
Masa Lalu
Malam yang membosankan. Hampir satu bulan aku bertunangan dengan Keith. Biasanya dia sering mendatangiku saat siang hari bila ingin bertemu, jika ingin mengajakku keluar dari sini dia akan datang pada malam hari. Itu semua karena kami tidak ingin ketahuan oleh kakakku.
Hari ini Keith tidak datang karena sedang mendatangi pesta di salah satu kediaman kenalannya. Aku ingin bertemu dengannya tetapi kakakku juga datang ke pesta itu. Kalau mendekam di sini aku bisa mati kebosanan. Kuputuskan pergi ke sana.
Aku memakai rambut palsu dan riasan yang membuat bentuk wajahku terlihat berbeda. Gaun yang kupakai juga sederhana. Tidak akan ada yang mengenaliku.
Aku menggunakan sihir teleportasi menuju ke pesta. Aku sudah sampai. Aku mengendap-endap mencari aula pesta. Gedung yang bersinar terang didatangi oleh bangsawan-bangsawan itu pasti tempatnya. Meski begitu aku tidak akan masuk ke dalam. Karena bisa gawat kalau kakakku curiga dengan salah satu tamu yang tidak bisa berbicara, dia pasti mengira itu adalah aku. Aku berdiri di luar gedung sambil mencari-cari Keith lewat jendela.
Ketemu. Keith sedang berbicara dengan salah satu bangsawan sambil tersenyum. Aku hendak melambaikan tangan agar dia menyadari keberadaanku. Namun, tanganku berhenti begitu melihat seorang gadis berambut pirang menepuk pundak Keith lalu berbincang-bincang dengan akrab. Keith sesekali tertawa bersama gadis itu. Siapa gadis itu?
Merasa penasaran aku terus memperhatikan mereka. Mereka mulai berdansa. Aku melihat gadis itu tersenyum gembira pada Keith. Dari cara dia menatap Keith, itu bukan tatapan biasa. Dia menyukai Keith. Lalu bagaimana dengan Keith. Keith juga tersenyum pada gadis itu. Apakah dia juga menyukainya? Aku tidak tahu. Lebih tepatnya aku tidak ingin tahu. Aku takut untuk menerima kenyataan bahwa sebenarnya Keith tidak mencintai diriku. Bahwa cintaku sebenarnya tidak terbalas. Lalu, dia hanya bertunangan denganku hanya untuk keuntungannya sendiri.
Mereka selesai berdansa. Aku membuntuti ke mana pun mereka pergi. Aku menggunakan sihir penguatan indera pendengaran tetapi karena hiruk pikuk yang terjadi di dalam, suara mereka tidak dapat terdengar dengan jelas. Mereka keluar dari aula pesta menuju taman. Aku terus mengikuti mereka. Mereka duduk sambil melihat pemandangan taman.
"Hari ini benar-benar melelahkan." Keith merenggangkan tangannya.
Akhirnya terdengar dengan jelas. Aku bersembunyi di balik pohon sambil mengumping pembicaraan mereka.
"Itu benar, aku tidak menyangka mereka akan menggelar pesta semewah ini dan mengundang banyak bangsawan," kata gadis berambut pirang itu.
"Bagaimana perasaanmu saat pertama kali datang ke pesta Stella?" tanya Keith menatap gadis itu.
Ternyata namanya adalah Stella.
"Seperti kataku melelahkan tetapi menyenangkan karena ada dirimu, Keith," jawab Stella sambil tersenyum.
"Benarkah? Baguslah kalau begitu." Keith ikut membalas senyuman Stella.
Aku mengepalkan tanganku erat-erat. Apakah aku hanya salah paham kalau perhatiannya padaku hanya belas kasihannya saja pada gadis cacat?
"Sampai kapan kamu akan bertunangan dengan gadis cacat itu?" tanya Stella.
Jantung berdetak lebih kencang. Mereka membicarakan tentang diriku.
"Entahlah, jangan menyebutnya gadis cacat Stella, meski seperti itu Diana adalah orang yang hebat," balas Keith membelaku.
__ADS_1
"Haruskah kamu mengorbankan diri sampai menikahi gadis itu hanya demi mendapatkan uang untuk pengobatan ibumu? Aku tahu kamu ingin menggantikan adikmh agar tidak menikah dengan bangsawan yang jahag. Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri?" Stella meninggikan suaranya tetapi tidak sampai berteriak.
Keith pernah menceritakan padaku bahwa ibunya sakit, tetapi aku tidak tahu bahwa alasannya bertunangan denganku adalah karena membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya. Aku tahu bahwa Keith juga mempunyai adik, tetapi aku tidak menyangka dia akan berkorban agar adiknya tidak menikah.
