Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 59 Gadis Paling Bahagia


__ADS_3

Keith menghentikan langkah kakinya. Dia melihat ke arahku.


"Seharusnya akulah yang mengatakannya, Diana. Dan ini bukanlah waktu yang tepat untuk melamarku."


"Ini waktu yang tepat, Keith. Kita saling berdebar-debar saat ini." Salah satu tanganku menekan dadanya yang berdegup kencang seperti jantungku.


Wajah Keith memerah. Dia berdeham. "Aku akan melamarmu penuh kejutan saat waktunya tiba. Hari ini kamu istirahat dulu."


Aku mengangguk. Keith melanjutkan perjalanannya lagi. 


"Aku belum mendengar jawabanmu," ujarku.


"Tanpa kujawab kamu sudah tahu jawabanku, Diana."


Aku terkekeh pelan. Aku tidak sabar menantikan pernikahan kami.


***


"Jadi Kak Diana yang melamar Kakak duluan?" tanya Iris.


Aku dan Keith mengangguk bersamaan. Kami menikmati hari damai ini di kediaman Skyrise. Sehari sudah berlalu sejak kematian Derek. Kehidupan di kerajaan mulai aman. Bekas petarungan di daerah istana diperbaiki oleh penyihir istana. Eric pun semakin sibuk melebihi kesibukannya sebelum peperangan kemarin. Kurasa kesibukannya ini hanya berlangsung sebentar saja. Lagipula ancaman terbesar kerajaan telah tiada.


Iris menatap Keith dengan tajam. "Kakak payah."


"Mau bagaimana lagi sudah terlanjur. Lebih baik kita bahas hal lain saja." Keith mengalihkan pembicaraan. Dia merasa kalah denganku. 


"Maaf, sepertinya aku tidak bisa ikut. Aku harus ke istana hari ini," kata Iris sambil berdiri.


"Kenapa apa Eric terluka?" tanyaku.


Keith melontarkan tatapan cemburu kepadaku. Dia menutupinya dengan menyesap tehnya.


"Kurasa aku akan dihukum. Aku mencium Raja kemarin," kata Iris sambil menggaruk-garuk pelipisnya dan tersenyum paksa.


Mulutku terngaga. Keith tersedak. Artinya telingaku tidak salah dengar. Iris juga tidak terlihat bercanda. Tangannya gemetaran. Dia takut untuk dihukum.


"Kenapa kamu mencium Raja?" Suara Keith sedikit meninggi.


"Mau bagaimana lagi. Saat itu keadaannya genting. Raja membuat pelindung untuk menangkal serangan Derek yang ditujukan padaku. Dia terluka parah dan tangannya sibuk. Dia berusaha melindungiku, kalau Raja tidak disembuhkan maka kami berdua akan mati. Satu-satunya cara meminumkan ramuan adalah dari mulutku." Telinga Iris memerah. Sepertinya dia terpaksa melakukan itu.


Keith gusar. Jarinya terus mengetuk meja. Helaan napas panjangnya terdengar keras. Melakukan tindakan lancang seperti mencium Raja tanpa sepertujuannya akan dipenjara. Keith tidak ingin hal itu terjadi pada adiknya. 


Namun, Eric bukanlah orang yang sekaku itu. Bahkan saat Iris membentak dan mengusirnya dari kediaman Skyrise, Eric tidak menghukumnya. Aku yakin Iris akan baik-baik saja. Tetapi tidak ada salahnya menawarkan bantuan.


"Apa perlu kutemani?" tanyaku.


"Benar Raja tidak akan berani menghukummu jika ada Diana, Iris." Keith mengangguk.


Iris menggeleng. "Ini salahku. Jadi Kak Diana tidak perlu menanggungnya. Aku hampir terlambat. Aku pamit dulu."


Keith berusaha menghentikan Iris tetapi adiknya sudah menjauhi kami dengan cepat. Keith menatapku penuh kekhawatiran. "Iris tidak akan kenapa-kenapa bukan?"


"Tenang saja, Keith. Eric tidak akan menghukumnya."


