Pembalasan Gadis Cacat

Pembalasan Gadis Cacat
Extra 1 POV Iris Pernikahan Diana


__ADS_3

Bunga-bunga bertebaran di lantai. Gaun dengan nuansa putih dikenakan oleh pengantin wanita. Dia terus berjalan maju diiringi mata yang terus memandangnya. Pengantin wanita sampai di depan panggung menemui pengantin pria. Di tengah-tengah mereka ada seorang saksi yang akan mempertanyakan janji mereka. 


Entah semenyakitkan apa melihat orang yang pernah kamu cintai malah menikah dengan orang lain dan dirimu menjadi saksi yang menyatukan mereka. 


Raja memandangi mempelai pria dan wanita secara bergantian.


"Sekarang kalian boleh mengucapkan janji suci," tegas Raja. Tidak ada perasaan dongkol yang terlihat di matanya. Kurasa dia benar-benar melepas kak Diana.


"Saya akan menjadi istri yang baik, mempercayai suami saya dan membantunya dalam suka maupun duka. Saya akan menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kami, mereka tidak akan kekurangan apa pun dari segi materi atau kasih sayang. Mereka akan menjadi penyihir yang mengabdi pada kerajaan seperti kami," kata Kak Diana. Suara Kak Diana sangat percaya diri melebihi biasanya. Dia terlihat bahagia.


Kakakku terus tersenyum menatap Kak Diana. Itu adalah senyum paling bahagia yang pernah kulihat dari kakakku. "Saya akan menjadi suami yang baik, mempercayai dan berada di sisi istri saya dalam suka maupun duka. Saya akan menjadi ayah yang baik dengan membimbing anak-anak kami dalam sihir atau pun menjadi manusia yang bermoral."


Raja mengangguk, dia melanjutkan, "Saya telah menyatakan kalian sebagai suami istri. Kalian bisa menutupnya dengan ciuman."


Kakakku dan Kak Diana saling berpandangan. Mereka seperti pasangan yang kasmaran pertama kali. Lalu mereka berciuman. Semua tamu bertepuk tangan, termasuk aku. Malah akulah yang bertepuk tangan paling keras. 


Raja menatapku dengan tatapan aneh. Aku sudah terbiasa, bahkan saat bekerja untuknya dia sering melihatku seperti itu. Dia kini berbaur dengan tamu-tamu lain.


Aku menghampiri Kak Diana dan Kakakku. Mereka melepas bibir mereka sambil masih tersenyum. Mereka melihat ke arahku.


"Selamat atas pernikahan kalian berdua, Kakak dan Kak Diana."


"Terima kasih Iris," ucap Kak Diana.


"Kuharap Kak Diana bisa bertahan dengan Kakakku yang payah ini."


"Aku adalah orang hebat Iris, jangan merendahkan kakakmu seperti itu," protes kakakku.


"Sudahlah, tamu-tamu sudah menunggu kita. Sudah waktunya pelemparan bunga. Apa kamu ingin mendapatkan bunga ini Iris? Kita bisa saling bekerja sama," usul Kak Diana.


Aku sangat bersemangat. Orang yang mendapatkan bunga itu artinya akan segera menikah setelah mereka. 


"Aku ma-," kata-kataku terhenti gara-gara kakakku.


"Tidak boleh. Kita masih dalam satu keluarga berikan itu pada orang lain saja, Diana."


Dia masih saja begitu menganggapku sebagai anak-anak. Padahal aku akan menjadi kepala keluarga, dia tidak bisa melarangku mencari lelaki.

__ADS_1


"Aku tetap akan ikut. Tidak perlu bekerja sama. Aku pasti akan mendapatkannya," balasku.


Kakakku hendak melarangku tetapi Kak Diana mencegahnya. Beruntungnya aku punya orang yang berada di pihakku untuk melawan kakakku. Aku berbalik menuju kerumunan para gadis yang berjajar. 


Kak Diana dan kakakku bersiap membelakangi kami. Mereka memegang buket bunga bersama. Kami, para gadis mulai memasang kuda-kuda menangkap buket itu. Peraturannya tidak boleh menggunakan sihir. Bila menggunakan sihir maka orang yang mendapatkan bunga itu tidak akan menikah.


Buket bunga terlempar ke atas. Aku berdesakan dengan gadis-gadis lain untuk mendapatkan bunga itu. Bunga itu semakin ke belakang. Selesai sudah, aku berdiri di bagian paling depan tidak mungkin aku bisa menerobos gadis-gadis yang liar seperti ini. Kakakku pasti akan tersenyum penuh kemenangan nanti.


Bunga itu terhenti. Ada satu tangan yang menangkapnya. Aku tidak bisa melihat wajahnya pandanganku tertutupi oleh gadis-gadis lain. Para gadis berteriak. Bukan teriakan kekalahan, tetapi tidak percaya sekaligus senang. 