"Aku tahu kamu mengkhawatirkanku. Aku bisa menjalani semua ini sendiri Stella." Keith memeluk Stella.
"Tenang saja, tidak perlu khawatir," lanjut Keith. Dia menenangkan Stella.
"Aku peduli padamu Keith." Stella membalas pelukan Keith sambil membenamkan wajahnya lebih dalam ke dada Keith.
"Aku juga peduli padamu Stella."
Air mataku menetes mendengar pengakuan mereka berdua. Aku terus menerus mengusapnya. Aku segera kembali ke kamarku dengan sihir teleportasi.
Aku menutupi mataku dengan tanganku. Pertunangan ini memang tidak dilandaskan atas cinta sejak awal, tetapi aku mencintai Keith setelah pertunangan ini berlangsung. Mendengarnya berkata seperti itu membuat hatiku tersayat-sayat.
Aku mencintaimu, Keith. Aku mencintaimu.
Kata-kata itu mungkin tidak akan terucap dari mulutku. Mengatakannya saja membuatku sakit.
Keith yang melihat langkahku terhenti segera mendekatiku. Stella mengikutinya di belakang.
"Ada apa Diana?" tanya Keith.
Aku terdiam hanya terus memandangi Stella. Keith yang menyadari pandanganku langsung bersuara.
"Dia adalah temanku sejak kecil Diana. Namanya Stella."
Ternyata mereka berteman sejak kecil. Kalau begitu mereka berdua sudah saling mencintai sejak kecil pula.
Stella langsung memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan saya Stella Frostein, Nona Moonlight."
"Aku Diana Moonlight," balasku singkat.
"Stella adalah salah satu Penyihir Hewan dan Alam yang langka itu, Diana," jelas Keith.
"Begitu ya, ini pertama kalinya aku bertemu dengan Penyihir Hewan dan Alam. Senang bertemu denganmu, Stella. Tidak perlu bersikap formal kepadaku." Senyum palsuku merebak.
__ADS_1
Aku tidak senang bertemu dengannya. Rasanya hariku seolah-olah hancur begitu bertemu dengannya.
"Baiklah, senang bertemu denganmu, Diana. Selamat atas gelar kepala keluargamu." Stella ikut tersenyum.
Meski tersenyum tatapannya padaku sangat tajam. Stella tidak menyukaiku karena telah merebut Keith darinya. Dia memusuhiku tetapi tidak ingin terlihat jelas di depan Keith. Aku juga membalas tatapannya dengan tajam.
Keith berusaha mencairkan keheningan yang terjadi di antara kami.
"Ngomong-ngomong kenapa kamu ada di sini, Diana?"
"Aku kemari karena diundang Iris. Kudengar kamu berada di ruang latihan jadi aku ingin melihatmu Keith," katanya sambil melirik Stella.
"Begitu ya, terima kasih," jawab Keith malu-malu.
Stella terlihat kesal. Dia tidak ingin melihat kami berduaan, tetapi keberadaannya di sini tidak dianggap.
"Oh ya, kurasa kamu sudah lama berada di sini, Stella. Apa tidak seharusnya kamu pulang?" tanya Keith.
"Apa kamu mengusirku agar bisa berduaan dengan Diana, Keith?" Stella menaikkan salah satu alisnya.
"Bukan begitu, sepertinya kamu kelelahan. Ada baiknya kamu beristirahat. Aku akan mengantarmu sampai di depan," saran Keith.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu Diana." Tatapannya padaku sama sekali tidak berubah.
"Hati-hati dijalan, Stella." Aku tidak mau kalah tetap menatapnya tajam.
Keith sama sekali tidak menyadari sikap bermusuhan kami, mengantar pulang Stella dengan tenang.
Aku menunggunya di tempat latihan ini sambil mengamatinya. Tempat ini terlalu rusak untuk disebut tempat latihan. Lantainya sudah bergelombang. Temboknya juga hampir retak. Tidaka ada salahnya aku membantu biaya untuk memperbaiki ini.
Keith kembali. Dia langsung menghampiriku.
"Apa kamu ingin melihat sihirku yang baru Diana?"
Aku mengangguk sambil menerawang ke depan. Sihir yang hebat.
Mungkin ada perasaanmu yang tertinggal bagi Stella. Aku akan membuatmu melupakan perasaanmu pada Stella. Lalu membuatmu hanya melihatku, setelah itu aku akan meninggalmu.
__ADS_1