Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Bab 52 Mengakhiri Perasaan Teman


__ADS_3

Aku berada di istana bersama dengan Keith. Setelah mendengar cerita Iris, aku perlu membuat Eric benar-benar menyerah kepadaku. Keith tidak tahu tentang kedatangan Eric kemarin. Dia akan marah bila mendengar sikap Eric pada adiknya. 


Keith sama sekali tidak mau melepas tanganku hingga di depan ruang kerja Eric. Aku mengetuk pintu, lalu masuk bersama Keith. Melihat kedatangan kami, Eric langsung mendekati Keith dengan amarah hendak melukainya. Aku menghalangi Eric. Eric menatapku penuh kesedihan. Kupejamkan mataku menguatkan diri. Setelah siap kubuka mataku sambil berkata, "Tinggalkan kami sendirian, Keith. Ada yang ingin kubicarakan dengan Raja."


"Baiklah, Diana." Keith tampak enggan meninggalkanku, tetapi ia akhirnya keluar.


Kini tinggal aku dan Eric. Eric mempersilakanku duduk. Aku segera duduk setelah Eric menempatkan diri. Keheningan terjadi di antara kami.


"Aku bertunangan kembali dengan Keith," ucapku memecah keheningan.


Eric tidak menjawabku. Ia tidak terkejut, hanya terluka dan marah. 


"Aku tahu ini menyakitkan bagimu. Aku minta maaf, karena tidak bisa menerima perasaanmu, Eric."


Mulut Eric masih tertutup rapat. Dia hanya memandangi dan mendengarku.


"Setelah ini aku tidak akan menemuimu lagi."


"Kenapa kamu lebih memilihnya Diana?" tanya Eric setelah lama terdiam.


Aku tersenyum simpul ke arahnya. "Seandainya aku cacat, tidak bisa membau, berbicara, melihat dan mendengar, apakah kamu tetap mencintaiku, Eric?" 


"Tentu saja, bahkan jika wajahmu rusak, atau kehilangan anggota tubuhmu, atau sakit keras sekali pun, aku tetap mencintaimu dan tidak akan meninggalkanmu, Diana." Suara Eric gemetar menahan tangisnya.


"Begitu ya. Kalau begitu bagaimana jika kamu tiba-tiba dijodohkan dengan orang cacat yang merupakan musuhmu? Apakah kamu akan peduli kepadanya?" tanyaku.


"Daripada peduli, aku akan menghindarinya. Aku sudah mempunyai orang yang kucintai yaitu dirimu, Diana." Eric menggenggam tanganku.


"Seandainya aku tidak ada di kehidupanmu, apakah kamu tetap bersikap seperti itu pada orang cacat yang dijodohkan padamu?" Aku melepas genggaman tangannya perlahan, menatap Eric lekat-lekat.


"Mungkin aku akan merasa kasihan padanya. Kenapa kamu menanyakan hal ini Diana?" 


"Keith tidak merasa kasihan, dia jatuh cinta padaku, Eric. Itulah perbedaannya."


"Apa maksudmu, Diana?"


Aku menceritakan semuanya pada Eric. Tentang mengulang waktu, diriku yang cacat karena melakukan ritual transfee sihir, pertunanganku dengan Keith, perasaanku pada Keith, dan Keith yang mengulang waktu untukku.


Eric tercengang mendengar perkataanku. "Lalu bagaimana denganku? Apa kulakukan Diana?" Suaranya terdengar lirih.


"Kamu mengirim surat pada untuk menanyakan keadaanku, tetapi aku tidak tahu. Trevor tidak pernah memberikan surat-surat itu padaku. Kamu tidak curiga karena Trevor mengatakan aku tidak bisa melihat, sehingga dia bisa bebas membalas suratmu. Dia juga melarangmu bertemu denganku dengan dalih aku tidak mau menemui dengan keadaan yang seperti itu."

__ADS_1


Mata Eric mulai basah. Aku melanjutkan ceritaku, "Aku tidak menyalahkanmu karena tidak datang. Meski dulu aku sempat membencimu karena salah paham."


Eric mulai menitikkan air mata. Aku mendekatinya memeluknya. "Aku minta maaf atas segalanya Eric. Mungkin bila keadaannya berbeda, aku bisa mencintaimu. Tetapi sekarang aku mencintai Keith. Jadi kumohon lupakanlah aku, Eric." 


Eric membalas pelukanku dengan erat. Dia menangis sesekali terisak. Kutepuk-tepuk punggungnya. 


Aku melepas pelukanku setelah tangisannya selesai lalu menatap matanya. "Kuharap kita masih bisa berteman setelah kamu melupakanku Eric. Aku akan menunggu kapan pun itu. Sampai jumpa."


