Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 38 Pembunuh Penyihir


__ADS_3

Hari ini aku akan menjaga orang yang terlantar sambil menunggu keputusan Eric. Entah rencanaku akan dijalankan atau tidak, bukan masalah. Dia tahu yang terbaik untuk Kerajaannya, aku akan mendukungnya apa puj yang terjadi. Masalah pembunuhan ini begitu pelik, tetapi masyarakat tidak ada yang terganggu. Meski begitu tidak ada yang tahu target pembunuh itu selanjutnya. Bisa saja warga biasa atau bangsawan. Lebih baik diringkus saja, tetapi yang masih menjadi masalah adalah caranya.


"Nona, Anda kedatangan tamu." Kepala pelayan menunduk.


Siapa yang datang pagi-pagi begini? Apa Eric sudah mengambil keputusan sehingga ingin memberitahuku sekarang? Ini malah bagus. Aku tidak perlu penasaran lagi.


"Siapkan camilan dan teh seperti biasa. Aku akan segera ke sana," jawabku bergegas ke sana.


"Baik, Nona." Kepala pelayan keluar dari ruanganku menuju ke dapur.


Aku menuju ruang tamu. Ternyata bukan Eric. Seharusnya aku tidak perlu meminta menyiapkan jamuan untuknya. Orang yang keras kepala datang ke sini.


Aku segera duduk dan bersendekap. 


"Apa maumu?" tanyaku ketus.


"Jangan terlalu kasar, Diana. Tidak ada laki-laki yang akan mendekatimu lagi," kata Derek dengan nada mengejek.


"Cepat katakan keperluanmu, aku sangat sibuk."


"Aku pernah mengatakannya kalau akan datang untuk melamarmu lagi," ucapnya sambil menyeringai.


Dia benar-benar tidak tahu malu. Aku sudah bertunangam apalagi dengan Raja. Apa dia ingin merebut tunangan Raja?


"Aku sudah bertunangan dengan Raja. Kurasa rumornya sudah beredar luas," jawabku sinis.


"Benarkah? Sepertinya rumor yang kudengar sudah kadaluwarsa. Aku baru mendengar kalau Nona Moonlight berpisah dengan Tuan Skyrise." Seringainya miring sebelah.


Dia pasti hanya berpura-pura. Entah ini suruhan Trevor atau memang keinginannya sendiri untuk datang ke sini. Kalau ini memang keinginannya sendiri untuk alasan apa? Derek tidak pernah dekat denganku, dia tidak mencintaiku dan aku tidak menyukainya.


"Informanmu benar-benar payah."


"Jadi apa jawabanmu, Diana?"

__ADS_1


Aku mulai naik darah. Orang ini dapat membuat orang kesal dengan mengejar-ngejar tanpa henti seperti terobsesi.


"Apa kau sudah gila melamar tunangan Raja? Raja pasti akan memberimu pelajaran bila mendengar hal ini," ancamku.


Ini bukan ancaman kosong. Aku bersungguh-sungguh akan memberitahu Eric tentang hal ini. Orang ini harus diberi pelajaran agar jera seperti Trevor.


"Aku tidak gila. Yang terpenting adalah mendapatkanmu. Meski kau bertunangan dengan Tuan Skyrise atau Raja, aku tetap akan melamarmu." 


Dia benar-benar sudah gila. Merebut tunangan orang lain bukanlah hal terhormat. Dia bahkan tidak berpikir akibatnya bila bertindak bodoh seperti ini. 


"Sekali tidak, maka tetap tidak. Keputusanku telah bulat dari dulu, Derek." Aku berdiri. Tidak ada gunanya berbicara dengan orang bebal seperti dia.


Derek menarik lenganku. "Meski tidak mau, kamu harus menjadi tunanganku, Diana. Aku akan memaksamu."


Kusibakkan tangannya dari lenganku. "Pergilah dari sini!"


"Aku pernah mengatakannya, kamu akan menyesal, Diana." Seringai Derek semakin melebar.


Batas kesabaranku sudah habis. Aku mengeluarkan bola api untuk memberikan peringatan kepadanya, tetapi tubuhku malah terlontar ke dinding.


Boom... Boom... Boom...


Keluar asap dari tempat Derek. Ini akibatnya karena telah melawanku. Ketika hendak pergi dari sini, sudut mataku melihat Derek masih berdiri. Aku menoleh ke arahnya, dia baik-baik saja. Bagaimana bisa?


Dia segera melancarkan bola-bola sihirnya. Aku mencoba menghindari serangan demi serangannya sambil mencari kesempatan untuk menyerang balik. Kupasang sihir pelindung untuk berjaga-jaga. Namun, aku terlalu meremehkannya. Serangannya berhasil mengenaiku, menghancurkan pelindungku. Aku ambruk. Kekuatannya tidak sebesar ini sebelumnya. Kekuatannya seharusnya tidak mampu membuatku babak belur seperti ini.


