
Pencarian Derek dilakukan lebih gencar dibandingkan sebelumnya. Semua ini berkat Iris yang mengobati Eric. Kerjasama dan komunikasi antar kepala keluarga juga lebih. Namun, Derek masih belum ditemukan. Keith curiga kalau Derek kabur dari Kerajaan. Ini malah semakin gawat. Dia bisa dengan bebas menyerap sihir milik penyihir lain.
Keith membicarakan hal ini dengan Eric. Meski pembicaraan mereka tidak lancar, tetapi Eric menerima pendapat Keith. Penyihir istana diutus ke beberapa negara yang berdekatan dengan Kerajaan Sunborn untuk mencari tahu jejak Derek. Sedangkan para kepala keluarga melanjutkan penyelidikan di Kerajaan.
Aku dan Keith berada di perbatasan. Kami menelusuri hutan, tetapi tidak menemukan Derek. Aku menghela napas panjang. Keith mendengarku.
"Apa kamu lelah, Diana?"
"Daripada lelah, aku merasa kesal. Jika Derek meninggalkan sebuah petunjuk atau jejak, pasti kita dapat menangkapnya. Ini sangat sulit."
"Aku mengerti perasaanmu, Diana."
Kami pada akhirnya kembali tanpa mendapat pentujuk apa pun. Dalam perjalanan pulang menggunakan kereta kuda, aku tertidur di atas bahu Keith. Bahunya sangat nyaman. Dia juga merangkulku dengan erat.
Ketika membuka mata, hari sudah malam dan Keith tidak berada di sampingku. Kereta kuda berhenti di tengah-tengah hutan. Aku turun dari kereta kuda sambil berteriak.
"Keith, di mana kamu?"
Tidak ada jawaban. Ke mana dia? Tidak mungkin dia mencari angin malam-malam. Apa ada orang yang menyerang kami? Jangan-jangan Derek. Aku segera berlarian mencari Keith tetapi tidak ketemu.
Pepohohan yang berada di sampingku rasanya sama dari tadi. Apa aku tersesat? Aku menandai salah satu pohon dengan jarum es. Lalu, kulangkahkan kaki mencari Keith kembali.
Namun, pohon yang kutandai tadi masih terlihat. Ini aneh. Lalu ada akar pohon yang menggeliat di tanah yang kutapaki. Aku segera menghindarinya. Ranting pohon terarah kepadaku berusaha menusukku. Aku terus-menerus menghindar. Bukan Derek. Yang menyerangku adalah penyihir hewan dan tumbuhan.
Penyihir itu pasti tidak jauh dari sini. Aku segera menciptakan api untuk membakar pepohonan yang ada di sekitarku. Pohon yang semula berdiri tegak, kini hangus menyisakan asap.
Bayangan orang yang menyerangku mulai terlihat. Aku menunggu sampai asap ini segera pudar. Kutatap wajah orang itu. Ternyata dia adalah Stella. Kenapa dia berada di sini?
"Kenapa kamu menyerangku, Stella?"
Dia berdecak kesal. "Aku menginginkanmu mati, Diana."
__ADS_1
Stella segera menyerangku dengan pohon yang masih tersisa. Akar dan ranting pohon melesat menuju ke arahku. Aku membuat sihir pelindung lalu menyerang balik dengan sihir api.
Segera kugunakan sihir teleportasi. Aku berada di belakang Stella. Rantai sihir melilit tubuhnya. Aku membuat sebuah pedang berada di samping lehernya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" Dia terlalu gegabah termakan emosinya. Dari tadi dia menggunakan sihirnya tanpa rencana yang matang.
Stella berbalik ke arahku dengan wajah yang kacau. Air mata membasahi pipinya. "Kamu telah merebutnya dariku Diana. Aku telah lama mencintainya. Aku berharap dia akan segera menyadari perasaanku dengan terus berada di sampingnya. Tetapi kedatanganmu malah membuatnya jatuh cinta padamu. Aku membencimu."
Aku terdiam. Memang aku sudah menduganya, tetapi tidak kusangka Stella akan menyerangku seperti ini. Kukira dia akan memisahkan Keith dan aku dengan cara biasanya. Seperti membuatku cemburu. Kali ini dia benar-benar ingin membunuhku. Tatapannya menusukku.
Ingatan tentang Stella dan berpelukan terlintas di kepalaku. Sepertinya aku salah paham. Tidak Keith-lah yang tidak peka. Stella menyatakan cintanya tetapi Keith malah menganggap kepedulian Stella hanya sebagai teman. Aku mendesah berat.
