumpa" Gwen senyum-senyum sendiri kemudian memasukkan ponsel ke saku celananya.
Dia melanjutkan menjemur pakaian.
Mark marah Gwen hari ini ada janji bertemu Direktur Byun. Kelihatan sekali kalau Gwen sangat senang bertemu pria itu.
Mark curiga kalau Gwen sudah termakan rayuan Direktur Byun , makanya dia ingat kapan pernikahan ini berakhir.
Padahal maksud Gwen, ia hanya mengingatkan Mark kalau masa pernikahan palsu ini sudah stadium akhir dan Gwen Berharap Mark bisa kembali pada wanita yang di cintainya.
Mark terkejut saat Gwen akan berjalan ke arah tempatnya mengintip Gwen.
Mark terburu-buru berlari agar tak tertangkap basah Gwen.
Tapi Mark terpeleset ketika sampai lantai dasar. Buru-buru dia masuk ke rumah dan duduk makan seperti tak pernah terjadi apa-apa.
"Kau hari ini mau kemana??" Tanya Mark sinis saat Gwen akan melewatinya.
"Aku ada janji bertemu temanku" Balas Gwen seraya menuju kulkas untuk mengambil air dingin.
"Sejak kapan kau ikut campur urusan kampus??" Gwen menatap tajam ke arah Mark.
"Kau tidak lihat keadaan rumah ini?? Berapa hari kau tak membersihkannya?? Lihatlah jendela berdebu, lantai kotor, sampai kepalaku tadi di gigit laba-laba. Mungkin setelah aku jadi Spiderman kau akan sadar betapa pentingnya membersihkan rumah!!!" Mark mengomel tanpa henti dan Gwen melongo menatap Mark tak percaya dengan tingkah suaminya yang super ngeselin.
"Aku malas bertengkar denganmu!!" Dengus Gwen kesal sambil berlalu masuk ke ruang laundry untuk mengambil alat pel.
"Aku harus mengomel untuk mengingatkanmu tentang kebersihan. Dasar pemalas" Mark tak berhenti mengumpat
Gwen menyemangati hatinya untuk tabah dengan sikap menyebalkan Mark. Mensugesti otaknya agar telinganya tak mendengar omelan suaminya.
Gwen yang sedang membersihkan lantai membuat Mark tersenyum. Dari tadi dia berpikir keras bagaimana caranya agar Gwen tak pergi menemui Direktur Byun.
Dan Mark ras memberikan tugas bersih-bersih yang banyak akan menggagalkan dia bertemu Direktur Byun.
.
.
.
Mark terus mengawasi Gwen yang sedang mengelap kaca.
"Yang bersih, jangan biarkan debu menempel."
Gwen sebal dari tadi Mark terus mengomentari pekerjaannya dan bertingkah seperti majikan.
Sesekali Gwen menatap kesal suaminya yang berteriak senang karena menang bermain game tembak-tembakan.
Gwen hanya berharap, akan ada orang yang mau mengajaknya ke Pulau Jeju untuk berlibur. Gwen stress !!!!!
Mark melihat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mark merutuk diri sendiri kenapa terlena mengawasi Gwen dan asik bermain Game.
Dilihatnya rumah sudah bersih dan kinclong. Tapi Gwen tak ada dimana-mana.
Mark berjalan cepat mengitari semua ruangan di dalam rumah.
Kemudian satu yang belum di datangi yaitu kamar Gwen.
Mark mengendapkan-endap masuk ke kamar Gwen yang tak terkunci. Tapi Gwen tak ada di dalam. Mark mulai cemas kalau Gwen sudah pergi.
Mark sampai melongok ke kolong ranjang dan melihat laci meja rias saking cemasnya.
Suara jeritan Gwen mengagetkannya dan membuat Mark berjingkat.
"Hei, apa yang kau lakukan di kamarku??" teriak Gwen dengan menyilangkan kedua tangan menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan handuk. Tatapan horor Gwen tertangkap mata Mark yang sedang panik.
Mark segera membuang muka.
"Aku cuma mau pinjam pulpen" Jawab Mark sekenanya dengan menepuk pelan jidatnya.
"Pergi sekarang!!!!" usir Gwen kasar.
Mark yang tau istrinya sedang mode senggol bacok memilih kabur dari kamar Gwen.
__ADS_1
Keluar dengan kondisi selamat dari kamar Gwen sebuah anugerah.
Padahal wajah Gwen sudah seperti singa dengan rambutnya yang basah.
Mark duduk di sofa lantai bawah. Dadanya masih berdetak kencang setelah dia menangkap basah istrinya sehabis mandi.
Mark tak henti-hentinya tersenyum jahil.
Mark sudah memikirkan cara untuk menunda kepergian Gwen hingga tengah hari terlewati. Direktur Byun adalah orang sibuk. Dia tak akan ada waktu lebih untuk Gwen.
