
"Sampai kapan pun pelakunya tidak akan ketemu," sindirku.
"Benar, kamu tidak bisa berbuat apa pun, Diana," ujar Stella dengan tersenyum penuh kemenangan.
"Benarkah? Aku bisa meminta bantuan Raja untuk memeriksa apakah ada bekas sihir pada kabel listrik itu. Sihir pada kabel itu dan dirimu pasti sama, lalu rencanamu akan terbongkar."
Sebenarnya ini hanya gertakan belaka. Aku masih enggan menemui Eric. Suasana kami pasti akan canggung. Aku akan mengunjunginya bila suasananya benar-benar mendesak.
"Apa?!" Stella mengepalkan tangannya denagan erat.
"Lalu aku akan memberitahu Ayahmu tentang hal ini. Dia pasti akan merasa malu putrinya yang sudah dewasa tetapi masih saja berbuat onar. Kemudian rumor tentang dirimu yang mencari perhatian akan tersebar," kataku sambil terkekeh.
"Apa maumu Diana?" Stella menatapku tajam.
Dia pasti kesal sekali. Aku menyeringai. "Aku tidak akan memberitahu siapa pun dengan syarat jangan ganggu aku dan Keith lagi."
Stella mengangkat tangannya ingin menamparku, tetapi dia segera menurunkan tangannya. Sepertinya dia sadar, aku terus memprovokasinya. Dengan menamparku, keadaannya akan lebih buruk lagi. Keith akan membencinya karena menamparku.
"Baiklah, aku akan menurutimu, Diana," jawab Stella lirih. Dia mengakui kekalahannya.
"Baiklah mohon kerja samanya, Stella. Aku akan memanggil Keith," balasku sambil berdiri mencari Keith dan Iris.
Setelah keluar dari kamarnya, aku bisa mendengar Stella berteriak. Dengan ini pengganggu sudah hilang.
***
Meski begitu aku membiarkan Keith menjaga Stella agar benar-benar pulih. Sesekali aku datang ke kediaman Frostein untuk memeriksa apakah Stella melakukan sesuatu yang aneh.
Tuan Frostein masih mencari orang yang meracuni putrinya, meski tidak segencar dulu. Dia akan memberi hukuman pada orang yang berani melukai putrinya. Nyonya Frostein yang khawatir akan kesehatan putrinya membeli peralatan makan perak yang bisa mendeteksi racun. Dia melakukannya agar putrinya tidak diracuni kembali. Mereka tidak tahu kalau putrinya sendiri yang meminum racun.
Akhirnya kini Keith terbebas dari gadis itu. Aku mengajak Iris dan Keith menemaniku ke ibu kota. Kubilang kalau aku ingin membeli baju, tanpa memberitahu mereka tujuanku yang sebenarnya. Karena mereka akan menolaknya bila aku mengatakan akan membelikan Iris gaun. Kali ini, bukan Iris yang kubelikan pakaian, tetapi Keith. Keith belum pernah kubelikan baju, seandainya dia tidak mau menerima pemberianku, tetap akan kupaksa.
__ADS_1
Kami berada di toko baju. Lalu kuminta pemilik toko mengeluarkan contoh pakaian pria. Kakak beradik ini memandangiku dengan bertanya-tanya. "Siapa yang ingin kamu belikan pakaian, Diana." Keith membuka mulutnya.
"Kamu akan segera tahu," jawabku sok misterius.
Pemilik toko mengeluarkan semua model pakaian pria. Ada beberapa yang menarik perhatianku. Aku mengambilnya lalu menyodorkannya pada Keith. "Cobalah."
Keith yang masih bingung menuruti perkataanku. Dia menuju ruang ganti. Aku dan Iris menunggunya berganti. Setelah selesai kami menilai pakaian yang dicoba Keith. Semuanya terlihat cocok, tetapi bila kubayar semua pasti mereka akan mengomel. Jadi aku memilih yang paling bagus.
"Akan kubayar untuk setelan yang terakhir. Tolong segera ukuran badannya. Bila sudah selesai, kirimkan ini di kediaman Skyrise," ucapku sambil mengeluarkan uang pada pemilik toko.
Pemilik toko menerima dengan senang hati. "Baik, Nona."
"Tunggu dulu Diana, bukannya kamu yang ingin memilih gaun?" tanya Keith.
"Aku berubah pikiran gaunku masih banyak. Jadi kupikir lebih baik membelikanmu baju saja," dalihku.
