Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Ban 46 POV Keith Kesalahpahaman


__ADS_3

Pelayan mondar-mandir di depan pintu gerbang kediamanku. Begitu melihat kereta kudaku, dia berjengit. Wajahnya terlihat panik. Aku segera turun. Sikap pelayan yang seperti ini membuat hatiku khawatir.


"Tuan, Ibu Anda sedang kritis."


Aku meninggalkan pelayan itu berlarian menuju kamar ibuku. Iris menggenggam erat tangan ibu sambil menangis. Ibu terlihat kesakitan.


"Apa kamu sudah memberi Ibu ramuan Iris?" tanyaku tergesa-gesa.


"Sudah tetapi sama sekali tidak membaik, Kak," jawab Iris masih berlinang air mata.


Aku mengepalkan tanganku dengan erat. Benar yang dikatakan oleh Penyihir Gauri. Penyakit ibuku tidak bisa disembuhkan. Selama ini kami hanya menundanya. Kami berjuang keras mendapatkan uang dan bereksperimen dengan harapan keajaiban terjadi. Kami melakukan hal sia-sia itu karena butuh tujuan untuk hidup. Cuma itu


Aku memeluk Iris sambil berharap ibu kami segera membaik. Tak lama wajah ibu membaik. Meski begitu, beliau tidak membuka mata. Aku dan Iris bergantian menjaga ibu.


Mata ibuku masih terpejam selama berhari-hari. Kepala terasa pening karena masalah ini dan Diana. Ibu dan Diana sangat penting bagiku, tetapi aku seperti orang yang tidak berguna. Mereka berdua menderita tetapi aku tidak bisa melakukan apa pun.


Iris membuka pintu kamar ibu kami dengan wajah yang berantakan. Matanya bengkak. Dia tidak sempat berdandan.


"Kakak istirahat saja." Iris memegang pundakku.


"Kalau aku beristirahat, pikiran burukku akan menghujani kepalaku," jawabku sambil menggenggam tangan Iris.


"Itu benar, aku juga begitu." Iris menghela napas panjang.


Keheningan terjadi di antara kami. Tidak kuat menahan suasana tanpa suara ini Iris berceletuk, "Bagaimana hubungan antara Kak Diana dengan Kakak?"


"Kacau," jawabku singkat.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Iris ingin tahu. Rasa keingintahuannya memang besar sekali. Mungkin ini bisa mengalihkan pikirannya dari ibu.


"Trevor memasukkan obat yang membuatku hampir melakukan hal buruk pada Diana."


"Apa Kakak tidak berniat menjelaskan semuanya pada Kak Diana? Kakak bisa pergi sekarang bila perlu."


"Aku akan pergi setelah kondisi ibu baikan. Aku tidak ingin ibu-" 


Belum sempat aku melanjutkan kata-kataku, Iris menyelaku. "Jangan lanjutkan. Aku tidak ingin mendengarnya."


"Maafkan aku." Aku tertunduk. Iris sebenarnya juga menyadarinya. Kondisi ibu sekarang tidak seperti sebelumnya. Beliau bisa saja meninggalkan kami tanpa peringatan terlebih dahulu.


"Ngomong-ngomong, aku mendegar rumor kalau sebenarnya Kak Diana dulunya sama sekali tidak cacat," kata Iris mencari topik lain. 

__ADS_1


"Benarkah? Dia tidak pernah membicarakannya." Aku tertarik pada topik ini.


"Dia juga memiliki kekuatan sihir yang melebihi kakaknya. Aku menyelidikinya lalu mendapatkan sesuatu."


"Kenapa kamu tiba-tiba melakukan hal itu?"


Ini tidak seperti Iris saja. Meski mempunyai rasa ingin tahu tinggi, dia tidak pernah menyelidiki orang hingga seperti ini. 


"Aku penasaran dengan orang yang dicintai Kakak. Jangan sampai Kakak salah pilih."


"Apa aku salah pilih?" tanyaku dengan nada menggoda.


"Menurutku tidak. Kak Diana adalah orang baik. Rumor buruk tentang dirinya kebanyakan salah." Iris mengangguk-angguk.


Aku menghela napas panjang. "Syukurlah, cuma itu yang kamu dapatkan?"


"Kak Diana mulai dikatakan cacat setelah kehilangan ayahnya, setelah kakaknya menjadi kepala keluarga. Mungkin karena terguncang."


"Begitu ya, dia kehilangan suara dan pengecepannya sejak saat itu."


"Kehilangan suara dan pengecapan. Entah mengapa efek sampingnya mirip dengan sihir unik yang pernah kubaca di rumah Penyihir Gauri." Iris mengelus-elus kepalanya sambil mengingat.


Sihir unik milik Iris adalah dapat mengingat segala sesuatu yang pernah dilihatnya.


"Transfer kekuatan sihir. Orang yang menerima transfer akan semakin kuat sedangkan. Orang yang memberikan kekuatan sihirnya akan kehilangan panca inderanya satu persatu bersamaan dengan kekuatannya akan semakin melemah. Ini yang menginspirasiku untuk menciptakan ramuan peningkat kekuatan sihir."