Eric tertunduk. Aku meninggalkannya sendirian, tanpa seorang pun yang menghiburnya lagi.


***


"Apa yang kamu bicarakan dengan Raja, Diana?" tanya Keith dengan nada khawatir. 


"Rahasia," jawabku sambil tersenyum lalu berpura-pura melihat ke luar jendela kereta kuda.


Setidaknya aku ingin melihat Keith cemburu secara langsung. Mungkin aku pernah melihatnya tetapi tidak menyadarinya. Sekarang aku ingin merasakan rasanya mengusili kekasihku.


Keith yang semula berada di hadapanku kini duduk di samping. Dia mengarahkan kepalaku untuk melihat wajahnya. Kedua tangannya berada di pipiku. Dia mengernyitkan dahinya.


"Jawab aku, Diana."


"Tidak mau."


"Jika tidak menjawabnya, aku akan terus melakukan ini hingga ke kediamanku," ancam Keith.


Ancamannya ini tidak terdengar mengerikan. Aku sama sekali tidak takut.


"Coba saja, buat aku buka mulut Keith," godaku.


Kepala Keith mendekatiku kembali. Aku menutup mata menunggu bibir kami saling menempel. Namun, meski menunggu kelembutan bibir Keith tidak kunjung kurasakan.


Kubuka mataku, Keith tersenyum penuh kemenangan. Dia mengerjaiku. 


"Dasar kamu ini." Kucubit lengannya


Dia tertawa keras. Aku pun ikut tertawa.


Ini adalah tawa pertama kami bersama. Kesedihan dan rasa sakit yang sering kami rasakan sekarang berubah menjadi canda tawa dan kesenangan


Lalu rasa manis yang kurasakan pada malam itu terasa kembali. Aku segera memejamkan mata dan membalas ciuman Keith. Dia terus melakukannya hingga membuatku tidak bisa bernapas. Aku mendorongnya sebagai tanda untuk menghentikan ciuman ini.

__ADS_1


Dia melepas bibirku, tetapi tidak sampai sepuluh detik Keith mulai mengecup bibirku lagi. Aku berusaha melepasnya tetapi tidak bisa karena tangan Keith menahan kepala dan pinggangku.


Aku tidak bisa bertahan lagi. Kupukul-pukul punggungnya. Bibir Keith mulai menjauh. Begitu ingin merebut bibirku kembali, aku menghalangi Keith dengan tanganku.


"Aku menyerah, aku menyerah," ujarku terengah-engah.


Keith tersenyum puas. "Jadi apa yang kalian bicarakan?"


Benar-benar usil. Aku menceritakan semuanya kecuali kedatangan Eric ke kediaman Skyrise. 


"Semoga Raja tidak mengganggu kita." Keith mengangguk-angguk lalu merangkulku. Dia berusaha menenangkanku yang masih mengatur napas. 


"Ada satu orang yang bakal mengganggu kita, selain Eric," ujarku.


"Siapa?" Aku bisa melihat tanda tanya besar muncul di atas kepala Keith. Dia memang orang yang tidak peka.


"Coba pikirkan sendiri. Aku lelah butuh istirahat." 


Aku berpura-pura memejamkan mataku. Keith tidak membangunkanku. Namun, pada akhirnya aku ketiduran.


***


Aku, Keith dan Iris duduk di taman kediamanku membicarakan tentang Derek. Jejak Derek sama sekali tidak terlihat setelah pertemuan kami terakhir. Semua Kepala keluarga sudah mencari Derek di penjuru negeri, tetapi hasilnya nihil.


"Ngomong-ngomong kudengar Raja sakit beberapa hari ini," ujar Keith tiba-tiba.


Aku dan Iris menoleh ke arah Keith, mendengarnya dengan seksama.


"Ini yang menyebabkan pencarian Derek Rockyard sangat lama," tambahnya.


Apa ini gara-gara aku menolaknya dan tidak mau bertemu dengannya? Haruskah aku menemuinya? Tetapi kalau begitu Eric malah tidak bisa melupakanku. 


"Aku akan ke istana," ujar Iris tiba-tiba membuyarkan lamunanku.


"Untuk apa?" tanya Keith kebingungan dengan tindakan adiknya.


"Aku akan mengobati Raja. Dengan begitu pencarian akan semakin gencar. Derek Rockyard dapat segera ditangkap. Lalu pembunuh itu tidak perlu mengincar Kak Diana lagi," ucap Iris dengan cepat.


Keith mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Dia berpikir keras. "Baiklah, aku akan menyerahkannya padamu Iris."


"Baiklah, Kak." Iris mengangguk.

__ADS_1


Keesokan harinya Iris menemui Eric. Dia menceritakan pertemuannya dengan Eric dengan menggebu-gebu. Aku mendengarnya tanpa menyela sekali pun.


__ADS_2