"Semoga benar Diana." 


***


POV Iris

__ADS_1


Aku datang ke istana lagi hari ini. Kali ini bukan untuk mengobati Raja tetapi karena akibat dari kelancanganku. Entah sudah berapa kali aku bersikap lancang kepada Raja. Kurasa kali ini benar-benar tidak bisa dimaafkan.


Aku mengetuk pintu ruang kerja Raja. Dia duduk mengerjakan dokumen-dokumennya. Ruangannya kembali kacau balau seperti dulu. Ketika aku hendak membersihkan tumpukan kertas di lantai dia menegurku.


"Duduklah terlebih dahulu."


Aku langsung menurutinya. Hatiku mulai gugup. Raja bangkit berjalan ke arahku. Kami duduk saling berhadapan. Dia menatapku dengan tajam. Kukuatkan hatiku menerima semua hukumannya. Kepalaku tertunduk tidak mampu menatap matanya.


"Ramuanmu sangat manjur. Apa kamu mau bekerja di istana?"


Aku langsung mendongak dan senyumku mengembang. "Aku mau, Yang Mulia. Mulai kapan aku bisa bekerja? Apakah Anda mempekerjakan orang lain? Apakah Anda mulai mempercayai orang lain lagi?"


Raja mengernyitkan dahi terganggu pada pertanyaan-pertanyaanku terlebih pada pertanyaan terakhir. 


"Kamu bisa bekerja mulai besok." 


Dia tidak menjawab menjawab pertanyaanku yang kedua dan terakhir. Tidak masalah. Yang terpenting aku mendapatkan pekerjaan yang sangat hebat. Apalagi aku satu-satunya penyihir ramuan istana sekarang.


Kakak dan Kak Diana pasti akan senang mendengar hal ini.


"Baik terima kasih, Yang Mulia."


Aku bangkit menuju ke pintu. Sebelum pergi tidak lupa kurbersihkan kekacauan di ruang kerja Raja. Ini adalah imbalan yang kuberikan karena telah mempekerjakanku.


***


POV Keith


Aku tidak dapat tenang. Bagaimana aku bisa tenang kalau adikku membuat ulah? Apalagi dengan Raja. Diana sudah menenangkanku tetapi tetap saja pikiran buruk terus menghantuiku.


Bagaimana jika Raja melukai Iris karena aku telah merebut Diana? Jika Iris dipenjara aku akan mengeluarkannya dan lari ke negara lain bersama dengan Diana. Aku akan melakukan apa pun demi adikku.


Suara langkah kaki terdengar. Aku segera menghampiri suara itu. Ternyata Iris. Dia tersenyum ke arahku. Lantas dia berlari memelukku.


Aku melepas pelukan Iris untuk melihat wajahnya. "Benarkah? Kamu tidak menutupi sesuatu bukan?" 


"Itu sungguhkan tidak ada yang kututupi. Raja terpukau pada ramuan yang kubuat."


Aku menghela napas lega. Seluruh prasangka burukku lenyap. Dengan begini Iris tidak terlalu kesepian begitu kutinggalkan. 


"Baguslah, ada yang ingin kubicarkan denganmu, Iris."


"Tentang apa?"


"Ikut saja."


Aku membawa Iris ke ruang kerjaku. Tanganku mengelus-elus meja kerja yang menjadi temanku hampir tiap hari. Aku menoleh ke arah Iris.


"Tempat ini suatu hari akan menjadi milikmu Iris."


Mata Iris melebar. Dia menyadari arti ucapanku. Dia akan menjadi kepala keluarga setelah aku menikah dengan Diana. Aku tidak ingin Diana melepas gelar kepala keluarganya. Memang sebenarnya aku ingin mendengar nama Diana Skyrise tetapi Keith Moonlight lebih baik. 


Di sisi lain dengan Iris menjadi Kepala Keluarga, dia akan menjadi lebih dewasa. Sikapnya yang terlalu blak-blakan dan rasa ingin tahunya yang besar, kuharap dia bisa menguranginya. Aku tidak sabar menunggu nama Iris yang semakin terkenal.