Derek bergerak maju mendekatiku sambil menyeringai.


"Bagaimana kau bisa sekuat ini?" tanyaku.


"Aku menyerap kekuatan sihir dari penyihir-penyihir itu. Kukira kau akan segera menyadarinya Diana. Siapa pembunuh penyihir-penyihir itu sebenarnya. Pelaku yang sebelumnya kalian tangkap adalah umpan. Dia adalah kaki tangan yang hanya kumanfaatkan saja."


Jadi itu adalah Derek. Bangsawan yang membunuh orang terlantar. Jadi itu alasannya Eric tidak bisa mengidentifikasi pelakunya. Mana sihir Derek berubah-ubah setelah menyerap kekuatan sihir mereka.

__ADS_1


"Bukankah transfer kekuatan sihir hanya dapat dilakukan oleh orang yang sedarah?"


"Itu tidak benar, transfer kekuatan sihir adalah sihir unikku. Kau dibodohi oleh kakakmu, Gadis Cacat."


Aku mendongak ke arahnya yang masih menyeringai lebar. Itu adalah sebutanku di kehidupan sebelumnya. Jadi dialah orang mengulang waktu denganku. Penyihir waktu yang membunuhku.


"Kau yang membunuhku di kehidupan sebelumnya!" teriakku.


Dia menutup salah satu telinganya dengan jari sambil mengejekku. Aku berusaha berdiri tetapi ditekan oleh sihir angin. Sial. Aku tidak menyangka pembunuhku adalah orang yang kukenal. Dia bersembunyi dengan sangat lihai.


"Itu benar, aku yang membunuhmu. Dan sekarang aku akan melakukannya lagi." Dia segera mengeluarkan bola-bola sihir. 


Kubekukan kakinya dan menyelimutinya dengan sihir es. Aku segera bangkit menjauh mumpung sihir Derek melemah. Kukeluarkan sihirku terkuat dengan membuat bola sihir paling besar untuk menyerangnya. 


Sihir esku telah dipatahkannya. Derek segera membuat bola sihir yang sama untuk menyerangku. Kekuatan sihir kami beradu. Hanya yang terkuatlah yang menang. Lama-kelamaan bola sihirku terdorong mundur, karena yakin tidak bakal menang aku menghindar ke samping. 


Bola sihir lain miliknya sudah diarahkan kepadaku. Aku kembali roboh kesakitan. Derek melancarkan jarum es. Tentu saja aku tidak sempat menghindar, hanya membuat pelindung. Pelindungku retak, jarum-jarum itu mengenaiku.


"Argh." Aku mengerang kesakitan.  


Darahku mengalir semakin deras. Semua bagian tubuhku terasa sakit. Dia siap melancarkan sihirnya sekali lagi. Apa ini ajalku?


Sihir jarum es Derek diarahkan kepadaku. Aku memejamkan mata sambil menyesali perbuatanku. Seandainya aku lebih kuat. Seandainya aku bisa menyadarinya lebih awal. Seandainya waktu bisa berhenti sekarang. Pasti ada kemungkinan aku bisa hidup. 


Kenapa sihir itu tidak segera mengenaiku? Aku membuka mata. Jarum-jarum itu tepat berhenti di depan mataku. Aku mundur perlahan, sambil berdiri mendekati Derek. Kutatap Derek yang sama sekali tak bergerak, mencondongkan tangannya ke arahku.


Waktu telah berhenti. Bagaimana bisa? Kepalaku semakin berat. Aku harus segera melarikan diri. Tapi ke mana? Musuhku sedang berada di rumahku. Ada satu tempat yang terlintas di pikiranku. Aku segera berteleportasi ke sana.


Kulangkahkan kaki tergopoh-gopoh mendekati kediaman itu. Tidak kusangka aku akan kembali ke sini dengan kondisi yang mengenaskan. Seorang lelaki berambut biru kehitaman muncul dari atas lalu berlari ke arahku. Tidak sempat kulihat wajahnya. Kuyakin dia sangat khawatir.


Pandanganku semakin buram. Kakiku terasa lemah. Tak sanggup menjaga keseimbangan, aku terjatuh. Keith menangkapku sebelum kepalaku terantuk tanah. 


"Bagaimana kamu bisa seperti ini, Diana?" teriak Keith di dekat telingaku.

__ADS_1


Aku tidak sanggup menjawabnya. Mulutku tidak bisa terbuka karena terlalu lelah. Mataku semakin berat. Suara Keith terdengar sayup-sayup. Lalu seketika semuanya menghitam.


__ADS_2