
Aku sedang memasukkan akar, daun dan beberapa tubuh binatang ke dalam tabung eksperimen. Kuproses semuanya dengan sihir. Lalu jadilah ramuan berwarna ungu. Ini adalah ramuan penambah kekuatan yang diminta kakak tiap hari. Ramuan ini untuk minggu depan. Dia memintaku untuk membuat ramuan seperti ini tiap hari, sejak bermimpi buruk. Dia bilang ingin melindungi semuanya dengan menjadi lebih kuat.
Kakakku pergi keluar. Entah ke mana aku tidak tahu. Dia sibuk beberapa hari ini mencari Derek Rockyard, pembunuh yang dicari-cari dan orang yang melukai Kak Diana. Aura Kakakku jadi lebih menyeramkan sejak Kak Diana datang ke sini dengan berdarah-darah. Seolah-olah dia akan membunuh Derek, tetapi aku mendukung Kakakku. Pembunuh seperti Derek tidak pantas hidup.
"Keluar kau Skyrise!"
Aku terkesiap mendengar teriakan orang di luar. Siapa dia? Untuk apa mencari kakakku? Atau malah diriku?
"Keluar! Atau kuhancurkan tempat ini!" teriak orang itu sekali lagi.
Menghancurkan kediamanku? Tidak boleh, ini adalah tempat kenanganku dengan ayah, ibu dan kakak. Aku tidak akan membiarkan orang itu berbuat seenaknya.
Kuambil ramuan yang bisa menciptakan api dan melelehkan segala sesuatu. Aku hanya ingin berjaga-jaga bila orang yang lancang itu berusaha melukaiku.
Aku menghentakkan kaki segera menemui orang itu. Aku sampai di ruang tengah melihat orang yang berteriak-teriak tadi. Kukerjapkan mata berulang kali dan mengusapnya untuk memastikan penglihatanku benar. Raja menatapku dengan berang. Untuk apa Raja ke sini?
Dia segera mendekatiku, mencengkram tanganku lalu mendorongku ke dinding. "Di mana kakakmu?"
Aku melihat matanya yang penuh kemarahan, tetapi aku tidak takut. "Dia sedang pergi."
"Ke mana?" Suaranya tetap meninggi. Cengkramannya semakin kuat.
Aku meringis kesakitan. "Aku tidak tahu." Seharusnya aku berbicara formal dengan Raja, tetapi sikapnya saat ini tidak pantas disebut Raja.
__ADS_1
"Cepat jawab! atau kubakar kediaman ini!" Teriaknya semakin keras.
"Aku benar-benar tidak tahu. Mungkin mencari Derek atau ke mana." Suaraku ikut meninggi.
"Sial!"
Dia melepas tanganku dengan kasar. Lalu membuat bola api yang sangat besar. Mataku terbelalak. Aku memegangi tangannya untuk menghentikannya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku akan membakar tempat ini dan membuatnya menderita!" Dia menyibakkan tanganku.
Aku segera mencengkeram tangannya lagi. "Apa kamu sudah gila? Apa salah Kakakku hingga kamu ingin membakar kediamanku?" Aku mulai berteriak.
Gadis itu? Dia membicarakan Kak Diana. Kak Diana mencintaiku Kakakku, aku sudah menduganya. Hanya saja Kakakku terlalu bodoh untuk menyadarinya.
Meski merasa iba aku tidak melepaskan tangan Raja. Dia tidak berpikir jernih.
"Perasaan orang tidak bisa disalahkan!"
"Aku yang mengenalnya terlebih dahulu. Aku selalu mencintainya. Aku ingin bersamanya tetapi kenapa dia tidak pernah melihatku? Kenapa?" suaranya semakin lirih.
Air mata Raja mulai mengalir di pipinya. Ini sama seperti di taman. Aku bingung bagaimana cara untuk menghiburnya. Haruskah kuhibur? Padahal dia berniat menghancurkan kediamanku. Namun, lelaki ini terlihat menyedihkan.
__ADS_1
Aku memeluknya lalu menepuk-nepuk punggungnya. Dia masih menangis keras. Sakit hati karena cinta bertepuk sebelah tangan, belum pernah kurasakan. Namun, pasti menyakitkan hingga Raja terus menangis dan marah.
"Suatu saat kamu pasti menemukan orang yang mencintaimu," kataku berusaha menenangkannya.
"Aku hanya membutuhkan Diana, bukan orang lain." Dia masih bersikeras ingin memiliki Kak Diana.
Aku melepas pelukanku. Orang ini tidak tahu niat baik seseorang. Aku berusaha menghiburnya tetapi dia malah. Ah sudahlah. "Banyak orang yang mendekatimu tetapi tidak kamu tanggapi. Sekarang ketika ditolak malah merengek seperti anak kecil. Bagaimana nasibnya negeri ini bila Rajanya seperti ini?" Amarahku tidak terkendali. Kata-kata yang ada di pikiranku keluar semua tanpa disaring. Ini memang lancang, tetapi orang ini juga lancang. Aku hanya membalasnya.
"Apa yang-"
Aku menyelanya, "Pergilah! Jangan datang ke sini lagi!"
Kuusir dia dari sini. Air matanya seketika terhenti karena kebingungan. Dia sama sekali tidak bisa berkata apa-apa. Aku mendorongnya hingga ke kereta kuda. Kututup pintu itu dengan keras. Lalu meminta kusir melajukan kereta kuda. Kusir itu hendak membantah tetapi aku menatapnya dengan tajam hingga ketakutan. Kuteteskan ramuan hingga membuat lubang di kursi sebelahnya. Kereta itu mulai menghilang dari hadapanku.
Kakiku terasa lemas. Aku sudah gila. Bagaimana ini? Apa aku akan dihukum gantung? Dipenggal? Atau disiksa hingga mati?
Kakak berutang padaku. Dia harus melindungiku. Aku mempertaruhkan nyawa untuk menjaga kediaman ini.
Namun, ketika menunggu hingga malam kakakku tidak kunjung datang. Pikiran buruk mulai merasukiku. Bagaimana kalau dijalan dia bertemu dengan Raja? Apa Raja menyiksanya? Atau malah membunuhnya? Ini gawat. Sangat gawat.
Aku terus menunggu kakakku di gerbang kediamanku, tidak bisa tidur. Lalu keesokan harinya dia datang sambil tersenyum bersama Kak Diana, tanpa tahu pengorbananku kemarin.
__ADS_1