
Kukira pertemuanku dengan Keith hanya berdua saja. Ada tamu yang tidak diundang datang ke kediamanku. Aku tidak menyangka dia akan ke sini secepat ini. Gadis berambut pirang duduk di antara kami.
Aku berusaha menahan kekesalanku. Meski mataku berkedut berkali-kali. Keith juga kelihatan canggung, dia bingung antara membicarakan pekerjaan atau mengobrol biasa.
"Maafkan aku. Kukira kalian hanya mengobrol biasa jadi aku ikut. Ternyata kalian membahas kasus pembunuhan itu."
Ini pernyataan perang dari Stella. Stella ingin menganggu kami, karena dia dilarang Keith datang ke kediamannya. Gadis pirang ini tidak bisa berduaan dengan Keith, makanya dia datang ke sini untuk membalas agar aku tidak dapat berduaan dengan Keith.
Jika dia sudah tahu kami membahas pekerjaan, seharusnya kembali saja ke kediamannya. Namun, dia malah sengaja tetap duduk di sini. Ini benar-benar menyebalkan.
"Kalau begitu pulang saja," usirku.
Keith yang semula menulis sesuatu langsung menatapku. Tindakanku ini memang kasar, tetapi aku tidak mau dia memperlambat kinerja kami. Semakin cepat menangkap pembunuh itu semakin baik.
"Maaf aku tidak bisa melakukannya, Diana. Mungkin dengan mendengarkan pembicaraan kalian aku bisa membantu. Di samping itu aku bisa menyampaikan informasi dari kalian pada Ayahku," balas Stella sambil tersenyum.
Itu hanyalah alasannya agar tetap berada di sini, menghancurkan waktuku dengan Keith. Keith hanya diam saja, mempercayai ucapan Stella. Ini semakin membuatku kesal.
"Lakukan saja sesukamu, Stella." Kutatap Stella dengan tajam.
Stella pun membalasku serupa. "Baiklah, Diana."
Keith memandangiku dan Stella bergantian. Dia menghela napas melanjutkan pekerjaannya.
"Menurutmu siapa saja target selanjutnya Keith?" tanyaku.
"Putri ketiga keluarga Xavier, Putra kedua keluarga York, Putri pertama keluarga Zeon. Mereka semua orang yang tersisihkan dari keluarga, karena kekuatan sihir mereka tidak terlalu besar, Diana," jelas Keith.
Kalau Trevor kubiarkan berada kediaman ini, dia bisa menjadi umpan yang bagus. Namun, aku tidak akan betah melihat wajahnya setiap hari. Aku tidak menyesal telah menendangnya dari sini.
"Putri ketiga keluarga Xavier, kita pernah menemuinya di pertemuan waktu itu bukan, Keith?" sela Stella.
"Eh, ya benar, Stella." Keith tidak menduga kalau Stella akan ikut dalam pembicaraan kami.
__ADS_1
"Aku ingat Putri Ketiga keluarga Xavier sakit-sakitan. Dia sempat terbatuk-batuk saat itu," tutur Stella.
Aku mencatat ucapan Stella. Informasinya cukup berguna juga. Kukira dia hanya akan mengacau di sini.
"Benar, kalau Putra Kedua Keluarga York berasal dari campuran bangsawan dan rakyat biasa," imbuh Keith.
Istilah lainnya anak haram. Kekuatan sihir bangsawan lebih kuat dibandingkan dengan rakyat biasa. Karena putra kedua itu adalah campuran, bisa dibilang dia lebih kuat daripada rakyat biasa tetapi lebih lemah dibandingkan bangsawan lain. Aku mencatat informasi penting ini.
"Kudengar Putri Pertama Keluarga Zeon dikucilkan karena dia bukan keturunan asli keluarga tersebut bukan? Dia diadopsi." Aku ikut bersuara.
Keluarga Zeon berutang budi pada rakyat biasa karena pernah menyelamatkan nyawa Kepala Keluarga Zeon. Namun, rakyat biasa itu meninggal di usia muda meninggal di usia muda. Keluarga Zeon mengadopsi bayi mereka untuk membalas budi. Keluarga Zeon menyembunyikan fakta ini. Namun, kebenaran tentang jati diri Putri Pertama terungkap. Anak-anak yang lain mengucilkannya.
"Kita pernah bermain dengan Putri Pertama Keluarga Zeon sewaktu kecil bukan, Keith?" ujar Stella tiba-tiba.
Sepertinya aku tahu apa tujuan Stella. Dia ingin terlihat lebih dekat dengan Keith. Menceritakan masa lalu mereka berdua kepadaku untuk membuatku merasa tersisihkan.
"Itu benar, Stella," jawab Keith.
"Dulu kita sangat dekat, tetapi sekarang dia menjadi pemurung karena mengetahui jati dirinya." Stella melirik ke arahku, lalu melanjutkan, "Sudah lama sekali kita tidak ke kediamannya. Bagaimana kalau kita ke sana, Keith?"