"Aku tidak bisa menerimanya. Tolong batalkan saja." Keith mendekati pemilik toko.
Aku menghalanginya. "Barang yang sudah dibeli tidak dikembalikan."
Pemilik toko segera meneruti perintah Keith.
Apa yang direncanakan Keith? Tunggu dulu jangan-jangan...
Pemilik toko membawa model gaun yang digantung dengan rapi. Keith langsung meraih gaun berwarna hitam lalu memberikannya pada Iris. "Iris bantu Diana memakai ini. Kalau dia tidak mau, paksa saja."
"Baik, Kak." Iris mengangguk sambil menarikku menuju ruang ganti.
"Ini namanya pemaksaan dan tidak akan kubayar," ujarku di ruang ganti.
Namun, mereka sama sekali tidak menghentikan tindakan mengusiliku. Bahkan seluruh gaun dipakaikan padaku. Setelah selesai aku merasa lelah. Lalu Keith mengambil kesempatan ini mendekati pemilik toko. "Aku akan mengambil gaun berwarna biru. Lalu kirimkan ke kediaman Moonlight apabila sudah selesai. Oh ya jangan lupa ukur terlebih dahulu ukuran badan nona ini," katanya sambil tersenyum ke arahku.
__ADS_1
Karena tidak punya tenaga untuk melawan, aku menuruti semua perkataannya. Pemilik toko mengukur semua lingkar tubuhku. Keith terkekeh menatapku. Aku berdecak lidah.
Aku kalah, tidak lebih tepatnya seri. Kami membelikan baju satu sama lain, seperti bertukar kado saja.
Iris yang juga merasa lelah hanya tersenyum simpul melihat tingkah kami. Tadi aku sempat melawan, tetapi karena pemilik toko ikut membantu, mereka berhasil membuatku memakai gaun-gaun tadi.
Aku ingin segera beristirahat di kamarku. Kasurku telah menungguku. Aku jalan sempoyongan menuju kereta kuda. Keith membantuku berjalan. Iris masih kuat berjalan dengan kedua kakinya walau terlihat lemas.
Setelah masuk ke kereta kuda, aku langsung menyandarkan kepalaku. Iris yang duduk di sampingku juga mengikuti perbuatanku. Keith naik terakhir, dia memberi perintah pada kusir, "Kita menuju Kediaman Moonlight terlebih dahulu baru kembali ke Kediaman Skyrise."
Kusir itu mentaatinya. Kereta kuda melaju. Mataku terasa berat. Tanpa sadar aku tertidur.
***
Aku terbangun karena kereta kuda tiba-tiba berhenti. Keith tersentak, begitu pula Iris. Iris mengusap matanya, sepertinya dia juga ketiduran.
"Ada apa?" tanya Keith.
"I-itu T-Tuan," jawab kusir itu sambil tergagap.
Keith turun dari kereta kuda melihat keadaan sekitar. Aku pun ikut turun meski masih merasa lelah. Rasa waspada mulai merasuki tubuhku. Kusir itu menunjuk sesuatu di depannya. Aku mengikuti arahnya.
Aku tertabrak Keith yang berhenti tiba-tiba di depanku. Dia sama sekali tidak meminta maaf. Aku memegangi kepalaku lalu melewati Keith untuk melihat apa yang ada di depan. Kenapa mereka semua terkejut seperti itu?
Begitu melihat hal itu, aku tercengang. Terdengar langkah kaki Iris turun dari kereta kuda. "Ada apa kenapa berhenti dan tidak segera naik?" tanyanya.
Kami tidak menjawabnya, efek kejut dari melihat hal itu masih terasa. Karena tak ada jawaban, Iris mendekati kami untuk melihatnya.
Iris memekik ketakutan, "AAA..." Dia langsung memeluk Keith. Keith menepuk-nepuk pundak adiknya untuk menenangkannya, tetapi pandangannya masih tidak
Kami kira Kerajaan sudah aman, ternyata tidak. Pembunuhan masih berlangsung. Di depan kami buktinya.
__ADS_1
Mayat yang terletak di jalanan ini sangat mengenaskan. Luka bekas sihir jarum es terlihat di tubuhnya. Jika itu saja mungkin masih bisa ditolerir. Namun karena ditinggalkan di hutan, tubuhnya juga dimakan hewan liar.
Aku tidak akan memaafkan orang yang melakukan hal ini. Dia pasti akan kutangkap.