Gwen turun dari tangga ulir dengan menenteng sepatu boots dan menggamblok ransel kesayangannya.
Penampilannya terlihat casual dengan syal scraft melilit lehernya.
Rambutnya di kuncir menggunakan kunciran yang di berikan Mark padanya.
"Kau harus membantuku" ucap Mark saat Gwen akan bersiap pergi.
"Rumah sudah di bersihkan, apa lagi??? Perutmu juga sudah kenyang kan??"
"Aku pinjam pulpenmu, sekalian bantu aku menandatangani photo card dari majalah VOGUE ini" Pintanya dengan wajah adorable yang membuat Gwen selalu luluh.
"Aku tak bisa bantu, aku tak bisa meniru tanda tangan orang lain"
Padahal Gwen hanya ngeles, Gwen sangat mahir menjiplak tanda tangan orang lain terutama ayah bundanya.
Gwen mendapat ilmu itu karena kepepet keadaan, saat itu nilainya selalu jeblok dan terpaksa dia memalsu tanda tangan orang tuanya di buku laporan ulangan karena Gwen takut orang tuanya marah.
"Ayolah Gwen" rengek Mark.
"Baiklah, aku akan membantumu tapi dengan satu syarat" ucap Gwen
"Apa??" tanya Mark antusias.
"Aku ingin dengar Mark berkata Tolong aku Gwen...." Kata Gwen dengan nada di lemah lembutkan di sertai senyum lebar.
.
.
.
And, this is it!!!!
Merek berdua duduk di sofa, Gwen membantu Mark untuk menandatangani foto Mark.
Sesekali Mark melirik istrinya itu dan tersenyum. Sejauh ini rencanya untuk membuat istrinya tetap di rumah berhasil.
Tapi Mark salah duga, Gwen dengan cepat menyelesaikan tanda tangan itu. Bukan tanpa alasan , Gwen sudah berjanji pada Direktur Byun untuk bertemu siang ini.
"Aku sudah terlambat, aku pergi ya...." Gwen buru-buru berdiri dan dengan cepat Mark mencekal tangannya.
Gwen menatap heran suaminya.
"Gwen, tiba-tiba kepalaku pusing sekali... Rasanya seperti di tusuk-tusuk" Mark berakting sakit kepala dan ini adalah usaha terakhirnya untuk Mencegah Gwen pergi.
"Tapi aku sudah ada janji dengan temanku" Gwen mempoutkan bibirnya dengan kesal.
Mark melepaskan cekalan tangannya dari pergelangan tangan Gwen.
"Baik, pergilah. Aku bisa menahan sakit ini sendirian" Mark berkata lirih seperti menderita karena kepalanya di hantam palu Thor!
"Kau tak apa-apa kan aku tinggal??" tanya Gwen ragu.
Mark mengangguk pelan dengan wajah meringis kesakitan.
"Baiklah, kalau kau tak tahan segera hubungi aku"
Tapi Mark tak kehilangan ide, saat istrinya itu berjalan ke depan Mark mengaduh. Kali ini lebih kencang dari yang tadi.
Berbaliklah.... satu...dua..... ti....
Gwen berlari untuk segera menolong Mark yang kesakitan.
"Mark, bagaimana?? Mana yang sakit??" Rasa khawatir nampak jelas di wajah Gwen. Gwen mengelus pipi Mark, memastikan suhu tubuh Mark.
" Pergilah, aku tak apa-apa..." Mark mengerang dengan memegang kepalanya .
Gwen berpikir sejenak kemudian mengambil ponsel di saku celana jeansnya.
"Halo, maaf hari ini aku tak bisa pergi. Suamiku sedang sakit, maaf ya..."
Setelah obrolan singkat di telpon itu Gwen segera membantu Mark rebahan di sofa.
"Aku akan mengambilkan obat untukmu" Gwen akan pergi namun lagi-lagi tangannya di cekal Mark.
"Jangan pergi, tetaplah disini..."
.
.
.
Usaha Mark tidak sia-sia. Gwen gagal bertemu Direktur Byun. Akting kelewatan Mark telah Membuat Gwen tak jadi pergi.
Gwen menatap iba suaminya yang kadang ngeselin kadang nggemesin.
Di lepasnya scarft dari leher kemudian di pasangkannya itu di leher suaminya.
Padahal Mark sehat walafiat, cuma otaknya doang yang sakit.
Mark tersenyum, bibirnya merekah karena istrinya tak jadi pergi dan memilih memijat kepalanya sekarang.
*Yesssss !!!!?
๐๐๐*
**Entah kenapa pas nulis chapter ini harus dengerin lagu Call Me Baby-EXO berulang-ulang. Seneng aja gitu. heheh.
Gamawo makasih readers N Authors yang masih setia membaca. Dengan like n komennya.
__ADS_1
Tanpa kalian aku bukan apa-apa**.