"Kamu boleh membenciku sepuasnya Stella, tetapi coba pikirkan, kamu sendiri yang tidak mengatakannya pada Keith dengan jelas. Aku ingin kamu melupakannya."
"Memang mudah berkata seperti itu Diana. Kamu tidak pernah merasa cintamu bertepuk sebelah tangan." Air mata Stella semakin deras. Suaranya gemetar, tetapi dia terus menatap mataku. Dia adalah orang yang berani. Aku menghargainya.
"Aku pernah merasakannya dulu, tetapi hanya salah paham. Aku tahu kalau itu memang tidak mudah. Pikirkanlah perasaanmu. Semakin tidak merelakannya, kamu malah akan menyakiti dirimu sendiri. Lalu berhentilah menyalahkan orang lain, keadaan dan dirimu sendiri. Masa lalu tidak bisa sudah terjadi, yang kamu lakukan adalah terus melangkah. Jika kamu terus terikat masa lalu maka kamu tidak bisa bahagia."
Aku tidak tahu perkataanku bisa dilakukan atau tidak. Bahkan diriku sendiri selama ini terus menatap masa lalu, tetapi hanya itulah kata-kata yang terlintas di otakku untuk menghibur Stella.
Keith mulai terlihat. Dia segera menghampiri kami.
"Tadi pepohonan masih rindang, tetapi tiba-tiba rata dengan tanah tanpa terjadi apa-apa. Apa yang sedang terjadi?" tanyanya kepada kami.
"Apa maksudmu? Apa kamu tidak lihat asap yang mengepul dari tadi Keith?"
"Asap apa?" Keith masih kebingungan.
Stella menyelaku sebelum aku membalas Keith. "Aku membuat sihir ilusi untuk memisahkan kalian." Dia melepas pelukanku sambil menyeka air matanya. Pasti ini sihir unik milik Stella. Tidak mungkin penyihir hewan dan tumbuhan memiliki sihir ilusi. Jadi alasan aku berputar-putar daritadi karena ini.
"Kenapa?" tanya Keith.
__ADS_1
Aku tidak ingin mendengar pertangkaran antar teman, karena aku sendiri sudah lelah dengan hubungan pertemananku dengan Eric yang mulai retak. Kubisikkan sesuatu pada telinga Stella. "Kamu bisa menjelaskan semuanya pada Keith. Katakanlah perasaanmu. Tuntaskanlah semuanya agar dirimu merasa lega."
Aku tersenyum ke arahnya dengan tulus. Kudekati Keith lalu bahunya kutepuk. "Aku akan membiarkan kalian sendirian."
Aku kembali ke kereta kuda menunggu mereka berbicara. Kuperhatikan mereka dari jendela. Keith memeluk Stella yang menangis. Setelah tenang, Stella meninggalkan Keith tanpa berpaling.
"Aku tidak tahu kalau Stella mempunyai perasaan padaku," ucap Keith begitu masuk ke kereta kuda.
"Kamu saja yang tidak peka," jawabku ketus.
"Sejak kapan kamu mengetahuinya Diana?" Dia mengabaikan ucapanku tadi.
"Saat pesta keluarga Jordin di kehidupan sebelumnya."
"Tunggu dulu, kamu datang ke sana waktu itu?"
"Benar, tapi itu tidak penting. Kamu tidak menyadarinya padahal aku yang melihatnya pertama kali bisa tahu."
"Baiklah, aku salah. Apa kamu cemburu padanya?" Keith tersenyum ke arahku.
Mukaku memanas. Segera kupalingkan wajahku melihat jendela.
"Ternyata benar, jangan-jangan kalian tidak akur karena aku?"
"Berhentilah mengoceh. Aku lelah karena bertarung dengannya tadi," dalihku karena tidak ingin topik ini terus berlanjut.
Keith terkekeh pelan. Tangannya melingkari perutku. Dia mengecup pipiku.
"Malam ini apa kamu mau menginap di kediamanku? Aku ingin mendengar cerita yang tidak kuketahui," bisiknya di telinga. Suaranya sangat menggoda.
"Hanya bicara saja, tidak lebih." Aku masih memalingkan muka menahan malu.
__ADS_1
"Memangnya apa yang kamu pikirkan, Diana?" tanyanya pura-pura tidak tahu.
Sekarang dia semakin sering mengerjai dan menggodaku. Namun, aku tidak bisa marah, karena dia berhasil membuatku bahagia. Tanpa sadar aku hampir melupakan Derek. Kedamaian kami tidak akan terwujud tanpa kematiannya.