Kamu pikir, kamu sudah menang, Stella? Aku tidak semudah itu kamu kalahkan.
"Jika ingin membicarakan kenangan lama, lebih baik nanti saja. Kita fokus saja pada kasus pembunuhan ini," tegasku.
"Maaf sepertinya aku terlalu bersemangat, Diana." Tidak ada ketulusan dari permintaan maafnya.
"Jadi siapa di antara mereka yang paling memungkinkan diculik, Keith?" Aku menatap Keith.
"Mereka semua adalah sasaran empuk. Aku tidak tahu mana target tepatnya. Saranku, kita memperketat keamanan keluarga mereka masing-masing. Ada baiknya kita berjaga di kediaman mereka, lalu mengabari satu sama lain bila terjadi penculikan," ujar Keith.
"Ide bagus, Keith," pujiku.
Pengalaman dan pengetahuan Keith sebagai kepala keluarga lebih baik dibandingkan denganku. Aku harus belajar lebih banyak lagi agar dapat menyainginya.
__ADS_1
"Apa pembicaraan kalian sudah selesai? Bisakah kita berganti topik?" tanya Stella.
"Kami masih belum selesai, Stella. Jika kamu merasa bosan, kamu bisa menunggu di luar. Aku akan menceritakan hasil pertemuan kami padamu sehingga kamu bisa menyampaikannya pada Ayahmu. Ada yang ingin kubicarakan dengan Diana berdua," tegas Keith.
Aku dan Stella tertegun menatap Keith. Tidak kusangka Keith bisa berkata seperti itu. Sepertinya dia merasa terganggu karena Stella.
"Maafkan aku. Aku akan menunggu di luar." Stella mematuhi Keith. Kurasa Stella terpukul karena perilaku Keith yang sama sekali tidak terduga. Suara pintu terbuka dan tertutup terdengar.
Keith melanjutkan, "Aku akan berjaga di Kediaman Xavier, sedangkan kamu di Kediaman York dan Tuan Frostein di kediaman Zeon. Kalau pembunuh itu datang kita akan saling mengabari lewat batu sihir. Kabari dan jemputlah aku, bila pembunuh itu datang di kediaman York. Lalu datanglah ke kediaman Xavier saat kukabari. Jarak kediaman mereka satu sama lain sangat jauh, Diana. Bila menggunakan kereta kuda atau terbang, pembunuh itu akan lolos. Apa tidak apa-apa bila kita menggunakan sihir teleportasimu, Diana?"
Jadi itu alasan Keith mengusir Stella. Dia tidak ingin Stella mendengar sihir unikku.
"Tentu saja, tidak apa-apa. Yang terpenting kita bisa menangkap pembunuh itu. Bagaimana jika pembunuh itu datang ke kediaman Zeon, haruskah aku menjemputmu dan berteleportasi ke sana?," balasku.
"Sebenarnya kediaman Zeon hanya pengalih saja. Menurutku pembunuh itu tidak akan menarget anak rakyat biasa."
"Jadi dari awal kamu membohongi, Stella?"
Keith hanya tersenyum tanpa menjawabku. Dia berpura-pura memasukkan Keluarga Frostein dalam rencananya.
"Rencana kita ini tidak perlu dilaporkan pada Raja bukan?" Keith mengalihkan pembicaraan.
"Menurutku tidak perlu, Keith. Akan repot bila dugaan kita salah. Kita akan memberitahu Eric bila ternyata dugaan kita benar. Kalau kita berhasil meringkus pembunuh itu malah semakin bagus. Eric pasti akan berterima kasih kepada kita."
Entah mengapa wajah Keith terlihat aneh ketika aku mengucapkan kalimat terakhir. Ketidaksukaannya kepada Eric semakin besar.
"Baiklah, aku memberitahu Stella, tentunya tanpa sihir teleportasimu. Sampai jumpa, Diana."
"Sampai jumpa, Keith. Mari kuantar sampai di depan."
Keith mengangguk sambil tersenyum. Alasanku yang sebenarnya adalah mengawasi Stella agar tidak berbuat macam-macam pada Keith.
Keith menyampaikan informasi tadi kepada Stella yang menunggu di depan ruang tamu. Stella mendengarnya dengan saksama sambil mencuri kesempatan menyentuh tangan Keith. Keith menepis tangan Stella tanpa berusaha menyakitinya. Meski begitu, Stella menyadari sikap Keith yang dingin kepadanya. Dia terlihat murung.
__ADS_1
Aku hanya menyaksikan kejadian ini tanpa berbuat apa pun. Kurasa Keith semakin melupakan perasaannya kepada Stella. Dengan ini, aku rencanaku balas dendam akan semakin lancar. Tinggal membuat Keith benar-benar jatuh cinta padaku.