Aku terkesiap. Jangan-jangan Trevor... tidak ini karena kebencianku terhadapnya aku memikirkan hal gila ini, tetapi kekuatan sihirnya meningkat sejak menjadi kepala keluarga. Bisa saja ini karena ramuan milik Iris, tetapi bagaimana kalau ini hanya untuk menutupi transfer sihir yang dilakukannya?


Tiba-tiba ibuku terbangun. Aku dan Iris segera memeluk beliau. Ibu menepuk-nepuk punggung kami sambil tersenyum cerah.


"Kalian ini tidak boleh bersedih terus-terusan. Jangan terikat masa lalu dan teruslah melangkah ke depan," omel beliau.


Kami menangis karena bahagia, tanpa sadar itulah hari terakhir Ibu bernapas.


***


Iris menangis tanpa henti di pemakaman Ibu. Aku berusaha menahan tangisku dan menangis sendirian di kereta kuda. 


Keesokan harinya aku mendatangi kediaman Moonlight untuk menjelaskan semuanya pada Diana. Sebelum itu aku mendatangi Trevor menanyakan sesuatu yang mengganggu pikiranku.


"Aku turut berduka cita atas kematian ibumu," katanya tanpa terlihat sedih.

__ADS_1


"Terima kasih," jawabku datar.


"Sepertinya kalian tidak membutuhkan uang lagi dan aku kekuatan sihirku juga sudah cukup besar. Perjanjian kita berakhir di sini saja bersama dengan pertunanganmu dan Diana," katanya tanpa basa-basi.


Dia menyelidiki kami terlebih dahulu. Lalu memberikan uang yang banyak kepada kami. Ini mencurigakan.


"Sebelum menyetujuinya, apa kau melakukan transfer sihir dengan Diana?" Aku juga langsung mengatakan tujuanku ke sini.


Dia tidak menjawab hanya menyeringai lebar. Ternyata benar. Kemarahanku sama sekali tidak terbendung. Bola-bola sihirku kulontarkan padanya. Dia menciptakan pelindung lalu menyerang balik diriku. Sihir pelindungku tidak mampu menghalau serangannya. Tubuhku terasa sakit semua. Kekuataannya meningkat pesat. Dia mengorbankan adiknya hanya demi keegoisannya sendiri. Aku menyerangnya dengan bola sihir, jarum es, dan api, tetapi tidak berpengaruh padanya. Trevor terus melangkah mendekatiku.


"Aku akan mengampuni nyawamu dan Diana, dengan syarat sampaikanlah pertunangan kalian yang dibatalkan dengan mulutmu sendiri." Seringainya terus melebar, mengolok-olokku.


Aku meludahi sepatunya. Dia mendengus kesal sambil memukuli hingga wajahku tak berbentuk.


Dia menarik kepalaku ke belakang sambil melotot ke arahku. "Kesempatan ini masih berlaku, pulanglah selagi aku berbaik hati." Kepalaku dihentakkan ke lantai. Darah mengucur dari kepalaku.


Aku mengertakkan gigi dengan keras. Kenapa aku selemah ini? "Sialan." 


Aku berdiri sambil menatap Trevor dengan tajam. "Aku pasti akan membalasmu, baj*ngan."


"Coba saja." Dia tertawa lebar. 


Tidak tahan mendengar tawanya, aku keluar menuju kamar Diana. Aku mengatur napasku untuk menenangkan diri. Lalu mengambil ramuan yang dibuat Iris untuk menyembuhkan luka, aku membawanya karena memang berniat bertarung dengan Trevor, tetapi perbedaan kekuatan kami sangat besar hingga wajahku kacau. Diana tidak boleh melihatku seperti ini.


Kuketuk pintu. Lalu masuk ke dalam. Diana sama sekali tidak melihatku. Pasti dia masih marah padaku. Dia masih tertunduk meski aku mendekatinya. Aku mengucapkan salam tetapi dia tidak menoleh. Kukuatkan hatiku untuk mengatakan kalau pertunangan kami dibatalkan. Sebenarnya aku tidak menginginkan hal ini, tetapi kami berdua harus hidup.


Kepalanya mulai terangkat. Dia menatap ke arah salah dengan kemarahan. Kenapa dia menatap ke tembok?


"Diana?"


Aku menggoyang-goyangkan tanganku di depan matanya, tetapi dia sama sekali tidak berkedip. Jangan-jangan dia buta. 


Diana langsung menghempaskanku dengan sihir angin, lalu mengusirku dari sini. Pintu kamarnya dikunci. Kugedor-gedor pintu sambil meminta maaf, tetapi Diana tetap tidak membukanya. 


Sial, sial, ini perangkap Trevor. Dia membuat Diana semakin membenciku karena meninggalkannya di saat terpuruknya.


"Kumohon buka pintunya, Diana. Biarkan aku menjelaskan semuanya. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin meninggalkanmu. Maafkan aku karena kebodohan dan kelemahanku ini," suaraku semakin memelan hingga akhir kalimat begitu pula tanganku yang mengetuk pintu.


Kukepalkan tanganku dengan erat. Penderitaan Diana disebabkan oleh Trevor.  Kebencianku pada Trevor meluap-luap hingga ingin membunuhnya. 


"Aku pasti akan menyelamatkanmu Diana! Pasti!" teriakku untuk terakhir kali.

__ADS_1


Aku pergi meninggalkan kediaman ini. Jika kembali lagi aku kupastikan Trevor mati di tanganku sendiri.


__ADS_2