"Apa Kakak yakin?" tanya Iris.


"Aku yakin, Iris." Aku mengangguk.


"Padahal kuharap, Kakak dan Kak Diana bisa tinggal di sini." Iris menundukkan kepala terlihat murung.

__ADS_1


Aku mendekatinya sambil menepuk pundaknya. "Kami akan sering-sering mengunjungimu. Kami tidak akan melupakanmu." 


"Jangan-jangan alasan kakak sebenarnya tidak ingin diganggu saat berduaan dengan Kak Diana bukan?" Iris mendondak memicingkan matanya.


Sepertinya aku tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari adikku. Aku meringis ke arahnya tanpa menjawabnya.


***


POV Diana


Mataku terbuka perlahan akibat suara ketukan. Aku mengusap-usap mataku sambil menguap.


Siapa yang datang malam-malam begini?


Kulihat sosok yang tidak asing di balkon. Aku tersenyum berjalan membuka pintu balkon. 


"Ada apa kamu datang ke sini Keith?"


"Aku memberi kabar baik," ucap Keith penuh semangat.


"Kabar baik apa?"


"Iris akan menjadi penyihir ramuan istana."


"Benarkah? Aku harus memberi selamat kepadanya." Suaraku terdengar kegirangan. Aku bahagia untuk kedua orang temanku. Eric mulai membuka diri pada orang lain selain diriku sedangkan kehebatan Iris membuat ramuan diakui.


"Kapan kamu ingin memberinya selamat, Diana?"


"Entahlah? Besok?"


"Bagaimana kalau hari ini saja?"


"Bukannya Iris sudah tidur?"


Keith mencurigakan sekali. Ini sudah terlalu malam memberikan selamat. 


"Dia masih terjaga karena terlalu senang. Kamu bisa memberinya selamat sekarang."


Aku menyipitkan mataku mencari tahu alasan Keith seperti ini. Sepertinya dia merindukanku tetapi tidak mengaku malah mencari alasan. Tetapi tidak ada salahnya juga, aku juga merindukannya.


"Baiklah sekarang saja." Aku mengulurkan tangan kepada Keith untuk berteleportasi.


Namun, tubuhku terangkat dan semakin mendekati langit. Keith membopongku sambil tersenyum. Tanganku melingkar di lehernya. Aku menghela napas panjang. Dia benar-benar mencari-cari alasan.


Aku mengedarkan pandangan ke sekitar. Sudah lama aku merindukan pemandangan malam. Tanpa kusadari bibir terus mengembang.


"Sudah lama kita tidak terbang di malam hari, Diana." Keith terus menatap ke depan. Dia memikirkan hal yang sama denganku.


"Benar, kamu jarang ke kediamanku saat malam hari di kehidupan yang sekarang."


"Karena aku tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk membawamu pergi. Tidak ada yang melarangmu."


Aku mengecup pipinya. Dia tetap terbang ke depan tanpa menoleh ke arahku. Dia sudah kebal terhadap ciuman di pipi rupanya.


Tiba-tiba langit malam berubah. Percikan kembang api menghiasi sekitarku. Cahaya menyilaukan terus terbang mengitari kami. Lantas berhenti di jari manisku. Cahaya itu berubah menjadi sebuah cincin tersematkan di jariku. Keith berhenti lalu menatapku.


"Maukah kamu menikah denganku, Diana?"


Aku tak tahu wajahku terlihat seperti apa kali ini. Yang jelas aku sangat sangat senang. Ini adalah kejutan yang tidak kuperkirakan sebelumnya.

__ADS_1


"Tentu saja aku mau, Keith."


Keith tersenyum ke arahku. Wajah kami semakin mendekat. Aku bisa merasakan hembusan napasnya di bibirku. Kisahku tidak akan berakhir di sini. Masih banyak kebahagiaan dan masalah yang belum kulalui bersama Keith. Aku tidak sabar menjalaninya. Kehidupanku sebagai gadis cacat sudah berakhir digantikan sebagai gadis paling bahagia di dunia.


__ADS_2