Siapa yang mendapatkannya? Kenapa semuanya senang?


Buket bunga itu mulai turun. Aku berhasil sampai di belakang untuk melihat orang yang menangkapnya. Raja menatap buket di tangannya sambil kebingungan.


***


"Aku ingin mendapatkan gaji tambahan. Pekerjaanku seharusnya menjadi penyihir ramuan istana, kenapa malah harus membersihkan ruangan ini tiap kali datang dan membantumu mengerjakan hal lain?" gerutuku.


Sebenarnya aku tahu alasan dia semakin sibuk. Para gadis mulai mendekatinya, berharap salah satu dari mereka akan menikah dengan Raja. Ditambah dewan penyihir mulai mendesak Raja menikah untuk mendapatkan keturunan. Tetapi bukan berarti dia bisa memanfaatkan kebaikanku seperti ini.


"Pertama kamu datang ke sini membersihkan ruanganku, meski aku tidak menyuruhmu. Kedua soal membantuku mengerjakan dokumen aku tidak akan membayarmu. Kamu bahkan tidak melakukan apa-apa semenjak menjadi penyihir ramuan istana, makan gaji buta saja," protes Raja.


Selama ini pekerjaanku di sini hanya membantunya membersihkan ruangan dan membaca buku untuk menghabiskan waktu. Aku mulai bosan karena buku-buku itu hampir habis dan bisa kuingat semuanya. 


"Tentu saja pekerjaan penyihir ramuan istana adalah membuat ramuan."


"Tak ada peralatan eksperimen di sini. Dan kamu tidak pernah memberitahuku membuatku ramuan seperti apa."


Memang aku bisa membawa peralatan di kediamanku tetapi aku tidak mau. Seharusnya dialah yang mempersiapkan semuanya.


"Tentu saja ramuan penyembuh atau apa pun yang bisa dibuat."


"Persediaan ramuan penyembuh setelah perang masih melimpah di gudang."


Dia tidak bisa membalasku. Sebenarnya kami sering bertengkar, kebanyakan karena masalah sepele. Sepertinya kami tidak cocok, tetapi aku tidak pernah berpikir untuk mengundurkan diri. Meski menyebalkan dia atasan yang baik.


"Baiklah aku akan menempatkanmu di ruangan baru dengan peralatan dan bahan-bahan eksperimen baru. Kuharap kamu bisa membuat ramuan yang hebat." Raja memalingkan wajahnya, dia tidak terima menerima kekalahan.

__ADS_1


Aku tersenyum. "Baik, Yang Mulia."


"Jika tidak sibuk bantu aku mengerjakan dokumen ini. Gajimu akan kunaikkan," tambahnya.


"Baik, Yang Mulia."


Raja mendesah berat. Dia mengerjakan dokumennya sambil kubantu memilah-milah. 


"Apa ada cara untuk membuat gadis-gadis itu menyerah?" tanya Raja.


"Mungkin dengan pertunangan kontrak seperti kakakku dan Kak Diana?" Aku menyerahkan dokumen yang harus ditanda tanganinya.


"Ide buruk. Dewan malah akan memintaku segera menikahinya." Dia selesai menandatangi dokumen itu dan menyerahkannya padaku.


Aku menaruhnya di bagian selesai. "Kalau begitu tolak saja semuanya, lama kelamaan mereka akan menyerah."


"Sayangnya aku tidak ingin menunggu lama."


"Kalau begitu pura-pura kalau kamu pecinta sesama jenis. Mereka akan menyerah."


Dia menoleh ke arahku dengan tatapan aneh itu lagi. Dia selalu saja membesar-besarkan masalah. 


"Kamu ingin aku dicibir oleh bangsawan-bangsawan lain?" 


"Lagipula ini hanya sementara bukan? Rumor itu akan hilang setelah kamu menikah."


Raja mengeraskan rahang menekan pelipisnya. Dia bangkit menuju pintu.


"Aku harus pergi menemui tamu. Jadi selesaikan pekerjaan itu," katanya sambil membanting pintu.


Aku menoleh ke arah tumpukan kertas di meja Raha. Mentang-mentang kalah dia memerintahku seenaknya saja. Namun, tetap saja kukerjakan, aku tidak ingin negeri ini hancur karena Raja yang tidak bertanggung jawab.


***


Aku meregangkan lengan. Pekerjaanku sudah selesai. Lebih tepatnya, pekerjaan Raja. Saatnya aku pulang.


Aku melangkahkan kaki keluar bangunan istana. Di depan gerbang kulihat Raja sedang mengantar seorang gadis. Sebelum gadis itu pergi, mereka saling berbincang-bincang. Aku bisa melihat Raja tersenyum ke arah gadis itu. 

__ADS_1


Entah mengapa aku marah. Padahal tadi dia bilang ingin menolak gadis-gadis itu, kenapa dia malah tersenyum kepadanya?


__ADS_2